Jason baru saja tiba di rumah. Pria itu melangkah masuk sambil melonggarkan dasinya. Dia merasa lelah dan ingin segera istirahat. Pak Jim menyambut kedatangan Jason dengan penuh hormat. Pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya melihat Celine tidak pulang bersama dengan Jason.
"Tuan, di mana Nona Celine?"
Jason dan Ben sama-sama menahan langkah kaki mereka. Karena terlalu sibuk, mereka tidak lagi memikirkan Celine. Bahkan sampai tidak tahu kalau ternyata malam ini dia belum juga pulang ke rumah.
"Tadi siang saya lihat Nona Celine pergi ke makam, Tuan," jelas Ben apa adanya.
Jason yang awalnya terlihat panik kini memasang ekspresi biasa saja. Pria itu duduk di sofa. Seorang pelayan wanita ingin membukakan sepatunya. "Dia tidak akan berani kabur. Tidak ada juga yang akan berani menyakitinya."
Ben mengangguk dan tersenyum penuh arti. "Anda benar, Tuan. Tapi jika preman-preman itu tahu kalau Nona Celine adalah calon istri anda."
Jason menarik kembali kakinya saat pelayan wanita itu berlutut ingin membukakan sepatunya. "Shit!" umpat Jason. Pria itu segera merapikan penampilannya dan melangkah cepat menuju ke mobil. Ben mengejar Jason dari belakang. Dua pria itu mengendarai mobil yang berbeda agar bisa lebih cepat menemukan keberadaan Celine.
Di makam, Celine terbangun dari tidurnya. Wanita itu kaget melihat langit yang sudah berubah gelap. Dia terlihat khawatir dan takut. Karena terlalu banyak menangis, Celine merasa ngantuk. Dia tidak menyangka akan selama ini tidurnya.
"Astaga, Celine. Kau ini memang tukang tidur." Celine memukul kepalanya sendiri. Dia berdiri dan memandang keadaan sekitar. Wanita itu segera berlari meninggalkan lokasi makam.
"Bahkan aku tidak bawa ponsel. Di mana jalan rayanya? Di mana aku bisa menemukan taksi?"
Celine terus berjalan cepat menuju ke jalan masuk lokasi pemakaman. Dia kembali ingat kalau di sana dia pasti bisa menemukan taksi. Sepatunya telah terlepas dan Celine lebih memilih untuk melangkah tanpa sepatu hak tingginya.
"Apa jaraknya begitu jauh? Kenapa tidak sampai-sampai?" protes Celine lagi saat kakinya mulai lelah karena berjalan terlalu jauh. Sesekali Celine memandang ke belakang. Sunyi dan begitu menakutkan. Pohon-pohon yang ada di pinggiran jalan terlihat begitu menyeramkan.
"Kakiku sakit sekali." Celine duduk di pinggir jalan. Lututnya belum sembuh dan sekarang dia harus melangkah dengan begitu jauh. Dengan kesal Celine melempar sepatu yang sempat dia jinjing ke depan. "Bodoh, Celine. Kau begitu ceroboh."
Celine berusaha mengatur napasnya. Dia harus tenang menghadapi situasi seperti ini. Dipandangnya sekali lagi jalanan menuju ke jalan raya. Dengan penuh tekad wanita itu berdiri dan melanjutkan langkah kakinya.
"Hei, cantik. Apa kau tersesat?"
Celine manahan langkah kakinya. Dia menoleh ke samping. Kedua matanya membulat lebar melihat tiga orang preman berdiri di sana. Memegang sebotol minuman keras. Penampilannya dan gayanya begitu urakan. Bahkan untuk berjalan saja mereka terlihat sempoyongan.
"Kau dalam masalah, Celine." Celine segera mengatur strategi sebelum berlari kencang untuk menjauh dari preman itu. Dia tidak mau sampai tertangkap. Entah bagaimana nasipnya nanti jika dia sampai tertangkap.
Prang.
Suara pecahan kaca terdengar begitu nyaring ketika sebuah botol anggur berhasil mendarat di kepala Celine. Wanita itu terduduk sambil berusaha menahan rasa sakit. Dia memegang kepalanya yang berdarah. Bersamaan dengan itu, preman tersebut sudah mengepungnya. Menertawainya seperti sudah tidak sabar untuk memilikinya.
"Mau lari ke mana cantik? Ayo kita bersenang-senang." Salah satu preman ingin menyentuh tangan Celine. Tapi dengan cepat wanita itu menangkisnya.
Preman lain justru menjambak rambut Celine karena tahu Celine akan berontak. Sisanya mengangkat tubuh Celine dan mereka membawanya ke pinggir jalan.
"Lepaskan. Bajingan!" Celine berusaha mengumpat. Dia tidak habis pikir, kenapa lagi-lagi harus mengalami kejadian buruk seperti ini?
"Sssttt. Diam, cantik. Kau bisa kehabisan tenaga nanti." Dua preman itu memegang kedua tangan Celine. Sedangkan satunya seperti sudah tidak sabar memiliki Celine.
Dengan napas terputus-putus Celine berusaha mengumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa. Tepat saat pria itu ingin memilikinya, Celine berhasil menendang organ produksi pria itu. Lumayan menyakitkan. Bahkan berhasil membuat pria itu meringis kesakitan.
"Jalang, sialan!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Celine. Sudut bibir wanita itu berdarah. Ketika satu preman yang sempat memegang tangannya berusaha menolong temannya yang terduduk menahan sakit. Celine memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Dia mengigit satu tangan yang memegang tangannya. Hingga genggaman itu berhasil terlepas.
"Kau tidak akan bisa kabur dari sini!" ancam preman itu lagi.
Celine melihat sorot lampu mobil menuju ke arahnya. Wanita itu tidak mau memandang ke belakang lagi. Dia terus saja berlari kencang. Tapi sialnya, preman itu berhasil menangkap Celine. Memegang tangan Celine dengan sekuat tenaga. Celine kehabisan akal. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk melawan preman itu. Celine ditarik ke balik pohon untuk bersembunyi.
"Aku harus bisa meminta tolong pada pemilik mobil itu?"
Preman itu menarik blazer Celine. Celine hanya diam memandangnya. Tidak lagi melakukan perlawanan. Preman itu tersenyum puas. "Sudah menyerah?"
Celine tersenyum tipis sebelum memukul pria itu dengan batu yang baru saja dia temukan.
Celine berlari kencang ke tengah jalan saat mobil itu melaju dengan cepat. Suara decitan rem terdengar dengan jelas. Meleset sedikit saja, mungkin Celine akan tertabrak mobil itu karena muncul secara tiba-tiba.
Celine memandang ke arah preman itu lagi. Bersamaan dengan itu, Jason keluar dari mobil. Pria itu shock melihat keadaan Celine. "Celine."
Celine memandang ke samping. Wajahnya terlihat lega melihat Jason berhasil menemukannya. Jason segera melepas jasnya dan menutupi tubuh Celine. Tiga preman itu muncul dan berdiri menatap ke arah Jason. Wajah mereka bertiga terlihat ketakutan.
Mobil Ben juga berhenti setelahnya. Pria itu keluar dari mobil dan menghampiri Celine. Melihat wajah Celine yang memar karena ditampar membuat Ben melirik tajam ke arah preman-preman itu.
"Mereka mau memperko*saku!" ucap Celine dengan penuh rasa dendam.
Jason menggertakkan giginya. Tangannya terkepal kuat membayangkan perlakuan jahat preman itu terhadap tunangannya. Ben segera maju untuk memberi mereka pelajaran.
"Beraninya kalian menyentuh tunangan Jason Lionidas."
Mendengar nama Jason Lionidas membuat tiga preman itu segera berlutut dan memohon ampun. Jason segera menggendong Celine. Membawanya masuk ke dalam mobil. Masalah preman itu dia serahkan kepada Ben.
Di dalam mobil, Celine kembali bernapas lega. Bahkan saat darah mengalir deras di kepalanya dia tidak lagi merasakan sakit sedikitpun. Jason menyentuh sudut bibir Celine dengan jempolnya. Pria itu tersenyum sinis setelahnya. Dia kembali turun dari mobil. Jason tidak akan puas jika tidak menghajar preman-preman itu dengan tangannya sendiri.
Di dalam mobil, Celine memilih untuk memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya. Dia bisa melihat jelas ketika seorang Jason menyiksa orang yang dibencinya dengan sangat keji. Bahkan Celine pernah ada di posisi itu. Amukannya sangat tidak terkendali. Pria itu selalu saja berubah menjadi iblis ketika ada yang berani mengusik ketenangannya.
"Jason Lionidas. Iblis berwujud manusia," umpat Celine di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
TiniE's AcHmaD💏
posisi yg sulit jika celine sampe jatuh cinta sama jason n ingatanya kembali....dan ketemu belahan hatinya yg dulu
2025-03-08
0