Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"

“Shinn… bangun… Shinn!”

Suara lembut itu membangunkan ku dari tidur nyenyak di dalam kamar shelter. Mata Yuki yang besar dan bulat menatapku dari samping ranjang. Wajahnya panik, dan napasnya ngos-ngosan.

“Ada apa, Yuki?” tanyaku sambil duduk setengah sadar.

“Ada orang... orang jahat… mereka coba masuk shelter…” jawabnya dengan suara bergetar. Tangannya menggenggam erat boneka mini sistem yang kubuat khusus buat dia.

Aku langsung bangun dari tempat tidur. Panel sistem menyala otomatis saat mendeteksi gerakanku.

> [ALERT: Ada 3 individu tidak dikenal mencoba membobol perimeter pintu barat shelter. Status: Berbahaya.]

“Kenapa pagi-pagi udah ribut begini sih…” gumamku sambil mengenakan jaket pelindung dan mengambil plasma blade yang biasa ku gunakan buat jaga-jaga.

Aku langsung berlari ke ruang kontrol. Di sana, layar monitor menunjukkan tiga orang berbaju compang-camping sedang mencoba merusak pintu besi dengan alat berat semacam linggis besar dan palu godam.

“Apa mereka kira ini tempat kosong?” desis ku.

Sistem muncul di sampingku dengan bentuk hologram mini, mengambang di udara.

> “Mereka mendeteksi sumber energi tinggi dari shelter ini. Bisa jadi mereka kelompok survivor pemburu teknologi.”

“Bagus. Tapi kita nggak akan kasih shelter ini cuma-cuma,” kataku sambil menekan tombol peringatan.

Suara alarm nyaring langsung terdengar di seluruh perimeter shelter. Layar menunjukkan ketiganya mundur sebentar, lalu mulai berdiskusi. Tapi mereka nggak pergi.

“Kayaknya mereka nekat. Yuki!” teriakku.

Anak kecil itu muncul dari balik tembok dengan wajah takut-takut. “Iya…?”

“Kamu ke ruangan bawah, ruang aman, ya. Jangan keluar sampai aku bilang. Ingat, kalo ada yang masuk tanpa aku, kamu tekan tombol merah.”

Yuki mengangguk cepat, lalu lari kecil sambil memeluk bonekanya erat-erat.

Aku langsung menuju pintu barat. Saat aku keluar, matahari baru muncul di balik reruntuhan bangunan. Dunia apokaliptik memang selalu terasa dingin di pagi hari, tapi sekarang… jantungku justru yang dingin.

Di luar, tiga orang itu tampak berhenti dan menatapku.

Satu di antara mereka, pria tinggi berjaket hitam robek-robek, melangkah maju. Di tangannya ada senapan tua yang udah berkarat.

“Kami cuma butuh tempat berteduh,” katanya, nada suaranya datar. Tapi aku bisa lihat dari sorot matanya… dia bukan orang baik.

Shelter ini mungkin satu-satunya yang utuh di sekitar area ini, jadi wajar banyak orang tertarik. Tapi aku juga nggak bisa sembarangan terima orang asing. Apalagi kalau mereka datang sambil bawa senjata.

“Ini tempat pribadi,” jawabku. “Kalau kalian cuma mau istirahat, bilang baik-baik. Bukan bobol pintu kaya maling!”

“Pfft… tempat pribadi?” celetuk satu lagi, perempuan bertubuh kecil dengan rambut gimbal. “Kita udah jalan kaki seminggu, hampir mati di jalan, dan lo malah pelit begitu?”

Aku nggak jawab. Tanganku tetap siap di pinggang, dekat senjata.

Orang ketiga, pria kekar dengan kalung tengkorak, langsung maju. “Kami tahu lo punya cadangan makanan di sini. Dan anak kecil juga.” Senyumnya licik.

Seketika darahku mendidih.

“Ngomongin Yuki, ya?” Aku mencabut plasma blade dan mengarahkan ujungnya ke mereka. “Jangan pernah bawa-bawa nama Yuki.”

Mereka bertiga tertawa. Tapi aku bisa lihat ketegangan di gerakan mereka. Mereka tahu aku bukan survivor biasa.

“Shinn,” suara sistem terdengar lagi di telingaku melalui ear piece. “Izinkan saya mengaktifkan pertahanan otomatis.”

“Nggak usah,” gumamku. “Aku pengen ajarin mereka pelajaran langsung.”

Dan benar saja, si pria berjaket hitam langsung angkat senapan dan menembak ke arahku. Tapi pelurunya mental saat mengenai perisai energi yang ku pasang di jaket.

Aku melompat ke depan. Plasma blade-ku menyala biru terang, dan sekali tebas, senapan pria itu terbelah dua.

“GIL—” dia nggak sempat menyelesaikan kata-katanya saat aku tendang dia mundur ke tumpukan puing.

Perempuan rambut gimbal mencoba menyerang dari samping pakai pisau kecil, tapi aku menghindar dengan lincah dan membalas dengan hantaman di bahunya. Pisau itu terlepas dari tangan.

Orang ketiga? Dia malah kabur ke arah reruntuhan.

“Nggak semudah itu, bro…” Aku menekan tombol di gelang sistem.

> [Aktifkan Drone Mini Hunter — Target: Individu dengan tanda panas ekstrem]

Seekor drone kecil melesat dari atas shelter, mengikuti si pria kekar. Dari layar di gelangku, aku bisa lihat dia panik, terjatuh, dan akhirnya pingsan.

Aku kembali ke dua orang yang tersisa. Keduanya meringis kesakitan.

“Dengar ya… aku nggak suka nyakitin orang. Tapi kalau kalian ngancam Yuki… aku bakal lebih kejam dari zombie yang kalian temui di luar sana.”

Wajah mereka pucat. Mereka mengangguk cepat, ketakutan.

Aku mendesah. “Sistem, pantau mereka dan biarkan mereka pergi dengan perlengkapan survival level satu.”

> [Diterima. Item akan disiapkan.]

Aku nggak sekejam itu. Tapi shelter ini… dan Yuki… bukan buat dibagi dengan orang asing sembarangan.

_________

Beberapa jam kemudian, suasana shelter kembali tenang. Aku duduk di dapur, menyeduh kopi instan yang masih tersisa dari hasil loot supermarket lama. Yuki muncul pelan-pelan dari ruangan bawah dengan mata merah karena habis nangis.

Aku langsung berdiri dan memeluknya. “Maaf, Yuki… bikin kamu takut, ya?”

Dia mengangguk kecil. “Tapi aku… aku dengar semua dari interkom. Aku dengar mereka ngomongin aku…”

Aku menatap matanya dalam-dalam. “Yuki… kamu tahu kenapa aku bangun shelter ini?”

Dia menggeleng.

“Karena kamu. Karena aku nggak mau ada tempat di dunia ini yang bisa nyakitin kamu.”

Yuki diam sejenak. Lalu dia tersenyum—senyum kecil, tapi tulus. “Kalau gitu, aku janji bakal jadi anak yang kuat. Aku juga mau bantu jaga shelter ini.”

Aku ketawa pelan. “Wah, partner kecilku mau jadi bodyguard juga?”

Dia mengangguk semangat. “Iya! Dan… dan aku mau belajar nembak juga!”

Aku mengangkat alis. “Nembak? Siapa yang ngajarin kamu kata itu?”

“Di film kamu kemarin! Yang robot lawan alien itu!”

Aku geleng-geleng. “Hadeh, mulai sekarang nggak boleh nonton film rating dewasa lagi!”

Yuki cemberut, tapi akhirnya tertawa. Suasana pun kembali ceria.

_________

Malam hari, aku duduk di balkon kecil shelter, menatap bintang-bintang yang samar karena kabut radioaktif. Di sampingku, sistem muncul dengan wajah hologram khasnya yang seperti bocah jenius.

> “Hari ini kamu nyaris menggunakan Mode Ultimate. Apa kamu yakin tidak ingin mengaktifkannya untuk perlindungan penuh?”

Aku mengangguk pelan. “Belum. Aku nggak mau Yuki lihat aku berubah jadi mesin pembunuh. Belum saatnya.”

> “Tapi ancaman akan makin sering datang. Shelter ini memancarkan sinyal energi sistem. Itu seperti lampu neon di tengah hutan gelap. Semua pasti tertarik.”

Aku menghela napas. “Kalau mereka datang… kita lawan. Tapi aku tetap mau jaga sisi manusiawi dari tempat ini.”

Sistem diam sebentar. Lalu mengangguk.

> “Diterima. Saya akan memperkuat sistem kamuflase shelter, dan memasang radar deteksi baru.”

“Terima kasih,” bisikku.

Aku menoleh ke arah dalam, melihat Yuki tertidur di sofa sambil memeluk bonekanya. Rambutnya yang lurus halus tergerai di bantal. Di dunia sekacau ini, dia seperti cahaya kecil yang nggak boleh padam.

Aku tahu… suatu hari, ibu Yuki pasti akan muncul. Dan entah kenapa… hatiku deg-degan membayangkannya. Apalagi kalau dia secantik anaknya.

Tapi untuk sekarang, satu hal pasti…

Shelter ini, aku… dan sistem… akan terus berdiri.

Untuk melindungi Yuki. Sampai akhir.

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
Episodes

Updated 54 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!