"Apa yang barusan kamu katakan Devano?"
Alis Daffa bertaut ketika mendengar permintaan anaknya yang tidak biasa, setelah makan malam Devano tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerjanya dan meminta sesuatu yang membuatnya bingung. Meletakkan pena yang tadi dia genggam Daffa menghampiri anaknya yang duduk di sofa dan kembali bertanya maksud dari permintaannya.
Rasanya aneh karena Devano meminta sesuatu yang tidak biasa, membeli sebuah rumah?
Mereka tidak memerlukan rumah lagi bahkan Daffa juga memiliki beberapa apartemen yang tidak digunakan hingga dia berniat untuk menjualnya, tapi anaknya malah meminta sebuah rumah. Aneh sekali bisa dibilang ini permintaan teraneh yang Devano inginkan biasanya dia hanya meminta tambahan uang atau motor baru, tapi rumah untuk apa anaknya menginginkan sebua rumah.
"Rumah? Daddy rasa kita sudah punya rumah dan apartemen juga untuk apa Daddy beli rumah lagi?" Tanya Daffa sambil menatap anaknya
Devano menatap Daffa dalam diam dia ingin mengatakan sesuatu, tapi rasanya sangat sulit untuk dia ucapkan.
"Ada apa Vano? Katakan saja Daddy akan dengarkan dan kalau memang sangat penting untuk kamu Daddy akan menuruti keinganan kamu." Kata Daffa sambil menepuk bahu anaknya pelan
Devano membasahi bibirnya yang terasa kering lalu mulai menjelaskan semuanya pada Daffa yang setia mendengarkan hingga dia selesai.
"Daddy tau Adara kan? Wanita yang pernah Vano ajak ke rumah." Kata Devano
"Iya Daddy tau, apa ada hubungannya dengan dia?" Tanya Daffa
Devano mengangguk singkat dan mencoba untuk menjelaskan situasinya.
"Dia ada masalah dengan keluarganya, Ayahnya berniat menjual rumah yang saat ini dia tinggali dan hal itu membuatnya terluka karena rumah itu satu-satunya tempat dia untuk tinggal juga merupakan tempat yang penuh kenangan sama Bunda juga Kakeknya." Kata Devano
"Lalu urusannya dengan kamu? Apa kamu melakukan ini karena kasihan?" Tanya Daffa lagi
Dengan cepat Devano menggelengkan kepalanya, bukan karena kasihan, tapi Devano melakukannya karena dia tidak suka melihat Adara sedih dan terluka.
"Vano gak mau kalau dia mengalami kesulitan dan juga dia pasti sedih kalau rumah itu dijual, Vano gak suka lihat dia sedih." Kata Devano
Kali ini Daffa terdiam dan menatap anaknya dengan dalam, dia pernah sekali menemui Adara dan yang dia tau anak itu sopan, tapi beberapa orang suruhannya melaporkan kalau dia sering membuat masalah di sekolah.
Hanya saja tidak mungkin Devano melakukannya atas suruhan dan lagi Devano bukan tipe orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain.
Kalau dia sudah ikut campur berarti orang itu penting untuknya.
"Daddy bisa jual mobil Vano dan kurangin uang saku Vano juga, tapi tolong bantuin Adara." Kata Devano sambil menatap Daffa dengan penuh permohonan
Daffa tersenyum dan mengusap bahu anaknya dengan lembut, dia yakin jika Adara pasti sangat berarti untuk anaknya.
"Tidak perlu kamu bisa membayarnya dengan juara kelas dan lulus dengan nilai terbaik, bisa?" Kata Daffa
Dengan pasti Devano menganggukkan kepalanya, apapun dia akan berusaha melakukannya.
"Siapa nama keluarganya?" Tanya Daffa
"Alexander"
"Daddy akan urus semuanya besok, sekarang kamu tidur besok harus pergi ke sekolah dan jangan sampai bolos lagi." Kata Daffa membuat Devano menatapnya dengan mata membulat
Dia fikir Daffa tidak tau, tapi Devina juga tidak mungkin mengatakannya kan?
Devina tidak pernah mengingkari janjinya bahkan dia sendiri yang bilang kalau Daddy nya jangan sampai tau.
"Daddy tau?" Tanya Devano takut
"Kamu fikir tidak? Kamu meninggalkan sekolah sebelum bel masuk dan kembali untuk menjemput Devina menunggu di dekat halte bus, benar?" Kata Daffa sambil tersenyum penuh kemenangan
Devano mengangguk dan enggan untuk menatap Daffa hingga dia tidak sadar kalau pria paruh baya itu sedang menahan tawanya sekarang.
"Luka di wajah kamu juga itu karena perkelahian di belakang sekolah benar?" Kata Daffa lagi
Kembali mengangguk Devano menggumamkan maaf dan membuat Daffa tersenyum lalu menepuk pelan pundaknya.
"Daddy tidak marah Devano karena Daddy tau kamu melakukannya dengan sebuah alasan, tapi Daddy minta jangan sampai kamu kelewat batas karena Devano Daddy selalu tau apa yang kamu lakukan disekolah ataupun diluar sekolah." Kata Daffa
"Iya Daddy"
Setelah itu Daffa beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
"Vano ke kamar dulu ya Dad"
Saat Devano akan membuka pintu suara Daffa kembali terdengar dan membuat Devano menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Gadis yang sudah menampar anak Daddy, sudah pastikan dia meminta maaf dengan benar?" Tanya Daffa
Pertanyaan itu kembali mengejutkan Devano karena dia sama sekali tidak mengatakan apapun tentang masalah Devina di sekolah.
"Sudah Dad"
"Ini yang terakhir, kalian sudah mau lulus fokus saja belajar jangan fikirkan yang lain." Kata Daffa lagi
Devano kembali mengangguk lalu melangkahkan kakinya keluar dan ketika membuka pintu Devina sudah menyambutnya dan menatapnya penasaran.
"Bagaimana? Aku perlu bicara sama Daddy juga?" Tanya Devina
Tersenyum tipis Devano menggelengkan kepalanya pelan lalu merangkul kembarannya dan mengantar gadis itu ke kamarnya.
"Daddy sudah setuju?" Tanya Devina lagi
"Hmm"
Devina tersenyum senang, tapi ketika Devano mengatakan sesuatu matanya langsung membulat.
"Vin"
"Iya kenapa?"
"Daddy tau kalau aku berkelahi dan bolos hari ini lalu Daddy juga tau tentang Hara yang menampar kamu." Kata Devano
"Lalu Daddy marah ya?" Tanya Devina takut
Devano menggelengkan kepalanya pelan lalu membuka pintu kamar Devina dan memintanya untuk masuk ke dalam.
"Tidak, tapi Daddy bilang ini yang terakhir jangan sampai ada kejadian seperti itu lagi." Kata Devano
Devina tersenyum lalu memeluk kembaranya sekilas sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.
Setelah memastikan Devina masuk ke dalam kamarnya Devano langsung menutup pintu dan pergi ke kamarnya yang berada tepat disebelah kamar Devina.
Tadinya mereka tidur besama, tapi sejak sekolah menengah pertama Fahisa memisahkan kamar keduanya karena tidak baik kalau tidur sama-sama mengingat mereka sudah beranjak dewasa.
Memasuki kamar bernuansa hitam putih miliknya Devano langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan tersenyum lega karena Daddy nya mau membantu.
'Makasih ya Van gue mungkin udah stress kalau gak ada lo'
Entah mereka kelak akan bersama atau tidak, tapi yang Devano tau saat ini adalah dia menyayangi Adara dengan setulus hatinya.
Rasa sayang yang selalu membuatnya ingin berada disisi Adara.
Menemani gadisnya melewati semua tantangan dihidupnya.
Membuat Adara tersenyum tanpa beban nantinya.
¤¤¤
Pada akhirnya Adara membubuhkan tanda tangan di berbagai berkas yang Juan bawa kepadanya demi keselamatan Bunda nya. Meskipun entah kapan Bunda akan sadar, tapi Adara tidak mau merelakan nyawanya hanya untuk sebuah rumah.
Sampai saat ini Devano masih belum mengatakan bahwa Daddy nya adalah orang yang akan membeli rumah itu dan akan tetap membiarkan Adara tinggal disana. Rencananya Devano akan mengatakannya hari ini ketika Adara bersiap untuk mengemasi semua barang-barangnya dan dia pergi bersama Daffa juga.
Saat sampai di rumah yang cukup besar itu Daffa segera mengetuknya dan Adara yang melihat kedatangan mereka sangat terkejut lalu dengan terbata meminta mereka untuk segera masuk ke dalam.
Selagi keduanya duduk di ruang tamu Adara pergi ke dapur untuk mengambilkan minum lalu kembali dan duduk disebelah Daffa tanpa banyak bicara.
"Tinggal saja disini"
Perkataan pembuka Daffa membuat Adara mendongak dan menatapnya lalu tersenyum tipis.
"Rumah ini sudah Ayah jual dan...."
"Saya yang beli rumahnya." Kata Daffa membuat Adara terdiam
Mengeluarkan surat-surat yang dia dapatkan dari Juan mereka sukses membuat Adara menangis karena merasa begitu bahagia.
"Tinggal saja disini dan rawatlah rumah penuh kenangan ini dengan baik, tapi rumah ini tetap atas nama saya, tidak masalah bukan Adara?" Tanya Daffa
Adara mengangguk sambil menghapus air matanya, dia tidak masalah asalkan masih bisa menempati rumah ini.
"Mereka akan kembali mengusik kamu kalau rumah ini atas nama kamu, tapi selagi rumah ini masih atas nama saya kamu aman disini." Kata Daffa
Adara kembali mengangguk dengan isakan juga air matanya lalu dengan susah payah dia mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih banyak"
Melihat Adara yang menangis membuat Daffa tidak tega, dia tidak mengerti kenapa Juan bisa sejahat itu pada anaknya sendiri.
Tangan Daffa terulur untuk mengusap sayang puncak kepala Adara dan membuat gadis itu semakin menangis.
"Semoga Bunda kamu cepat membuka matanya." Kata Daffa
Setelah mengatakan hal itu Daffa beranjak dari tempat duduknya sambil mengatajan pada Devano bahwa dia menunggu di mobil.
Daffa akan memberikan waktu untuk Devano dan Adara berbicara sebentar.
Saat Daffa sudah keluar tanpa bisa dicegah Adara memeluk Devano dengan erat dan menggumamkan kata terima kasih hingga berkali-kali membuat Devano tersenyum sambil membalas pelukannya.
"Vano makasih banyak ya? Gue gak tau harus apa kalau gak ada lo." Kata Adara
Devano hanya bergumam pelan lalu mengusap punggung Adara dengan lembut, berusaha menenangkan gadisnya dari tangisan.
"Jangan nangis"
"Makasih Van"
"Iya"
"Makasih"
"Iya Dar"
"Makasih"
"Udah bilang makasihnya gak usah banyak-banyak." Kekeh Devano
"Makasih makasih makasih makasih makasih"
Adara mengatakannya hingga berkali-kali membuat Devano tertawa kecil lalu menangkup wajah Adara dan menghapus jejak air mata yang belum mengering disana.
"Gue mau minta balasan, boleh?" Kata Devano
Dengan cepat Adara mengangguk apapun dia akan melakukan apapun untuk membalas kebaikan Devano.
"Senyum yang manis"
Terdiam untuk sesaat Adara tersenyum dengan begitu tulus setelahnya.
Senyuman yang sangat Devano sukai.
Setelah melihat senyuman itu dengan puas Devano tersenyum dan mengatakan bahwa dia harus pulang. Namun, ketika baru beberapa langkah Adara memanggilnya dan menghampiti Devano dengan berdiri dihadapannya.
Tanpa Devano duga sebuah pelukan kembali dia rasakan bersamaan dengan sebuah kalimat yang membuatnya melayang karena terlalu senang.
"Gue sayang lo Vano"
Iya, Devano juga sangat menyayangi Adara.
Jadi, perasaannya terbalas kan?
¤¤¤
Vano masa yang confess cewek duluan gimana sih kamuu😢
Gak mau tau besok dijadiin pacar ya Adara nya awas kalau enggak😋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Wini Desi
baper😍😍
2021-10-19
0
Bi
terharuuuu 😭😭😭
2021-07-16
0
pie2t@26
ko aku yang baper ya
2021-06-02
0