"Selamat pagi, Anna," sapa seorang pria tampan kepadanya setelah Anna membuka pintu.
"Tu ... Tuan Collin?! Mengapa anda di sini?!"
Anna benar-benar terkejut melihat kedatangan bossnya di rumahnya sepagi ini.
"Saya akan membawamu ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan hari ini."
"Apa?! Te ... tetapi, Tuan ...."
Anna sudah melupakan jadwal pemeriksaannya pagi ini. Baginya dia baik-baik saja dan untuk apa membuang-buang uang untuk biaya ke rumah sakit lebih baik dia pakai untuk kebutuhannya sehari-hari.
"Ini sudah dijadwalkan oleh dokter dan kamu harus melakukannya. Kalau tidak diperiksa bagaimana jika kamu mempunyai penyakit yang membahayakan kami semua?!"
Jonathan sengaja memprovokasi Anna agar gadis itu mau ikut dengannya ke rumah sakit.
"Penyakit berbahaya?!"
Anna kaget dengan perkataan Jonathan. Bagaimana bisa dia mempunyai penyakit berbahaya? Dia merasa baik-baik saja selama ini.
"Ehm ... benar. Kau akan membahayakan seluruh pegawai dan pelanggan restoran jika penyakitmu tidak diperiksa."
'Membahayakan para pelanggan dan teman-temanku di restoran?! Tidak, ini tidak boleh terulang lagi!'
Dia teringat akan para pelanggan yang keracunan makanan di restoran ayahnya dulu. Walaupun dia yakin itu bukan salah ayahnya, tetapi dia juga tidak mau hal ini terjadi lagi di restoran tempatnya bekerja sekarang. Dia benar-benar tidak bisa menanggungnya lagi.
"Baiklah, Tuan Collin, saya akan ikut dengan anda. Tetapi, bisakah anda menunggu sebentar? Saya akan menyiapkan keperluan ibu saya dulu."
Dia memang harus menyiapkan sarapan dan keperluan lainnya untuk ibunya, baru setelah itu dia bisa meninggalkan ibunya sendiri di rumah. Anna tak mempunyai uang lebih untuk menyewa jasa pengasuh untuk ibunya.
"Baiklah, tidak apa-apa. Lagi pula ini masih terlalu pagi," jawab Jonathan santai seraya berlalu masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di sofa tanpa permisi.
'Sudah tahu ini masih pagi, lalu kenapa kamu ada di rumah orang?! Ini masih jam 6.05 pagi!'
"Hehe ... iya benar, ini masih pagi." Anna hanya bisa tersenyum canggung pada Jonathan.
"Tunggu saya sebentar, Tuan. Saya akan segera bersiap. Permisi," ucap Anna yang langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan ibunya.
Jonathan hanya tersenyum melihat tingkah lucu Anna. Gadis itu lebih fresh di pagi hari. Masih mengenakan kaos putih dan celana pendek hitam, rambut panjangnya yang terurai benar-benar sesuai dengan usia mudanya.
Karena Jonathan sehari-hari selalu melihat Anna dengan pakaian pelayan restoran dan rambut yang digulung rapi.
Jonathan bosan hanya duduk-duduk di sofa, dia pun bangkit dan melihat-lihat foto Anna dan keluarganya. Terdapat foto mereka sekeluarga yang sedang tertawa gembira dan ada juga foto-foto Anna lainnya yang menampilkan senyum cerah gadis itu. Tidak seperti Anna yang sekarang yang selalu tampak dewasa dan menutup dirinya.
'Apa yang telah dilalui gadis ini? Mengapa membuatnya seakan berubah?'
Saat sedang asik menatap foto Anna, tiba-tiba dari belakang terdengar suara terkejut Maria.
"Siapa kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini?!"
Jonathan membalikkan tubuhnya dan melihat ada seorang wanita paruh baya sedang menunjuk ke arahnya. Dia adalah wanita yang berfoto dengan Anna.
"Selamat pagi, Nyonya Davis, saya Jonathan Collin teman Anna," sapa Jonathan lembut yang mengetahui bahwa wanita ini adalah ibu Anna.
"Teman Anna? Apakah anda bekerja di restoran juga? Apakah anda sudah bertemu dengan ayahnya Anna? Bisakah anda agar menyuruhnya untuk segera pulang?"
Jonathan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, ia tampak kebingungan dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh Maria.
Anna yang mengetahui ibunya tidak berada di dalam kamar pun langsung bergegas ke ruang tamu untuk mencari ibunya.
Dan benar saja, ibunya memang berada di sana bersama Jonathan yang tampaknya kebingungan.
"Maaf, Tuan Collin, ibu saya kurang sehat. Jangan dengarkan kata-katanya."
Anna meminta maaf atas sikap ibunya yang selalu bertanya kapan suaminya pulang kepada semua yang dijumpainya. Bahkan para tetangga pun sudah paham jika Maria sangat terguncang atas meninggalnya suaminya.
"Gadis bodoh! Kamu menyumpahi ibumu ini agar sakit ya? Lihat aku baik-baik saja, hanya merindukan suamiku pulang. Tetapi, kamu malah membawa seorang pria asing ke rumah. Bagaimana jika sampai Andrew mengetahuinya? Dia pasti akan marah! Cepat usir dia!" teriak Maria marah.
"Eh ... tunggu dulu! Bagaimana bisa dia ada di sini sepagi ini? Jangan bilang kalau tadi malam dia menginap di sini?" Maria mulai mengoceh tak karuan.
Anna hanya bisa meminta maaf pada Jonathan yang sekarang benar-benar tampak bingung dan canggung.
"Ibu, ini Tuan Collin. Beliau adalah pemilik restoran tempat Anna bekerja," terang Anna.
"Pemilik restoran? Apakah ayahmu sudah menjual restorannya? Dimana dia sekarang? Lalu bagaimana denganku?" tanya Maria yang mengira bahwa Jonathan yang telah mengambil alih restoran suaminya itu.
Anna baru saja ingin menjelaskan kepada ibunya, tetapi tiba-tiba Maria berteriak.
"Tidak! Suamiku ...! Suamiku ...! Dia tidak bersalah! Jangan tangkap dia!" Maria berteriak histeris, teringat saat Henry ditangkap polisi.
Anna segera memeluk ibunya dan mencoba menenangkan wanita itu.
"Ibu ...! Ibu ...! Tenanglah dulu. Ayah baik-baik saja, Bu. Ayah akan pulang sebentar lagi. Ibu jangan menangis lagi jika tidak nanti ayah akan sedih melihatmu seperti ini."
"Benarkah dia akan segera pulang?" tanya Maria seraya mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat.
"Iya, benar, Bu. Tetapi, ibu jangan menangis lagi yah?"
"Baik ... baik ... ibu tidak akan menangis lagi. Ibu akan menunggunya pulang."
Anna pun menghela napasnya lega melihat ibunya yang sudah kembali tenang.
"Ibu, sarapanlah dulu, aku sudah menyiapkannya untukmu."
Anna membawa ibunya ke dalam dan meninggalkan Jonathan sendirian yang masih tercengang melihat kejadian tadi.
'Ya, Tuhan. Apa yang sebenarnya telah dilalui gadis itu? Sepertinya dia menyimpan luka yang sangat dalam.'
Setelah beberapa saat Anna pun kembali ke ruang tamu dan menemui Jonathan.
"Maaf, Tuan Collin, atas sikap ibu saya tadi. Itu pasti sangat mengejutkan anda." Anna meminta maaf pada Jonathan.
"Tidak apa-apa. Tetapi, apa yang terjadi pada ibumu? Apakah beliau baik-baik saja?" Jonathan teringat akan perubahan sikap Maria tadi.
"Tidak apa-apa. Ibu memang agak terguncang dengan berita kepergian ayah. Ibu masih mengganggap ayah masih hidup dan selalu menunggunya pulang setiap hari." Kenang Anna mengingat kematian ayahnya yang tragis.
"Oh, maaf, aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa, Tuan Collin. Itu sudah berlalu."
"Ehm ... lalu siapa Andrew? Mengapa ibumu sangat marah dan mau mengusirku tadi?"
Jonathan sangat penasaran dengan pria yang disebutkan Maria tadi. Apa dia adalah ayah bayi dalam kandungan Anna.
"Dia ... ah, bukankah kita mau pergi ke rumah sakit? Saya sudah siap. Ayo kita pergi."
Anna tidak ingin menceritakan tentang masa lalunya pada Jonathan. Ia pun mengalihkan pembicaraan Jonathan. Namun, pria itu menjadi semakin penasaran dengan Anna.
"Lalu bagaimana dengan ibumu? Apa tidak apa-apa meninggalkan dia sendirian di rumah?" tanya Jonathan khawatir.
"Tidak apa-apa. Selama tidak ada yang mengingatkannya soal ayah maka dia akan baik-baik saja. Saya juga sudah menitipkannya pada bibi tetangga, mereka akan menelepon jika ada masalah," terang Anna.
"Begitu? Baiklah, ayo kita berangkat."
.
.
.
Setelah beberapa saat berkendara, Jonathan pun menghentikan laju mobilnya.
"Ayo turun," ajak Jonathan yang membuat gadis itu kebingungan melihat tempat mereka berada sekarang.
'Bukankah tadi dia bilang akan membawaku pergi ke rumah sakit? Lalu mengapa sekarang malah pergi ke tempat ini?'
"Jadwal check up nya jam 9, kita akan sarapan dulu. Ayo kita turun," terang Jonathan yang melihat Anna tak kunjung turun juga dari mobil.
'Jadwal check up jam 9? Lalu mengapa dia sudah sampai di rumahku jam 6 pagi tadi? Apa memang benar penyakitku ini sangat berbahaya sehingga dia cepat-cepat ingin memeriksakannya?!'
Anna pun akhirnya turun dari mobil mengikuti langkah Jonathan yang sudah menuju ke arah restoran.
.
.
.
Rumah Sakit
Setelah Anna sampai ke ruang pemeriksaan, dia semakin bingung karena dokter melakukan USG kepadanya.
'Aku memang sering mual dan muntah, apakah karena lambungku bermasalah?'
Anna mengira jika ia mempunyai masalah lambung, maka dokter itu pun melakukan USG untuk memeriksanya.
"Tolong panggil dia masuk," ucap dokter Lucy kepada seorang perawat yang kemudian keluar sebentar dan masuk lagi bersama dengan Jonathan yang membuat Anna semakin malu dan bingung.
'Apa perlu menyampaikan langsung penyakitku kepada orang lain? Apakah tidak bisa jika mengatakannya saja dulu padaku?'
"Selamat, Tuan Davis, bayinya sehat."
Jonathan sudah tidak kaget lagi jika dipanggil dengan nama Davis hanya terlihat agak kecewa ternyata Anna benar hamil.
"Hah?! Bayi?! Aku ... hamil?!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 203 Episodes
Comments
Irfan Narti
kasian Anna
2024-06-30
0
Mila Ikhtiardhi
maaf yaa thor, kalau bisa penggunaan kata "bodoh"nya di hilangkan. seperti "anak bodoh, gadis bodoh, pokoknya yang ada bodoh2nya. mendingan diganti kata yang lebih pas biar dibacanya juga enak. 🙏🏻
2023-01-21
0
Yeni Setianingsih
kuat banget ana,semangat y sayang🥺🥺🥺
2022-08-08
0