Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya

Hari itu, langit di dunia kiamat mendung seperti biasa. Tapi buatku dan Yuki, hari itu terasa berbeda. Ada kehangatan yang nggak biasa dari senyumnya waktu dia duduk di atap shelter sambil menggigit roti hangat yang baru aja keluar dari oven otomatis.

“Enak, Minkyu Oppa!” katanya sambil senyum-senyum, pipinya mengembang kayak mochi.

Aku cuma bisa senyum juga. “Ya ampun, kamu tuh makin mirip anak kucing kelaparan.”

Dia ketawa kecil, lalu duduk bersila. “Hari ini kita ke mana? Berburu zombie lagi?”

Aku nyalain hologram dari sistem. Peta muncul, memperlihatkan area sekitar shelter. “Iya, tapi kita ke zona barat. Ada sinyal sistem dari bangunan tua. Mungkin ada upgrade atau barang sisa teknologi yang bisa kita manfaatin.”

Yuki langsung semangat. “Kalau gitu aku siap! Aku udah bawa senjata mainanku!”

Senjatanya tentu aja bukan buat bertarung beneran. Itu cuma tas kecil berbentuk kelinci, isinya snack, mainan kecil, dan senter mini. Tapi buat Yuki, itu kayak perlengkapan perang.

Sebelum berangkat, aku pastiin semua sistem keamanan shelter aktif. Lalu kuambil senjata andalanku: blade plasma ringan dan drone pengintai. Helmku nyala otomatis waktu ku pasang, dan Yuki masuk ke dalam jaket panjangku, duduk nyaman di punggungku kayak koala kecil.

“Yosh, let’s go!”

Kami jalan kaki ke zona barat, lewat reruntuhan gedung-gedung yang udah dipeluk lumut dan tumbuhan liar. Zombie udah jarang di sekitar sini karena efek sistem pertahanan shelter yang ngeluarin gelombang suara frekuensi tinggi.

Tapi begitu mendekati zona target, suasana berubah. Kabut mulai turun. Instingku langsung siaga. “Yuki, jangan turun ya. Pegangan yang kuat.”

“Oke, Oppa.”

Tiba-tiba sistem berbunyi:

"[PERINGATAN: Energi anomali terdeteksi dalam radius 500 meter.]"

“Wah, ini bisa jadi bahaya... atau justru jackpot.”

Kami terus maju, dan di tengah-tengah kabut itu, berdiri satu gedung tua setinggi empat lantai. Tapi yang bikin aneh, bagian dalamnya kayak masih aktif—lampu-lampunya nyala redup dan ada suara-suara mesin samar.

Aku kasih isyarat ke Yuki buat lebih tiarap di belakangku.

Langkah pertama masuk gedung itu langsung disambut sama suara aneh kayak... tangisan?

Yuki mencolek pundakku. “Oppa, ada anak kecil?”

Ku pasang drone buat intai lantai atas. Kamera langsung nunjukin sesosok anak laki-laki, rambutnya acak-acakan, matanya kosong. Tapi bukan zombie.

“Anak itu... manusia?” gumamku.

Sistem langsung kasih notifikasi:

"[Target terinfeksi Type-Virus Beta. Belum berubah total. Butuh intervensi cepat untuk menyelamatkan.]"

Aku nekat naik. Yuki tetap ku gendong. Begitu sampai di lantai dua, si anak itu merangkak ke arah kami dengan wajah antara bingung dan ketakutan.

Aku tempel alat pendeteksi virus ke lengannya. Hasilnya menunjukkan dia masih bisa diselamatkan.

“Yuki, kita harus bawa dia ke shelter. Bisa?” tanyaku.

Yuki mengangguk pelan. “Kita nggak boleh ninggalin siapa pun.”

Aku tersenyum. “Kamu makin pinter aja, ya.”

Tapi begitu mau pergi, kami disambut kejutan.

"BRAAAK!!!"

Dinding lantai bawah dihancurkan makhluk besar berbentuk manusia, tapi badannya membesar nggak wajar. Salah satu tipe zombie yang paling bahaya: "Mutant-Class Hulk".

“Gawat,” desis ku. Aku langsung mundur ke tangga darurat, nembak drone ke arah makhluk itu buat ngulur waktu.

Yuki berpegangan erat di leherku. Anak laki-laki itu ku gendong di lengan kiri.

Aku aktifin sistem tempur.

"[Sistem Aktif: Mode Survival Kombinasi - 75% Daya Tersisa]"

Tangga bergetar keras. Makhluk itu naik!

“Pegangan kuat ya!” Aku melompat dari jendela lantai dua ke atap mobil rusak di bawah, lalu lari sekuat tenaga lewat gang kecil menuju shelter.

Mutant itu ngejar, tapi kecepatannya berkurang karena tubuhnya terlalu besar.

Yuki berbisik, “Oppa, boleh aku kasih nama buat dia?”

“Hah? Siapa?” tanyaku sambil ngos-ngosan.

“Anak itu. Namanya... Kiro!”

Aku ketawa kecil. “Oke, Kiro.”

Sampai shelter, aku langsung aktifin proteksi maksimal. Gerbang ditutup, laser pengaman aktif, dan drone-drone kecil melayang buat patroli.

Yuki bantu ngelepas jaketku sambil menatap si anak.

“Dia sakit ya?”

“Iya, tapi kita bisa bantu,” kataku sambil masukin data Kiro ke sistem medis otomatis. Mesin mulai bersinar biru, menyelimuti tubuh Kiro.

Yuki duduk di lantai, memperhatikan sambil mainin bonekanya. “Kira-kira... nanti kalau Kiro sembuh, dia bisa main sama aku nggak?”

Aku duduk di sampingnya. “Pasti bisa.”

Yuki menoleh ke arahku. “Minkyu Oppa... makasih ya.”

“Hah? Kenapa tiba-tiba?”

“Karena udah ngelindungin aku. Dan sekarang nolongin orang lain juga.”

Aku bengong sebentar. Lalu nyengir. “Kamu tahu nggak, kamu ini bukan cuma lucu, tapi juga bikin orang dewasa belajar jadi lebih baik.”

Yuki ketawa pelan. “Tapi aku masih suka ngambek kok!”

“Nah itu.”

Kami duduk di depan alat medis, nungguin Kiro sadar. Di luar, suara zombie masih kadang terdengar. Tapi shelter ini... rumah kami. Tempat di mana sedikit demi sedikit, senyuman muncul meski dunia udah hancur.

Dan petualangan kami belum selesai.

Masih banyak misteri.

Masih banyak anak-anak lain yang mungkin perlu bantuan.

Dan tentu saja... ibu Yuki yang masih belum ketemu.

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
Episodes

Updated 54 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!