Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek

“Shinn! Shinn! Bangun!”

Suara Yuki yang cempreng itu nyaring banget sampai aku ngerasa kayak dibangunin petugas ronda jam tiga pagi. Aku buka mata pelan-pelan, masih setengah sadar. Cahaya matahari pagi nyelip dari sela-sela jendela shelter yang transparan.

“Haaa… Yuki… pagi-pagi gini, kenapa sih?”

“Ada suara rame di luar. Kayak orang banyak banget,” kata Yuki sambil narik selimutku.

Aku langsung duduk dan sistemku muncul tanpa dipanggil.

"[ALERT: Deteksi pergerakan 23 individu mendekati shelter.]"

"[Mood Waspada Aktif.]"

“Astaga… baru juga semalam kita benerin pagar energi. Sekarang udah ada yang dateng lagi?” gumamku.

Aku buru-buru pakai jaket tempur—yang sejujurnya lebih sering aku pakai buat gaya-gayaan—dan keluar bareng Yuki. Di depan pagar otomatis, udah ada sekumpulan orang yang berdiri dalam barisan kayak antri sembako. Sebagian bawa anak kecil, sebagian lagi bawa tas ransel gede, bahkan ada yang bawa pot bunga.

“Maaf, ini tempat apa ya?” tanya seorang ibu-ibu sambil mengendong anak bayi.

Aku masih ngucek-ngucek mata. “Ini shelter pribadi. Bukan panti asuhan.”

“Tapi semua orang bilang… tempat ini aman, nyaman, dan ada makanan gratis,” jawab pria tua di belakangnya.

Aku melirik ke Yuki yang udah ngumpet di balik kakiku. Dia pegang boneka barunya erat-erat.

“Shinn… mereka mau masuk ya?” bisiknya.

Aku angkat tangan. “Oke semua! Dengerin ya! Ini shelter "aku"! Aku dan anak angkat ku, Yuki, tinggal di sini. Kami bukan lembaga sosial. Tapi…”

Aku berhenti, ngebantuin dulu. Kalau aku usir mereka, aku bakal jadi jahat. Tapi kalau aku biarin mereka masuk tanpa seleksi, sistem bisa kacau.

“…Tapi! Aku akan buka pendaftaran buat jadi penghuni baru. Ada tesnya, ada seleksinya, dan harus kerja sama bantu urus shelter. Deal?”

Mereka serempak mengangguk. Bahkan ada yang tepuk tangan kayak nonton sinetron.

"[SYSTEM UPDATE: Shelter menjadi zona koloni level 1. Kapasitas maksimum: 30 orang.]"

Aku mendecak pelan. “Oke, kayaknya sistem juga udah siap. Kita mulai interview satu per satu!”

________

"Dua Jam Kemudian…"

“Aku jago masak, Mas. Nasi goreng tiga rasa, mie ayam kuah susu, sampai es krim dari buah semangka.”

“Lolos,” jawabku cepat.

Yang penting urusan dapur aman. Aku udah muak makan kaleng dan biskuit darurat.

“Berikutnya?”

“Aku punya skill menjahit, memperbaiki pakaian, dan sedikit crafting.”

“Oke, masuk list cadangan.”

Setelah itu, dateng lagi bocah-bocah dengan muka penuh harap. Ada yang pintar matematika, ada yang pinter ngelawak, bahkan satu anak ngaku bisa komunikasi sama hewan. Yang ini… aku masukin ke daftar "hiburan harian".

Yuki duduk di kursi sampingku sambil nulis-nulis catatan. “Yang ini lucu, yang ini serem, yang ini bau…” katanya polos banget.

Aku ketawa kecil. “Kamu jadi HRD ya sekarang?”

Yuki cengengesan, “Iya! Aku pemilih penghuni!”

________

"Sore Hari"

Shelter sekarang rame. Beberapa ruang kosong udah berubah jadi kamar-kamar kecil buat keluarga baru. Taman hidroponik aku perluas. Bahkan aku pasang panel surya tambahan di atap barat buat suplai daya tambahan.

“Ayah Shinn, ayah Shinn!”

Aku nengok. Seorang anak cowok kecil lari-lari sambil megang roket mainan.

“Hmm? Aku bukan ayahmu, tapi boleh kamu panggil Kak Shinn.”

Anak itu ketawa-ketawa. “Tapi Yuki panggil ayah!”

Aku terdiam. Lalu aku lirik Yuki, yang lagi duduk di tangga sambil makan permen kapas hasil crafting sistem.

Aku jalan pelan ke arahnya. Duduk di sebelahnya.

“Yuki… kamu nyaman nggak sekarang?”

Yuki manggut sambil menjilat permennya. “Nyaman… tapi rame banget ya.”

Aku nyenderin kepala ke tiang shelter. “Kadang… suasana rame bisa bikin kita ngerasa hidup.”

Yuki diem sebentar. “Ayah… kalau nanti Ibu aku dateng… kamu bakal marah gak?”

Aku bengong. “Kenapa aku harus marah?”

“Soalnya… nanti aku punya dua orang dewasa yang jagain aku.”

Aku senyum dan garuk kepalanya pelan. “Kalau ibumu beneran dateng, aku bakal bantu kamu peluk dia se..erat mungkin. Deal?”

“Deal!”

________

"Malam Hari"

Aku ngelihatin data shelter yang makin kompleks di panel hologram. Sistem sekarang udah punya menu:

- "Manajemen Penduduk"

- "Distribusi Energi"

- "Pusat Latihan Bertahan Hidup"

- "Mini-Market Otomatis"

Aku klik bagian "Mini-Market Otomatis". Ternyata sistem udah bisa jual makanan yang kita crafting ke dunia luar secara digital—kayak "Shopee Apokalips".

"[INCOME: +2.450 kredit sistem hari ini.]"

“Wah! Ini bisa jadi penghasilan pasif!” seruku senang.

Yuki ngintip dari balik selimutnya. “Shinn, kamu ngomong sendiri lagi ya?”

Aku ketawa. “Namanya juga bapak-bapak entrepreneur di zaman kiamat.”

Yuki ketawa kecil. “Aku juga mau jualan!”

“Yuk, kita bikin toko bareng besok! ‘Yuki Shop’!”

“Yeee!”

______

"Tengah Malam"

Sistem tiba-tiba nyala merah.

"[ALERT: Zombie baru terdeteksi! Tipe: Mutasi Cerdas. Lokasi: 800 meter.]"

Aku langsung berdiri. “Mutasi Cerdas? Itu zombie yang punya otak?”

"[Benar. Kemampuan: menyamar, bergerak dalam kegelapan, dan manipulasi suara.]"

Aku keluar dari ruang kontrol. Langit malam penuh bintang, tapi suasana jadi mencekam.

Aku pasang senjata. “Kayaknya… malam ini nggak bakal tenang.”

Yuki mendekat sambil nenteng bantal. “Ayah… aku mimpi buruk…”

Aku jongkok, pegang pipinya. “Tenang. Ayah jagain. Kamu tidur lagi ya.”

Yuki mengangguk, dan aku gendong dia balik ke kamarnya.

Setelah itu, aku berdiri di menara pengawas shelter. Angin malam menusuk, tapi hatiku lebih panas dari sebelumnya.

“Zombie pintar? Oke. Kita lihat siapa yang lebih cerdas.”

"[SYSTEM BOOST: Aktifkan mode Pertahanan Silent Ops.]"

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
Episodes

Updated 54 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!