Bab 1: Dunia Ganda

Pernah bangun tidur dan ngerasa hidup lo berubah total?

Gue juga pernah. Baru aja kemarin malam gue masih rebahan sambil binge-watch drama Korea, eh sekarang gue udah berdiri di dunia yang penuh reruntuhan, langit merah darah, dan suara zombie yang… sumpah, berasa kayak efek suara dari film horor kelas D.

Satu hal yang masih bikin gue bingung: Kenapa gue?!

Kenapa bukan orang berotot kayak di game survival? Atau minimal gamer pro yang biasa main zombie mode? Gue ini cuma cowok cantik yang sering dikira cewek di minimarket, tau!

Dan sekarang, lebih gila lagi…

“...Mama?”

Itu suara kecil dan lembut. Gue nengok ke bawah, dan di sana—seorang anak kecil, lusuh, rambutnya kusut kayak mie instan yang dicemplungkan ke kolam, dan matanya gede banget. Kayak boneka, tapi versi habis dikejar zombie.

“Ehh… aku ini cowok, loh,” jawab gue sambil setengah tertawa, setengah panik.

Anak itu nggak jawab. Dia malah peluk kaki gue dan nyender.

“…bau zombie,” dia bilang pelan.

“Loh, yang bau kamu justru,” balas gue, meringis.

Bau anak ini luar biasa. Campuran antara keringat, debu, dan... daging busuk? Tapi mukanya bener-bener imut. Meskipun baju compang-camping, mukanya kayak marshmallow habis dicelupkan ke pasir.

Gue garuk kepala. “Ya sudahlah. Yang penting sekarang kita cari tempat aman dulu sebelum zombie beneran datang lagi.”

Gue gendong anak itu. Ringan banget. Kayaknya beratnya cuma sekitar 15 kilo. Pas diangkat, dia langsung melingkarkan tangan mungilnya ke leher gue dan tidur. Iya, tidur. Di tengah dunia yang isinya jeritan zombie.

“Ini anak… super.”

_____

Kami jalan menyusuri jalanan retak penuh puing. Gue melangkah pelan, waspada. Bangunan-bangunan tinggi udah roboh semua. Di kejauhan, suara geraman terdengar kadang-kadang. Udara panas banget, tapi dingin juga. Kayak AC rusak yang nyala setengah-setengah.

Di satu sisi jalan, gue lihat bangunan tua, kayak bekas minimarket. Pintu kacanya udah pecah. Gue masuk pelan, naruh si bocah di lantai, dan mulai keliling nyari barang yang bisa dipakai.

Tiba-tiba...

_____

[Sistem Aktif: Shelter Crafting Tersedia]

> Blueprint: Shelter Dasar Lvl.1

> Bahan: Besi tua (7), Kayu lapuk (5), Serat plastik (2)

> Lokasi aman: Valid

> Aktivasi: SENTUH TANAH & FOKUS

_____

“Whoa. Oke, ini keren.”

Gue jongkok, letakan tangan di lantai minimarket bekas itu, dan fokus seperti yang sistem bilang. Dalam sekejap, puing-puing di sekitar mulai bergerak sendiri. Kayak sulap. Potongan kayu, rak besi, bahkan botol kosong menyatu.

Dalam waktu 5 menit, muncul semacam ruangan kecil dari logam kusam—sebesar kamar kosan. Ada pintu otomatis dari papan bekas, jendela kecil dengan pelindung baja, bahkan ranjang lipat di pojok.

“Gila… sistem ini seriusan keren.”

Si bocah ngelihat bangunan itu dengan mata melotot. “Waaa… rumah robot?”

“Bukan robot, itu shelter. Tempat tinggal. Sementara,” jawab gue.

Dia lari kecil ke dalam, duduk di atas ranjang dan mulai lompat-lompat. Wajahnya kayak anak kecil yang baru diajak ke mall. Padahal ini cuma kotak logam.

“Laper...” katanya tiba-tiba, berhenti lompat dan pegang perut.

Gue panik. “Waduh, gue juga laper sih, tapi kita nggak punya makanan…”

____

[Sistem: Makanan Darurat x2 Ditambahkan ke Inventori]

> Jenis: Nutrisi Pad

> Efek: Menghilangkan lapar (sementara), +Kesehatan minor

______

“Eh, serius?! Kok tau-tau dapet makanan?”

Tangan gue otomatis masuk ke dalam semacam kotak hologram biru, dan keluar dua bungkus makanan padat. Kayak energi bar, tapi baunya… aneh. Bau logam bercampur keju. Tapi daripada kelaparan, ya sudahlah.

“Ini… makan ini dulu, ya.” Gue kasih ke dia.

Dia mengangguk dan menggigit perlahan.

“Mmm! Enak!” katanya dengan mulut penuh.

“...Apa? Enak?”

Gue coba gigit juga. Dan... blegh. Rasanya kayak sabun rasa sarden.

“Enak dari mana, Nak?” gue meringis.

Dia hanya tertawa kecil, lalu duduk dekat gue dan bersandar.

_______

[Status: Anak Misterius – “Belum Teridentifikasi”]

> Status Emosi: Nyaman

> Koneksi: Terbentuk (80%)

> Peran: Anak Angkat (sementara)

_____

“Peran… anak angkat? Apa-apaan sistem ini,” gue ngelus muka.

Tiba-tiba dia noleh ke gue, “Mama namanya siapa?”

“Udah kubilang, aku bukan mama!” gue protes. “Namaku Shinn. Shinn Minkyu. Dan AKU COWOK!”

Dia mengangguk polos. “Shinn Mama.”

“…….”

Tolong. Siapa pun yang nonton dari kamera tersembunyi, ini pasti prank kiamat.

_______

Malam pertama di shelter kami cukup tenang. Gue nggak nyangka dunia ini bisa kasih tempat yang lumayan nyaman. Lampu dari botol solar menyala samar. Di luar, terdengar geraman jauh. Tapi si bocah udah tidur sambil meluk boneka dari baju bekas yang gue gulung.

Gue duduk di pojok, menatap langit-langit shelter, dan berpikir.

Kenapa aku? Kenapa dunia ini?

Sistem ini ngasih kekuatan, iya. Tapi juga tanggung jawab. Dan entah kenapa… anak ini.

Gue pandangi wajah tidurnya yang damai. Di dunia penuh kehancuran ini, dia satu-satunya yang bikin gue ngerasa punya tujuan.

Mungkin... di dunia kiamat ini, gue bukan sekadar bertahan hidup.

Gue harus membuat hidup.

Dan itu... dimulai dari melindungi bocah imut ini, nyari ibunya, dan—mungkin, siapa tahu—membangun sesuatu yang lebih dari sekadar shelter kecil ini.

_____

[Selamat, Shinn Minkyu. Shelter Lvl.1 berhasil dibuat.]

Misi Baru Tersedia: Mengembangkan Shelter – Menjaga Anak – Bertahan Hidup

Bonus Harian: 2 Koin Sistem per Zombie yang Dikalahkan

“Jadi, gue bisa dapat duit dari bunuh zombie?” gumam gue.

Anak kecil itu tiba-tiba menggeliat, lalu bergumam pelan dalam tidur:

“Zombie nya... jahat... mama nanti pukul ya...”

Gue senyum tipis.

“…Iya. Mama... eh, maksudku, gue yang pukul mereka.”

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
Episodes

Updated 54 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!