Kamar Hotel Anna
"Ibu, lihat film ini lucu sekali! Lihatlah, Bu."
Michael tertawa riang menyaksikan film kartun kesayangannya, Mickey Mouse.
Anna membelai rambut hitam lebat milik putranya itu, rambutnya sangat lembut. Dia termenung memikirkan kejadian di restoran itu tadi pagi. Ia sungguh tak menyangka akan bertemu lagi dengan keluarga Williams.
Andrew, pria itu masih saja menyimpan kebencian kepadanya. Namun, yang paling membuatnya terkejut adalah Alex. Dulu ia tak berani menatap langsung wajah Alex sehingga ia tak ingat akan rupa pria itu, tetapi tadi saat mereka bertemu lagi, ia baru menyadari jika ternyata Michael mirip dengan mantan kakak iparnya itu.
'Siapa ayahmu, Nak? Apakah benar dia adalah Tuan Muda Pertama Williams, Alexander Williams?! Kalau memang benar itu Alex, lalu mengapa dia tega melakukan hal itu kepadaku hingga menghancurkan pernikahan dan juga hidupku? Dia bahkan tidak muncul lagi setelahnya.'
Anna menggelengkan kepalanya menepis segala dugaan.
'Tidak, tidak mungkin dia! Kemiripan mereka berdua pasti hanya sebuah kebetulan semata.'
Lalu Anna pun kembali menatap putra kecilnya itu yang sedang tersenyum ceria.
'Namun, Mickey sangat mirip dengan Alex dan malam itu juga Alex menginap di hotel itu 'kan? Bagaimana jika memang ternyata pria itu adalah dia? Apa mereka akan mengambil putraku dan menghancurkan hidupku lagi?'
Anna mulai panik dan takut jika nanti keluarga Williams akan merebut Michael.
'Tidak! Aku tidak boleh membiarkan keluarga Williams dekat-dekat dengan Mickey, terlepas bahwa dia anak Alex atau bukan. Tidak akan aku biarkan siapapun merebut Mickey dariku. Dia adalah putraku! Milikku! Mickey lahir dari kesalahan maka aku akan membuatnya hidup dalam kebahagiaan,' tekad Anna.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Anna.
Tok! Tok! Tok!
Belum sempat Anna bereaksi, tetapi ketukan itu terdengar lagi. Anna segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu.
'Apakah itu Nathan? Mengapa cepat sekali dia kembali?' pikir Anna.
"Nathan, kau sudah kemba ...."
Anna terkejut begitu membuka pintu dan mengetahui siapa orang yang telah mengetuk pintunya. Dia adalah Rose Williams mantan ibu mertuanya.
"Nyo ... nya ... Nyonya Besar Williams!" ucap Anna terbata.
"Hai, Anna. Apa kabar? Kita tidak sempat berbincang tadi. Bolehkah aku masuk?" Rose tersenyum menyapa Anna.
"Tetapi, ...," ucap Anna ragu.
"Apakah kau takut padaku, Anna? Aku minta maaf atas sikap Andrew tadi pagi. Ia tidak bermaksud kasar kepadamu. Dia hanya sedang emosi sesaat saja. Tenanglah, Anna, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin kita berbincang saja."
Rose melembutkan suaranya agar Anna tidak bersikap waspada padanya.
"Ehm, baiklah. Masuklah, Nyonya."
Anna mempersilahkan Rose untuk masuk ke dalam kamarnya. Di sana masih ada Michael yang sedang menonton TV. Baru saja dia berpikir akan menjauhkan Michael dari keluarga Williams, tetapi sekarang Rose malah sedang berdiri di hadapannya.
Kamar Hotel Anna.
"Mickey, Ibu sedang ada tamu. Kau pergilah bermain di kamar."
Michael melihat Rose dan menyapanya, "Halo, Nenek Williams."
"Halo, Mickey. Bolehkah aku berbincang sebentar dengan ibumu?"
Rose mendekati Michael dan menatap lekat wajahnya. Semakin dilihat, Michael memang benar-benar semakin mirip dengan Alex saat ia kecil dulu.
"Silahkan duduk, Nyonya Williams."
Anna mempersilahkan Rose untuk duduk walau sebenarnya ia sangat enggan bertemu dengan wanita ini.
"Anna, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Rose seraya tersenyum.
"Maaf, Nyonya Williams, bisakah anda langsung saja mengatakan ada keperluan apa anda mencariku?" sinis Anna.
Anna malas mendengar basa-basi Rose. Rose pun tersenyum mendengar ucapan Anna, dia tahu Anna masih marah pada keluarganya.
"Baiklah, aku akan langsung saja mengatakan maksud tujuanku ke sini. Aku hanya ingin tahu siapa ayah Mickey? Dia bukan anak Nathan 'kan?" tanya Rose penuh selidik.
"Apa maksud anda?!"
"Aku yakin kau mengerti apa maksudku, Anna? Mickey sangat mirip dengan Alex. Apakah dia putra Alex? Aku mohon jelaskan padaku, Anna. Dia benar anak Alex 'kan? Dia cucuku?!" desak Rose.
"Jelaskan?! Apa yang harus aku jelaskan pada anda, Nyonya? Apakah anda mendengar penjelasanku dulu? Apa kalian memberikanku kesempatan untuk menjelaskannya? Tidak, bukan?! Kalian tidak ingin mendengarkan penjelasanku dan meninggalkanku sendirian di sana.
Kalian bahkan memandang jijik kepadaku tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya dan putramu ...! Putramu bahkan menjebak ayahku dengan trik-trik busuknya itu untuk menghancurkan keluarga kami!" teriak Anna kecewa saat mengingat peristiwa kelam dalam hidupnya itu.
"Anna, aku ...."
"Aku pergi ke rumah anda waktu itu dan juga ke perusahaan untuk memohon kepada kalian agar mau membantu ayahku. Namun, kalian bahkan tidak ingin menemuiku. Tidak satu pun! Para pengacara yang aku sewa bahkan tak dapat membantu kasus ayahku dengan maksimal karena mereka takut akan kekuatan keluarga Williams. Dimana kalian saat itu?! Mengapa menghindariku? Lalu sekarang ada hak apa anda berada di sini untuk meminta penjelasan dariku?!"
Anna terisak mengeluarkan semua keluh kesahnya selama ini. Kejadian 5 tahun lalu itu benar-benar menyisakan luka mendalam padanya.
"Anna, Sayang ...."
Rose kemudian mendekati Anna dan mencoba memegang tangannya. Namun, Anna pun berdiri dan segera menepis tangan Rose.
"Cukup, Nyonya Williams! Aku tidak butuh simpati anda. Semua itu telah berlalu sekarang." Anna kemudian menyeka air matanya dan menghela napasnya, "jika tidak ada hal lain, maka tolong sekarang anda pergi dan jangan ganggu kami lagi," ucap Anna dingin dan penuh kebencian.
Rose tahu ini bukan saat yang tepat untuk berbicara dengan Anna karena wanita itu sedang emosi sekarang.
"Baiklah, Anna, aku pamit dulu. Sampai jumpa."
Anna langsung menutup pintu kamarnya dengan kencang sesaat setelah Rose pergi. Michael memperhatikan ibunya sedari tadi saat Anna berteriak dan saat menutup kencang pintunya, kemudian ia pun menghampiri Anna.
"Bu, mengapa Ibu menangis?"
Michael menyeka air mata Anna dengan kedua tangan mungilnya. Anna pun langsung memeluk erat Michael.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu hanya kelelahan." Anna berbohong agar putranya itu tidak khawatir.
"Apa nenek tadi menyakitimu, Bu? Tenanglah, Bu, aku akan melindungimu. Aku akan menyerangnya dengan kekuatan sinar laserku. Zrrttt! Zrrttt!" ucap Michael seraya menirukan gerakan super hero yang sedang melawan monster di TV yang sering ditontonnya.
Anna pun hanya tersenyum melihat tingkah lucu putranya itu. Dia menghentikan isakan tangisnya dan membelai rambut Michael.
"Ibu tidak apa-apa, Sayang. Ada Putra Ibu yang akan melindungi Ibu, jadi Ibu tidak akan takut apapun lagi. Tetapi, Mickey, kamu jangan dekat-dekat dengan keluarga Williams lagi yah? Jika kau melihat mereka di jalan sebaiknya kau bersembunyi. Kau mengerti 'kan, Sayang?"
"Iya, Ibu, aku mengerti. Aku tidak akan menemui mereka lagi jadi berhentilah menangis yah, Bu. Kumohon."
"Iya, Sayang. Ibu tidak akan menangis lagi. Ayo, kita menonton TV lagi."
"Iya!" seru Michael senang.
Anna pun kembali menemani Michael menonton kartun favoritnya sembari menunggu Jonathan kembali. Dia harus berbicara secepatnya dengan Jonathan.
.
.
.
"Sayang, aku kembali." Jonathan baru saja kembali dari meeting-nya.
"Selamat datang, Nathan."
Anna mengambil jas dan tas kerja Jonathan kemudian memberikan air minum kepada pria itu.
"Di mana Mickey? Apa kalian sudah makan siang?" tanya Jonathan karena dia tidak melihat putra kecilnya itu.
"Kami sudah makan siang tadi. Sekarang Mickey sedang tidur, sejak tadi dia merengek terus menanyakan kapan kamu pulang. Lalu apa kamu sendiri sudah makan siang?"
"Sudah, aku sudah makan tadi bersama dengan klien. Maaf, Sayang, tadi meeting-nya berjalan lambat karena permasalahan harga yang belum cocok."
Jonathan merasa bersalah melewatkan janjinya akan pergi ke Disneyland bersama dengan Michael.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kerjasama ini sangat penting untukmu. Lagi pula aku sudah menjelaskan padanya tadi bahwa Ayahnya sedang pergi bekerja. Walau agak kecewa, tetapi kemudian ia pun akhirnya mengerti."
"Maaf, Sayang. Aku benar-benar minta maaf. Bagaimana kalau besok kita pergi ke Disneyland? Besok adalah hari ulang tahun Mickey 'kan? Aku sudah meminta mereka membuat jadwal ulang untuk meeting-nya lusa, jadi kita bisa merayakan ulang tahun Mickey bersama. Kita juga bisa pergi ke Tokyo Tower. Bagaimana?" Jonathan antusias menjelaskan rencananya besok pada Anna.
"Ehm, Nathan, aku mau pulang ke kota A. Aku rindu pada ibu dan nenek."
Anna menundukkan wajahnya menghindari tatapan Jonathan. Pria itu pun kemudian menangkup wajah Anna dengan kedua tangannya. Jonathan tahu Anna sedang berbohong kepadanya, karena Anna tidak akan berani menatap dirinya saat sedang berbohong atau sedang menyembunyikan sesuatu hal.
"Anna, tatap mataku! Apa yang terjadi? Mengapa kamu tiba-tiba ingin pulang? Bukankah kita sudah merencanakan akan merayakan ulang tahun Mickey di sini besok? Ada apa, Sayang? Apa kau marah padaku, Anna?"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 203 Episodes
Comments
Alya Yuni
Makanya Anna nikah dg Nathan jngn membodohkn drimu
dsar goblok skolah tinggi tpi pikirnnya mcm gk skolah
2022-11-29
0
Sriyanti Anjar
lanjut thur
2021-10-01
0
Kar Genjreng
lanjut
2021-09-19
0