20. Olahraga

Pagi-pagi sekali, setelah selesai sholat subuh Lulu sudah berkutat di dapur. Ia sedang membuat bubur ayam untuk sarapan. Sambil menunggu bubur lembut, ia menyempatkan membuat telur bacem sebagai pendamping.

“Sudah selesai?” Tanya Atthara yang mendatangi Lulu di dapur.

“Belum, Mas. Mas mau kemana?” Tanya Lulu yang melihat Atthara mengenakan celana training dan jaket.

“Olahraga. Serahkan sisanya pada Bu Minah. Ayo ikut!”

“Seperti ini saja boleh?” Tanya Lulu yang saat ini mengenakan gamis longgar.

“Pakai sepatu!”

Atthara tidak mungkin juga menyuruh Lulu mengenakan setelan seperti dirinya. Yang ada bentuk tubuh Lulu akan dinikmati orang nantinya.

Lulu mengangguk dan meminta Bu Minah menyelesaikan masakan untuknya. Ia pergi ke kamar untuk mengambil sepatu. Ia ingat ada sepatu running di wardrobe.

Atthara sudah menunggunya di teras sembari pemanasan. Lulu segera melakukan pemanasan seperti yang biasa ia lakukan. Atthara hanya memperhatikannya dari ujung mata. Lumayan juga rasanya, ada yang menemaninya berlari. Begitu pikir Atthara.

“Ayo!” Ajak Atthara yang berlari kecil lebih dulu.

Lulu mengikuti Atthara sampai mereka bisa saling bersisian. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Lulu yang baru pertama kali melihat sekitaran rumah Atthara, memperhatikannya dengan seksama. Ternyata rumah Atthara juga sama dengan rumah orang tuanya yang berada di kawasan elit. Bedanya kawasan yang ia lewati lebih asri karena banyaknya tumbuhan hijau dan tanaman di sepanjang jalur pemisah.

“Tahan sampai kapan?” Tanya Atthara.

“Tidak tahu, Mas. Aku tidak pernah berlari.”

“Kenapa tidak berolahraga?”

“Tidak ada waktu.” Jujur Lulu.

“Tidak bisakah kamu menyisihkan waktu?” Lulu menggeleng.

Bagaimana bisa ia menyisihkan waktu? Baginya 24 jam dengan tidur rata-rata 5-6 jam sehari saja masih kurang saat dirinya di panti asuhan.

“Berarti kamu harus menemaniku saat aku libur seperti sekarang!”

“Mas libur? Bukannya Mas bilang kemarin masih lama lagi sampai Mas bisa libur?”

“Besok ada dinas keluar kota, jadi aku mengambil libur sehari.”

“Oh!”

“Apa kamu mau ikut?” Tanya Atthara menghentikan larinya.

“Mas mau mengajakku?”

“Kamu mau tidak?” Lulu mengangguk.

Menemani suami bekerja juga merupakan ladang pahala baginya. Mana mungkin Lulu melewatkan kesempatan tersebut!

“Kita akan menginap 3 hari di kota sebelah. Kamu persiapkan saja apa yang ingin kamu bawa. Yang pasti kita akan tidur dalam satu kamar!”

“Tidak masalah!” Senyum Lulu.

Atthara kembali melanjutkan larinya sampai memutari jalur dan kembali ke kediamannya. Tetapi ternyata Lulu tertinggal di belakang. Jika diukur, mereka berlari sepanjang 1 km. Stamina Lulu hanya bisa bertahan sampai 2/3 jalan, 1/3 sisanya ia hanya berjalan santai sambil mengatur nafasnya.

“Itulah mengapa kamu perlu berolahraga!”

“Ya! Akan aku coba, Mas.” Jawab Lulu dengan nafas tidak teratur.

“Luruskan kakimu!” Lulu duduk dilantai dan meluruskan kaki seperti yang diperintahkan Atthara.

Atthara juga melakukan hal yang sama disamping Lulu. Pemandangan keduanya tidak luput dari kamera Betty, yang kemudian ia kirimkan ke Nenek Rahma.

“Senang sekali berjiwa muda.” Gumam Nenek Rahma saat melihat gambar yang dikirimkan Betty.

“Maksud Nyonya Tua?” Tanya Bu Mila, orang kepercayaan Nenek Rahma.

“Lihatlah! Bukankah menyenangkan melihat jiwa muda seperti mereka?”

“Ya! Anda benar. Berbeda dengan kita yang sudah berumur ini. Jangankan olahraga, berjalan jauh saja tulang sudah meronta-ronta.” Jawab Bu Mila setelah melihat gambar yang ditunjukkan Nenek Rahma.

“Kira-kira, kapan aku akan menimang cucu?”

“Sabar Nyonya Tua. Biarkan mereka menikmati kebersamaan mereka. Bukankah Nona Muda masih kuliah?”

“Ya, kamu benar. Tahun depan dia lulus.”

“Mungkin mereka menundanya sampai saat itu, agar Nona Muda bisa fokus dengan kuliahnya.”

“Mungkin saja.”

Percakapan Nenek Rahma dan Bu Mila di teras samping, tidak sengaja didengarkan oleh Agnes yang mendapatkan hukuman kurungan rumah setelah apa yang dilakukannya di rumah Atthara.

“Anak? Jangan harap mereka memilikinya!” Gumam Agnes yang kemudian pergi dari sana.

Di dalam kamar, Agnes menelepon seseorang untuk meminta bantuan. Seseorang diujung telepon itu setuju dan berjanji akan mencari waktu untuk membantu Agnes.

“Lihat saja nanti! Perempuan kampung itu akan menyesal! Dilihat dari penampilannya, dia tidak akan tahan jika suaminya menyentuh perempuan lain!”

“Aku ingin melihat wajah sombongnya itu berubah menjadi wajah kekalahan!” Agnes bermonolog.

Di sisi lain.

Atthara dan Lulu sudah selesai mandi dan berjalan ke ruang makan untuk sarapan. Seperti sudah terbiasa dengan kehadiran Lulu, Atthara berjalan bersisian sampai mereka sampai di ruang makan.

“Kamu mau kemana hari ini?” Tanya Atthara saat Lulu menyiapkan piring untuknya.

“Aku tidak tahu, Mas. Aku jarang sekali ke kota.” Jujur Lulu.

“Apa tidak ada tempat yang ingin kamu kunjungi?” Lulu menggeleng.

Atthara terdiam. Ia sedang memikirkan tempat yang cocok untuk membawa Lulu jalan-jalan. Tetapi ia juga sama, tidak tahu harus kemana karena ia juga tidak pernah jalan-jalan.

“Mungkin Bobby tahu.” Batin Atthara, yang kemudian mengetikkan pesan ke Bobby.

Tak lama kemudian, Bobby memberikan balasan. Tetapi karena Atthara masih makan, ia mengabaikannya dan membuka balasan tersebut setelah selesai makan.

Bobby: Jalan-jalan ke pantai, kebun binatang, taman hiburan atau ke pegunungan.

Atthara: Kenapa seperti bertamasya?

Bobby: Apa bedanya?

Atthara lupa. Bobby dan dirinya sama-sama orang yang gila kerja. Bagaimana bisa ia bertanya kepada Bobby?

“Apa kamu pernah ke pantai?” Tanya Atthara kepada Lulu yang menyuguhkan kopi.

“Belum.”

“Mau kesana?”

“Bukankah pantai jauh? Jika dilihat dari peta, pantai berlawanan arah dengan desa tempat tinggalku dan kita sepertinya ada di tengah-tengah kota.”

“Kamu terlalu banyak berpikir!” Atthara spontan mengusap puncak kepala Lulu.

“Bersiaplah, kita berangkat!”

“Sekarang?”

“Kamu mau nanti malam?” Lulu menggeleng.

Segera Lulu berlari ke kamarnya dan bersiap. Bingung mau mengenakan apa untuk ke pantai, pilihannya jatuh pada rok kulot dan tunik selutut. Untuk hijab, ia mengenakan pasmina, flat shoes dan tas selempang sebagai pelengkap.

Lulu dan Atthara keluar dari kamar secara bersamaan. Mereka saling pandang, melihat penampilan masing-masing. Baru kali ini Lulu melihat Atthara mengenakan pakaian selain kemeja dan jaket tadi pagi. Tampilannya terlihat atletis dengan kaos slimfitnya.

“Ayo!” Ajak Atthara.

Lulu mengangguk dan berjalan mengikuti Atthara. Saat sampai di bawah, Betty memberikan topi pantai untuk Lulu.

“Nona Muda akan membutuhkan ini.”

“Terima kasih, Mbak.” Betty mengangguk.

Atthara mengemudikan mobilnya sendiri karena Rudi juga sedang libur. Butuh waktu sampai 1 jam untuk sampai di pantai. Saat sampai disana, walaupun masih pukul 8.30 cuaca sudah terasa panas. Lulu mengenakan topi pantai pemberian Betty untuk menghindari sinar matahari, sedangkan Atthara mengenakan kacamata hitam.

Keduanya berjalan di pesisir pantai, bersisihan. Sesekali Lulu akan memegangi topinya saat angin laut menerpa. Atthara berhenti di sebuah pohon tumbang yang bisa mereka gunakan sebagai tempat duduk dan meminta Lulu untuk duduk.

Keduanya tidak tahu jika ada yang sedang memperhatikan mereka saat ini.

Episodes
1 1. Digusur
2 2. Bernegosiasi
3 3. Syarat
4 4. Latar Belakang
5 5. Tolong Rahasiakan
6 6. Ayam Katsu
7 7. Apartemen
8 8. Buku
9 9. Rumah Sakit
10 10. Di Sini Saja
11 11. Lahap Makan
12 12. Sup Ayam
13 13. Sah
14 14. Nenek Rahma Menginap
15 15. Di Kamar Atthara
16 16. Acara Pertunangan
17 17. Istriku
18 18. Lelang
19 19. Kalung
20 20. Olahraga
21 21. Pantai
22 22. Pingsan
23 23. Berangkat
24 24. Pusaka
25 25. Kantor
26 26. Meminta Izin
27 27. Penyerangan
28 28. Tidak Boleh Melakukan Apa-apa
29 29. Hukuman
30 30. Operasi
31 31. Tidak Akan Melebihi Batas Kemampuan
32 32. Ke Panti Asuhan
33 33. Merasa Marah
34 34. Tidur Bersama
35 35. Apa Mas Attha Cemburu?
36 36. Anda Siapa?
37 37. Percaya Diri Sekali
38 38. Satu Tahun
39 39. Marah
40 40. Jujur
41 41. Ikut Menginap
42 42. Mencari Tahu
43 43. Menyadari
44 44. Kecewa
45 45. Dua Pukulan
46 46. Kejutan
47 47. Doa
48 48. Mendaki
49 49. Mengikuti Lulu
50 50. Tidak Bisa Berhenti
51 51. Pesan Rega
52 52. Nenek!
53 53. Kenapa Kamu Melakukannya?
54 54. Bersikap Dingin
55 55. Berpisah
56 56. Matikan Lokasi dan Ponsel
57 57. Mencari Lulu
58 58. Bersisihan
59 59. Kembar Identik
60 60. Jangan Bodoh
61 61. Memperbaiki
62 62. Masa Lalu
63 63. Bangkrut
64 64. Rega dan Atthara
65 65. Berkelahi
66 66. Butuh Waktu
67 67. Omong Kosong
68 68. 7 Bulan
69 69. Musibah
70 70. Tidak Ada Kata Jika
71 71. Syukuran
72 72. Bantuan Rega
73 73. Peran Lulu
74 74. 2 Tahun
75 75. Sulit Membedakan
76 76. Vaksinasi
77 77. Mengincar Lulu
78 78. Rezeki Keturunan
79 79. Percobaan Pertama
80 80. Gudang Tua
81 81. Menurunkan Ego
82 82. Pangestu Membawa Lulu
83 83. Melunak
84 84. DNA Tidak Cocok
85 85. Meminta Maaf
Episodes

Updated 85 Episodes

1
1. Digusur
2
2. Bernegosiasi
3
3. Syarat
4
4. Latar Belakang
5
5. Tolong Rahasiakan
6
6. Ayam Katsu
7
7. Apartemen
8
8. Buku
9
9. Rumah Sakit
10
10. Di Sini Saja
11
11. Lahap Makan
12
12. Sup Ayam
13
13. Sah
14
14. Nenek Rahma Menginap
15
15. Di Kamar Atthara
16
16. Acara Pertunangan
17
17. Istriku
18
18. Lelang
19
19. Kalung
20
20. Olahraga
21
21. Pantai
22
22. Pingsan
23
23. Berangkat
24
24. Pusaka
25
25. Kantor
26
26. Meminta Izin
27
27. Penyerangan
28
28. Tidak Boleh Melakukan Apa-apa
29
29. Hukuman
30
30. Operasi
31
31. Tidak Akan Melebihi Batas Kemampuan
32
32. Ke Panti Asuhan
33
33. Merasa Marah
34
34. Tidur Bersama
35
35. Apa Mas Attha Cemburu?
36
36. Anda Siapa?
37
37. Percaya Diri Sekali
38
38. Satu Tahun
39
39. Marah
40
40. Jujur
41
41. Ikut Menginap
42
42. Mencari Tahu
43
43. Menyadari
44
44. Kecewa
45
45. Dua Pukulan
46
46. Kejutan
47
47. Doa
48
48. Mendaki
49
49. Mengikuti Lulu
50
50. Tidak Bisa Berhenti
51
51. Pesan Rega
52
52. Nenek!
53
53. Kenapa Kamu Melakukannya?
54
54. Bersikap Dingin
55
55. Berpisah
56
56. Matikan Lokasi dan Ponsel
57
57. Mencari Lulu
58
58. Bersisihan
59
59. Kembar Identik
60
60. Jangan Bodoh
61
61. Memperbaiki
62
62. Masa Lalu
63
63. Bangkrut
64
64. Rega dan Atthara
65
65. Berkelahi
66
66. Butuh Waktu
67
67. Omong Kosong
68
68. 7 Bulan
69
69. Musibah
70
70. Tidak Ada Kata Jika
71
71. Syukuran
72
72. Bantuan Rega
73
73. Peran Lulu
74
74. 2 Tahun
75
75. Sulit Membedakan
76
76. Vaksinasi
77
77. Mengincar Lulu
78
78. Rezeki Keturunan
79
79. Percobaan Pertama
80
80. Gudang Tua
81
81. Menurunkan Ego
82
82. Pangestu Membawa Lulu
83
83. Melunak
84
84. DNA Tidak Cocok
85
85. Meminta Maaf

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!