Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”

Malam di shelter kali ini nggak kayak biasanya. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan angin dari luar jendela terdengar kayak bisikan halus yang bikin bulu kuduk berdiri.

Shinn Minkyu duduk di pojokan ruang kerja, matanya fokus ke layar hologram yang menampilkan statistik keamanan shelter. Sistem baru saja meng-upgrade perimeter sensor, dan malam ini adalah pertama kalinya diuji.

“Hmm… semua masih aman,” gumam Shinn sambil mengunyah keripik kentang. “Yuki udah tidur, sistem aktif, senjata siap… harapannya nggak ada kejutan.”

"DING!"

Sebuah notifikasi berbunyi. Sensor gerak mendeteksi aktivitas di perimeter timur.

“Eh?” Shinn langsung berdiri dan jalan cepat ke ruang pantau. “Sistem, tampilkan feed kamera timur!”

Seketika layar hologram besar di dinding memperlihatkan bayangan seseorang… atau "sesuatu", berdiri diam sekitar dua puluh meter dari pagar luar.

“Zombie?” tanya Shinn sambil nyipit matanya.

Namun saat diperbesar, terlihat sosok perempuan berbaju robek-robek, rambut acak-acakan, dan wajahnya… bukan zombie.

“Wait… itu manusia?”

Sistem langsung berbicara, “Subjek tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Detak jantung normal. Tapi tingkat stres tinggi.”

Shinn garuk-garuk kepala. “Duh… jangan-jangan orang yang kabur dari kelompok survivor lain. Atau…”

Dia segera ambil jaket dan tas tempur kecil. “Gue cek ke luar. Buka pintu darurat satu.”

“Diterima. Membuka pintu.”

_________

Shinn bergerak hati-hati di balik pagar. Angin malam menyentuh kulitnya, dan ia menggenggam senjata bius elektrik di tangan kiri.

Saat dia mendekat, perempuan itu tiba-tiba roboh.

“Eh?! Hei!” Shinn langsung lari dan jongkok di sampingnya. Nafas si perempuan berat, dan di kakinya ada luka memar parah.

“Halo? Kamu sadar?” Shinn menepuk pelan pipinya.

Si perempuan hanya bisa membuka mata separuh. “Tolong…”

Shinn cepat-cepat memanggil sistem via komunikasi. “Sistem, teleport darurat ke ruang medis. Satu orang tambahan.”

“Diproses.”

Seketika tubuh mereka diselimuti cahaya biru dan "WHOOSH!" dalam satu detik, mereka sudah di dalam shelter lagi, tepat di ruang medis otomatis.

_________

Yuki yang mendengar suara langkah terburu-buru keluar dari kamar dengan boneka kelincinya.

“Eh? Oppa? Itu siapa?” tanyanya sambil mengucek mata.

Shinn yang sedang berdiri di sisi kasur medis menoleh. “Ada tamu dadakan, Yuki. Dia kayaknya butuh bantuan. Kamu jangan takut ya, dia nggak jahat kok.”

Yuki pelan-pelan mendekat dan mengintip dari balik pintu. Melihat perempuan itu yang tergeletak di kasur medis, ekspresi Yuki berubah.

“…Mama?”

Shinn langsung menoleh. “Hah?!”

Yuki jalan mendekat, tatapannya nggak lepas dari wajah perempuan itu. Perlahan ia menggenggam tangannya.

Perempuan itu membuka mata sedikit, dan begitu melihat Yuki, matanya melebar.

“…Yuki?”

“MAAAAAMAAA!!”

Yuki langsung memeluknya sambil nangis sesenggukan.

Shinn berdiri terpaku. “Astaga… beneran ibu Yuki? Ini plot twist apa…”

Sistem menjawab, “DNA cocok. Subjek perempuan ini adalah Elya, ibu kandung dari Yuki.”

_________

Setelah memastikan kondisi Elya stabil, Shinn duduk di ruang santai, mencoba mencerna semuanya sambil minum teh panas.

“Jadi… setelah berbulan-bulan nyari ibunya Yuki, malah ketemu secara random pas malam-malam di pinggir pagar? Dunia emang suka bercanda.”

Yuki duduk di pangkuan Shinn, matanya masih merah abis nangis. “Oppa, Mama udah nggak hilang lagi…”

Shinn tersenyum kecil dan mengelus kepala Yuki. “Iya, sekarang keluarga kamu udah lengkap lagi.”

Elya kemudian masuk ke ruang santai, jalannya masih pelan. Dia pakai pakaian cadangan dari shelter, dan rambutnya udah bersih setelah mandi.

“Maaf ganggu malam-malam…” katanya lirih.

“Nggak apa-apa, Bu. Senang bisa bantu. Tapi saya penasaran… gimana caranya Ibu bisa sampai ke area ini? Bukannya di luar sana zonanya udah jadi wilayah mutan zombie?”

Elya duduk dan menghela napas panjang. “Aku kabur dari kelompok survivor yang… jahat. Mereka nahan aku, katanya aku ‘penting’ buat eksperimen aneh mereka. Tapi satu malam ada ledakan di kamp, aku kabur dan lari terus sampai nemu sinyal dari tempat ini.”

Shinn menatap sistem. “Kita pernah nyebar sinyal distress ya?”

“Sinyal cadangan keamanan aktif otomatis minggu lalu. Mungkin itu yang tertangkap oleh perangkat Elya.”

“Hmm… untung kamu kuat, Bu,” Shinn berkata sambil senyum.

Elya memandangi Shinn dengan tatapan penuh rasa terima kasih. “Dan kamu… terima kasih sudah jaga Yuki…”

Shinn agak kaget, pipinya langsung sedikit merah. “Eh, itu… udah kewajiban. Lagian dia lucu banget, siapa juga yang tega ninggalin.”

Yuki manggut-manggut semangat. “Oppa orang baik!”

Elya tersenyum hangat. “Dan tampaknya… kamu juga orang yang spesial.”

Shinn cuma bisa senyum-senyum kaku sambil nahan malu.

_________

Beberapa hari berlalu, dan shelter jadi makin ramai dengan kehadiran Elya. Dia ternyata sangat pintar dalam urusan pertanian hidroponik dan perawatan medis, membantu sistem dan Shinn memperluas fungsi shelter.

Tapi nggak cuma soal teknologi, suasana juga jadi lebih… "manis".

Shinn kadang kelihatan salah tingkah kalau lagi bareng Elya, apalagi kalau mereka harus kerja sama berdua dalam ruangan yang sempit.

“Eh, Shinn, kamu bisa pegang ini?” tanya Elya sambil menyodorkan pipa alat semprot.

Shinn reflek megang… tapi tangannya malah menyentuh tangan Elya.

Keduanya saling tatap. Hening. Detik demi detik berlalu.

“Eh… ma-maaf,” kata mereka berdua hampir bersamaan sambil menarik tangan masing-masing.

Yuki yang duduk di pojokan cuma ngunyah biskuit sambil nonton kayak lagi lihat drama korea. “Hmm~ romantis~”

Shinn langsung noleh. “Yuki! Jangan asal ngomong, nanti kamu bikin Mama salah paham!”

Elya cuma ketawa pelan sambil menutup mulutnya. “Yuki ini lucu banget…”

_________

Malam hari, Shinn berdiri di balkon tertutup shelter sambil lihat bintang. Di sebelahnya, sistem muncul dalam bentuk panel hologram kecil.

“Shinn.”

“Hmm?”

“Kamu tampaknya bahagia sekarang.”

Shinn tersenyum kecil. “Aneh ya… dulu gue pikir hidup gue bakal jadi kayak game survival terus. Tapi sekarang, gue punya ‘keluarga kecil’. Yuki, Elya… dan lu juga, sistem.”

“Apakah ini berarti… kamu ingin melanjutkan hidup bersama mereka?”

Shinn diam sejenak.

“…Gue nggak tahu masa depan bakal kayak apa. Tapi kalau mereka di sisi gue, gue siap hadapin dunia zombie ini.”

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
Episodes

Updated 54 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!