Setelah kepergian Anna, Andrew terus melanjutkan berbincang dengan para tamu undangan.
"Hai, Andrew, apa kabar?"
Wilona datang menghampiri Andrew dengan segelas wine di tangannya.
Andrew terkejut melihat Wilona, mereka pernah mengalami masa bahagia dan janji pernikahan dulu. Namun, karena penyakit yang dideritanya, Wilona harus pergi ke luar negri untuk pengobatan.
Dan dengan kesibukan Andrew di sini membuatnya jarang untuk bisa mengunjungi Wilona. Jarak menjadi penghalang cinta mereka. Wilona mulai tergoda mengkhianati Andrew dan akhirnya mereka pun berpisah.
Kini setelah 2 tahun berlalu Andrew telah menata hatinya dengan yakin menikahi Anna, tetapi mengapa sekarang dia hadir lagi di sini.
Gadis itu masih saja tetap cantik. Walau wajahnya agak pucat, tetapi tak dapat menutupi kecantikannya. Andrew pun menjadi bimbang.
Dia yakin akan perasaan cintanya pada Anna, tetapi dia juga tak dapat begitu saja melupakan Wilona dari hidupnya.
"Hai, Wilona. Kau baru tiba di kota C?" tanya Andrew.
"Tidak, aku sudah sampai di sini sejak satu minggu yang lalu. Namun, ketika aku akan menemuimu, aku mendapat kabar kalau kau sedang disibukkan dengan rencana pernikahanmu.
Jadi aku baru bisa menyapamu sekarang. Selamat atas pernikahanmu, Tuan Muda Andrew. Istrimu sangat cantik. Semoga kau berbahagia."
Wilona mengangkat gelas wine itu dan meminumnya.
"Hentikan, Wilona, kau bisa mabuk! Itu tidak baik bagi kesehatanmu."
Andrew menghentikan Wilona yang akan meminta wine lagi pada pelayan.
"Kesehatanku?! Heh! Aku selalu menjaga kesehatanku, meminum begitu banyak obat dan menghabiskan sebagian waktuku di rumah sakit, tetapi aku tetap tidak sembuh. Jadi apa artinya hanya dengan segelas wine ini untukku."
Wilona kembali meneguk wine itu.
Andrew mengambil paksa gelas itu dan menghentikan Wilona. Gadis ini mudah mabuk dan dengan penyakitnya ini maka kesehatannya akan cepat memburuk.
"Cukup, Wilona! Ayo, aku akan mengantarmu pulang!"
Andrew menarik paksa tangan Wilona dan mengantarkannya pulang. Gadis ini sudah tampak mabuk dan hanya bisa mengikuti langkah Andrew.
Andrew berpikir dia akan mengantarkan Wilona pulang sebentar dan akan segera kembali ke hotel menemui istrinya. Wilona tinggal sendiri di sini karena semua keluarganya berada di luar negri.
Dia pun bergegas melajukan mobilnya di jalanan malam. Semakin cepat dia pergi maka semakin cepat dia kembali.
.
.
.
Malam semakin larut dan para tamu undangan banyak yang sudah meninggalkan acara pesta. Maka tak ada yang menyadari kepergian Andrew bersama Wilona. Mereka pikir Andrew sudah beristirahat di kamarnya.
Begitu juga dengan orang tua Anna dan Andrew. Mereka sengaja menginap malam ini di hotel agar besok pagi dapat langsung mengantar Anna dan Andrew ke bandara untuk berbulan madu.
Alex pun ingin segera beristirahat karena besok dia masih harus kembali ke Jepang. Dia pun menginap di hotel ini karena jaraknya lebih dekat dengan bandara daripada di rumahnya. Kepulangannya kali ini hanya untuk menghadiri acara pernikahan Andrew.
"Hey, Alex, jangan pergi dulu. Kita minum sebentar lagi. Kau akan pergi ke Jepang besok dan tak tahu kapan kita dapat berkumpul seperti ini lagi," ujar Jason mencegah kepergian Alex.
"Baiklah, satu gelas lagi."
Alex pun memanggil pelayan untuk membawakan mereka minuman dan mereka pun bersulang.
"Maaf, Kawan, aku benar-benar harus pergi. Jadwalku besok tak bisa ditunda."
"Baiklah, Tuan Muda Alex, kalau begitu kami pamit. Sampai jumpa lagi." Jason dan Christian pun berpamitan pada Alex.
"Sampai jumpa, Kawan."
Setelah kepergian Jason dan Christian, Alex pun beranjak ke kamarnya untuk beristirahat. Dia mulai merasakan pusing dan panas pada tubuhnya.
Alex tak tahu bahwa Jesica telah menyuap pelayan tadi agar menaruh obat di minuman Alex. Dan sekarang wanita itu telah menunggunya di kamar Alex.
Anna yang sudah lebih dulu berada di kamar sedang menunggu kedatangan suaminya itu dan tanpa sadar dia pun tertidur karena lelah.
Di sisi lain Andrew telah sampai di rumah Wilona. Pria itu membawa Wilona ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, ketika dia akan pergi Wilona menarik tangan Andrew dan enggan melepaskannya.
"Andrew, tinggallah sebentar lagi di sini. Kumohon temani aku sebentar lagi. Jangan tinggalkan aku, Andrew. Aku takut sendirian," lirih Wilona. Dia pun mulai menangis memohon agar pria itu tak meninggalkannya.
"Sudahlah jangan menangis, aku akan menemanimu di sini," bujuk Andrew.
Dia berpikir akan menemani Wilona sebentar sampai gadis ini tertidur dan akan langsung kembali ke hotel.
Andrew berniat menelepon Anna untuk mengabarkan kalau dia akan kembali agak larut. Namun, Anna tak menjawab teleponnya karena gadis itu telah tertidur.
Ketika Andrew akan mencoba meneleponnya lagi tiba-tiba Wilona muntah dan mengotori pakaiannya. Mau tak mau Andrew pun harus membereskan kekacauan ini.
Anna yang samar-samar mendengar bunyi telepon terbangun dari tidurnya dan mencari handphonenya.
Mengetahui bahwa tadi Andrew menelponnya dia pun menelepon balik. Namun, Andrew tak mengangkat teleponnya, dia sedang sibuk membereskan kekacauan yang dibuat Wilona.
'Mengapa Kak Andrew tak menjawab teleponnya? Apa dia mabuk? Sebaiknya aku pergi mencarinya.'
Anna pun bangun dari tempat tidurnya dan setelah mematikan lampu kamar dia pun bergegas keluar untuk mencari suaminya itu.
Di koridor hotel, Alex yang merasakan pusing dan panas pada tubuhnya sedang berjalan tertatih bersandar pada dinding, karena jika tidak demikian dia akan kehilangan keseimbangan dan jatuh.
'Sial, siapa yang meracuniku?! Akan kubunuh dia!'
Ketika Alex sampai di depan pintu kamar Anna, secara kebetulan gadis itu pun membuka pintu kamarnya dan membuat Alex yang sedang berjalan sambil bersandar pada dinding pun masuk ke kamar Anna dan jatuh menimpanya.
Bruk!
Pintu pun menutup secara otomatis membuat keadaan di dalam kamar menjadi gelap dan hanya diterangi temaram cahaya bulan dari jendela.
"Ah! Siapa kamu?! Pergi!"
Anna meronta mencoba keluar dari himpitan Alex. Namun, tubuh tinggi besar Alex bukan tandingan bagi gadis mungil itu.
Semakin Anna meronta malah semakin membuat Alex bergairah.
"Diam! Berhenti bergerak!"
Alex membentak gadis itu dan seketika Anna pun menghentikan gerakannya. Tubuh gadis itu gemetar ketakutan.
Mereka saling tak mengenali suara satu sama lain. Karena memang hanya pernah 2 kali bertemu dan Alex pun jarang sekali berbicara.
"Tuan, aku mohon lepaskan aku," pinta Anna yang ketakutan karena Alex mulai meraba dan menciumi lehernya.
"Tidak ... lepaskan aku! Per ...." Alex m*lum*t bibir gadis itu membuatnya menelan kembali kata-katanya.
"Ugh ... um ... jang ... an."
'Tidak, ciuman pertamaku! Aku harus pergi dari sini!'
Anna terus mendorong Alex agar menjauh dari atas tubuhnya. Namun, pria itu tak bergerak sama sekali.
"Argh! Sial!"
Alex kesakitan karena Anna menggigit bibirnya hingga berdarah. Secara reflex dia pun bangun dari tubuh Anna dan membuat gadis itu bisa meloloskan diri.
Alex yang sedang marah pun kemudian menarik tangan Anna dan menampar wajahnya. Ia juga mendorong gadis itu sampai membentur dinding.
Alex mengurung tubuh Anna dengan kedua tangannya dan kembali m*lum*t bibir gadis itu. Aroma sabun dari tubuh Anna dan rasa darah di bibirnya semakin membuat Alex tak bisa mengendalikan dirinya. Dia terus mencumbui Anna.
Karena takut Alex akan melarikan diri maka Jesica menambahkan dosis pada obat itu. Ditambah lagi tadi Alex sempat meminum beberapa gelas Wine sehingga membuat efek obatnya semakin kuat.
"Ti ... dak. Hen ... tikan!" Anna terus mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Alex.
Bukk!
Anna menginjak kaki Alex dengan kencang, tetapi bukannya terlepas malah membuat Alex semakin marah. Ia pun menghempaskan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 203 Episodes
Comments
Tuấn Mark
cewknya juga kenapa keluar kamar
2023-03-10
0
Zaky Sinaga
seru...
2023-01-06
0
Aqiyu
ya ampun si Andrew kenapa ngurusin mantan di malam pengantin 🙉🤦♀️
2022-04-29
0