Episode 14– Rei dan Alicia

Saat di dalam mobil, Alicia membuka laci kecil dalam mobil dan mendapatkan sebungkus kemasan kapas dan obat merah. Alicia akan mengobati memar di bibir Rei itu. Tapi Rei menolaknya karena ia selalu bilang kalau ia tidak apa-apa. Tidak ada yang sakit dan terluka.

Alicia pun mengurunkan niat. Ia kembali menaruh obat itu ke dalam laci, lalu menyentuh kemudi mobil dan menyandarkan tubuhnya di bangku. Begitu juga dengan Rei. Mereka menghembuskan napas berat bersamaan.

“Untuk sekarang sepertinya aku harus menghemat tenagaku untuk nanti sore.” Batin Rei. Ia menatap keluar jendela lalu bengong.

Alicia kembali mengejutkannya dengan pertanyaan. Seketika Rei langsung kembali menoleh ke Alicia.

“Rei, bagaimana kau bisa tahu orang itu ingin mencuri? Padahal kita sedang berjalan. Matamu sepertinya tajam sekali.” Itulah yang ditanyakan Alicia secara tiba-tiba.

“Oh, kau harus mengetahui tandanya. Awalnya aku curiga. Pria tadi selalu dekat sekali jaraknya dengan nenek malang itu. Selalu berjalan di belakang si nenek. Sedangkan neneknya sendiri terlihat seperti tidak mempedulikan si pria itu. Jika pria itu ingin melewati si nenek, maka ia bisa berjalan lebih cepat di sampingnya. Tapi ini tidak. Dari sana lah aku mulai curiga. Saat di depan toko tadi tidak ada orang di sana. Mungkin aku pikir, kesempatan itulah yang akan si pria itu lakukan untuk menjambret tas si nenek.”

“Makanya sebelum itu terjadi, aku memintamu untuk berhenti. Tapi sebelum aku keluar, aku menatap kaca spion dulu untuk memeriksa keadaan belakang. Mereka berdua dapat terlihat, yaitu si korban dan pelaku. Ternyata benar saja, saat aku perhatikan kepalanya menoleh ke sekitarnya lalu tangannya mulai beraksi. Saat itulah aku mulai bergegas tadi.” Penjelasan pun diakhiri.

Alicia mengangguk paham. Ia membuang muka dari Rei lalu tersenyum. Lalu di dalam hati ia bergumam, “Pemikirannya cepat sekali dan insting yang tepat! Aku suka.” Setelah itu, ia kembali menatap Rei dengan wajah biasa lalu mengacungkan jempol padanya.

“Kerja bagus, Rei!”

“Ya. Makanya kau juga harus lebih memperhatikan. Bukan patroli kalau kejadian seperti tadi saja kau lewat dan tinggalkan.” Ucapan Rei langsung menusuk Alicia.

Alicia sendiri hanya menahannya dengan senyuman. Setelah itu Rei bergumam, “Pria itu nekat juga ternyata. Ada mobil polisi yang lewat, tapi ia tetap tidak peduli dan terus melaksanakan aksinya.”

“Tapi sayangnya dia kabur.” Sela Alicia. “Aku takut kalau pria tadi merencanakan aksi yang sama di tempat lain.”

“Maka dari itu, dia tidak boleh dibiarkan. Untung aku ingat dengan wajahnya.”

“Keren, Rei! Nanti kau beritahu ke pak kepala ciri-cirinya. Biar digambarkan oleh mereka dan dicari orang itu dengan segera.”

“Iya baiklah. Tapi kalau aku ada waktu.”

“Hei, memangnya kau sibuk selalu, ya? Kalau aku perhatikan, kau selalu malas-malas saja.”

“Kau tidak tahu kegiatanku yang sebenarnya.”

“Hehe… oke deh tukang sibuk!”

“Sudah, jangan banyak bicara. Lanjutkan saja tugasmu dan jalankan mobil ini.” Ucap Rei cepat dengan malas. Ia kembali membuang muka dan lebih memilih menatap keluar jendela. “Peranku di sini hanya untuk menemanimu saja. Aku tidak ingin banyak membuang energi.”

Alicia cemberut setelah mendengarnya. Ia menghela napas panjang lalu kembali memutar kunci mobil dan menyalakannya. Setelah itu menjalankannya secara perlahan. Rei duduk dengan malasnya di dalam mobil sambil menunggu senja.

Namun saat siang hari, mereka memutuskan untuk berhenti sejenak. Membeli minuman dan istirahat sebentar di dalam mobil.

****

Siang hari yang panas, tidak mematahkan semangat para pelajar untuk menuntut ilmu di tempat mereka. Untung AC di kelas masih menghembuskan angin yang sejuk. Jadi tidak terlalu panas. Tapi ya… tetap saja panas di otak mereka karena menerima banyak pelajaran hari ini.

Dennis yang sedang menyimak pelajaran dari materi yang dijelaskan gurunya di depan selalu menguap. Baru saja ia menguap untuk yang kelima kalinya karena merasa ngantuk dengan pelajaran.

Sementara Cahya di sampingnya juga merasakan hal yang sama. Kalau Akihiro sudah tidur entah sejak kapan. Ia menutupi kepalanya dengan buku biar terlihat seakan ia sedang membaca.

Yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Ada yang memerhatikan sambil menahan mata agar tidak terkalahkan oleh kantuk, ada yang sibuk mainin pulpennya, ada yang menggambar di kursi belakang. Kalau Viro hanya membaca buku yang tidak dibahas materi sekarang.

Intinya mereka semua berharap, bel cepat muncul dan segera pulang!

****

Hari-hari yang melelahkan pun berlalu. Padahal mereka hanya duduk saja di tempatnya, tapi benar-benar menguras tenaga otak. Kalau duduk terlalu lama juga tidak enak. Tapi untungnya semuanya telah berakhir hari ini. Mereka bisa mengeluhkan hari esok saat di rumah saja.

Sekarang waktunya pulang!

“Dennis, nanti kita beli ikan bakar dulu, ya? Sebelum pulang," tanya Cahya setelah ia menggendong tasnya di belakang. "Kemarin kan kita gak jadi beli."

Dennis yang sedang merapihkan bukunya hanya mengangguk. Lalu setelah ia mengangkat tasnya juga, Dennis menjawab, “Ya. Beli lebih. Untuk si Hitam juga dan kucing lainnya yang suka nunggu di halaman belakang.”

“Oke ayo!”

“Hei, kalian mau beli ikan, ya?” Akihiro tiba-tiba muncul dari belakang Cahya dan mengejutkannya. “Aku beliin, ya? Hehehe….”

Cahya tersenyum sinis. “Heh? Mau? Tapi bilang mohon dulu.”

“Ah, ayolah! Masa begitu?”

“Harus, lah!”

“Huh, berarti kau tidak ikhlas membelikan aku ikannya.”

“Terserah kalau tidak mau dibelikan.”

“Oh, ayolaaaah!!”

Dennis yang melihat kelakuan kedua temannya itu hanya bisa tertawa kecil. Ia menggeleng pelan lalu menyentuh pundak Akihiro dan berbisik. “Ayolah, Kak Dian aku yang beliin.”

“Oh, benarkah?”

“Hei! Kalian bisikkin apa tuh?”

“Bukan apa-apa! Hehe….”

“Se–sekarang ayo kita pulang!”

“Yeay! Ikan bakar yang enak!”

Dennis dan Akihiro terlihat bersemangat sekali. Lalu mereka berlari keluar kelas meninggalkan Cahya yang masih berdiri. Cahya pun berteriak, “Oy! Kalian berdua, tunggu!” dan langsung berlari mengejar kedua temannya yang mendahuluinya.

Setelah kelas selesai, biasanya para mahasiswa lainnya langsung bubar dan buru-buru untuk pulang. Tapi berbeda dengan hari ini. Entah kenapa, baru Dennis, Cahya dan Akihiro saja yang pergi. Yang lain masih di kelas membereskan barang-barang mereka secara perlahan. Tapi sikap mereka seperti disengaja dan sudah direncanakan.

Lalu setelah kelompoknya Dennis pergi, semua mata langsung menuju ke pintu depan kelas. Tiba-tiba saja mereka semua langsung bergegas untuk bersiap. Lalu setelah itu, semuanya pun bersama-sama keluar dari kelas.

Di kelas hanya tinggal si anak penyendiri, yaitu Viro. Ia berpura-pura membaca buku, tapi ia juga mencurigai sikap teman-temannya. Setelah semuanya pergi, Viro baru beranjak dari tempatnya sambil mengetik ponelnya. Saat itulah, kelas pun sepi.

“Dennis! Setelah beli ikan, kita beli es, ya? Aku haus.” Pinta Akihiro yang berjalan di samping kiri Dennis.

Lalu Cahya yang ada di samping sebaliknya itu langsung membentak Akihiro. “Enak banget kamu mintanya! Kenapa ga beli sendiri?”

“Aku mau beli sendiri! Tadi aku Cuma ngajak Dennis doing, loh!”

“Oh, gitu. Aku juga ikut, hehe….”

“Sudahlah kalian berdua.” Dennis tersenyum ragu lalu tertawa kecil. Ia menghentikan langkah sejenak untuk bicara dengan kedua temannya sebentar. “Kita akan beli apa saja nanti. Hanya makanan, ya? Untuk istirahat di rumah. Kan seperti biasa. Kebetulan tadi ibuku memberi lebih, hehe… beliau baik sekali!”

“Bagus itu, Dennis! Aku mau cemilan yang banyak, haha….”

“Hadeh… aku ikut denganmu saja lah, Dennis!”

“Hehe… baiklah, sekarang ayo pergi! Diawali dengan membeli ikan bakar yang enak itu, umm….”

“Oke ayolah… keburu gelap!”

Dennis dan Cahya mengangguk. Mereka akan pergi keluar dari lingkungan kampus. Tapi sebelum itu, seseorang berteriak memanggil Cahya dari belakang. Cahya sendiri menoleh, diikuti dengan Dennis dan Akihiro.

Ada seseorang yang tak dikenal berlari menghampiri. Hanya Dennis dan Akihiro saja yang tidak mengenalnya. Tapi ternyata Cahya mengenal orang itu.

“Se–senior? Ada apa?” Cahya menyahut.

Senior yang dibilang Cahya itu pun sampai dan berdiri di hadapannya. Seniornya adalah laki-laki yang tampan dan memiliki tubuh yang bagus. Berkulit putih yang halus dan mata hijau yang indah. Hidung mancung dan memiliki rambut yang rapih. Dia idaman para cewek di kampus. Tak jarang beberapa wanita selalu menatapnya saat ia lewat. Apalagi seperti saat ini.

Semua mahasiswa berada di luar gedung untuk menuju gerbang dan berjalan pulang. Tapi saat senior itu mendekati Cahya, pandangan mata mereka menatap Cahya. Dennis jadi merasa tidak nyaman dengan tatapan mata mereka. Seketika ia bergumam dalam hati, “Tolong jangan lihat aku. Jangan lihat.”

Sementara itu, Akihiro, “Waw, para ladies menatapku dengan mata indah mereka. Semoga aku terlihat keren di mata mereka, hihi….”

“Maaf mengganggu waktumu sebentar.” Senior itu menjawab Cahya akhirnya. Tapi tiba-tiba saja pipinya mengeluarkan blush yang terlihat samar. Tak lama wajahnya memerah. “Aku… ada yang ingin aku berikan dan ucapkan padamu.”

“Eh?” Cahya menelengkan leher. Menatap senior dengan mata besarnya, lalu mengedipkannya sebanyak dua kali. “Apa yang ingin senior tanyakan padaku?”

“Um… anu… begini… mumpung lagi ada waktu yang tepat… aku ingin bilang padamu kalau…” Senior mulai merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sesuatu. Dengan cepat, ia langsung memberikan sebuah amplop putih pada Cahya.

“Cahya! Aku suka padamu!”

*

*

*

To be continued–

Terpopuler

Comments

fah !!

fah !!

serasa mau ship Rei x Dennis aku tuh
btw ini cuma pandangan bagi para fujofudan ya:v jgn ngehujat aku

2021-02-11

1

☆???🐇

☆???🐇

eehh?! 🐰😂

2020-12-25

0

Nene

Nene

Hem....melihat Alicia dekat Ama Rei membuat diriku naik darah...rasanya mau....

Mencabut kedua tangannya yang menyentuh Rei dan mengeluarkan isi kepalanya agar bisa menghilangkan ingatannya terhadap rei

2020-09-19

8

lihat semua
Episodes
1 Episode 1– Cerita Horor
2 Episode 2– Kasus yang Sama
3 Episode 3– Sore Hari
4 Episode 4– Mencari Akihiro
5 Episode 5– Rumah Tua
6 Episode 6– Penemuan Mayat
7 Episode 7– Bermalam Bersama Keluarga
8 Episode 8– Kemunculannya
9 Episode 9– Mimpi Buruk
10 Episode 10– Serangan Hantu Malam
11 Episode 11– Cafe
12 Episode 12– Cafe, part 2
13 Episode 13– Tuduhan
14 Episode 14– Rei dan Alicia
15 Episode 15– Cinta Sejati Dennis
16 Episode 16– Anak-anak Badung
17 Episode 17– Pemikiran Rei
18 Episode 18– Kematian
19 Episode 19– Kecemasan Dennis
20 Episode 20– Ada yang Terbunuh Lagi
21 Episode 21– Rei dan Viro
22 Episode 22– Kedatangan Adel & Yuni
23 Episode 23– Tentang Viro
24 Episode 24– Tragedi di Stasiun
25 Episode 25– Keributan di Kelas
26 Episode 26– Siapa yang Akan Mati?
27 Episode 27– Kantin
28 Episode 28– Berdiskusi
29 Episode 29– Berdiskusi, part 2
30 Episode 30– Menyelamatkan Dedi
31 Episode 31– Mayat yang Termutilasi
32 Episode 32– Catatan Rei
33 Episode 33– Hantu itu Kembali Menyerangku
34 Episode 34– Jalan-jalan Hari Minggu
35 Episode 35– Jalan-jalan Hari Minggu, part 2
36 Episode 36– Firasat Cahya
37 Episode 37– Pengganggu
38 Episode 38– Kecelakaan
39 Episode 39– Di Rumah Dennis
40 VISUAL NOVEL
41 Episode 40– Dennis dan Rei
42 Episode 41– Rei dan Viro (2)
43 Episode 42– Orang Asing
44 Episode 43– Kabar Duka
45 Episode 44– Vira
46 Episode 45– Dirasuki
47 Episode 46– Perempuan Aneh
48 Episode 47– Kematian Beruntun
49 Episode 48– Berkumpul
50 Episode 49– Berkumpul, part 2
51 Episode 50– Berkumpul, part 3
52 Episode 51– Berkumpul, part 4
53 Episode 52– Rei dan Lino
54 Episode 53– Pisau
55 Episode 54– Mengantar Pulang
56 Episode 55– Siapa Mereka Ini?!
57 Episode 56– Orang Asing (2)
58 Episode 57– Laura
59 Episode 58– Laura, part 2
60 Episode 59– Balas Dendam
61 Episode 60– Balas Dendam, part 2
62 Episode 61– Pembalasan yang Sia-sia
63 Episode 62– Malam yang Merepotkan
64 Episode 63– Persiapan
65 Episode 64– Persiapan, part 2
66 Episode 65– Rumah Tua
67 Episode 66– Buku Gambar
68 Episode 67– Buku Gambar, part 2
69 Episode 68– Buku Gambar, part 3
70 Episode 69– Mencari Teman yang Hilang
71 Episode 70– Mayat dalam Kamar Mandi
72 Episode 71– Mencari Teman yang Hilang (2)
73 Episode 72– Serangan Chiko
74 Episode 73– Ruang Rahasia
75 Episode 74– Melarikan Diri
76 Episode 75– Zaky dan Kasih
77 Episode 76– Anjing Hitam
78 Episode 77– Anjing Hitam, part 2
79 Episode 78– Masa Lalu dan Kenangan
80 Episode 79– Kain Putih
81 Episode 80– Serangan Chiko (2)
82 Episode 81– Pengorbanan
83 Episode 82– Pengorbanan (2)
84 Episode 83– Kain Putih (2)
85 Episode 84– Ancaman
86 Episode 85– Jalan Keluar
87 Episode 86– Jalan Keluar (2)
88 Episode 87– Rumah Sakit
89 Episode 88– Gadis itu Lagi
90 Episode 89– Merasa Kehilangan
91 Episode 90– Suprise
92 Episode 91– Penjelasan
93 Episode 92– Taman Hiburan
94 Episode 93– Moment Bahagia
95 Episode 94– Malam Pertama
96 Episode 95– Vira yang Sebenarnya
97 PENGUMUMAN BARU
98 Hmmm
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Episode 1– Cerita Horor
2
Episode 2– Kasus yang Sama
3
Episode 3– Sore Hari
4
Episode 4– Mencari Akihiro
5
Episode 5– Rumah Tua
6
Episode 6– Penemuan Mayat
7
Episode 7– Bermalam Bersama Keluarga
8
Episode 8– Kemunculannya
9
Episode 9– Mimpi Buruk
10
Episode 10– Serangan Hantu Malam
11
Episode 11– Cafe
12
Episode 12– Cafe, part 2
13
Episode 13– Tuduhan
14
Episode 14– Rei dan Alicia
15
Episode 15– Cinta Sejati Dennis
16
Episode 16– Anak-anak Badung
17
Episode 17– Pemikiran Rei
18
Episode 18– Kematian
19
Episode 19– Kecemasan Dennis
20
Episode 20– Ada yang Terbunuh Lagi
21
Episode 21– Rei dan Viro
22
Episode 22– Kedatangan Adel & Yuni
23
Episode 23– Tentang Viro
24
Episode 24– Tragedi di Stasiun
25
Episode 25– Keributan di Kelas
26
Episode 26– Siapa yang Akan Mati?
27
Episode 27– Kantin
28
Episode 28– Berdiskusi
29
Episode 29– Berdiskusi, part 2
30
Episode 30– Menyelamatkan Dedi
31
Episode 31– Mayat yang Termutilasi
32
Episode 32– Catatan Rei
33
Episode 33– Hantu itu Kembali Menyerangku
34
Episode 34– Jalan-jalan Hari Minggu
35
Episode 35– Jalan-jalan Hari Minggu, part 2
36
Episode 36– Firasat Cahya
37
Episode 37– Pengganggu
38
Episode 38– Kecelakaan
39
Episode 39– Di Rumah Dennis
40
VISUAL NOVEL
41
Episode 40– Dennis dan Rei
42
Episode 41– Rei dan Viro (2)
43
Episode 42– Orang Asing
44
Episode 43– Kabar Duka
45
Episode 44– Vira
46
Episode 45– Dirasuki
47
Episode 46– Perempuan Aneh
48
Episode 47– Kematian Beruntun
49
Episode 48– Berkumpul
50
Episode 49– Berkumpul, part 2
51
Episode 50– Berkumpul, part 3
52
Episode 51– Berkumpul, part 4
53
Episode 52– Rei dan Lino
54
Episode 53– Pisau
55
Episode 54– Mengantar Pulang
56
Episode 55– Siapa Mereka Ini?!
57
Episode 56– Orang Asing (2)
58
Episode 57– Laura
59
Episode 58– Laura, part 2
60
Episode 59– Balas Dendam
61
Episode 60– Balas Dendam, part 2
62
Episode 61– Pembalasan yang Sia-sia
63
Episode 62– Malam yang Merepotkan
64
Episode 63– Persiapan
65
Episode 64– Persiapan, part 2
66
Episode 65– Rumah Tua
67
Episode 66– Buku Gambar
68
Episode 67– Buku Gambar, part 2
69
Episode 68– Buku Gambar, part 3
70
Episode 69– Mencari Teman yang Hilang
71
Episode 70– Mayat dalam Kamar Mandi
72
Episode 71– Mencari Teman yang Hilang (2)
73
Episode 72– Serangan Chiko
74
Episode 73– Ruang Rahasia
75
Episode 74– Melarikan Diri
76
Episode 75– Zaky dan Kasih
77
Episode 76– Anjing Hitam
78
Episode 77– Anjing Hitam, part 2
79
Episode 78– Masa Lalu dan Kenangan
80
Episode 79– Kain Putih
81
Episode 80– Serangan Chiko (2)
82
Episode 81– Pengorbanan
83
Episode 82– Pengorbanan (2)
84
Episode 83– Kain Putih (2)
85
Episode 84– Ancaman
86
Episode 85– Jalan Keluar
87
Episode 86– Jalan Keluar (2)
88
Episode 87– Rumah Sakit
89
Episode 88– Gadis itu Lagi
90
Episode 89– Merasa Kehilangan
91
Episode 90– Suprise
92
Episode 91– Penjelasan
93
Episode 92– Taman Hiburan
94
Episode 93– Moment Bahagia
95
Episode 94– Malam Pertama
96
Episode 95– Vira yang Sebenarnya
97
PENGUMUMAN BARU
98
Hmmm

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!