Setelah Anna dan Rose pergi, kini hanya ada Andrew dan Alex di ruang tamu, karena ayahnya baru saja menerima panggilan telepon dan bergegas ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Andrew pun langsung menggoda Alex yang sedari tadi tidak bersuara.
"Hey, Kak! Ada apa denganmu? Dari tadi melamun saja?"
Alex memang lebih pendiam dibandingkan dengan Andrew yang ceria dan mudah bergaul. Sehari-hari Alex hanya sibuk dengan pekerjaannya saja. Jarang sekali dia keluar bersama teman-temannya menikmati kekayaannya seperti pemuda kaya lainnya.
"Tidak, aku hanya terkejut saja. Tidak disangka kau akan menikah secepat ini."
"Hahaha! Kak, usia kita memang seharusnya sudah menikah. Kau tidak ada rencana untuk menyusulku?"
"Tidak! Aku belum mau terikat dan lagi pula aku belum menemukan gadis yang sesuai denganku."
"Bagaimana dengan Anna? Dia cantik, 'kan?" tanya Andrew membanggakan gadisnya.
Alex tak menjawab pertanyaan adiknya itu. Dia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya malam ini. Sebagai seorang pengusaha, Alex telah banyak mengenal wanita cantik, glamor dan pintar, tetapi ia sama sekali tidak tertarik dengan mereka.
Namun, entah mengapa saat dia melihat Anna hari ini, dia tak dapat mengendalikan dirinya. Matanya tak pernah lepas memandang gadis polos itu. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaanya saat ini. Ketika dia merasa telah bertemu dengan gadis yang menurutnya spesial, akan tetapi gadis itu adalah calon adik iparnya, wanita yang dicintai oleh Andrew.
"Kak, apa kau mendengarkanku?! Mengapa kau diam saja?" Andrew mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Alex dan membuyarkan lamunan pria itu.
"Tidak ada apa-apa. Hanya memikirkan tentang meeting besok. Aku harus ke Jepang selama beberapa minggu," terang Alex.
Ya, lebih baik Alex pergi, dia harus segera menjauhi gadis ini. Karena Alex dapat melihat bagaimana Andrew sangat mencintai Anna.
"Apa?! Ke Jepang?! Kapan kau akan kembali? Apa ada hal yang penting di sana? Mengapa tiba-tiba kau mau pergi?"
Plakk!
Alex memukul kepala adiknya itu, ia pusing dengan pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkannya.
"Dasar bodoh! Mengapa kau begitu panik?! Aku bilang, aku akan pergi ke Jepang, tetapi bukan mengajakmu ke sana. Jadwal ke Jepang memang sudah lama disiapkan karena sudah mendesak dan harus aku yang ke sana. Tenang saja, aku akan usahakan kembali sebelum hari pernikahanmu," terang Alex panjang lebar menjelaskan pada adiknya.
"Oh, ternyata begitu," ujar Andrew seraya menghela napasnya lega.
Alex tersenyum melihat tingkah bodoh adiknya ini.
"Tenang saja, aku juga tidak akan mengajakmu ke sana. Aku tahu kau tak ingin meninggalkan calon istrimu itu, 'kan?"
Andrew hanya bisa tersenyum canggung karena maksud hatinya diketahui Alex.
"Ya, kau benar, Kak. Apa kau tahu berapa banyak pria yang mengejar-ngejar Anna? Maka dari itu aku tidak ingin meninggalkannya sendiri dan akan menjadikannya milikku selamanya!"
Andrew tersenyum membayangkan bagaimana reaksi para pria itu saat mengetahui Anna yang telah menjadi miliknya.
'Milikku selamanya?! Ya, Alex kau harus segera menghentikan pikiranmu tentang gadis itu,' gumam Alex.
.
.
.
Setelah beberapa saat makan malam pun siap. Rose bergegas memanggil suami dan para putranya itu. Sedangkan, Anna menata makanan ke atas meja dibantu oleh para pelayan.
"Sayang, makan malam sudah siap! Mari makan!" teriak Rose dari ruang makan.
Tak lama kemudian meja makan panjang itu sudah dipenuhi oleh keluarga Williams. Daniel duduk di kursi kepala keluarga. Di sisi depan sebelah kanannya ada istri dan putra sulungnya.
Sedangkan Andrew berada di sisi seberang di depan ibunya dan Anna duduk di samping Andrew. Posisi ini membuat Anna tepat berhadapan dengan Alex. Anna pun kembali gugup karena harus berdekatan dengan pria itu.
"Mari makan," ujar Daniel. Mereka pun memulai makan malam itu.
"Sayang, ini cobalah. Ini buatan Anna." Rose memberikan masakan buatan Anna untuk dicicipi oleh suami dan putra sulungnya.
"Wah, ini lezat. Anna, kau memang pandai memasak," puji Daniel.
"Ya, ini lezat sekali," ujar Alex yang langsung diikuti oleh pandangan mata semua orang yang tertuju kepadanya. Jarang sekali Alex berbicara apalagi sampai memuji seseorang yang baru dikenalnya.
"Alex, apa kau suka, Sayang? Ini makanlah lebih banyak, lain kali Ibu akan meminta Anna agar memberitahu resep masakan ini agar Ibu bisa memasakkannya untuk kalian."
"Aih ..., Ibu. Rasanya tidak akan sama jika Ibu yang memasaknya. Anna memasakkan makanan ini dengan penuh cinta untukku. Anna Sayang, tolong ambilkan juga untuk calon suamimu ini," goda Andrew yang berhasil membuat wajah gadis itu merah padam.
Mereka semua pun tertawa mendengar celotehan Andrew. Anna bersyukur karena suasana di meja makan tidak secanggung yang dibayangkannya.
Mereka semua menyantap makanan itu dengan gembira diselingi pula obrolan tentang konsep pernikahan Andrew dan Anna. Hanya Alex yang terdiam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
.
.
.
Tak terasa sudah hampir hari H pernikahan mereka. Semua persiapan dilakukan oleh wedding organizer ternama disesuaikan dengan permintaan Rose dan Anna. Andrew sesekali mendampingi mereka, tetapi karena kesibukkannya di kantor membuatnya jarang bertemu dengan Anna.
Dia membebaskan agar ibu dan calon istrinya itu untuk memilih apa yang mereka sukai. Mulai dari konsep pernikahan, undangan, sajian pada saat jamuan hingga gaun pernikahan mereka. Ya, Alex sudah pergi ke Jepang hampir 3 minggu, membuat Andrew sibuk menangani perusahaan di dalam negeri bersama dengan ayahnya.
Namun, khusus hari ini dia libur karena mereka akan fitting baju pernikahan. Kini mereka sudah tiba di butik paling terkenal di kota C. Andrew sudah siap dengan jas pengantinnya yang akan dipakainya di hari bahagianya itu. Jas itu melekat sempurna di tubuhnya.
"Wow! Sayang, kamu tampan sekali!" seru Rose seraya mengangkat ibu jarinya melihat putra bungsunya itu. Sementara yang dipuji hanya tersenyum narsis mendengar celotehan ibunya.
Bukan hanya Rose yang mengagumi ketampanan Andrew, tetapi para pelayan toko yang memang sebagian besar adalah para wanita muda.
"Tuan Muda Andrew memang tampan, tetapi sayang sekali dia sudah akan menikah!"
"Namun, yang kudengar bahwa Tuan Muda Alex jauh lebih tampan dari adiknya ini dan lagi dia masih lajang."
"Aih! Hanya ada dua tipe pria sempurna yang masih melajang. Pertama, dia itu playboy yang dengan mudahnya berganti pasangan bak pakaiannya dan yang kedua, dia adalah seorang gay."
"Tak peduli dia gay atau bukan, pria tampan tidak baik untuk kesehatan jantung. Hanya dengan berdampingan dengannya saja bisa membuatku mati bahagia tanpa penyesalan."
"Hey, kalian ini! Berhentilah bergosip! Jika sampai mereka mendengar apa yang kalian bicarakan maka habislah kita."
"Iya, benar. Tidak ada yang berani memprovokasi keluarga Williams di kota C. Sebaiknya kita kembali bekerja."
"Nona, permisi. Bisakah anda membantu saya dengan gaun ini?"
Obrolan mereka pun terhenti saat Anna meminta tolong untuk memperbaiki gaunnya yang sedikit kebesaran di area pinggang dan ketat di area dada dan pinggul.
"Nona Anna, anda mempunyai bentuk tubuh yang indah. Tuan Muda Andrew pasti akan sangat menyukainya. Tunggu sebentar, saya akan memperbaiki gaun Anda."
"Terima kasih." Gadis itu tersenyum manis membuat mereka semua terpana.
'Pantas saja calon istri Tuan Muda Andrew, dia sungguh sangat menawan,' gumam mereka.
Setelah mereka memperbaiki gaun itu, kini gaun pengantin itu benar-benar pas dengan tubuh Anna.
"Keluarlah, Nona Anna, perlihatkan kepada Tuan Muda Andrew dan Nyonya Besar," pinta salah seorang pelayan toko.
Anna perlahan keluar dengan memakai gaun pengantin itu. Gaun itu sangat cocok dengan Anna dan membentuk lekuk tubuh sempurna gadis itu. Mereka pun terpana melihat gadis manis itu.
"Andrew, tutup mulutmu! Kau berliur, Sayang. Jangan membuat Ibu malu," canda Rose sambil menutup mulut Andrew yang memang sedari tadi ternganga melihat kecantikan Anna.
"Ibu, bisakah aku tidak menikah minggu depan?" tanya Andrew yang langsung membuat shock Anna dan ibunya.
"Apa maksudmu?! Kau ingin membatalkannya?!" tanya Rose terkejut.
"Iya, Bu. Aku ingin membatalkan pernikahan minggu depan karena aku akan menikahi Anna sekarang juga!" ujar Andrew dengan mata yang masih menatap lekat gadis itu yang terkejut karena ucapannya tadi.
Plakk!
Rose memukul kepala putra bodohnya ini. Dia terkejut sekali dengan ucapan Andrew tadi.
"Dasar, Anak bodoh! Benar-benar membuatku terkejut! Jaga ucapanmu! Kau harus bersabar, Sayang, hanya tinggal beberapa hari lagi.
Lagi pula kita sudah menyebarkan undangannya dan kakakmu juga akan pulang minggu depan. Kita tak bisa mengubah semuanya begitu saja.
Kau tahu, sesuatu akan terasa indah saat kau bersabar dan menunggu," terang Rose menenangkan putranya ini agar tidak bertindak yang aneh-aneh.
Andrew berjalan menghampiri Anna dan mencium punggung tangan gadis itu.
"Baiklah, aku akan bersabar denganmu, Sayang. Sampai saatnya tiba kau hanya akan menjadi milikku seorang."
Ucapan Andrew yang sangat terus terang itu di depan semua orang membuat Anna menundukkan kepalanya menahan malu. Sementara Rose hanya tersenyum melihat tingkah 2 sejoli yang sedang kasmaran itu.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 203 Episodes
Comments
Yeni Setianingsih
sepertinya seritanya,ana hamil dan kena fitnah bukan hamil dng suaminy😁
2022-08-08
0
Aqiyu
tar malah yang nikah Alex sama Anna
2022-04-29
0
Sriyanti Anjar
jd ga sabar nunggu hari H
2021-10-01
0