"Hah?! Bayi?! Aku ... hamil?!" Anna sangat terkejut mendengar perkataan Dokter Lucy.
"Iya benar, Nona Davis, Anda sekarang sedang mengandung. Usia kehamilannya sekitar dua belas minggu dan kondisi janin juga sehat. Lihatlah!"
Dokter itu menunjuk ke layar monitor. Di sana terlihat gambar janin dalam perutnya. Bayi itu sudah hampir terbentuk dengan sempurna.
Anna benar-benar tidak percaya, di saat dia sedang berjuang untuk menata kembali kehidupannya dan mencoba melupakan kejadian pilu malam itu, tetapi takdir berkata lain.
Pria itu meninggalkan benih pada tubuhnya. Benih yang sekarang berkembang sehat dan menunggu dunia untuk menyambutnya.
Takdir benar-benar mempermainkannya. Sekarang dia harus terus hidup bersama kenangan pahit itu sepanjang hidupnya. Karena Anna tidak mungkin menggugurkan bayi yang tidak bersalah ini.
Anna hanya bisa menangis menatap gambar dalam monitor itu. Jonathan yang memang sudah mengetahui hal ini sebelumnya terlihat tenang dan dia juga mencoba untuk menenangkan Anna agar gadis ini tidak berpikir yang macam-macam.
"Anna, tenanglah. Tidak apa-apa, aku di sini." Jonathan menghapus air mata gadis itu dan membelai rambut Anna dengan lembut.
Dokter yang melihatnya pun maklum karena memang trisemester awal kehamilan adalah masa-masa ibu bayi akan mengalami perubahan hormon dan suasana hati.
"Tuan Davis, karena kehamilannya maka Nona Anna akan sering mengalami perubahan suasana hati apalagi usia Nona Anna masih sangat muda. Sebaiknya anda menjaga Nona Anna agar tidak stres dan kelelahan.
Saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk Nona Anna. Tolong bantu agar dia dapat meminumnya dengan teratur. Saya akan menjadwalkan pemeriksaan selanjutnya bulan depan," jelas Dokter Lucy panjang lebar.
"Baiklah, Dokter, terima kasih," ucap Jonathan.
"Oh iya, Tuan Davis, karena ini masih masa-masa awal kehamilan, tentang hubungan intim masih diperbolehkan hanya saja lebih hati-hati.
Kurangi frekuensinya dan jangan melakukan penetrasi terlalu dalam. Juga tolong gunakan pengaman. Dan untuk posisinya anda bisa dengan melakukan posisi ...."
"Cukup! Cukup, Dokter! Saya mengerti!" tukas Jonathan. Dia yang sedang memapah Anna untuk duduk hampir saja terjatuh mendengar penjelasan dokter itu.
Begitu juga dengan Anna, dia yang baru saja tenang dari keterkejutannya tadi, sekarang wajahnya sudah merah padam karena menahan malu. Dia hanya bisa membenamkan kepalanya ke dada Jonathan.
'Apa memang semua dokter kandungan berkata terus terang seperti ini?'
Dokter Lucy pun tersenyum menyadari bahwa pasangan muda ini sedang malu. Ia pun memakluminya.
"Jangan malu, banyak pasangan muda yang tidak mengerti mengenai aturan berhubungan saat sedang hamil, maka mereka jadi membahayakan janin atau malah menahan hasrat mereka karena ketidaktahuannya.
Hal seperti ini sangat wajar terjadi. Jadi anda bisa mengkonsultasikan apapun mengenai kehamilan kepada saya."
"Baik, Dokter. Saya mengerti. Terima kasih. Permisi," ucap Jonathan.
"Sama-sama, Tuan Davis."
Jonathan pun segera memapah Anna keluar dari ruangan dokter itu. Begitu sampai di luar ruangan, Anna langsung mengambil jarak dengan Jonathan. Ada rasa kehilangan dalam diri Jonathan ketika gadis itu menjauh darinya.
"Maafkan saya, Tuan Collin. Saya telah merepotkan anda," ucap Anna seraya tertunduk malu karena Jonathan mengetahui tentang kehamilannya ini.
"Tidak apa-apa. Duduklah sebentar. Aku akan mengambil obatmu dulu." Jonathan meminta Anna untuk menunggunya di ruang tunggu, karena ia akan pergi untuk menebus obat Anna.
"Baik. Terima kasih, Tuan Collin."
.
.
.
Setelah semua urusan pemeriksaan selesai, Jonathan mengantar Anna pulang. Hari ini dia tidak memperbolehkan Anna untuk bekerja. Mobil pun sampai di depan rumah Anna.
"Terima kasih, Tuan Collin. Saya permisi." Ketika Anna hendak keluar dari mobil, Jonathan pun menarik tangan Anna.
"Anna," panggil Jonathan mencegah kepergian Anna.
"Ehm, Tuan Collin, ada apa?" tanya Anna bingung.
"Anna, soal kehamilanmu ...." Jonathan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Saya mengerti, Tuan Collin. Saya akan segera mengundurkan diri." Anna mengerti, Jonathan pasti tidak menginginkan di restorannya ada pegawai yang hamil di luar nikah.
"Tidak, bukan itu maksudku!" ujar Jonathan cepat.
"Anna, apapun keputusanmu soal bayi, ini aku akan mendukungmu. Jika kau ingin menggugurkannya maka kuharap itu jalan yang terbaik untukmu."
"Apa maksud anda, Tuan?" Anna menatap mata pria itu, tak mengerti dengan kata-kata yang diucapkannya.
"Aku tidak akan menggugurkan bayi ini, dia tidak bersalah."
"Aku tahu, Anna. Tetapi, dimana ayah bayi ini? Apa kau tidak akan memberitahukan padanya?"
Anna terdiam mendengar pertanyaan Jonathan. Bagaimana ia dapat memberitahu ayah dari janin yang sedang dikandungnya. Ia bahkan tak tahu siapa pria itu sebenarnya.
"Anna," panggil Jonathan lagi seraya menggenggam tangannya. Melihat Anna yang hanya terdiam saja, dia pun mengerti jika bayi itu pasti tidak diinginkan oleh ayahnya.
"Anna, jika kau ingin mempertahankan bayi ini, aku akan selalu mendampingimu. Ayo kita menikah," ajak Jonathan.
"Apa?! Apa yang anda katakan, Tuan?!" Anna terkejut dengan perkataan Jonathan.
"Anna, menikahlah denganku!" pinta Jonathan lagi seraya tetap memegang kedua tangan gadis itu. Menatap lekat wajah cantiknya yang kebingungan.
"Te ... tetapi, Tuan, kita tidak saling mencintai."
"Tetapi, aku mencintaimu Anna! Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Namun, aku benar-benar mencintaimu. Jika kau belum bisa menerimaku maka kita dapat bertunangan terlebih dahulu.
Setidaknya kau harus memberikan status pada anak ini. Dan mengenai masalah pernikahan ... aku bersedia untuk menunggumu sampai kau mau menerimaku."
Jonathan berusaha meyakinkan Anna. Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi pada dirinya. Namun, yang dia tahu dia hanya ingin melindungi dan mencintainya selamanya.
Anna menatap lekat wajah Jonathan, tidak tampak kebohongan padanya. Anna benar-benar terkejut dengan semua yang terjadi hari ini.
"Kau harus bersedia, Anna. Setidaknya demi bayi ini, aku akan selalu menunggumu. Aku bersungguh-sungguh." Jonathan membelai kepala gadis itu dengan lembut.
Anna masih ragu, tetapi apa yang diucapkan oleh Jonathan itu benar. Dia sudah dihujat di kota C sebagai wanita jal*ng. Jika kini ia ketahuan hamil tanpa tahu siapa ayah bayi ini, maka orang-orang akan bergunjing lagi tentangnya.
Namun, nanti bukan hanya dirinya yang akan menerima semua cemoohan itu melainkan, bayi ini juga. Masyarakat akan memandang rendah padanya sebagai anak yang tidak memiliki ayah.
Kini di hadapannya ada seorang pria yang rela bertanggung jawab padanya tanpa mengorek lebih jauh lagi luka di hatinya. Jonathan bahkan tak bertanya kepada Anna bagaimana ia bisa hamil tanpa seorang suami.
"Tuan Collin, apa anda serius?" tanya Anna memastikan ucapan Jonathan.
"Aku bersungguh-sungguh, Anna. Aku akan bertanggung jawab pada bayi ini."
"Tetapi, aku ...."
"Anna, aku tidak peduli apa yang telah terjadi di masa lalu. Karena kini aku yang akan melindungi kalian," ucap Jonathan lembut untuk meyakinkan Anna.
Anna pun menarik napasnya sebelum ia membuat keputusan.
'Tuhan, semoga ini adalah keputusan yang tepat.'
"Baiklah, Tuan Collin, saya setuju untuk bertunangan dengan anda," ujar Anna seraya tersenyum.
"Benarkah?! Kau setuju?!"
Anna mengangguk, membuat Jonathan begitu senang. Dia mencium punggung tangan gadis itu.
"Terima kasih, Anna. Aku akan selalu berada di sisimu dan menyayangimu," ujar Jonathan seraya tersenyum bahagia.
Anna teringat kenangannya bersama dengan Andrew dulu. Pria itu juga berjanji akan menyayangi dan melindunginya selamanya.
'Anna! Anna! Aku menyayangimu! Menikahlah denganku!'
Namun, saat kejadian itu, pandangan jijik Andrew padanya benar-benar menyakiti hati Anna. Pria itu tak mau mendengarkan penjelasannya bahkan pergi begitu saja tanpa menoleh sekalipun.
'Kak Andrew, apakah kau benar-benar sudah melupakanku?' lirih Anna.
.
.
.
Kediaman Keluarga Collin
"Nek, perkenalkan ini, Anna. Dia kekasihku. Anna, ini Nenekku, Margareth Collin."
Jonathan memperkenalkan mereka berdua saat pria itu mengajak Anna untuk makan malam bersama di rumahnya.
Nenek Margareth pun terkejut dan sekaligus senang mendengar perkataan cucunya. Dia selalu risau kalau Jonathan akan sendirian ketika dia meninggal nanti.
Maka dia senang sekali jika Jonathan telah memiliki seorang pendamping. Jonathan memang hanya memiliki Neneknya sebagai keluarga dekat karena orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat dia masih kecil dulu.
"Bagus ... bagus. Kemarilah, Sayang, biarkan Nenek melihatmu dengan jelas."
Anna pun kemudian duduk di samping Margareth.
"Nenek, apa kabar?" sapa Anna.
"Ya, Tuhan, kau gadis kecil yang sangat cantik. Benarkah kau adalah kekasih Nathan?" tanya Margareth pada Anna.
"Benar, Nenek. Dan bahkan kau akan segera mempunyai cicit!" seru Jonathan semangat menjawab pertanyaan neneknya itu.
Bukk!
"Auw! Sakit! Kenapa kau memukulku, Nek?!"
Margareth memukul Jonathan dengan tongkatnya.
"Dasar anak bodoh! Aku selalu mengkhawatirkanmu yang selalu sibuk bekerja dan tidak mau menikah ternyata kau telah mempunyai seorang gadis yang cantik dan kau tidak mengatakannya padaku!"
"Nenek, hentikan! Sakit! Apa kau tidak lelah?!" Margareth memukul Jonathan dengan kencang. Anna hanya bisa terdiam melihat kejadian ini.
'Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Jika aku melerainya, apa Nenek akan marah padaku?'
"Aku tidak lelah! Aku akan memukulmu sampai kau jera. Berani sekali kau memperlakukan seorang gadis seperti itu? Hari ini aku akan memukulmu sampai puas!
Mengapa kau menghamilinya dulu baru menemuiku?! Apa kau takut aku tidak akan menyetujuinya?!" Margareth masih terus memukuli cucunya itu.
"Tidak! Bukan seperti itu, Nek. Aku bukan takut Nenek tidak setuju, tetapi aku takut Anna yang akan menolakku. Aku hanya ingin dia menjadi milikku seorang!" ucap Jonathan seraya memegangi tangan dan kepalanya yang tadi dipukuli neneknya.
"Huh! Semua sudah terjadi, bagaimanapun juga anak ini tidak boleh tidak memiliki status. Kalian segeralah menikah."
Jonathan tersenyum penuh kemenangan, dia tahu neneknya pasti menyetujuinya dengan Anna. Namun, dia juga tidak mau terburu-buru dan membuat Anna akhirnya pergi darinya. Jonathan bersedia menunggu sampai Anna menerimanya.
"Ehm, Nenek. Ayah Anna baru saja meninggal. Tidak baik jika kita langsung melaksanakan pesta pernikahan. Jadi kami memutuskan akan bertunangan dulu."
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 203 Episodes
Comments
chaaa
🤣🤣🤣🤣🤣
2023-09-08
0
Zaky Sinaga
baik sekali kamu jho
2023-01-06
0
Yeni Setianingsih
syukurlah akhirny ad angin sejuk berhembus buat ana,lope buat Jonathan 😘😘😘
2022-08-08
0