"Alex! Kamu gak bisa mutusin aku gitu aja!"
Dengusan kesal Alex terdengar bersamaan dengan dia yang terus berjalan menghiraukan Hara yang terus mengejarnya untuk mengajak bicara, ralat bukan bicara, tapi untuk protes karena Alex putusin begitu saja. Saat ini Alex sedang berjalan menuju rooftop karena dia tau Hara tidak akan berhenti, jadi dari pada dia ke kelas dan Devina melihatnya bersama Hara lebih baik dia pergi ke rooftop dan berbicara disana.
Kali ini Alex serius dia merasa jengah dengan sikap Hara yang seolah mengatur hidupnya. Saat pacaran Hara banyak melarangnya seperti nongkrong kalau malam, main game, dan dekat dengan cewek lain padahal dia tau seperti apa dirinya.
Selain itu Alex tidak suka karena dia bertemu dengan Devina dan menyebabkan gadisnya itu mulai menjauh darinya. Seharusnya Alex memutuskan Hara sejak lama dan bukannya sekarang ketika Devina sudah tau semuanya.
Saat memasuki area rooftop Alex berhenti dan memutar tubuhnya ke belakang, memberikan tatapan tajam pada Hara yang juga menatapnya dengan tidak suka.
"Aku gak pernah mau putus sama kamu! Bisa-bisanya kamu ngelakuin ini sama aku Lex? Setelah berminggu-minggu cuekin aku dan sekarang kamu malah putusin aku gitu aja, tanpa alasan yang jelas? Brengsek kamu Lex." Kata Hara marah
"Gue memang brengsek dan lo tau itu kan? Harusnya lo tau bakal berakhir seperti apa hubungan kita hanya dengan lihat kelakuan gue selama sekolah kan? Lo yang bodoh karena menganggap gue bakal berubah." Kata Alex santai
Wajah Hara memerah karena amarah, memang salahnya yang jatuh cinta dengan pria playboy seperti Alex.
Tadinya Hara fikir dia akan baik-baik saja kalau Alex memutuskannya, tapi ternyata salah dia merasa kecewa dan marah.
"Kamu jahat Lex! Kamu punya selingkuhan kan? Kamu pasti punya wanita lain makanya kamu putusin aku, iya kan?" Desak Hara
"Enggak Har bukan selingkuhan, dia sama sekali enggak terlibat dalam hubungan kita." Kata Alex membuat Hara menatapnya dengan tidak percaya
"Bukan selingkuhan? Lalu apa Lex? Wanita gak tau diri yang mencoba untuk merebut kekasih orang?" Tanya Hara
Tatapan mata Alex menajam, dia tidak terima kalau Devina dikatan seperti itu karena sungguh gadis itu sama sekali tidak tau apapun bahkan dia tidak tau kalau Alex memiliki pacar.
"Jangan pernah berani bilang kalau dia wanita yang gak tau diri! Denger Har hubungan kita sudah berakhir dan gue berani bersumpah kalau gue memang gak pernah cinta sama lo bahkan dari awal kita pacaran, puas?!" Kata Alex
Kali ini Hara menahan tangisnya dan dengan penuh amarah dia memaki Alex yang berjalan menjauh.
Sialan, Alex benar-benar pria brengsek.
"Terus untuk apa kita pacaran kalau kamu gak cinta sama aku Lex?" Seru Hara dengan penuh amarah
Alex menoleh sebentar lalu mengatakan satu kalimat dengan wajah datarnya sebelum berlalu pergi dari sana, meninggalkan Hara yang menangis sendirian.
"Untuk senang-senang, that's it"
Langkah kaki Alex begitu cepat dia seolah tidak memiliki beban ataupun rasa penyesalan karena telah menyakiti hati seorang wanita.
Mungkin hatinya sudah tak lagi berfungsi.
Hal pertama yang membuat Alex menyatakan cinta pada Hara karena dia cantik, tapi ketika menjalin kasih dan menghadapi Hara yang sangat posesif Alex tidak suka.
Selalu seperti itu bahkan sampai sekarang Alex sama sekali belum menemukan seseorang yang bisa benar-benar merubahnya.
Mungkin Devina, tapi Alex sendiri tidak yakin.
Dia berusaha keras untuk meyakinkan Devano karena hatinya yang meminta, batinnya berkata mungkin Devina bisa meluluhkan hatinya dan merubah dia menjadi pria yang setia.
Pria yang hanya akan mencintai satu orang wanita seumur hidupnya.
Setiap orang bisa berubah kan?
Mungkin sudah waktunya bagi Alex untuk berubah, tapi Hara bukan orang yang bisa membantunya karena berada di dekat Hara tidak senyaman bersama Devina.
Hanya menghabiskan waktu dengan hal-hal sederhana bersama Devina saja sudah membuat hati Alex menghangat dan tidak bisa menghentikan bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman.
Saat tengah memikirkan Devina tiba-tiba Alex melihat gadis itu tengah berjalan dari arah yang berlawanan, sendirian tanpa ada teman atau pria yang menjadi saingannya. Senyuman manis Alex terbentuk bersamaan dengan di yang mempercepat langkahnya dan menghampiri Devina.
"Sendirian aja Mbak." Kata Alex
Devina tersentak lalu menoleh dan tersenyum ketika melihat Alex yang ada disebelahnya.
"Ehh kamu dari mana Lex? Bukannya di kelas kamu tadi ada guru ya? Kamu bolos lagi?" Tanya Devina sambil menatap Alex dengan penuh curiga
"Hmm aku bolos lagi Vin." Kata Alex
"Jangan bolos terus Lex." Kata Devina membuat Alex tersenyum ketika mendengarnya
Tapi, dia malah memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kamu ngapain disini Vin? Sendirian lagi." Kata Alex
"Mau ke ruang guru disuruh ngambil buku sama Bu Winda." Kata Devina
"Aku temenin deh." Kata Alex
"Ehh jangan kamu ke kelas aja pasti masih boleh masuk karena belum terlalu telat." Kata Devina sambil membalik tubuh Alex dan mendorongnya pelan
Alex tertawa karena Devina melakukan hal itu padanya, tapi dia tetap enggan untuk pergi ke kelas.
"Gak mau Vin." Kata Alex
Devina tersentak ketika Alex kembali berbalik dan malah menggenggam tangannya yang dengan cepat berusaha untuk Devina lepaskan, semua ini tidak benar Devina tidak boleh melakukannya.
Melihat Devina yang sepertinya terganggu dengan genggaman tangannya membuat Alex merasa kecewa, tapi dia tetap enggan untuk melepaskannya.
"Alex lepasin nanti ada yang lihat." Pinta Devina
"Enggak"
"Lepasin Alex." Kata Devina lagi
"Enggak Vin"
"Alex, lepasin nanti ada yang lihat terus kalau nanti ada guru gimana? Kita bakal dimarahin nanti." Kata Vina sedikit kesal
Berhasil Alex melepaskan tangannya dan dengan terburu-buru Devina melangkahkan kakinya lebih cepat agar bisa berjalan lebih dulu dari pada Alex.
Tanpa mereka tau ada Hara yang sejak tadi memperhatikan dengan senyuman miris, secepat itu Alex melupakannya?
Apa Devina orangnya?
Mungkin Alex menyukai Devina karena mereka sering bertemu kalau latihan atau tanding basket mengingat Devina memang selalu menemani kembarannya.
Untuk senang-senang?
Apa mungkin Alex juga hanya untuk senang-senang bersama Devina?
Di mata Hara dia malah terlihat seperti pria mani yang benar-benar menyukai wanita ketika melihat Alex yang berkali-kali berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dan mengajak gadis itu mengobrol dengannya.
Selalu sulit untuk percaya pada Alex karena dia terlalu sering berbohong, tapi jujur Hara tidak terima dengan ini semua.
Ada pria lain yang menyukainya, tapi dia memilih Alex karena pria itu membuatnya percaya bahwa dia hanya satu-satunya.
Ternyata salah
Hara bukan satu-satunya, tapi dia hanya salah satu dari sekian banyak gadis yang Alex dekati.
"Brengsek"
Setelah menggumamkan kata itu Hara pergi untuk menghindari pemandangan yang membuatnm hatinya sakit bukan main.
Alex
Pria brengsek itu pasti akan mendapat balasannya.
¤¤¤
Sepulang sekolah Devano melihat Adara yang dihampiri oleh dua orang pria dari kelas lain dan hal itu membuat dia terus mengikuti Adara lalu langsung mengatakan tidak ketika dia orang itu mengatakan tujuannya. Tawuran, bisa-bisanya dua orang itu mengajak seorang wanita untuk pergi tawuran bahkan meskipun Adara sudah sering melakukannya untuk kali ini Devano akan menahannya untuk pergi.
"Enggak Dar!"
"Lo berdua tunggu di gerbang nanti gue nyusul." Kata Adara pada keduanya
Devano menggeram kesal lalu dia menggenggam tangan Adara cukup erat dan mengajaknya masuk ke dalam kelas yang sekarang sudah kosong.
Kelas Devina masih belum keluar.
"Gue gak izinin lo untuk pergi Adara Alexander!" Tegas Devano
"Gue gak perlu minta izin dari lo Devano." Balas Adara
Saat ingin pergi Devano malah mengunci pergerakan Adara dengan menyudutkannya di tembok.
"Gue bakal antar lo pulang, sekarang!" Kata Devano
"Van apaan sih?! Lo gak berhak ngatur-ngatur gue kayak gini, minggir!" Kata Adara kesal
"Pulang atau seharian disini? Gue gak bakal izinin lo untuk pergi kemanapun apalagi ikut tawuran." Kata Devano
"Udah gue bilang gue gak butuh izin lo untuk pergi Devano! Berhenti mengatur hidup gue karena lo bukan siapa-siapa!" Kata Adara dengan suara yang cukup tinggi
Bukan siapa-siapa
Kalimat itu membuat Devano tersenyum miris, Adara memang tidak pernah menganggapnya.
Tapi, dia tidak akan pernah membiarkan wanita itu pergi.
"Pulang atau seharian disini!" Tegas Devano lagi
Adara menggeram kesal karena lagi dan lagi tidak bisa menolak semua perkataan Devano.
Dia bahkan tidak memukul Devano agar menyingkir padahal Adara selalu memukul mereka yang menghalangi jalannya, tapi Devano pengecualian.
Adara tidak pernah bisa memukulnya.
"Fine! Gue mau pulang!"
Senyum penuh kemenangan Devano terbentuk dia menggenggam tangan Adara lalu keluar dari kelas bersamaan dengan kelas Devina yang baru saja selesai.
Saat melihat Devina yang keluar bersama teman-temannya Devano langsung menghampiri kembarannya.
"Vin"
"Ehh ada dia juga." Kata Devina dengan wajah sedikit takut
Adara hanya diam tanpa menanggapi apapun.
"Tunggu tempat Mona dulu gak papa? Gue ada urusan sebentar janji gak lama." Kata Devano
Setelah terdiam sebentar Devina mengangguk patuh, tapi suara Ziko malah terdengar setelahnya.
"Dia pulang sama gue aja gak papa?" Kata Ziko
Devano terdiam sebentar lalu menatap Devina yang mengangguk singkat kemudian membolehkan pria itu untuk mengantar kembarannya.
"Langsung pulang kalau memang mau keluar izin dulu sama Daddy." Kata Devano yang diangguki oleh kembarannya
Setelahnya Devano mengajak Adara untuk pergi ke parkiran, dia akan mengantar wanita itu pulang.
Selama berjalan menuju parkiran banyak pasang mata yang menatap keduanya dan hal itu membuat Adara benar-benar merasa risih. Sampai di parkiran Devano menyerahkan helm milik Devina kepada Adara yang dengan setengah hati dia pakai.
Sebelum benar-benar mengantar Adara pulang Devano berhenti sebentar di gerbang dan meminta gadis itu untuk mengatakan pada dua orang tadi bahwa dia tidak akan pergi.
Dengan setengah hati dan penuh rasa bersalah Adara mengatakan bahwa dia tidak bisa pergi.
Kedua orang itu menatapnya dengan tidak percaya, tapi mencoba untuk memahami keputusannya.
Setelah selesai Devano kembali melajukan motornya dan dengan sedikit kekesalan Adara menyebutkan alamatnya yang lumayan jauh dari sekolah mereka.
Sepanjang perjalanan Adara hanya diam dan menatap ke sekelilingnya, untuk pertama kalinya seseorang mengantarkan dia pulang dari sekolah.
Sudah lama sekali rasanya Adara selalu pergi dan pulang menggunakan kendaraan umum atau online.
Sekitar dua puluh menit menempuh perjalanan Devano berhenti di rumah yang cukup besar dan Adara segera turun lalu mengembalikan helm yang digunakannya.
"Makasih, lain kali jangan lakuin ini lagi Van gue udah biasa berantem, tawuran, bahkan balapan liar." Kata Adara
"Gue bakal selalu ngelakuin ini Dar, supaya lo berhenti melukai diri lo sendiri." Kata Devano
"Gue gak bisa berhenti Van..."
"Pasti bisa dan gue bakal bantu lo." Kata Devano
Adara menghela nafasnya pelan lalu berlalu pergi, tapi sebelum membuka gerbangnya Devano memanggil dan mengatakan hal yang membuat hatinya menghangat.
"Gue tau lo orang baik Dar jangan menyakiti diri sendiri lagi"
Memilih untuk tidak menanggapi Adara melangkahkan kakinya masuk ke dalan rumah yang selalu dia anggap layaknya neraka.
'Kamu tuh cuman bawa sial bagi Papah! Karena kamu semuanya jadi berantakan!'
Dia selalu mendengar kata pembawa sial dari orang-orang atau kata anak nakal dari guru juga teman-temannya, tapi Devano mengatakan bahwa dia adalah orang yang baik.
'Lo orang baik Dar jangan menyakiti diri sendiri lagi'
Mungkin itu salah satu alasan kenapa Adara tidak bisa berlaku kasar pada Devano.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Rokiyah Yulianti
babang vano emang keren deh
2021-05-15
1
Arsy Pudiw
i 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
2020-12-10
1
Riyanti Riri
uuuhhh abang vano emg top dh
2020-11-14
8