Bab 9: Zombie Bernama Ayah?

"Yuki, kamu ngapain di situ, sayang? Jangan terlalu deket sama pintu besi itu..." ucapku sambil buru-buru narik Yuki dari gerbang depan shelter.

Yuki cuma menunjuk ke luar dengan ekspresi bingung. “Shinn… ada zombie, tapi dia nggak kayak yang lain...”

Aku langsung melongok keluar dari balik monitor pengawas. Dan bener aja—ada satu zombie berdiri doang. Nggak nyerang. Nggak ngeluarin suara geraman. Cuma diam di tempat sambil… ngelihatin ke arah kamera.

“Ini aneh...” aku gumam pelan sambil ngerasain bulu kuduk berdiri. “Yuki, kamu masuk kamar, ya. Jangan keluar dulu. Ini berbahaya.”

“Tapi dia... kayaknya kenal aku...” suara Yuki kecil banget. Aku bisa ngerasa dia cemas, tapi juga penasaran. Dia masih kecil, tapi nalurinya tajam.

Aku segera nyalain sistem pertahanan otomatis. Rangkaian laser, tembok pelindung, sama robot-robot mini langsung aktif.

“Mode pertahanan aktif. Energi stabil. Senjata aktif. Shelter siap bertahan dalam 24 jam ke depan,” suara sistem terdengar tenang seperti biasa.

Tapi kali ini aku gelisah. Zombie itu beda. Dia pakai pakaian yang udah compang-camping tapi jelas dulunya jas kerja. Bekas ID card masih nempel, walau udah nggak kebaca tulisannya.

Aku zoom in ke wajahnya.

Wajah itu... setengah rusak. Tapi ada bagian yang aneh. Ada emosi di situ.

Dan yang paling bikin aku terdiam: zombie itu nangis.

“Gila, jangan bilang... Jangan bilang ini...”

Aku langsung buka data lama yang aku temukan waktu pertama kali menyelamatkan Yuki. File itu diambil dari chip kecil di kalungnya. Isinya? Data identitas orang tua. Nama ibunya Elya Kirana, dan nama ayahnya... Aldren.

Aku bandingin foto lama dengan tampang zombie di luar sana.

Persis.

Aku mundur, duduk di lantai. Nafas ngos-ngosan. “Zombie itu... ayahnya Yuki?”

System langsung muncul dengan panel holografik di depan wajahku. “Kemungkinan mutasi parsial teridentifikasi. Subjek menunjukkan sisa kesadaran manusia. Kemungkinan besar ini adalah kasus langka: ‘Zombifikasi Emosional’.”

“Zombifikasi... emosional?”

“Ya, Shinn. Ini kasus langka ketika subjek terinfeksi tapi tidak kehilangan semua identitas diri. Sangat mungkin karena ikatan emosional yang kuat, terutama terhadap anaknya.”

Aku berdiri pelan, lalu lihat lagi ke layar. Zombie itu masih berdiri di tempat. Nggak bergerak.

“System... ada cara komunikasi?”

“Ada. Tapi butuh perangkat neural link. Kamu harus keluar dan menempelkan alat di belakang kepalanya.”

“Gila. Itu nekat banget.”

“Kesempatan langka. Atau kamu akan kehilangan satu-satunya jejak yang mungkin bisa membawa kita ke ibu Yuki.”

Aku menelan ludah. Ini gila. Tapi... aku udah bersumpah bakal lindungi Yuki dan cari ibunya.

Aku masuk ke ruang senjata. Pakai armor ringan, aktifkan pelindung tubuh, dan bawa satu neural link. Aku buka pintu shelter perlahan-lahan.

Yuki sempet lari keluar. “Shinn! Jangan pergi...!”

Aku menatapnya dan senyum. “Aku harus, Yuki. Mungkin dia bisa bantu kita ketemu ibu kamu.”

Dia cuma diam, tapi air matanya mulai jatuh.

Aku keluar. Jalan pelan-pelan. Zombie—atau ayah Yuki—masih diam.

Pas aku deketin, dia bergumam pelan banget.

“Yu...ki...”

Astaga... dia masih inget.

Tanganku gemetar pas tempelkan alat neural link ke belakang lehernya. Cahaya biru nyala. Koneksi aktif.

Aku langsung denger suara di pikiranku.

_Aku... Aldren... aku... masih ingat... jangan... biarkan dia sendirian._

Aku hampir jatuh saking kagetnya. Dia beneran masih sadar.

_Shelter... Yuki... Elya... selamatkan mereka..._

Tapi koneksi mendadak melemah. Tubuhnya mulai goyang, lalu jatuh berlutut.

“System, kenapa ini?”

“Sinyal neuralnya melemah. Waktunya nggak banyak.”

“Bisa diselamatkan?”

“Kalau kamu mau, aku bisa simpan memorinya di drive sistem. Tapi tubuh biologisnya... kemungkinan nggak bisa bertahan lama.”

Aku nyesek. Tapi aku angguk. “Ambil semua memorinya. Simpan.”

Setelah itu, tubuh Aldren ambruk ke tanah. Aku terdiam di sampingnya beberapa saat sebelum akhirnya narik nafas panjang dan masuk ke dalam lagi.

Yuki langsung lari dan meluk aku. “Shinn... kamu ketemu dia?”

Aku mengangguk. “Iya. Dia ayahmu, Yuk. Dan... dia sayang banget sama kamu.”

Yuki diam. Lalu pelan-pelan air matanya jatuh.

“Dia bilang, dia ingin kamu tetap aman... dan dia minta aku jagain kamu.”

Yuki mengangguk pelan, lalu tiba-tiba memelukku lebih kencang.

“Shinn... jangan tinggalin aku juga...”

Aku mengusap kepalanya. “Aku nggak akan ke mana-mana. Kita bareng-bareng, ya?”

System muncul lagi. “Memori berhasil disimpan. Koordinat terakhir keberadaan Elya telah ditemukan. Kemungkinan besar dia berada di zona barat—wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kota Reruntuhan Tertutup.”

Aku memandang layar, lalu genggam tangan Yuki. “Ayo kita siapkan perjalanan ke sana. Kita bakal temuin ibu kamu, Yuk.”

Yuki angguk. “Tapi... zombie-nya banyak banget di sana, kan?”

Aku senyum nakal. “Tenang. Kita punya senjata rahasia... kamu!”

“Hah? Aku?”

“Yup. Si imut yang bisa bikin siapa pun luluh. Termasuk aku.”

Yuki ketawa. Untuk pertama kalinya hari itu, tawa kecilnya mengisi shelter yang dingin dan sepi. Suara yang mengingatkanku: ini bukan cuma soal bertahan hidup.

Ini soal harapan.

Dan keluarga.

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
Episodes

Updated 54 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!