Suasana sekolah kembali ramai meskipun sudah sekitar lima belas menit bel pulang sekolah sudah berbunyi karena adanya pertengkaran hebat di parkiran. Sang pembuat onar sekolah Adara Alexander terlibat pertengkaran dengan seorang siswa, dia yang memang sedang memakai pakaian olahraga memberikan bogeman mentah pada siswa dihadapannya.
Parkiran yang memang sedikit ramai membuat orang-orang pada berkumpul untuk melihatnya dan mereka berseru heboh ketika Adara mencengkram kuat kerah bajunya. Jangan remehkan kekuatan Adara karena dia sangat jago dalam hal bela diri, cari urusan sama dia berarti nyari mati.
"Perhatiin hidup lo sendiri sebelum komentarin hidup orang." Kata Adara sambil mendorongnya hingga tersungkur
Adara menghela nafasnya pelan lalu menggulung lengan bajunya yang panjang dan mengganggu pergerakannya.
"Banci tau gak?! Kalau ada masalah sama gue bilang!" Kata Adara lagi
Siswa itu berdiri dan menatap Adara sambil menyeringai, tidak menyangka wanita itu sangat kuat bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah sekarang.
"Kenapa? Gue cuman bilang fakta kan? Gue cuman bilang kalau lo anak haram yang sama sekali gak diinginkan dan lo..."
"Brengsek"
Adara kembali mengumpat sebelum akhirnya memberikan pukulan lagi dan membuatnya kembali tersungkur.
"Jaga mulut lo sebelum gue bener-bener habisin lo sekarang juga, gue gak pernah takut apapun lo tau kan?" Kata Adara
Dengan kasar Adara mengambil tasnya lalu melewati kerumunan yang tadi berkumpul untuk melihatnya dan langkah kakinya terhenti ketika melihat sosok yang ia kenal berdiri tidak jauh dari area parkiran.
Devano dan beberapa teman sekelasnya juga seorang wanita yang dia tau adalah saudara kembar Devano.
'Jangan berantem terus masa depan lo masih panjang Dar'
Suara itu tiba-tiba terngiang ditelinganya, Adara tidak mengerti kenapa tiba-tiba Devano bisa mengatakan hal itu padanya.
Tapi, satu yang Adara tau dia tidak punya masa depan dan hidupnya sendiri sudah hancur.
Memasang wajah yang tidak bersahabat Adara pergi keluar gerbang sekolah dan meninggalkan banyak pasang mata yang menatap ke arahnya.
'Kenapa? Gue cuman bilang kalau lo anak haram yang tidak diinginkan'
Perkataan itu Adara tidak bisa menerimanya karena sumpah dia sangat tau kalau Mama nya sangat menginginkan dia, meskipun tidak dengan Papa nya.
Kembali ke area sekolah dimana para siswa yang tadi berkumpul mulai pergi karena sudah tidak ada Adara lagi. Di lain sisi Devano diam dengan wajah dinginnya, susah ternyata membuat Adara berhenti.
Tepukan dibahunya membuat Devano menoleh lalu mengikuti teman-temannya untuk segera kembali ke lapangan dan melanjutkan latihan mereka yang sempat tertunda.
"Gila ya si Dara bar-bar banget jadi cewek." Kata Erick
"Padahal dia cantik, tapi pasti ada alasan kenapa dia kayak gitu." Kata Devina yang disetujui oleh Devano dalam benaknya
Kembarannya itu benar ada alasan kenapa Adara menjadi cewek kasar yang mudah marah serta tersinggung dan ada alasan juga kenapa dia terlalu menutup diri dengan orang-orang disekitarnya.
"Ajak temenan gih Vin." Kata Alex membuat Devina menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan
"Takut, dia kalau ngeliatin orang serem banget." Kata Devina membuat Alex tertawa ketika mendengarnya
Tapi, memang benar tatapan Adara penuh kecurigaan terhadap orang-orang disekitarnya seolah dia tidak pernah percaya akan kata-kata yang mereka ucapkan.
Sesaat setelah itu Devina kembali duduk ditempatnya dan menunggu Devano yang kembali latihan bersama dengan yang lainnya.
Mata Devina terus menatap ke sosok Alex yang terlihat begitu menawan ketika bermain basket apalagi dengan keringat yang membanjiri tubuhnya juga rambut basahnya yang berantakan.
Tapi, Devina langsung mengalihkan pandangannya ketika seseorang duduk disebelahnya.
Hara
Sepertinya dia sedang menunggu kekasihnya latihan, kekasih ya?
"Udah selesai latihannya?" Tanya Devina membuat Hara menoleh dan menatapnya sebentar lalu mengangguk sambil tersenyum singkat
"Hmm cuman sebentar karena pelatihnya enggak datang." Kata Hara
Devina mengangguk faham lalu menyerahkan botol minum milik Hara yang tersisa setengah.
"Ini punya kamu." Kata Devina
"Makasih ya, diminum kan sama dia?" Tanya Hara
"Emm diminum kok." Kata Devina membuat senyum Hara mengembang
"Gue lagi marahan sama dia makanya gue fikir dia gak bakal mau minum airnya." Kata Hara
"Diminumlah dari pada nanti dia kehausan." Kata Devina membuat Hara tertawa ketika mendengarnya
"Kayaknya lo selalu nemenin Devano ya?" Tanya Hara yang dijawab dengan anggukan oleh Devina
"Iya kalau Vano latihan atau tanding aku selalu nungguin, disuruh Daddy." Kata Devina
Hara tersenyum lalu mengangguk faham dan entah kenapa tiba-tiba dia bercerita pada Devina tentang hubungannya bersama Alex.
"Gue selalu mau nemenin Alex kalau tanding atau latihan, tapi dia selalu nolak dan sekarang gue lagi keras kepala makanya duduk sini sama lo." Kata Hara
"Aneh, harusnya dia semangat kalau ditemenin pacarnya." Kata Devina yang langsung disetujui oleh Hara
"Aneh kan? Gue juga gitu dan belakangan ini gue ngerasa dia berubah banget mungkin punya selingkuhan dia." Kata Hara membuat Devina menatapnya
"Kok kamu ngomongnya gitu?" Tanya Devina
Menghela nafasnya pelan Hara menatap lurus kedepan dan tersenyum tipis.
"Dia jarang balas chat apalagi kalau malam dan kalau gue tanya selalu jawab lagi nongkrong sama temennya lah atau udah tidur padahal gue tau banget dia kalau tidur pasti malam." Kata Hara
'Kamu kok jarang balas chat aku sih Vin?'
Alex selalu mengirim pesan kalau malam sekitar jam sebelas sampai satu malam sepertinya.
Dia jadi merasa bersalah.
"Hari ini juga pas jam istirahat tadi ponselnya mati dia bilang habis dari ruang guru, tapi gue gak percaya." Kata Hara lagi
Saat istirahat tadi Alex menghampirinya di depan kelas.
'Alex gak baik untuk kamu Vin, dia gak pernah serius sama cewek'
Mengalihkan pandangannya ke depan mata Devina bertemu dengan tatapan milik Alex membuat dia langsung mengalihkan pandangannya.
"Hahh gue gak mau terlalu mikirin sih kalaupun dia memang suka sama cewek lain gak masalah, salah gue juga suka sama dia meskipun tau gimana playboynya dia." Kata Hara sambil tersenyum
Devina juga hanya tersenyum menanggapinya.
Di lain sisi Alex tengah menatap kedua wanita yang duduk bersebelahan di pinggir lapangan, perasaannya mendadak tidak karuan. Entah kenapa yang memenuhi fikiran Alex bukan Hara yang mungkin marah, tapi Devina yang setelah ini mungkin mengabaikannya.
Sebuah tepukan dibahunya membuat Alex menoleh dan mendapati Devano yang menatap lurus ke arahnya.
"Fokus Lex"
Setelah mengatakan hal itu Devano berlalu pergi meninggalkan Alex yang masih ditempatnya sambil menatap lurus kedepan.
Biasanya dia tidak merasakan hal seperti ini karena setiap kali dia dekat dengan gadis lain dan mereka tau kalau Alex memiliki kekasih kemudian menjauh, Alex tidak masalah.
Tapi, membayangkan jika Devina akan menjauh setelah ini membuatnya kesal dan tidak mau kalau sampai itu terjadi.
Merasa tidak bisa fokus Alex memutuskan untuk pulang saja dan tidak melanjutkan latihannya bersama yang lain.
"Gue pulang." Kata Alex membuat yang lainnya berhenti dan menatapnya bingung
Alex menghampiri Hara dipinggir lapangan, tapi dia lebih dulu menatap Devina kemudian mengambil tasnya dan pergi begitu saja.
"Pulang Har"
Setelah mengatakan kalimat singkat itu Alex pergi tanpa mengatakan atau menunggu kekasihnya membuat Hara menghela nafasnya pelan lalu berlari kecil untuk menyamakan dengan langkah kaki Alex yang terburu-buru.
"Alex tungguinn"
Lagi, Alex dan kisah cintanya.
¤¤¤
Setelah pulang sekolah Devina menghabiskan waktunya di kamar dengan menonton drama dan mengabaikan ponselnya yang sejak tadi berdering karena banyaknya pesan yang masuk, dari Alex juga Ziko. Sejak kejadian tadi Devina memutuskan untuk tidak lagi menanggapi Alex karena dia sudah memiliki kekasih dan dia juga jadi merasa bersalah pada Hara karena sering berbalas pesan dengan pacarnya.
Sudah dua episode drama yang Devina tonton dan dia berniat untuk menyelesaikan semua episodenya hari ini juga, dia juga berniat untuk tidak membuka ponselnya sampai malam.
'Ngerti kan kenapa gue bilang jangan terlalu menanggapi Alex?'
Perkataan kembarannya tadi terngiang ditelinganya membuat Devina menghela nafasnya pelan lalu melepas earphone nya bersamaan dengan layar ponselnya yang menyala karena ada panggilan telpon.
Nama Ziko tertera disana dan Devina segera mengangkatnya, dia menghindari Alex bukan Ziko.
"Hmm kenapaaa?" Tanya Devina
'Kenapa gak balas chat?'
"Lagi nonton drama." Kata Devina
'Awas matanya sakit'
"Enggak, kamu kenapa nelpon?" Tanya Devina
'Mau ngobrol aja'
"Ishh kurang kerjaan." Kata Devina membuat Ziko terkekeh disebrang sana
'Nanti malam sibuk gak Vin? Keluar yuk, kita ke pasar malam'
Mendengar itu senyum Devina mengembang dengan sempurna, ide bagus sudah lama dia tidak pergi ke pasar malam.
"Mauu, tapi kamu izin sama Daddy ya?" Kata Devina
'Pastilah itu masa mau bawa anak orang keluar malam-malam gak izin dulu'
"Aku tunggu ya nanti malam? Awas kalau bohong." Kata Devina
'Memang kapan aku bohong sama kamu Vin?'
"Enggak pernah sih." Kekeh Devina
'Nanti malam aku telpon lagi ya?'
"Iyaaa"
Setelah panggilan itu dimatikan Devina membuka aplikasi whats app miliknya dan melihat ada puluhan pesan dari Alex yang masuk. Menggigit bibir bawahnya pelan Devina kembali melihat jika pria itu sedang mengetik sebuah pesan.
Ini salah.
Tidak seharusnya Devina dekat dengan pria yang sudah memiliki kekasih.
Akhirnya Devina memutuskan untuk membuka chat grup yang berisikan dia dan teman-temannya.
Tapi, ketika membaca rentetan pesan disana mata Devina membelak dia jadi merasa semakin bersalah.
Mona : Woy gila Alex putus sama ceweknya ya?
Cessa : Kayaknya iya semua foto mereka berdua di sosial media udah di hapus
Mona : Playboy banget sih dia, padahal baru pacaran dia bulan lalu kan?
Nayla : Hal biasa kali Mon malah dua bulan itu termasuk lama kalau untuk pacaran sama Alex
Cessa : Vin jangan sampe lo sama dia ya? Sumpah mendingan sama Ziko
Nayla : Ehh dia deket sama lo juga kan?
Mona : Sama Ziko aja Vina jangan sama buaya darat kayak Alex
Devina berkali-kali mengetikkan pesan dan berkali-kali juga menghapusnya, dia bingung harus menjawab apa.
Tapi, dia juga tidak mungkin menjalin kasih dengan Alex.
Satu, Devano tidak pernah memberi izin.
Dua, Pria itu baru putus dari kekasihnya.
Tiga, Devina tidak tau apa Alex menyukai dia atau tidak.
Menghela nafasnya pelan Devina memutuskan untuk mematikan ponselnya dan menghidupkannya kembali saat malam.
Lupakan
Dia harus melupakan Alex.
Devano benar Alex tidak baik untuknya.
¤¤¤
Update lagi nanti sore?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Syarifah Putri
kalok gue si pasti Devina sama alex soal nya mereka saling suka tapi gak ada yang berani ungkapin dan keliatan banget nanti setelah Devina menjauh Alek akan belajar malupakan wanita lain dan vokus pada Devina dan nanti hasil nya Devina &Alex sedangkan devino dan Adara keliatan banget tadi defino gak tega sama adara☺️
2021-06-08
1
Syarifah Putri
jadi gak tega sama adarA
2021-06-08
0
Rokiyah Yulianti
bener vina, udahalah lupakan si alex. kamu sama ziko aja aku lebih suka liatnya
2021-05-15
0