Bertemu dengan Maura

Hari ini Zara memutuskan untuk meliburkan diri selama satu hari, beruntungnya Ibu Mitha dengan berbesar hati memberinya izin, dengan syarat besok harus sudah masuk kembali bekerja dan dengan terpaksa uang gajinya di potong tiga ratus ribu, sesuai dengan peraturan perusahaan. Zara sempat menghela Nafasnya sejenak, baginya ini terlalu mencekiknya.

"Tenang Ra, besok kan ada aku yang bisa gantian jagain Lala di rumah sakit!" usul Dewi.

"Tapi kan kamu malamnya harus kerja Wi, aku tidak mau merepotkan mu!" ucapnya merasa tidak enak.

"Yaelah Ra, kau ini anggap aku apa sih? Sudah lah jangan ada rasa tidak enak segala, yang penting kita fokus untuk kesembuhan Lala, nanti aku mau coba mencari pinjaman untuk biaya operasinya Lala!"

Mendengar Dewi berkata seperti itu, Zara kembali menangis.

"Wi, kenapa kau begitu baik padaku? Maaf aku dan Aqila sudah menyusahkan mu!"

"Sudahlah Ra, kau tidak usah ngomong kaya gitu lagi, aku tidak suka! Oh iya setelah ini aku mau pulang ke rumah dulu ya Ra, sekalian ambil pakaian ganti untukmu!"

Zara pun mengangguk, lalu dengan segera Dewi bergegas pulang ke rumahnya.

Hari ini adalah jadwal Aqila cuci darah untuk pertama kalinya.

Sekitar pukul sepuluh pagi, Zara membawa Aqila ke salah satu ruangan yang berada di lantai empat, dimana di sana sudah banyak anak-anak yang hampir seusia dengan Aqila. Kini mereka sedang duduk di kursi khusus pasien yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit, rupanya di sebelah ruangan Hemodialisa yakni ruangan untuk pasien melakukan cuci darah dan terdapat di ruangan khusus fisioterapi untuk anak-anak.

Aqila yang melihat anak-anak sebaya dengannya raut wajahnya yang terlihat bahagia tanpa memikirkan beban penyakit yang mereka derita merasa cukup tenang, ia pun selalu melemparkan senyum kepada setiap anak yang melintas di depannya.

Aqila dan pasien lainnya, yang jumlahnya sekitar lebih dari sepuluh orang anak seusia nya sedang menunggu giliran di panggil untuk melakukan tindakan cuci darah.

Ada satu pemandangan yang membuat Aqila serta Zara merasa terenyuh, dimana mereka berdua melihat seorang anak perempuan sekitar usia enam tahun, sedang menangis tersedu di atas kursi roda, anak perempuan tersebut di temani oleh seorang wanita yang berpenampilan layaknya seorang perawat.

"Sudah ku bilang aku tidak mau makan, Suster! Buang makanan itu, aku hanya ingin Papah yang mengantarku, bukannya suster Mira." bentaknya sambil melipatkan tangannya.

"Aduh Non, Papahnya Non Maura kan lagi sibuk di kantor, jadi suster yang anter Non kesini, kan biasanya juga sama Suster!" balas Suster Mira.

"Aku bosan, setiap terapi selalu Suster yang menemani, ini sudah tiga tahun lamanya Sus, aku ingin sekali-kali Papah yang mengantarku ke sini!" bentaknya kembali, kali ini Maura malah mengerucutkan bibirnya.

Suster Mira hanya bisa menghela nafasnya.

Akhirnya sambil menunggu di panggil ke dalam ruangan Hemodialisa yakni ruangan untuk cuci darah, Aqila meminta Bundanya untuk menghampiri anak perempuan tersebut.

Dan Zara pun menyetujuinya, ia bergegas membawa Aqila agar bisa lebih dekat posisinya dengan anak yang barusan sedang memarahi susternya.

"Assalamualaikum!" sapa Aqila

"Waalaikumsalam." balas Maura yang langsung menoleh ke arah Aqila.

"Maaf kamu siap ya? Perasaan aku baru lihat kamu!" ucap Maura dengan mata mendelik.

"Perkenalkan, namaku Aqila, cukup panggil Lala saja!" Aqila langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Beruntungnya Maura mau meraihnya lalu melemparkan senyumnya.

"Namaku Maura, senang bisa bertemu denganmu Lala!"

Kini keduanya mulai mengobrol dan terlihat cukup akrab, sedangkan Zara duduk bersebelahan dengan suster Mira.

"Kalau boleh tahu Maura sakit apa Sus?" tanyanya sambil menatap ke arah Maura dan juga Aqila.

"Non Maura lumpuh dari usia tiga tahun Mba, tapi begitulah, sepertinya Non Maura sudah tidak punya semangat lagi untuk sembuh!" jawab Suster Mira.

Sontak Zara terkejut, ketika mendengar penjelasan dari suster Mira.

"Loh, kok bisa begitu? Memangnya kedua orangtuanya kemana Sus?" tanya kembali Zara semakin penasaran sengan Maura.

"Ibunya Non Maura sudah meninggal ketika melahirkan Non Maura!"

Entah kenapa Zara jadi teringat mendiang kakaknya yang dimana mengalami nasib yang sama seperti mendiang Ibunya Maura, dari situ Zara merasa kasihan melihat kondisi Maura, yang seharusnya sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, di tambah keadaannya yang harus menanggung sakit seperti ini selama tiga tahun, pastinya ia merasa sangat terpukul.

"Lantas bagaimana denga Papahnya Sus? Tadi aku sempat mendengar Maura mengeluh jika Papahnya tidak pernah mengantarnya untuk terapi, padahal seharusnya Papahnya Maura bisa menyempatkan waktu untuk menemani putrinya, meskipun kondisinya sesibuk apapun, tetap seorang anak adalah prioritas utama orang tuanya." ujarnya merasa miris akan nasib yang di alami oleh Maura.

Suster Mira malah kembali menghela nafasnya.

"Tuan besar sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan putrinya semenjak kematian Nyonya besar, seolah Non Maura adalah sumber Masalah yang telah menyebabkan Nyonya besar meninggal dunia, padahal Tuan besar begitu sangat mencintai Nyonya, saya sudah hampir tujuh tahun bekerja di keluarganya Non Maura, dulu saya bekerja sebagai Asisten kepala ART di kediaman keluarga Syailendra, ops saya kenapa jadi keceplosan begini, aduh maaf ya Mba, saya tidak bisa memberikan informasi lagi, kalau sampai saya ketahuan, saya bisa di pecat, Mba bisa jaga rahasia ini kan?" tanya kembali Suster Mira yang mendadak menjadi ketakutan. Wajahnya pun berubah menjadi pucat pasi.

"Tenang saja Suster Mira, aku tidak akan pernah mengatakan kepada siapapun." balasnya meyakinkan Suster Mira

Suster Mira pun merasa sangat lega atas jawaban dari Zara.

Kemudian Aqila memanggil Bundanya untuk segera mendekat ke arahnya.

"Iya La, ada apa? Apa Lala merasakan sakit lagi di perut?" tanyanya khawatir, Maura terus saja memperhatikan Zara.

"Kau sangat beruntung La, karena memiliki seorang ibu yang begitu perhatian dan sangat menyayangimu!" celetuk Maura yang tiba-tiba saja mengeluarkan bulir bening dari pelupuk matanya. Zara yang melihat hal itu menjadi tidak tega, ia pun segera memeluk Maura dengan pelukan yang hangat, Maura merasa nyaman saat berada dalam pelukan Zara.

"Kamu yang sabar ya Maura, jangan bersedih terus, apakah kamu tidak capek terus saja menangis? Nanti wajahmu yang cantik malah luntur gara-gara terhapus oleh air matamu yang terus berjatuhan!" kali ini Zara sengaja menggoda Maura

Maura malah tertawa kecil saat Zara menggodanya seperti itu, suster Mira yang menyaksikannya langsung menatap tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

'Akhirnya Non Maura mau tersenyum dan tertawa seperti itu, beruntungnya bisa bertemu dengan Mba Zara di sini!' ucapnya dalam hati.

"Lala, bolehkan nanti aku pinjam Bundamu untuk sekedar memelukku? Aku nyaman di peluk oleh Bunda Zara, rasanya seperti di peluk oleh Mamah Naura meskipun aku belum pernah bertemu langsung, tapi di dalam mimpi, Mamah Naura selalu datang dan memelukku!" ucapnya kembali memeluk Zara.

Mendengar hal itu hatinya Zara merasa sangat teriris atas perkataan dari Maura.

"Boleh Maura, Bundaku Bundamu juga, iya kan Bun?" tanyanya kepada Bunda Zara.

"Iya sayang, apalagi Lala sudah memberikan ijin, iya kan La ?"

Maura pun mengangguk."Bunda Zara, bolehkan nanti aku mampir ke rumahnya Bunda?" tanya Maura penuh harap.

Zara pun tersenyum sambil mengusap lembut rambut panjang maura yang tergerai.

"Boleh dong Maura, nanti lain waktu Maura mampir ya ke rumahnya Bunda Zara, tapi sebenarnya itu bukanlah Rumahnya Bunda, tapi rumah temannya Bunda, orangnya sangat baik sekali karena mau menampung Bunda dan juga Aqila." jawabnya merasa sedikit malu.

"tidak apa-apa Bunda Zara, yang terpenting aku bisa bertemu kembali dengan Bunda dan juga Aqila." jawabnya sambil melempar senyum termanis nya.

padahal Maura baru saja bertemu dengan Aqila dan juga Zara, tapi entah kenapa ia merasa sudah dekat dan sangat nyaman dengan mereka. Maura bertekad untuk mengunjungi tempat tinggal Aqila dan juga Bunda Zara.

Tidak lama kemudian akhirnya mereka berpisah, dimana Aqila sudah di panggil oleh dokter untuk segera melakukan tindakan cuci darah, sedangkan Maura mulai bersemangat untuk melakukan terapi untuk kedua kakinya yang lumpuh.

Perusahaan Syailendra Group

"Jhon, apakah ada kabar mengenai si wanita menyebalkan itu setelah insiden malam itu terjadi?" tanyanya cukup membuatnya menjadi penasaran.

Jhon pun menatap aneh ke arah wajah Tuannya, menurutnya tidak biasnya Tuannya bersikap seperti ini, apalagi menyangkut seorang wanita.

'memang benar jika Benci dan Cinta itu setipis kulit ari, hati-hati Tuan, nanti anda bisa terserang virus cinta, ha..ha..ha!' ejeknya dalam hati.

"Menurut kabar yang saya dapatkan hari ini dari Pak Billy selaku kepala HRD perusahaan, bahwa Nona Zara tidak masuk bekerja karena putrinya masuk rumah sakit!"

"Apa, anak? Jadi wanita itu sudah punya anak dan juga suami?" tanyanya tidak percaya.

"Menurut informasi yang saya dapat, jika Nona Zara baru saja bercerai dengan suaminya, dan Nona Zara membawa putrinya ke kota jakarta untuk mencari nafkah!" jawabnya dengan mata mendelik.

Sagara langsung terdiam saat Jhon menjelaskan tentang Zara.

'tuh kan apa aku bilang, Tuan lama-lama bisa jatuh hati terhadap Nona Zara, jangan terlalu membenci wanita secara berlebihan, Tuan!' ucapnya kembali dalam hati.

"Baguslah Jhon, semakin hidupnya menderita dan tertindas aku merasa sangat puas!," jawabnya dengan tersenyum.

"Kenapa Tuan tega sekali kepada Nona Zara, apakah Tuan sudah tahu, jika di hotel Raflesia telah tersebar gosip tentang anda dan juga Nona Zara, banyak yang mencemooh Nona Zara karena rela menyerahkan tubuhnya kepada anda agar dirinya tidak di pecat."

Mendengar penjelasan dari Jhon, Sagara malah tertawa puas.

"ha..ha..ha..ha! Itulah yang aku inginkan Jhon, baguslah, akhirnya rencanaku berhasil, si wanita sok alim itu telah tercoreng nama baiknya atas perbuatanku malam itu, itu adalah ganjaran yang harus ia dapat setelah ia sudah mempermalukan aku di depan umum, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan hal itu, ini baru saja secuil aku membalasnya Jhon, nanti aku akan membuatnya jauh lebih menderita dan tersiksa!" ucapnya tersenyum menyeringai.

'Tidak ku sangka anda akan menjadi kejam seperti ini Tuan, apa yang menyebabkan anda menjadi begini? melihat Tuan saat ini jauh berbeda dengan diri Tuan yang dulu saya kenal.' keluhnya dalam hati.

Bersambung...

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Ana

Ana

😔😔😔semoga tuan mu itu bisa sadar ya jhon, apalagi kalau tau anaknya dekat dengan zara

2025-02-17

3

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

lama kelamaan nnti kebucinan kamu Sagara 🤣🤣🤣

2025-02-18

1

Nar Sih

Nar Sih

bener kata mu jhon benci dan cinta beda tipis ,dan aku yakin pasti lama,, tuan mu jatuh cinta pada zara

2025-02-17

2

lihat semua
Episodes
1 Di ceraikan
2 Bertemu dengan Dewi
3 Pekerjaan untuk Zara
4 Menjadi seorang pegawai Hotel
5 Murkanya Sagara
6 Surat peringatan untuk Zara
7 Aqila mendadak sakit
8 Bertemu dengan Maura
9 Mulutmu setajam pisau
10 Pergi menemui Aqila
11 Sagara VS Zara
12 Jadi bahan gosip
13 Maafkan Papah, Maura.
14 Senjata makan tuan
15 Mencelakai Zara
16 Mencari pelaku
17 Sulit di percaya
18 Posisi baru untuk Zara
19 Cemburu
20 Bekerja di tempat baru
21 Permintaan Maura
22 Keputusan yang terpaksa
23 Ada apa dengan Sagara?
24 Kabar baik untuk Maura dan Aqila
25 Operasi transplantasi Aqila
26 Kejutan Untuk Zara
27 Bertemu dengan mantan
28 Surat perjanjian
29 Sah menjadi pasangan Suami dan istri
30 Zara oh Zara
31 Tinggal di rumah baru
32 Balada jamu kuat
33 Merubah penampilan Zara
34 Zara VS Laura
35 Menguak siapa pelakunya
36 Musuh dalam selimut
37 Masalalu Zara yang kelam
38 Menyatakan Cinta part 1
39 Menyatakan Cinta Part 2
40 Rencana Felix
41 Merenggutnya secara paksa
42 Akhirnya di temukan
43 Trauma
44 Menjelaskan semuanya kepada Zara
45 Tanda lahir
46 Sagara Sakit
47 Makan malam yang dramatis
48 Rencana Saga
49 Kepergok
50 perang Dingin
51 Menggodanya
52 Misteri yang mulai terkuak
53 Tes DNA
54 Siapakah Rey Senja?
55 Kejutan besar untuk Zara
56 Peluk Ibu, Nak
57 Mengantar Maura dan Aqila
58 Merayu Laura
59 Pengakuan Rey
60 Zara di culik
61 Menyelamatkan Zara
62 Rencana Saga dan Nyonya Kinan
63 Pengumuman yang menegangkan
64 Rahasia yang mulai terungkap
65 Setelah badai, terbitlah pelangi
66 Pergi liburan ke Bali
67 Kehilangan itu sangat menyakitkan
68 Rey yang berulah
69 Berkata jujur
70 Sikap Zara yang aneh
71 Apa itu ketoprak?
72 Sikap manja Zara terhadap Sagara
73 Tak bisa jauh darimu
74 Sabotase
75 Zara Hamil
76 Mencari identitas si pelaku
77 Pertemuan yang tidak terduga
78 Musuh dalam selimut
79 Mulai menyerang
80 Kepergok Rey
81 Dendam dimasa lalu
82 Ditumbangkan
83 Mengatakan yang sebenarnya
84 Akal bulus Sagara
85 Mengapa kau nekat?
86 Jangan pernah kau mengulanginya kembali
87 Jebakan
88 Akhir dari segalanya
89 periksa kandungan
90 Pergi ke acara reuni
91 Pernyataan yang mengejutkan
92 Zara mulai curiga
93 Sikap dingin Zara
94 Menerima kenyataan pahit
95 Masalah yang semakin rumit
96 Tes DNA
97 Mona dan Zara saling bertemu
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Di ceraikan
2
Bertemu dengan Dewi
3
Pekerjaan untuk Zara
4
Menjadi seorang pegawai Hotel
5
Murkanya Sagara
6
Surat peringatan untuk Zara
7
Aqila mendadak sakit
8
Bertemu dengan Maura
9
Mulutmu setajam pisau
10
Pergi menemui Aqila
11
Sagara VS Zara
12
Jadi bahan gosip
13
Maafkan Papah, Maura.
14
Senjata makan tuan
15
Mencelakai Zara
16
Mencari pelaku
17
Sulit di percaya
18
Posisi baru untuk Zara
19
Cemburu
20
Bekerja di tempat baru
21
Permintaan Maura
22
Keputusan yang terpaksa
23
Ada apa dengan Sagara?
24
Kabar baik untuk Maura dan Aqila
25
Operasi transplantasi Aqila
26
Kejutan Untuk Zara
27
Bertemu dengan mantan
28
Surat perjanjian
29
Sah menjadi pasangan Suami dan istri
30
Zara oh Zara
31
Tinggal di rumah baru
32
Balada jamu kuat
33
Merubah penampilan Zara
34
Zara VS Laura
35
Menguak siapa pelakunya
36
Musuh dalam selimut
37
Masalalu Zara yang kelam
38
Menyatakan Cinta part 1
39
Menyatakan Cinta Part 2
40
Rencana Felix
41
Merenggutnya secara paksa
42
Akhirnya di temukan
43
Trauma
44
Menjelaskan semuanya kepada Zara
45
Tanda lahir
46
Sagara Sakit
47
Makan malam yang dramatis
48
Rencana Saga
49
Kepergok
50
perang Dingin
51
Menggodanya
52
Misteri yang mulai terkuak
53
Tes DNA
54
Siapakah Rey Senja?
55
Kejutan besar untuk Zara
56
Peluk Ibu, Nak
57
Mengantar Maura dan Aqila
58
Merayu Laura
59
Pengakuan Rey
60
Zara di culik
61
Menyelamatkan Zara
62
Rencana Saga dan Nyonya Kinan
63
Pengumuman yang menegangkan
64
Rahasia yang mulai terungkap
65
Setelah badai, terbitlah pelangi
66
Pergi liburan ke Bali
67
Kehilangan itu sangat menyakitkan
68
Rey yang berulah
69
Berkata jujur
70
Sikap Zara yang aneh
71
Apa itu ketoprak?
72
Sikap manja Zara terhadap Sagara
73
Tak bisa jauh darimu
74
Sabotase
75
Zara Hamil
76
Mencari identitas si pelaku
77
Pertemuan yang tidak terduga
78
Musuh dalam selimut
79
Mulai menyerang
80
Kepergok Rey
81
Dendam dimasa lalu
82
Ditumbangkan
83
Mengatakan yang sebenarnya
84
Akal bulus Sagara
85
Mengapa kau nekat?
86
Jangan pernah kau mengulanginya kembali
87
Jebakan
88
Akhir dari segalanya
89
periksa kandungan
90
Pergi ke acara reuni
91
Pernyataan yang mengejutkan
92
Zara mulai curiga
93
Sikap dingin Zara
94
Menerima kenyataan pahit
95
Masalah yang semakin rumit
96
Tes DNA
97
Mona dan Zara saling bertemu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!