12 : Adara dan Kehidupannya

Helaian rambut milik Adara bergerak ketika angin menerpa wajahnya dan dia masih tetap diam dengan pandangan lurus ke depan serta tangan yang terkepal dengan erat. Ada emosi yang gadis itu tahan Devano tau, tapi dia tidak berniat untuk bertanya dan memilih diam sambil menemaninya di taman.

Iya, Devano membawa gadis itu ke taman dan sekarang mereka duduk disalah satu bangku taman sambil menatap lurus ke depan, tanpa percakapan.

Jujur Devano merasa sangat penasaran siapa yang membuat Adara sampai sekalut ini dan enggan untuk pulang ke rumahnya. Seorang gadis yang Devano anggap kuat ini ketakuan hanya karena melihat mobil milik seseorang yang terparkir di halaman rumahnya.

Merasa Adara mengepalkan tangannya dengan semakin erat Devano meraih tangan itu dan membawanya ke dalam genggaman tangannya.

Genggaman yang terasa begitu hangat bagi Adara dan membuatnya enggan untuk melepaskannya.

"Van"

"Hmm"

"Gue enggak mau pulang." Kata Adara pelan

"Terus mau kemana?" Tanya Devano dengan lembut

Adara menggelengkan kepalanya, dia juga bingung harus pergi kemana karena rumah itu satu-satunya tempat dimana dia bisa tinggal.

"Gue enggak mau pulang." Kata Adara lagi

Mengusap tangan yang ada digenggamannya Devano memiliki sebuah rencana yang mungkin akan disukai Adara.

"Ke rumah gue mau?" Tanya Devano yang dijawab dengan gelengan kecil oleh Adara

"Malu"

Devano tertawa kecil mendengarnya, sekarang Adara terlihat seperti Devina yang sedang merajuk padanya, dia suka.

"Enggak papa nanti ada Devina." Kata Devano sambil tersenyum tipis

Adara diam dan menatap Devano dengan pandangan yang sulit untuk diartikan sampai akhirnya dia mengangguk singkat.

Kembali menggenggam tangannya Devano membawa Adara ke tempat motornya terparkir lalu kembali melajukan kendaraan beroda dua itu ke rumahnya.

Dari spion Devano dapat melihat Adara yang diam dengan wajah sendunya membuat rasa penasarannya semakin tinggi, ada apa sebenarnya?

Setelah sampai mata Adara menjelajah rumah besar Devano, tapi ketika pria itu mau membawanya untuk masuk melalui pintu utama dia menghentikan langkahnya.

"Takut"

"Memang lo bisa takut?" Canda Devano membuat Adara berdecak kesal

"Takut!" Kata Adara lagi

"Enggak papa Dar." Kata Devano

Akhirnya Adara menurut dan mengikuti langkah kaki Devano memasuki rumah, dia benar-benar takjub dengan rumah besar yang terlihat elegant ketika melihat isi dalamnya. Namun, langkah kaki Adara kembali terhenti ketika seorang wanita paruh baya yang sangat cantik menurutnya berjalan dengan senyum manisnya dan memeluk Devano dengan sayang.

"Ya ampun anak Mommy sudah pulang." Katanya

Ada sisi lain dalam diri Adara yang juga ingin mendapat perlakuan semanis itu dalam hidupnya.

"Ehh kamu bawa siapa Van? Pacarnya ya?" Tanya Fahisa sambil tersenyum ramah pada Adara

Adara mendongak dan tersenyum tipis lalu menatap Devano sebentar, dia bingung harus menjawab apa.

"Vina udah pulang Mom?" Tanya Devano

"Sudah tadi diantar sama Ziko, kamu belum jawab pertanyaan Mommy." Kata Fahisa membuat Devano tersenyum kecil

"Maunya pacar, tapi dianya belum mau." Kata Devano membuat Adara menatapnya dengan galak

Mendengar jawaban itu Fahisa tertawa lalu menyuruh keduanya untuk duduk selagi dia mengambilkan minuman.

"Mommy enggak galak jangan tegang gitu." Kata Devano

Adara hanya mengangguk singkat dan kembali duduk disebelah Devano lalu memperhatikan sekelilingnya.

Ada banyak foto di dinding dan sekali lagi Adara merasa iri, dia tidak memiliki satu pun foto bahagia dengan orang tuanya.

"Nah ini minum dulu sayang." Kata Fahisa

Fahisa mendudukkan dirinya disebelah Adara dan menatapnya dari samping, tapi keningnya berkerut ketika melihat luka yang ada diwajahnya.

"Kamu luka, sudah diobati?" Tanya Fahisa lembut

Sedikit tersentak Adara menyentuh ujung bibirnya yang masih sedikit sakit lalu mengangguk singkat.

"Sudah Tante"

"Aku mau panggil Vina dulu." Kata Devano sambil melangkahkan kakinya ke kamar atas meninggalkan Adara bersama Mommy nya

Fahisa masih memperhatikan Adara dan membuat gadis itu sedikit malu juga gugup, baru pertama kali Adara merasakan hal seperti ini.

"Kamu teman sekelas Vano atau Vina?" Tanya Fahisa

"Aku sekelas sama Vano." Kata Adara membuat Fahisa mengangguk faham

"Anak Tante kalau disekolah gimana? Dia nakal enggak?" Tanya Fahisa

Adara menggelengkan kepalanya pelan lalu mengatakan bahwa Devano adalah siswa teladan yang disukai guru-guru disekolahnya.

"Vano itu kesayangannya guru-guru disekolah Tante." Kata Adara

Mendengar hal itu Fahisa tersenyum senang.

"Vano enggak pernah bawa temen wanitanya ke rumah." Kata Fahisa yang hanya ditanggapi dengan gumaman oleh Adara

Dia merasa tersentuh dengan kenyataan bahwa dia adalah wanita pertama yang Devano bawa ke rumahnya.

"Kamu lapar? Mau makan apa?" Tanya Fahisa dengan lembut

Bukan menjawab Adara malah menatap Fahisa dengan dalam, mata indah dan teduh Fahisa mengingatkan dia pada sosok sang Bunda.

Suara lembutnya membuat Adara semakin merindukan Bundanya.

"Tante"

"Iya?"

"Adara mau peluk Tante boleh?" Tanya Adara ragu dia bahkan tidak berani menatap wajah Fahisa

Permintaan itu membuat Fahisa tersenyum dan tanpa ragu membawa Adara kedalam pelukan hangatnya. Mata Adara terpejam merasakan kenyamanan yang sudah lama tidak dia rasakan.

"Kamu merindukan Ibu kamu ya?" Tebak Fahisa yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Adara

Cukup lama Adara berada di dalam pelukan Fahisa sebelum dia menjauhkan dirinya dan menatap waita paruh baya itu dengan senyum manisnya.

"Makasih ya Tante." Kata Adara tulus

Fahisa mengangguk singkat lalu mengusap puncak kepala Adara dengan sayang, dia jadi ingat pada Sahara yang dulu juga merindukan sosok Ibu di hidupnya.

Mata Adara menggambarkan luka yang begitu dalam dan Fahisa dapat melihatnya.

"Mommyyy"

Keduanya menoleh dan melihat Devina bersama Devano berjalan ke arah mereka, lebih tepatnya Devina berlari dan duduk disebelah Adara.

"Haii"

Adara tersenyum mendapat sapaan hangat itu, kehidupan Devina sangat sempurna karena ada orang tua juga Devano yang menyayanginya dengan sangat tulus.

"Yaudah Mommy tinggal dulu ya? Kalau mau makan ke belakang aja oke?" Kata Fahisa

"Oke Mommy." Kata Devina dengan semangat

Setelah Fahisa pergi ketiganya diam, tapi Devina langsung memulai sebuah percakapan.

"Kamu mau ke kamar aku enggak? Mau ganti baju dulu? Pasti enggak enak pakai baju sekolah kayaknya ukuran baju kita sama." Kata Devina

Adara terdiam sambil menatap Devina yang tersenyum lebar ke arahnya, tapi dia menggelengkan kepalanya pelan.

"Pakai ini aja enggak papa kok." Kata Adara

Devina mengangguk singkat lalu mengajak Adara untuk melakukan hal yang lainnya.

"Kalau gitu kita bisa nonton film, mau enggak?" Tanya Devina lagi

Saat Adara menatap Devano dan melihat pria itu mengangguk sambil tersenyum akhirnya dia ikut menganggukkan kepalanya.

Dengan penuh semangat Devina mengajak Adara untuk pergi ke kemarnya dan ketika masuk ke dalam kamar Devina mata Adara menatap dengan takjub.

Bukankah ini terlalu besar untuk satu orang?

Tentu saja tidak untuk keluarga Wijaya.

Devina meminta Adara untuk duduk di kasurnya selagi Devina mengambil laptopnya di meja belajar lalu menghampiri Adara dan bergabung bersamanya.

Selagi menunggu laptopnya menyala Devina menatap Adara yang hanya diam dengan pandangan lurus ke depan, sepertinya dia ada masalah.

"Kamu lagi ada masalah ya?" Tanya Devina membuat Adara menatapnya lalu menggelengkan kepalanya singkat

"Kenapa lo bisa mikir begitu?" Tanya Adara

"Kamu beda." Kata Devina membuat Adara bingung mendengarnya

"Beda apanya?" Tanya Adara

Lalu perkataan Devina setelahnya membuat Adara menahan tawanya.

"Biasanya kamu galak, tapi sekarang enggak terus biasanya kamu kalau lihatin orang serem sekarang udah enggak." Kata Devina

Adara tersenyum dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja hanya sedikit masalah yang sebentar lagi akan dia lupakan.

"Nah sekarang kita mau nonton apa?" Tanya Devina ketika laptopnya sudah menyala

Dalam diam Adara tersenyum, dia berterima kasih pada Devano karena sudah membawanya kesini sehingga dia dapat merasakan kehangatan sebuah rumah.

"Vina"

"Iya?"

"Makasih"

Devina sebenarnya tidak mengerti, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.

Dibalik wajah datar Adara ada sisi lain dalam dirinya yang sangat ingin menunjukkan senyuman manis dan tawa bahagianya.

¤¤¤

Setelah makan malam Devano mengantar Adara pulang atas permintaan gadis itu padahal Fahida sudah memintanya untuk tinggal, tapi Adara mengatakan bahwa dia tidak membawa baju sekolah dan buku pelajaran untuk besok. Saat makan malam tadi Adara sempat berbincang dengan Daffa dan jujur dia merasa takut karena Daffa terlihat begitu serius ketika bicara, tapi ternyata sangat baik padanya sama seperti Fahisa.

Sekarang Adara dalam perjalanan pulang bersama Devano, mereka menggunakan mobil yang ternyata memang milik Devano, tidak terlalu terkejut sebenarnya karena Devano memang pernah beberapa kali membawanya ke sekolah. Selama berada di rumah Devano dia merasa sangat senang dan nyaman apalagi keluarga itu penuh dengan canda tawa.

"Adara"

"Emm"

"Tadi siapa yang ada di rumah lo?" Tanya Devano membuat Adara terdiam

"Kalau enggak mau jawab enggak papa." Kata Devano lagi

Tapi, diluar dugaan Adara menjawab pertanyaan itu dengan singkat dan suara yang begitu pelan.

"Ayah"

Satu kata itu sudah membuat Devano mengerti kenapa Adara terlihat begitu takut tadi dan sebelah tangannya meraih tangan Adara untuk dia genggam, lagi.

"Gue enggak mau ketemu Ayah." Kata Adara pelan

Devano hanya diam ketika mendengarnya, tidak tau harus memberikan tanggapan apa.

"Ayah minta gue untuk tanda tangan, dia mau jual rumah yang gue tempatin." Kata Adara lagi

Kali ini Devano menoleh sebentar dan melihat Adara yang tersenyum tipis sambil menatap lurus kedepan, matanya menatap penuh luka.

"Rumah itu atas nama gue dan rumah itu juga satu-satunya tempat tinggal gue, kenangan gue sama Bunda." Kata Adara

"Kalau Ayah lo datang lagi, bilang gue ya? Jangan takut gue bakal ngelindungin lo." Kata Devano

Adara hanya mengangguk singkat dan ketika mobil itu berhenti di depan rumahnya Adara mengintip lalu menghela nafasnya lega karena mobil itu sudah tidak ada disana lagi, pasti Ayahnya berfikir dia menginap di rumah temannya.

Sebelum turun Adara mengucapkan terima kasih sambil tersenyum dengan tulus.

"Makasih ya Van"

Devano mengangguk singkat dan mengusap puncak kepala Adara dengan lembut.

"Kalau ada apa-apa bilang ya? Lo punya gue, inget kan?" Kata Devano

Adara mengangguk patuh lalu ingin segera turun, tapi Devano kembali menahannya dan malah mendekatlan wajahnya.

"Maaf ya Dar"

Setelah kalimat itu Adara merasakan ciuman singkat dikeningnya dan membuat dia membeku dengan jantung yang berdetak sangat cepat.

Saat mulai sadar pipinnya memanas dan Adara bergegas turun dari mobil Devano lalu memasuki rumahnya.

Dibalik pintu Adara memegang dadanya yang berdetak dengan tidak karuan lalu tersenyum.

Sepertinya dia memiliki alasan yang akan membuatnya ingin hidup lebih lama lagi dan menyingkarkan keinginan gila yang sempat muncul difikirannya.

Devano akan menjadi alasannya untuk bertahan.

¤¤¤

Masih ada dua lagi kok untuk hari ini tenang😋

Terpopuler

Comments

Rokiyah Yulianti

Rokiyah Yulianti

ah devano so sweet

2021-05-15

1

luci ryeya

luci ryeya

devano yg asli ada didunia nyata gk si,kalo ada boleh dibawa pulang gk?
gemes banget soalnya

2021-03-15

1

Fitria Dafina

Fitria Dafina

Devano manis bngt sih..

2021-02-21

1

lihat semua
Episodes
1 Devano Berlian Wijaya
2 Devina Berlian Wijaya
3 1 : SMA Kencana
4 2 : Antara Alex dan Ziko
5 3 : Alex dan Kisah Cintanya
6 4 : Pasar Malam
7 5 : Lapangan dan UKS
8 6 : Devano dan Adara
9 7 : Kamu Orang Baik
10 8 : Cara Lain
11 9 : Selangkah Lebih Maju
12 10 : Aku Boleh Cemburu?
13 11 : Bernyanyi Untukmu
14 12 : Adara dan Kehidupannya
15 13 : Devina Salah Tingkah
16 14 : Perusak Hubungan
17 15 : Cafe dan Hujan
18 16 : Lagu dan Luka
19 17 : Adara Alexander
20 18 : Aku Sayang Kamu Devano
21 19 : Si Posesif Devano
22 20 : Antara Ziko dan Alex
23 21 : Kamu Jahat
24 22 : Masih Marah
25 23 : Baikan?
26 24 : Jangan Dengarkan Mereka
27 25 : Aku Sayang Kamu Vin
28 26 : Aku Suka Dia
29 27 : Obat Tidur
30 28 : Pipiku Merona
31 29 : Aku Cinta Kamu
32 30 : Taken By Ziko
33 31 : Bahagia Selalu
34 32 : Pelukan Hangat Devano
35 33 : Si Keras Kepala
36 34 : Sweet Family
37 35 : Si Manja Devina
38 36 : Sayang
39 37 : Bersama Ziko
40 38 : Don't Cry
41 39 : Aku Cemburu!
42 40 : Tetap Disini
43 41 : Devano Marah
44 42 : Ziko Cemburu
45 43 : Maafin Aku Sayang
46 44 : Kekasih Nakal
47 45 : Hujan dan Teh Hangat
48 46 : Lari Pagi
49 47 : Semua Posesif
50 48 : Marahan
51 49 : Buku dan Sekotak Pizza
52 50 : Lagu Untuk Adara
53 51 : Si Posesif Ziko
54 52 : Namanya Harris
55 53 : Kesalahan Besar
56 54 : Marah dan Merah
57 55 : Pacaran
58 56 : Gara-gara Case Phone
59 57 : Kamu Tidak Akan Pergi Kan?
60 58 : Truth or Dare?
61 59 : Tentang Alex
62 60 : Kecewa
63 61 : Jangan Egois
64 62 : Aku Mau Sendiri
65 63 : Aku Mau Ikut!
66 64 : Bandara
67 65 : Pantai
68 66 : Devano Kangen!
69 67 : Terlupakan
70 68 : Masih Marah
71 69 : Kita Saudara
72 70 : My Beloved Twins
73 71 : Baikan
74 72 : Perlakuan Manis
75 73 : Cemburu!
76 74 : Kehujanan
77 75 : Aku Wanita Lemah
78 76 : Si Keras Kepala Devano
79 77 : Hug Me
80 78 : Pengganggu!
81 79 : Vano Cemburu
82 80 : Pengaruh Alex!
83 81 : Kalau Aku Pergi
84 82 : Belajar Bersama
85 83 : Dilema
86 84 : Jangan Marahi Vano
87 85 : Cepat Sembuh Sayang
88 OBSESSION
89 86 : Lagu Untuk Devina
90 87 : Selamat Ulang Tahun
91 88 : Hari Istimewa
92 89 : Ajakan Devano
93 90 : Vano Jorok!
94 91 : Anak Kesayangan
95 92 : Devano Sakit
96 93 : Bersama Devano
97 94 : A Day With Devano
98 95 : Manja
99 96 : Random
100 97 : Penakut
101 98 : Libur Sekolah
102 99 : Selamat Ulang Tahun Ziko
103 100 : Panik!
104 101 : Coba Aja
105 102 : Prom Night
106 S2 (1)
107 S2 (2)
108 S2 (3)
109 S2 (4)
110 S2 (5)
111 S2 (6)
112 S2 (7)
113 S2 (8)
114 S2 (9)
115 S2 (10)
116 S2 (11)
117 S2 (12)
118 S2 (13)
119 S2 (14)
120 S2 (15)
121 S2 (16)
122 S2 (17)
123 S2 (18)
124 S2 (19)
125 S2 (20)
126 S2 (21)
127 S2 (22)
128 S2 (23)
129 S2 (24)
130 S2 (25)
131 S2 (26)
132 S2 (27)
133 S2 (28)
134 S2 (29)
135 S2 (30)
136 S2 (31)
137 S2 (32)
138 S2 (33)
139 S2 (34)
140 S2 (35)
141 S2 (36)
142 S2 (37)
143 S2 (38)
144 S2 (39)
145 S2 (40)
146 S2 (41)
147 S2 (42)
148 S2 (43)
149 S2 (44)
150 S2 (45)
151 S2 (46)
152 S2 (47)
153 S2 (48)
154 S2 (49)
155 S2 (50)
156 S2 (51)
157 S2 (52)
158 S2 (53)
159 S2 (54)
160 S2 (55)
161 S2 (56)
162 S2 (57)
163 S2 (58)
164 S2 (59)
165 S2 (60)
166 S2 (61)
167 S2 (62)
168 S2 (63)
169 S2 (64)
170 S2 (65)
171 S2 (66)
172 S2 (67)
173 S2 (68)
174 S2 (69)
175 S2 (70)
176 S2 (71)
177 S2 (72)
178 S2 (73)
179 S2 (74)
180 S2 (75)
181 S2 (76)
182 S2 (77)
183 S2 (78)
184 S2 (79)
185 S2 (80)
186 S2 (81)
187 S2 (82)
188 S2 (83)
189 S2 (84)
190 S2 (85)
191 S2 (86)
192 S2 (87)
193 S2 (88)
194 S2 (89)
195 S2 (90)
196 S2 (91)
197 S2 (92)
198 S2 (93)
199 S2 (94)
200 S2 (95)
201 S2 (96)
202 S2 (97)
203 S2 (98)
204 S2 (99)
205 S2 (100)
206 S2 (101)
207 S2 (102)
208 S2 (103)
209 S2 (104)
210 S2 (105)
211 S2 (106)
212 S2 (107)
213 S2 (108)
214 S2 (109)
215 S2 (110)
216 S2 (111)
217 S2 (112)
218 S2 (113)
219 Extra Part (1)
220 Extra Part (2)
221 Extra Part (3)
222 Istri Manja Ziko!
223 Devano (1)
224 Devano (2)
225 Devano (3)
226 Devano (4)
227 Devano (5)
228 Devano (6)
229 Devano (7)
230 Devano (8)
231 Devano (9)
232 Devano (10)
233 Devano (11)
234 Devano (12)
235 Devano (13)
236 Devano (14)
237 Devano (15)
238 Devano (16)
239 Devano (17)
240 Devano (18)
241 Devano (19)
242 Devano (20)
243 Devano (21)
244 Devano (22)
245 Devano (23)
246 Devano (24)
247 Devano (25)
248 Devano (26)
249 Devano (27)
250 Devano (28)
251 Devano (29)
252 Devano (30)
253 Devano (31)
254 Devano (32)
255 Devano (33)
256 Devano (34)
257 Devano (35)
258 Devano (36)
259 Devano (37)
260 Devano (38)
261 Devano (39)
262 Devano (40)
263 Devano (41)
264 Devano (42)
265 Devano (43)
266 Devano (44)
267 Devano (45)
268 Devano (46)
269 Devano (47)
270 Devano (48)
271 Devano (49)
272 Devano (50)
273 Devano (51)
274 Devano (52)
275 Devano (53)
276 Devano (54)
277 Devano (55)
278 Devano (56)
279 Devano (57)
280 Devano (58)
281 Devano (59)
282 Devano (60)
283 Devano (61)
284 Devano (62)
285 Devano (63)
286 Devano (64)
287 Devano (65)
288 Devano (66)
289 Devano (67)
290 ....
291 Devano (68)
292 Devano (69)
293 Devano (70)
294 Devano (71)
295 Devano (72)
296 Devano (73)
297 Devano (74)
298 Devano (75)
299 Devano (76)
300 Devano (77)
301 ENDING
302 CERITA BARU!
Episodes

Updated 302 Episodes

1
Devano Berlian Wijaya
2
Devina Berlian Wijaya
3
1 : SMA Kencana
4
2 : Antara Alex dan Ziko
5
3 : Alex dan Kisah Cintanya
6
4 : Pasar Malam
7
5 : Lapangan dan UKS
8
6 : Devano dan Adara
9
7 : Kamu Orang Baik
10
8 : Cara Lain
11
9 : Selangkah Lebih Maju
12
10 : Aku Boleh Cemburu?
13
11 : Bernyanyi Untukmu
14
12 : Adara dan Kehidupannya
15
13 : Devina Salah Tingkah
16
14 : Perusak Hubungan
17
15 : Cafe dan Hujan
18
16 : Lagu dan Luka
19
17 : Adara Alexander
20
18 : Aku Sayang Kamu Devano
21
19 : Si Posesif Devano
22
20 : Antara Ziko dan Alex
23
21 : Kamu Jahat
24
22 : Masih Marah
25
23 : Baikan?
26
24 : Jangan Dengarkan Mereka
27
25 : Aku Sayang Kamu Vin
28
26 : Aku Suka Dia
29
27 : Obat Tidur
30
28 : Pipiku Merona
31
29 : Aku Cinta Kamu
32
30 : Taken By Ziko
33
31 : Bahagia Selalu
34
32 : Pelukan Hangat Devano
35
33 : Si Keras Kepala
36
34 : Sweet Family
37
35 : Si Manja Devina
38
36 : Sayang
39
37 : Bersama Ziko
40
38 : Don't Cry
41
39 : Aku Cemburu!
42
40 : Tetap Disini
43
41 : Devano Marah
44
42 : Ziko Cemburu
45
43 : Maafin Aku Sayang
46
44 : Kekasih Nakal
47
45 : Hujan dan Teh Hangat
48
46 : Lari Pagi
49
47 : Semua Posesif
50
48 : Marahan
51
49 : Buku dan Sekotak Pizza
52
50 : Lagu Untuk Adara
53
51 : Si Posesif Ziko
54
52 : Namanya Harris
55
53 : Kesalahan Besar
56
54 : Marah dan Merah
57
55 : Pacaran
58
56 : Gara-gara Case Phone
59
57 : Kamu Tidak Akan Pergi Kan?
60
58 : Truth or Dare?
61
59 : Tentang Alex
62
60 : Kecewa
63
61 : Jangan Egois
64
62 : Aku Mau Sendiri
65
63 : Aku Mau Ikut!
66
64 : Bandara
67
65 : Pantai
68
66 : Devano Kangen!
69
67 : Terlupakan
70
68 : Masih Marah
71
69 : Kita Saudara
72
70 : My Beloved Twins
73
71 : Baikan
74
72 : Perlakuan Manis
75
73 : Cemburu!
76
74 : Kehujanan
77
75 : Aku Wanita Lemah
78
76 : Si Keras Kepala Devano
79
77 : Hug Me
80
78 : Pengganggu!
81
79 : Vano Cemburu
82
80 : Pengaruh Alex!
83
81 : Kalau Aku Pergi
84
82 : Belajar Bersama
85
83 : Dilema
86
84 : Jangan Marahi Vano
87
85 : Cepat Sembuh Sayang
88
OBSESSION
89
86 : Lagu Untuk Devina
90
87 : Selamat Ulang Tahun
91
88 : Hari Istimewa
92
89 : Ajakan Devano
93
90 : Vano Jorok!
94
91 : Anak Kesayangan
95
92 : Devano Sakit
96
93 : Bersama Devano
97
94 : A Day With Devano
98
95 : Manja
99
96 : Random
100
97 : Penakut
101
98 : Libur Sekolah
102
99 : Selamat Ulang Tahun Ziko
103
100 : Panik!
104
101 : Coba Aja
105
102 : Prom Night
106
S2 (1)
107
S2 (2)
108
S2 (3)
109
S2 (4)
110
S2 (5)
111
S2 (6)
112
S2 (7)
113
S2 (8)
114
S2 (9)
115
S2 (10)
116
S2 (11)
117
S2 (12)
118
S2 (13)
119
S2 (14)
120
S2 (15)
121
S2 (16)
122
S2 (17)
123
S2 (18)
124
S2 (19)
125
S2 (20)
126
S2 (21)
127
S2 (22)
128
S2 (23)
129
S2 (24)
130
S2 (25)
131
S2 (26)
132
S2 (27)
133
S2 (28)
134
S2 (29)
135
S2 (30)
136
S2 (31)
137
S2 (32)
138
S2 (33)
139
S2 (34)
140
S2 (35)
141
S2 (36)
142
S2 (37)
143
S2 (38)
144
S2 (39)
145
S2 (40)
146
S2 (41)
147
S2 (42)
148
S2 (43)
149
S2 (44)
150
S2 (45)
151
S2 (46)
152
S2 (47)
153
S2 (48)
154
S2 (49)
155
S2 (50)
156
S2 (51)
157
S2 (52)
158
S2 (53)
159
S2 (54)
160
S2 (55)
161
S2 (56)
162
S2 (57)
163
S2 (58)
164
S2 (59)
165
S2 (60)
166
S2 (61)
167
S2 (62)
168
S2 (63)
169
S2 (64)
170
S2 (65)
171
S2 (66)
172
S2 (67)
173
S2 (68)
174
S2 (69)
175
S2 (70)
176
S2 (71)
177
S2 (72)
178
S2 (73)
179
S2 (74)
180
S2 (75)
181
S2 (76)
182
S2 (77)
183
S2 (78)
184
S2 (79)
185
S2 (80)
186
S2 (81)
187
S2 (82)
188
S2 (83)
189
S2 (84)
190
S2 (85)
191
S2 (86)
192
S2 (87)
193
S2 (88)
194
S2 (89)
195
S2 (90)
196
S2 (91)
197
S2 (92)
198
S2 (93)
199
S2 (94)
200
S2 (95)
201
S2 (96)
202
S2 (97)
203
S2 (98)
204
S2 (99)
205
S2 (100)
206
S2 (101)
207
S2 (102)
208
S2 (103)
209
S2 (104)
210
S2 (105)
211
S2 (106)
212
S2 (107)
213
S2 (108)
214
S2 (109)
215
S2 (110)
216
S2 (111)
217
S2 (112)
218
S2 (113)
219
Extra Part (1)
220
Extra Part (2)
221
Extra Part (3)
222
Istri Manja Ziko!
223
Devano (1)
224
Devano (2)
225
Devano (3)
226
Devano (4)
227
Devano (5)
228
Devano (6)
229
Devano (7)
230
Devano (8)
231
Devano (9)
232
Devano (10)
233
Devano (11)
234
Devano (12)
235
Devano (13)
236
Devano (14)
237
Devano (15)
238
Devano (16)
239
Devano (17)
240
Devano (18)
241
Devano (19)
242
Devano (20)
243
Devano (21)
244
Devano (22)
245
Devano (23)
246
Devano (24)
247
Devano (25)
248
Devano (26)
249
Devano (27)
250
Devano (28)
251
Devano (29)
252
Devano (30)
253
Devano (31)
254
Devano (32)
255
Devano (33)
256
Devano (34)
257
Devano (35)
258
Devano (36)
259
Devano (37)
260
Devano (38)
261
Devano (39)
262
Devano (40)
263
Devano (41)
264
Devano (42)
265
Devano (43)
266
Devano (44)
267
Devano (45)
268
Devano (46)
269
Devano (47)
270
Devano (48)
271
Devano (49)
272
Devano (50)
273
Devano (51)
274
Devano (52)
275
Devano (53)
276
Devano (54)
277
Devano (55)
278
Devano (56)
279
Devano (57)
280
Devano (58)
281
Devano (59)
282
Devano (60)
283
Devano (61)
284
Devano (62)
285
Devano (63)
286
Devano (64)
287
Devano (65)
288
Devano (66)
289
Devano (67)
290
....
291
Devano (68)
292
Devano (69)
293
Devano (70)
294
Devano (71)
295
Devano (72)
296
Devano (73)
297
Devano (74)
298
Devano (75)
299
Devano (76)
300
Devano (77)
301
ENDING
302
CERITA BARU!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!