"Kak, bagaimana kalau kita tidak usah pergi saja malam ini," ucap Anna gemetar yang kini telah berdiri di depan pintu villa dan menatap kagum bangunan megah bak istana milik keluarga calon suaminya itu.
Andrew pun tersenyum melihat tingkah gadis kecilnya itu. Dia tahu jika Anna sedang gugup dengan pertemuan ini.
"Sayang, jangan takut. Ada aku di sini," bisik Andrew menenangkan Anna dan dengan langkah pasti memasuki kediamannya sambil menggenggam erat tangan gadis itu.
Anna pun hanya bisa pasrah mengikuti Andrew di sampingnya dan berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Tuan Besar, Nyonya Besar, Tuan Muda Kedua telah tiba," ucap kepala pelayan memberitahu ayah dan ibu Andrew.
"Suruh mereka masuk. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan calon menantuku."
Rose Williams pun memerintahkan mereka masuk.
"Baik, Nyonya Besar."
"Bersabarlah dan jangan menakuti mereka!" Daniel Williams pun mengingatkan istrinya.
"Benar, Bu. Sudah lama sejak terakhir kalinya si bodoh itu membawa seorang gadis ke rumah. Kau jangan sampai menakutinya dan membuat adikku melajang lagi." Alexander Williams menimpali perkataannya Ayahnya.
"Diam kamu! Bicara soal melajang, bukankah seharusnya kamu sebagai seorang kakak yang menikah lebih dulu?
Namun, jangankan menikah, bahkan aku sudah lama tidak pernah melihatmu bersama dengan seorang gadis."
Rose sangat sedih dengan keadaan putra sulungnya itu. Pria bertubuh tinggi besar itu sangat tampan.
Bahkan, bisa dikatakan dia lebih unggul dalam hal penampilan maupun kecerdasannya jika dibandingkan dengan adiknya, Andrew.
Akan tetapi, di usianya yang menginjak ke-28 tahun, pria bermata biru laut ini terlihat lebih nyaman sendiri.
Setiap hari hanya tahu bekerja dan meeting dengan kliennya saja. Bahkan ada gosip yang mengatakan jika Alex adalah seorang gay.
Karena yang bekerja bersamanya sebagian besar adalah seorang pria. Termasuk asisten pribadinya pun seorang pria.
"Hufh ...." Rose menghela nafasnya memikirkan Alex.
Alex tahu apa yang dipikirkan oleh ibunya ini. Dia juga tahu gosip tentang dirinya yang seorang penyuka sesama jenis. Namun, Alex tidak mau ambil pusing.
Dia yakin dirinya bukanlah seorang gay, hanya saja belum ada gadis yang dapat menggetarkan hatinya.
Dia lebih nyaman dengan keadaannya sekarang. Menurutnya bekerja bersama dengan para pria jauh lebih efisien dibanding bersama wanita yang suka menuntut banyak hal.
"Ayah, Ibu, Kakak, aku kembali." Andrew masuk dan menghampiri keluarganya yang telah lama menunggunya, lebih tepatnya menunggu calon anggota baru keluarga mereka.
"Ini, Anna Davis. Gadis yang kuceritakan kepada kalian kemarin. Yang akan aku nikahi secepatnya," terang Andrew memperkenalkan Anna kepada keluarganya.
"Anna, ini Ayahku, Daniel. Ibuku, Rose dan yang terakhir adalah Kakakku, Alexander."
"Selamat malam, Om, Tante, Kakak Alexander," ucap Anna gugup sambil mengencangkan genggaman tangannya pada Andrew.
"Ehm, masuklah, Nak. Mari sini duduk dengan Tante." Rose mempersilahkan mereka untuk duduk.
Ketika mereka melihat dengan jelas gadis kecil itu, mereka semua tampak terpana, tak terkecuali Alex.
Gadis ini sangat manis dan polos. Bibir merahnya, rambut hitam panjangnya dan wajah cantiknya seakan menyihir mereka semua untuk dengan mudahnya menerima kehadiran gadis itu.
Anna duduk di samping Rose yang didampingi oleh suaminya. Sedangkan Andrew duduk bersama dengan kakaknya.
"Sudah berapa lama kalian saling mengenal?" tanya Daniel memulai percakapan mereka.
"Kurang lebih lima bulan, Om," jawab Anna seraya menundukkan wajahnya. Ia gugup sekali.
Andrew tahu jika Anna sedang gugup. Maka ia pun membantu menjelaskannya pada Daniel.
"Ayah, kami memang belum lama saling kenal. Tetapi, aku yakin dengan perasaanku. Aku pasti tidak akan salah dalam memilih pendamping hidupku."
Daniel diam saja mendengar ucapan putranya. Ia pun bertanya lagi pada Anna.
"Berapa usiamu, Anna?" tanya Daniel yang melihat Anna sepertinya masih sangat muda.
"Tahun ini saya berusia delapan belas tahun, Om."
"Wah, kamu masih muda sekali, Sayang. Apa ayah dan ibumu mengijinkanmu untuk menikah dengan Andrew?" Rose pun mulai ikut mengobrol.
"Orang tua saya sudah mengijinkannya, Tante. Kemarin malam Kak Andrew sudah datang dan menemui mereka."
"Syukurlah kalau begitu. Tante juga dulu menikah dengan om di usia muda. Saat itu Tante baru berusia dua puluh tahun dan om sama seperti Andrew, dia juga tidak sabar menunggu Tante untuk lulus kuliah dan ingin menikahi Tante secepatnya," kenang Rose saat suaminya dulu itu melamarnya.
"Ayolah, Bu, ini bukan tentang kalian. Ini tentang kami sekarang. Apakah ayah dan ibu setuju dengan rencanaku untuk menikahi Anna?" tukas Andrew yang malas mendengar kisah romantis orang tuanya itu yang selalu diceritakan kepada mereka sedari kecil seperti dongeng pengantar tidur.
"Diam kamu, Bocah Bodoh!" Rose menatap tajam putra bungsunya itu.
"Anna, pada dasarnya Om dan Tante tidak keberatan soal pernikahan kalian karena memang Andrew sudah memasuki usia matang. Dan jika memang semuanya sudah setuju mari kita bahas tentang pernikahannya."
"Terima kasih, Ayah, Bu!" seru Andrew gembira mendengar jika ayahnya telah merestui mereka.
Andrew tahu bahwa keluarganya pasti menerima idenya untuk menikahi Anna. Karena ia sangat mengenal ayahnya. Daniel tidak pernah memandang seseorang dari status ekonominya.
Pria itu sudah kaya raya dan tidak memerlukan perjodohan bisnis untuk mempertahankan perusahaannya. Bahkan Rose pun adalah putri dari salah satu dosen di kampusnya dulu. Baginya kebahagiaan keluarganya lebih penting dari pada uang.
"Terima kasih, Om, Tante."
"Apanya yang Om dan Tante? Bukankah kami sudah merestui kalian? Ayo, panggil Ayah dan Ibu," jelas Rose.
Anna tercengang mendengar Rose yang menyuruhnya untuk memanggil mereka ayah dan ibu. Dia tidak menyangka kalau mereka akan merestuinya semudah ini.
"Terima kasih, Ayah, Ibu."
"Hahaha! Bagus ... bagus ..., Anak Baik! Kedepannya lahirkanlah seorang cucu untuk kami agar kami tidak kesepian jika kalian semua pergi," pinta Rose tanpa malu-malu.
"Ibu! Jangan buat calon menantumu takut. Anna masih kuliah dan aku tidak mau itu mengganggu kegiatannya, jadi kupikir kami akan menunda hal ini untuk sementara," jelas Andrew.
"Haish ... apanya yang mengganggu? Jika kalian sibuk, maka titipkan saja pada ayah dan ibu disini. Biar kami yang akan merawatnya. Kalian anak muda tidak tahu bagaimana kesepiannya Ibu di sini jika kalian semua sibuk."
Rose sangat mendambakan seorang cucu. Semua temannya selalu membicarakan tentang cucunya setiap kali mereka bertemu.
Sekarang salah satu putranya akan menikah dan semoga saja dia dapat menimang seorang cucu dengan cepat, tidak tahu bagaimana senangnya perasaannya saat ini.
"Tetapi, Bu, Anna kan masih ...."
"Sudah ... sudah. Anna baru saja datang dan kalian sudah bertengkar meributkan soal cucu!" ucapan Andrew langsung dipotong oleh ayahnya yang mengakhiri perdebatan istri dan putranya ini.
"Baiklah, kalian berbincang saja dulu. Ibu akan menyiapkan makan malam."
"Ibu, bolehkah aku ikut membantu?" Anna menghentikan calon ibu mertuanya itu yang akan beranjak ke dapur.
"Tidak usah, Sayang. Kamu kan baru saja datang hari ini. Berbincanglah dengan mereka. Ibu akan segera menyiapkan makan malam," ucap Rose lembut.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku sudah terbiasa membantu ibu di rumah dan di restoran."
Anna tetap ingin membantu Rose, karena dia akan canggung jika ditinggal bersama dengan calon ayah mertua dan kakak iparnya itu.
Alex memang tidak berbicara sedari tadi, tetapi mata pria itu tidak pernah lepas dari Anna. Tatapan lekat Alex membuat Anna salah tingkah.
"Iya, Bu, biarkan Anna membantumu. Anna pandai memasak, sudah lama aku tidak merasakan masakan buatan Anna. Kalian juga pasti suka," ucap Andrew bangga.
"Baiklah. Ibu juga ingin mencicipi masakan buatanmu."
"Ayo, Sayang, tunjukan kemampuanmu kepada mereka. Agar mereka dapat merasakan kelezatan masakanmu!"
Andrew masih terus membanggakan Anna dan membuat gadis itu tersipu malu.
'Kak Andrew bikin aku malu saja! Mana mungkin masakan buatanku lebih enak dari koki di rumah mereka ini? Tetapi, biarlah daripada aku ditinggal di sini. Lebih baik aku mengobrol dengan Ibu Rose.'
Rose pun mengajak Anna untuk ke dapur. Mereka berdua terlihat akrab. Andrew senang keluarganya menerima kehadiran Anna. Kedepannya akan lebih mudah bagi mereka menjalani kehidupan pernikahan.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 203 Episodes
Comments
Aqiyu
waduh mata Alex ga bisa di kondisikan
2022-04-29
0
Eli Lahat
waduuuh ada getar cinta dari kakanya tuuuh
2022-04-28
0
Deek afifah
waduh mata alex bahaya ini jangan2 ana yg mampu mengetarkan hati alex pada seorang wanita
2021-12-12
0