"Aku baru saja selesai mandi, Anna. Apa kamu pernah melihat Jonathan mandi dengan pakaian lengkap?!"
"Dia bukan pria tak tahu malu sepertimu!"
"Oh, benarkah?!" Alex tersenyum dan berjalan mendekati Anna ke tempat tidur. "Sebenarnya masih ada hal lain lagi yang bisa dilakukan oleh 'pria tak tahu malu' ini tanpa pakaiannya. Kau mau coba, Anna?" goda Alex seraya bersiap untuk membuka handuk yang sedang dikenakannya.
"Dasar mesum!"
Anna mendorong tubuh Alex dan segera turun dari tempat tidur. Seketika tawa Alex pun pecah. Ia merasa sangat puas karena berhasil menggoda kelinci kecil itu.
Anna berlari ke luar kamarnya untuk menghindari makhluk tampan nan menyebalkan yang selalu saja menggodanya itu. Masih terdengar tawa renyah Alex dari dalam kamar setelah ia berhasil membuat Anna tersipu lagi tadi.
'Dasar pria brengsek! Tidak tahu malu!' umpat Anna. Ia benar-benar kesal karena Alex selalu saja membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Anna menoleh saat mendengar pintu kamarnya yang terbuka. Bersamaan dengan munculnya sang iblis tampan yang telah berhasil mengusik ketenangan hidupnya selama beberapa hari terakhir ini.
"Anna, cepatlah bersiap. Aku akan menunggumu di bawah. Kau akan bertemu dengan Mickey," ujar Alex, tetapi Anna tak meresponnya. Wanita itu hanya diam terpaku di tempatnya.
'Sial! Dia tampan sekali,' gumam Anna tanpa sadar yang terus memperhatikan Alex sejak tadi.
Pria itu tampil gaya dengan setelan jas mahalnya. Dipadukan dengan kemeja berwarna merah maroon dan celana slim fit hitam. Dengan postur tubuhnya yang tinggi besar dan wajah tampannya, Alex benar-benar tampak menawan. Sadar jika Anna sedang terpana oleh kharismanya, maka Alex pun kembali menggoda Anna.
"Mengapa melihatku sepertiku? Apa kau mulai tertarik padaku?" Alex berjalan mendekati Anna dengan senyum khas-nya.
"Cih! Kau terlalu percaya diri, Tuan Muda. Nathan seribu kali lebih tampan darimu. Segeralah pergi berobat. Karena tingkat narsismu sudah mencapai level akut," ejek Anna yang membuat senyuman di wajah Alex menghilang seketika.
"Apa katamu?" Alex kesal karena Anna membandingkannya dengan Jonathan.
"Aku bilang tidak semua wanita akan terpesona padamu. Aku adalah salah satunya. Jadi menjauhlah dariku."
"Kau ...!" Alex menunjuk Anna dan menatapnya tajam. Sementara, Anna hanya memasang wajah datar.
Anna memang sengaja mengatakan hal itu tadi. Ia tidak ingin Alex menjadi besar kepala karena mengetahui jika dirinya memang sempat terpana tadi. Anna pun segera meninggalkan Alex dan masuk ke kamarnya, karena jika tidak maka jantungnya akan copot karena terus berdebar kencang.
Alex menatap sosok Anna yang telah menghilang dari balik pintu kamarnya. Ia pun kembali berdecak kesal.
'Cih! Dasar wanita. Perkataan hati dan mulutnya selalu saja berbeda. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu mencintaiku juga dan melupakan tunanganmu itu.'
Alex segera keluar dari kamar Anna dan kembali ke kamarnya. Ia harus mengecek keadaan Michael karena ia meninggalkan anak itu semalam bersama dengan seorang pelayan.
"Tuan Muda Williams," sapa pelayan itu saat melihat kedatangan Alex.
"Di mana dia? Mengapa kau berada di luar?" Alex bingung karena pelayan itu malah berdiri di luar pintu kamarnya dan bukan menemani Michael di dalam.
"Putra Anda berada di dalam kamar dan sedang mengamuk. Ia mengusir saya dan tidak mengizinkan saya untuk menemaninya di kamar," terang pelayan wanita itu. Alex pun mengerti jika Michael pasti masih marah karena kejadian semalam.
"Baiklah. Kau pergilah dulu. Biar aku yang mengurusnya."
"Baik, Tuan Muda. Permisi."
Setelah kepergian pelayan itu, Alex pun segera membuka kamarnya. Belum sempat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar itu, seketika ia merasakan hujan bantal yang dilempar Michael secara bertubi-tubi. Bantal-bantal itu pun sukses mengenai wajah Alex.
"Om Alex jahat! Aku mau ibu! Aku ingin bertemu ibu!" teriak Michael seraya terus melayangkan beberapa benda lainnya.
Alex segera menghampiri Michael dan menggendongnya, tetapi Michael terus meronta dalam pelukan ayahnya. Bahkan ia menggigit bahu Alex agar pria itu melepaskannya.
"Argh!" Alex meringis pelan, tetapi tetap mendekap erat putranya.
"Lepaskan aku! Aku ingin bertemu ibu!"
"Mickey, jika kau terus bertingkah nakal, maka aku tidak akan membawamu untuk bertemu dengan ibumu lagi."
Ancaman Alex sukses membuat bocah kecil itu tenang dan menghentikan tangisnya. Alex kemudian mengambil tisu dan menyeka air mata di wajah putranya itu.
"Apa kau akan membawaku bertemu ibu?"
"Tergantung pada sikapmu. Jika kau nakal maka aku akan terus mengurungmu di sini."
"Tidak! Aku janji tidak nakal lagi!" Alex tersenyum melihat tatapan penuh harap dari mata Michael.
"Benarkah?"
"Iya, aku janji." Michael menjulurkan kelingking mungilnya ingin melakukan pinky swear dengan Alex.
"Baiklah. Tetapi, kau harus mandi dulu. Setelah itu, kita akan menemui ibumu."
Alex pun membawa bocah kecil itu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ini adalah pertama kalinya Alex melayani seseorang. Namun, semua terasa menyenangkan baginya dan ia pun bertekad tidak akan melepaskan mereka lagi dari sisinya.
Alex benar-benar mendalami perannya sebagai seorang ayah. Ia sangat telaten dalam mengurus bocah kecil itu. Kini, Michael telah siap. Ia terlihat imut dalam balutan T-shirt merah dan celana jeans hitamnya. Sangat serasi dengan pakaian yang Alex kenakan hari ini. Dan mereka pun semakin terlihat mirip satu sama lain.
Alex kemudian membawa Michael untuk bertemu dengan Anna di sebuah restoran di lantai bawah. Michael pun segera berlari menghampiri ibunya begitu ia melihat Anna yang telah menunggunya di sana.
"Ibu!"
"Mickey! Sayang!" Anna berlutut dan memeluk erat putranya itu. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja, Sayang?!"
"Aku baik-baik saja, Bu." Michael mengangguk. Anna pun kembali menciumi putra kesayangannya itu.
"Ya, Tuhan. Syukurlah akhirnya Ibu bisa bertemu denganmu lagi."
Alex menghampiri mereka dan segera mengatakan rencananya.
"Aku akan membawa Mickey pulang ke kota C bersamaku. Kau bisa ikut denganku atau kembali ke rumah Jonathan dan melupakan Mickey. Keputusan ada di tanganmu, Anna."
Anna mendongak menatap pria arogan itu. Ia tidak ingin Alex memisahkannya lagi dengan putranya.
"Baiklah. Aku akan mengikuti semua keinginanmu. Tetapi, aku mohon jangan pisahkan lagi Mickey dariku."
"Bagus! Jika kau tetap ingin bersama dengan putramu, kau memang harus mendengarkan semua perkataanku. Mulai sekarang kau harus meninggalkan Jonathan dan pulang denganku ke kota C!"
Anna tahu ia tak mungkin menang melawan Alex dan dia pun tak ingin berpisah lagi dari Michael jadi mau tak mau dia harus mengikuti perkataan Alex. Anna mengangguk menyetujui permintaan Alex. Lebih baik dia yang menderita daripada harus kehilangan putranya. Alex tidak ingin mengancam Anna seperti ini, tetapi ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa mendapatkan Anna dan Michael.
.
.
.
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya mereka pun tiba di kota C. Alex membawa Anna dan Michael kembali ke kediaman pribadinya.
Rumah yang terdiri dari 3 lantai itu sangatlah mewah dengan berbagai fasilitas tersedia di dalamnya seperti gym, bioskop, kolam renang, ruang baca dengan beragam buku bak perpustakaan nasional dan juga taman bermain.
Terletak di lingkungan dengan keamanan yang sangat ketat dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan umum, sehingga membuat suasana tidak bising karena deru kendaraan. Sungguh sangatlah sesuai untuk ditinggali oleh anak kecil seperti Michael.
Di sana juga dekat dengan sekolah terbaik, rumah sakit berfasilitas canggih dan juga pusat perbelanjaan terlengkap. Karena letaknya yang sangat strategis inilah yang membuat harga rumah di sini bernilai sangat fantastis.
Ya, Alex memang mendirikan rumah ini khusus untuknya jika dia menikah nanti. Dia sendiri lebih sering tinggal di apartemennya yang berada dekat dengan kantor atau kembali ke kediaman keluarganya.
"Selamat datang, Tuan Muda Williams," sapa para pelayan saat mereka tiba di pintu masuk.
Alex hanya mengangguk kecil dan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dengan menggendong Michael dan menggandeng tangan Anna.
"Tuan Muda Alex." Kepala pelayan itu maju menghampirinya.
"Anna, ini adalah Charlie Adams. Dia adalah kepala pelayan di sini. Charlie, ini Anna Davis dan Michael mereka akan tinggal di sini mulai sekarang." Alex memperkenalkan mereka.
"Selamat siang, Nyonya Davis, Tuan Muda Kecil. Saya Charlie, Anda bisa memanggil saya kapan pun jika memerlukan sesuatu."
Charlie menyapa Anna dengan hormat. Ini adalah pertama kalinya Alex membawa seorang wanita ke sini. Apalagi dia sekarang sedang menggendong seorang anak kecil dengan penuh perhatian. Dan anak kecil itu sangatlah mirip dengan Alex. Jelas membuat para pelayan itu menjadi heran dan juga penasaran siapa wanita yang sedang bersama dengan majikannya itu.
"Selamat siang, Paman Charlie, panggil saja aku Anna." Anna tersenyum ramah.
"Baiklah, Nona Anna. Saya sudah mempersiapkan kamar untuk Anda dan Tuan Muda Kecil. Silahkan ikuti saya."
Sebelumnya Alex sudah menelepon Charlie dan memintanya untuk menyiapkan 2 buah kamar tamu saat ia tiba nanti. Dan sekarang Charlie mengerti untuk siapa kamar-kamar itu.
"Ehm, baik." Anna mengikuti Charlie, sementara Alex sudah membawa Michael ke taman bermain di halaman belakang.
Mereka pun naik ke lantai 2, di sana terdapat banyak ruangan. Kamar tidur utama terletak di tengah yang merupakan kamar Alex, sedangkan Anna menempati ruangan di sebelah kanan dan sebelah kiri ada kamar Michael yang memang di design khusus untuk di tempati anak-anak.
"Ehm, Paman Charlie, kurasa tak perlu menyiapkan kamar terpisah untuk Mickey. Dia sudah terbiasa tidur denganku. Lagi pula kami tidak akan lama tinggal di sini," tolak Anna.
Baru saja Charlie akan menjawabnya, tiba-tiba datang suara dari arah belakang mereka.
"Mickey sudah besar, dia harus tidur di kamarnya sendiri." Anna melihat Alex yang datang bersama dengan Michael.
"Hey, Sobat Kecil, ini adalah kamarmu, apakah kau suka?" tanya Alex pada putranya.
Michael pun turun dari gendongan Alex dan melihat kamarnya yang terdapat banyak sekali mainan, seketika dia pun merasa senang.
"Iya, Om Alex, aku suka." Michael terlihat sangat gembira, dia segera berlari ke arah tumpukan mainan itu dan mulai memainkannya.
"Mickey, kita hanya akan menginap beberapa hari saja di sini. Jangan merepotkan Om Alex. Tidurlah bersama dengan ibu." Anna membujuk putranya itu agar tidak terlena dengan segala pemberian Alex.
"Kau keluarlah dulu." Alex menyuruh Charlie untuk pergi.
"Baik, Tuan Muda."
"Anna, perlu kau ingat dia adalah putraku jadi dia akan tinggal bersama denganku dan berhak menikmati semua kekayaanku. Dan aku berkewajiban memberikan semua yang terbaik untuknya. Dia sudah besar sekarang dan dia harus belajar mandiri. Maka ia harus punya kamarnya sendiri," terang Alex.
"Tetapi, Mickey memang terbiasa tidur denganku, dia akan menangis jika terbangun di tengah malam dan tak ada orang di sampingnya." Anna tetap bersikeras dengan pendapatnya. Karena ia lebih mengenal Michael dibanding Alex.
"Oh, benarkah? Bagaimana kalau kita bertaruh?" Alex tersenyum menatap Anna.
"Bertaruh?"
"Ya, kita bertaruh. Jika Mickey dapat tidur di kamarnya sendiri dalam beberapa hari ini tanpa menangis, maka aku menang dan kau harus mengabulkan satu permintaanku."
"Bagaimana jika kau kalah?" Anna mulai tertarik dengan tantangan Alex.
"Maka aku yang akan mengabulkan permintaanmu," ujar Alex dengan senyum liciknya.
"Ok, aku setuju." Mereka pun berjabat tangan tanda kesepakatan dimulai.
Anna merasa Alex pasti akan kalah, karena Michael memang selalu ditemani saat tidur olehnya atau pun Jonathan. Jika ia menang, maka Anna akan meminta Alex untuk mengabulkan keinginannya. Anna ingin Alex melepaskannya dan Michael. Ia ingin kembali kepada Jonathan.
"Bagus. Aku pasti menang jadi bersiaplah untuk mengabulkan permintaanku." Alex tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Muda. Ingat kau harus menepati janjimu jika kau kalah."
Alex mendekati Anna dan mengurungnya dengan tangannya di dinding. Membuat jarak mereka menjadi sangat dekat.
"Aku pria yang menepati janji, Nona Davis. Lagi pula sepertinya bukan Mickey yang takut untuk tidur sendirian, melainkan kamu. Jika kau kesepian maka kau bisa datang ke kamarku atau kau mau aku yang datang dan menemanimu malam ini?"
Alex memainkan ujung helai rambut Anna dan mencium harum rambut lembutnya. Menatap lekat wanita kecil itu yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Dasar tidak tahu malu. Pergi sana!"
Anna mendorong Alex, tetapi pria itu tetap tidak bergerak malah semakin mendekati Anna. Menangkap kedua tangan Anna dan meletakkannya di atas kepalanya. Dengan satu tangan berada di dagu Anna dan perlahan naik ke bibirnya. Membelai lembut bibir merah itu dengan jemarinya. Anna terkejut dan panik dengan perlakuan mesra Alex. Pria ini semakin sering menggodanya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 203 Episodes
Comments
Yeni Setianingsih
jahat....jahat...jahat...
2022-08-08
0
Aqiyu
Jesica yang nikmati kartu hitam Alex ga tahu
2022-04-29
0
Dewie👓
sebenarnya aku suka katakter alex. tp sampai bab ini kok blm ada permintaan maafnya dan menjelaskan kejadian yg sebenarnya pada mlm itu
2021-12-26
0