Tidak pernah terbayang sekalipun di benak Devina akan melihat sahabat baiknya itu bermain gitar sambil bernyanyi yang membuat ketampanannya bertambah hingga puluhan kali lipat. Sekarang mereka berdua sedang ada di studio musik, tapi hanya berdua karena yang lainnya masih belum datang dan sambil menunggu yang lainnya Ziko mengambil gitar kesayangannya lalu duduk tepat disamping gadisnya.
Saat Ziko mulai memetik gitarnya dan menyanyikan salah satu lagi dari penyanyi kesukaan gadisnya senyum manis Devina mengembang. Berbeda dengan Devano yang memiliki suara lebih lembut, Ziko memiliki suara yang berat dan membuat jantungnya bergetar ketika mendengarnya.
Ditambah lagi Ziko bernyanyi sambil menatapnya dan sesekali tersenyum.
Ambyar
Mendadak Devina membisu dengan jantung berdetak cepat juga wajahnya yang mulai merona karena mendapatkan perlakuan manis ini.
Shawn Mendes, Imagination.
Ziko membawakan lagu itu dengan penuh penghayatan dan setiap kali bernyanyi di bagian reff dia akan menatap Devina dengan begitu dalam hingga membuatnya salah tingkah.
Setiap bait yang Ziko nyanyikan seolah menggambarkan perasaannya untuk Devina.
Ziko seolah memberitau mimpinya dimana dia dan Devina bersama-sama seperti apa yang dia inginkan.
Cinta monyet
Ziko tidak peduli entah ini hanya cinta monyet atau cinta sejati, tapi yang jelas dia selalu berharap bisa selalu bersama dengan gadisnya.
I keep craving, craving,
You don't know it but it's true
Can't get my mouth to say the words they wanna say to you
This is typical of love
Can't wait anymore, I won't wait,
I need to tell you how I feel when I see us together forever
In my dreams you're with me
We'll be everything I want us to be
And from there who knows?
Maybe this will be the night that we kiss for the first time.
Or is that just me and my imagination?
Percayalah Devina benar-benar salah tingkah sekarang dan ingin menghilang dari pandangan Ziko saja.
Sesaat setelah Ziko selesai menyanyikan lagu itu mereka terdiam dan sibuk dengan fikirannya masing-masing sampai akhirnya Devina bertepuk tangan lalu memuji suara sahabatnya.
"Suara kamu bagus banget." Kata Devina
"Baru tau sih padahal suara aku emang bagus." Kata Ziko
"Aku enggak pernah dengar kalau kamu nyanyi, tapi kalau kamu teriak-teriak di kelas sering banget." Kata Devina membuat Ziko tertawa ketika mendengarnya
"Aku bakal sering nyanyi deh buat kamu Vin." Kata Ziko
"Hmm berarti bakal ada dua orang yang sering nyanyi untuk aku." Kata Devina
Ziko langsung menatapnya dengan terkejut dan bertanya karena penasaran.
Apa Alex juga sering melakukannya?
"Siapa? Jadi aku yang kedua?" Tanya Ziko yang dijawab dengan anggukan oleh Devina
Tapi, ketika wanita itu mengatakan siapa orangnta dia jadi mau tertawa.
Astaga Ziko sampai lupa kalau kembaran sahabatnya itu pintar bernyanyi dan bermain gitar sepertinya.
"Vano, aku sering minta dia nyanyi apalagi kalau lagi susah tidur nanti dia nyanyi sampai aku tidur." Kata Devina
"Nanti kalau susah tidur telpon aku aja." Kata Ziko membuat Devina menatapnya bingung
"Kok telpon kamu?" Tanya Devina
Lagi, jawaban Ziko membuat Devina terdiam dengan pipi merona.
"Biar aku nyanyiin kamu sampai kamu tidur." Kata Ziko
Baru akan menyahut pintu studio di buka dan tiga orang teman Ziko yang memang Devina kenal masuk ke dalam bersama seorang wanita juga.
Saat masuk ke dalam mereka menatap Devina dengan bingung membuat gadis itu menatap Ziko karena malu.
Seolah faham Ziko tersenyum lalu merangkul Devina dihadapan teman-temannya.
"Maaf ya? Gue bawa temen nih, kenalin Devina." Kata Ziko
"Udah tau kali Ko." Kata Hendra sambil tertawa kecil
Yang Devina tau Hendra itu masih satu kelas dengan kembarannya lalu ada Rayhan dan Bastian yang berbeda kelas dengan dia atau kembarannya, tapi Devina tau mereka pernah menghampiri Ziko ke kelas.
Sedangkan wanita yang baru datang, Devina tidak mengenalnya selain itu kalau dilihat dari pakaiannya dia tidak satu sekolah dengannya.
"Hai, gue Adyra." Katanya sambil mengulurkan tangannya
Devina tersenyum dan menyambut uluran tangan itu dengan hangat.
"Aku Devina"
Wajah Adyra terlihat terkejut, tapi Hendra langsung mengatakan sesuatu yang membuat Devina tersenyum.
"Enggak usah kaget dia memang ngomongnya aku kamu." Kata Hendra
"Ohh kaget gue." Kata Adyra sambil tertawa
"Lepas kali Ko itu tangannya." Kata Bastian membuat Ziko terkekeh lalu melepaskan tangannya dari bahu Devina
Setelah semuanya berkumpul mereka mengobrol sebentar sebelum memulai latihan dan bermain alat musik sambil bernyanyi.
Ternyata Adyra juga ikut bernyanyi dan suara lembutnya berbaur dengan suara berat milik Ziko.
Saat bernyanyi mereka berdua sesekali saling bertatapan dan membuat Devina entah kenapa merasa kesal melihatnya.
Dia tidak tau kalau tatapan Ziko untuk Adyra berbeda dengan tatapan Ziko untuk Devina.
Setelah menyanyikan sekitar dua lagu Adyra mendudukkan dirinya disebelah Devina karena merasa haus dan membiarkan yang lainnya tetap bermain musik.
Dalam diam Adyra memperhatikan Devina yang terlihat fokus pada ponselnya lalu mulai mengajaknya bicara.
"Ziko sering cerita tentang lo ke kita." Kata Adyra membuat Devina langsung mendongak dan menatapnya dengan penuh rasa ingin tau
"Iya? Dia cerita apa?" Tanya Devina
"Ya tentang lo, dia cerita banyak, tentang kalian kalau disekolah." Kata Adyra
"Menurut kamu Ziko itu gimana?" Tanya Devina
Adyra terdiam sebentar lalu menatap Ziko yang terlihat fokus pada gitar dipangkuannya dan tersenyum sebentar sebelum kembali bicara.
"Dia baik dan perhatian, kita sering latihan atau manggung dan kadang sampai malam biasanya dia selalu nganterin gue pulang atau minta yang lain untuk nganter gue, tau alasannya apa?" Tanya Adyra yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Devina
Lalu Adyra melanjutkan perkataannya dan membuat Devina tersenyum saat mendengarnya.
"Katanya enggak baik kalau cewek pulang malam-malam sendirian." Kata Adyra
"Kalian udah lama punya band kayak gini?" Tanya Devina
"Kalau mulai manggung belum lama sih, tapi kita memang anak musik dan kalau lo penasaran kenapa gue bisa gabung padahal beda sekolah jawabannya karena gue dan Bastian tetangga dia ngajak gue gabung, ternyata seasik itu sama mereka." Kata Adyra
Devina ikut senang ketika mendengarnya.
"Aku enggak tau kalau Ziko punya suara yang bagus waktu nyanyi." Ungkap Devina
"Beneran? Padahal suara dia bagus banget." Kata Adyra
"Emm soalnya kalau dia sekolah dia cuman teriak-teriak atau gangguin orang atau ikut nimbrung kalau ada yang berisik." Kata Devina membuat Adyra tertawa ketika mendengarnya
Setelah itu mereka berdua mengobrol tentang banyak hal dan terlihat begitu akrab satu sama lain hingga akhirnya ketika Ziko merasa hari sudah semakin sore dia mengajak Devina untuk pulang.
Ziko pulang lebih dulu dari yang lainnya dan ketika sampai di luar dia langsung menyerahkan helm kepada Devina untun dipakai.
Setelah siap motor Ziko melaju melewati jalanan dan menempuh perjalan selama hampir dua puluh menit sebelum akhirnya berhenti di rumah besar keluarga Wijaya.
Devina segera turun dan melepaskan helmnya lalu tersenyum senang sambil menatap sahabat baiknya.
"Makasih yaa Ziko udah ajakin aku." Kata Devina
"Suka?" Tanya Ziko yang dijawab dengan anggukan oleh Devina
"Berarti kalau gue ajakin lagi mau kan?" Tanya Ziko lagi
"Mauuu"
Tertawa kecil Ziko mengusap puncak kepala Devina dengan lembut lalu menyuruhnya untuk masuk.
"Hati-hati yaaa"
"Iya sayang"
Devina tersenyum lalu melambaikan tangannya dan ketika motor Ziko menghilang dari pandangannya barulah Devina masuk ke dalam rumahnya.
Hari yang menyenangkan.
¤¤¤
"Van apaan sih?!"
Devano tetap tidak perduli dengan Adara yang mendumal ketika dia kembali memaksa untuk mengantar pulang. Sudah hampir dua jam sejak bel pulang berbunyi, tapi Adara masih berdiam diri di kelasnya dan Devano mengikutinya dan duduk disebelahnya.
"Lo enggak ada kerjaan ya? Pulang sana!" Usir Adara
Devano tetap diam membuat Adara mendengus kesal dan mengambil tasnya lalu berdiri, tapi belum sempat melangkah tangannya sudah lebih dulu ditahan.
"Devano! Gue mau pulang!" Seru Adara
Devano mengangguk singkat lalu memakai tasnya tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Ayo pulang"
"Gue pulang sendiri!"
"Lo pulang sama gue!"
Adara berdecak kesal dan berusaha melepaskan tangannya, tapi terlalu sulit dan dia dibuat tersentak hingga menahan nafasnya ketika Devano menyudutkannya di tembok lalu berbicara di depan wajahnya.
"Gue yang antar lo pulang, oke?"
Sekali lagi Devina kembali luluh dan mengangguk patuh membuat senyum Devano terukir meski sangat tipis.
Dengan tangan yang digenggam Adara mengikuti langkah kaki Devano menuju parkiran dan ketika sampai Devano memberikan helmnya pada Adara untuk dipakai.
"Kembaran lo kemana? Biasanya kalian pulang berdua." Kata Adara
Dia kesal karena Devina malah tidak ada dan membuat kembaran gadis itu mengganggunya.
"Sama Ziko"
Setelah mendengar jawaban itu Adara menghela nafasnya pelan dan menaiki motor Devano. Sepanjang perjalanan pun dia hanya diam tanpa sepatah kata pun hingga mereka sampai di rumahnya, tapi ketika melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman depan wajah Adara mendadak pucat.
Dia menepuk pundak Devano berkali-kali hingga membuat pria itu menoleh dan menatapnya bingung.
"Gue gak mau pulang"
Devano terkejut ketika mendengar nada bicara Adara yang seperti orang ketakutan lalu dia melihat ke arah pandang yang sama dengan gadisnya.
"Vano bawa gue pergi"
Devano belum menjawab apapun, tapi Adara kembali bicara dengan begitu pelan membuat Devano kembali melajukan motornya meninggalkan area rumah itu.
"Please"
Satu hal aneh lainnya tentang Adara yang baru Devano ketahui.
Siapa orang yang membuat gadis itu merasa takut dan cemas?
¤¤¤
Huwaaa double updateee😋
Siapa mau triple update untuk besokkk😶
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Syarifah Putri
kalok aku si kekeh Devina sama alex
2021-06-09
0
Rokiyah Yulianti
devina mulai degdegan, ketika di dekat ziko
2021-05-15
2
🖤Sindy Lee🖤
Ziko sweet jg ya hmm
2021-01-31
6