Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu

“Shinn...”

Suara kecil itu membangunkan ku dari tidur yang entah sejak kapan terjadi. Yuki duduk di sampingku, menggoyang-goyangkan bahuku dengan tangannya yang mungil. Matanya sembap tapi tetap berkilau.

“Aku mimpi... Mama manggil aku.”

Aku mengusap rambutnya pelan. Lembut dan lurus. Seperti biasanya, dia bangun lebih dulu. Tapi kali ini... kata-katanya membekas.

“Yuki, kamu ingat suara Mama kamu?”

Dia mengangguk, kemudian menggeleng ragu. “Kayak samar gitu... tapi aku tahu itu Mama.”

Sistem tiba-tiba menyala, panel biru melayang di antara kami.

[Trigger: Rekaman Emosi Anak Terhubung dengan Data Lama]

[Mengakses Sinyal Dimensi Hilang…]

[Sinyal Lemah Ditemukan: ID Elya_19X]

Aku membeku. Elya. Nama itu muncul lagi. Nama yang sempat muncul dari panel sistem beberapa waktu lalu. Nama yang sama dengan yang tertulis di liontin kecil yang Yuki selalu bawa—yang ternyata punya ruang data kecil di dalamnya.

“Yuki,” kataku pelan, “kamu masih bawa liontin Mama?”

Yuki langsung merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan kalung yang sudah agak kusam itu. Aku mengambilnya dengan hati-hati, menempelkannya ke panel sistem.

[Data Terdeteksi: Suara dan Gambar Lama]

[Apakah Anda ingin memutar?]

“Putar,” kataku cepat.

Sebuah hologram kecil muncul di udara. Gambar wanita dewasa dengan rambut perak panjang dan mata lembut. Dia... Elya. Seperti dalam ilustrasi yang kutemukan sebelumnya. Dan dia sedang bicara—

“Yuki... kalau kamu lihat ini, berarti aku belum bisa kembali. Maafkan Mama. Dunia ini belum aman. Tapi kamu harus bertahan. Akan ada seseorang... dia akan melindungi mu. Namanya Shinn Minkyu...”

Mataku membelalak.

“Apa?” gumamku.

Yuki memegang tanganku erat.

“Shinn, kalau kamu dengar ini... aku mohon, lindungi Yuki. Dia bukan anak biasa. Dalam tubuhnya tertanam inti data... yang dicari banyak pihak. Termasuk... Fraksi Omega.”

Rekaman berhenti.

Panel sistem berkedip cepat, menampilkan simbol berwarna merah:

[Sinyal Baru Terdeteksi: Koordinat Dalam Radius 20 km]

[Potensi Lokasi Elya: 31% Validasi]

[Area Berbahaya: Zombie Tier-3 Detected]

Oke. Jadi sekarang bukan hanya shelter dan alat survival. Tapi kita berburu sinyal. Sinyal yang bisa saja membawa kami ke ibu Yuki. Tapi juga membawa kami ke tengah sarang zombie mutan.

Yuki menatapku dengan matanya yang seperti dua buah mochi—mochi bersinar, lembut, dan penuh harapan.

“Kita cari Mama ya, Shinn?”

Aku menghela napas.

“Yuki, ini bisa berbahaya. Sangat berbahaya.”

Dia menggenggam jaketku erat, wajahnya seperti anak kucing kehujanan.

“Tapi... Mama juga pasti sendirian...”

Dan aku kalah. Lagi. Sama ekspresi itu.

“Baiklah. Kita pergi... tapi kita harus siapin semuanya dulu.”

Dua jam kemudian, kami sudah bersiap di ruang perlengkapan shelter. Aku mengenakan jaket armor ringan buatan sistem, dan Yuki... yah, masih dengan hoodie oranyenya, tapi sekarang pakai pelindung dada anti-cakar zombie yang ku potong dan jahit ulang dari jaket lama.

“Aku kayak hero, ya?” katanya sambil memutar-mutar pelindung kecil di lengannya.

“Hero mungil,” jawabku sambil tersenyum.

Sistem menunjukkan arah yang harus kami tuju: sebuah zona reruntuhan bekas pusat penelitian di tengah hutan industri tua. Kami menyebutnya "Zona Bayangan", karena hampir tak ada yang berani masuk ke sana. Bahkan zombie biasa pun jarang muncul. Tapi... zombie Tier-3, beda cerita.

Perjalanan kami dimulai dengan sunyi. Tidak ada angin, hanya suara kaki kami menginjak ranting-ranting kering dan semak-semak berduri.

“Tunggu,” kataku pelan sambil berhenti. “Ada sesuatu.”

Yuki langsung memegang tanganku erat.

Panel sistem menyala:

[Zombie Tier-3: Berserker-Alpha Terdeteksi - Jarak 300 Meter]

Kami merunduk di balik reruntuhan tembok. Dari celahnya, kulihat sosok besar dengan tangan panjang seperti cakar logam, wajah setengah runtuh dan rahang terbelah. Zombie mutan itu sedang mencakar tiang baja... seolah mencoba menggali sesuatu di bawahnya.

“Dia... ngapain ya?” bisik Yuki.

“Gak tahu, tapi kita gak bisa lawan dia langsung. Kita harus muter.”

Sistem menyarankan rute alternatif, tapi perlu melewati sungai tercemar.

“Ini lebih jahat dari game,” gumamku.

Setelah setengah jam menyusuri jalur beracun, akhirnya kami sampai di depan sebuah bangunan raksasa setengah runtuh. Plangnya hampir hilang, tapi aku bisa baca: NOVA GEN-LAB.

Sistem menyala kembali.

[Koordinat Sinyal: Di Dalam]

[Mode Stealth Aktif]

[Zombie: Dalam Status Dorman]

Kami masuk pelan-pelan. Di dalamnya gelap, tapi panel di jaketku menyala otomatis memberi penerangan. Lalu...

“Shinn!” bisik Yuki sambil menunjuk dinding.

Di sana, dengan jelas... tertulis "Elya 19X" dengan darah. Baru. Tidak kering.

“Dia... pernah di sini...” bisikku.

Kami menyusuri koridor, sampai akhirnya sampai di sebuah ruangan laboratorium. Di sana... ada kasur darurat, sisa makanan, dan rekaman video lain.

“Yuki... Shinn... kalau kalian menemukan ini... berarti aku pernah hampir sampai ke shelter kalian. Tapi Fraksi Omega mendeteksi sinyalku. Mereka mengirim zombie hybrid. Aku tidak bisa lama. Tapi aku masih hidup. Ikuti jejak data...”

Panel sistem memproses data dan menunjukkan titik koordinat baru.

[Update Koordinat: 12 KM ke Arah Selatan - Lokasi Bunker Lantai Dalam]

[Sinyal Masih Aktif]

Kami keluar dari bangunan itu tepat saat matahari mulai terbenam. Tapi bukan senja hangat yang menyambut kami. Melainkan... raungan keras dari balik bukit.

[WARNING: Multiple Entities Approaching - Level: Hostile]

Sekumpulan zombie tier 2 dan 3 mulai merangkak dari tanah, seolah terbangun oleh sinyal.

“Yuki! Pegangan!”

Aku menarik Yuki, dan sistem membuka mode kendaraan cepat dari struktur sepeda motor rakitan shelter. Kami melaju, membelah hutan, dengan zombie mengejar di belakang.

Yuki menjerit kecil, tapi bukan karena takut—karena dia malah menikmati kejar-kejaran ini!

“Shinn, lebih cepaaaat!” teriaknya sambil tertawa.

“Apa kamu anak racing?!”

Kami nyaris terpeleset, melompat di antara pohon, hingga akhirnya berhasil kabur.

Kami berhenti di tempat aman sementara untuk bernafas.

“Shinn...” kata Yuki, matanya berbinar. “Tadi... kayak roller coaster... tapi lebih seru.”

Aku hanya menghela napas. “Kamu tahu gak betapa nyaris nya kita jadi makanan tadi?”

“Tapi... kita ketemu petunjuk Mama lagi kan?”

Aku tak bisa berkata-kata. Anak ini terlalu kuat. Terlalu polos. Tapi hatinya sangat besar.

Aku tersenyum, menyentuh kepalanya pelan.

“Iya, kita makin dekat. Kita akan ketemu Mama.”

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
Episodes

Updated 54 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!