Helaian rambut milik Adara bergerak ketika angin menerpa wajahnya dan dia masih tetap diam dengan pandangan lurus ke depan serta tangan yang terkepal dengan erat. Ada emosi yang gadis itu tahan Devano tau, tapi dia tidak berniat untuk bertanya dan memilih diam sambil menemaninya di taman.
Iya, Devano membawa gadis itu ke taman dan sekarang mereka duduk disalah satu bangku taman sambil menatap lurus ke depan, tanpa percakapan.
Jujur Devano merasa sangat penasaran siapa yang membuat Adara sampai sekalut ini dan enggan untuk pulang ke rumahnya. Seorang gadis yang Devano anggap kuat ini ketakuan hanya karena melihat mobil milik seseorang yang terparkir di halaman rumahnya.
Merasa Adara mengepalkan tangannya dengan semakin erat Devano meraih tangan itu dan membawanya ke dalam genggaman tangannya.
Genggaman yang terasa begitu hangat bagi Adara dan membuatnya enggan untuk melepaskannya.
"Van"
"Hmm"
"Gue enggak mau pulang." Kata Adara pelan
"Terus mau kemana?" Tanya Devano dengan lembut
Adara menggelengkan kepalanya, dia juga bingung harus pergi kemana karena rumah itu satu-satunya tempat dimana dia bisa tinggal.
"Gue enggak mau pulang." Kata Adara lagi
Mengusap tangan yang ada digenggamannya Devano memiliki sebuah rencana yang mungkin akan disukai Adara.
"Ke rumah gue mau?" Tanya Devano yang dijawab dengan gelengan kecil oleh Adara
"Malu"
Devano tertawa kecil mendengarnya, sekarang Adara terlihat seperti Devina yang sedang merajuk padanya, dia suka.
"Enggak papa nanti ada Devina." Kata Devano sambil tersenyum tipis
Adara diam dan menatap Devano dengan pandangan yang sulit untuk diartikan sampai akhirnya dia mengangguk singkat.
Kembali menggenggam tangannya Devano membawa Adara ke tempat motornya terparkir lalu kembali melajukan kendaraan beroda dua itu ke rumahnya.
Dari spion Devano dapat melihat Adara yang diam dengan wajah sendunya membuat rasa penasarannya semakin tinggi, ada apa sebenarnya?
Setelah sampai mata Adara menjelajah rumah besar Devano, tapi ketika pria itu mau membawanya untuk masuk melalui pintu utama dia menghentikan langkahnya.
"Takut"
"Memang lo bisa takut?" Canda Devano membuat Adara berdecak kesal
"Takut!" Kata Adara lagi
"Enggak papa Dar." Kata Devano
Akhirnya Adara menurut dan mengikuti langkah kaki Devano memasuki rumah, dia benar-benar takjub dengan rumah besar yang terlihat elegant ketika melihat isi dalamnya. Namun, langkah kaki Adara kembali terhenti ketika seorang wanita paruh baya yang sangat cantik menurutnya berjalan dengan senyum manisnya dan memeluk Devano dengan sayang.
"Ya ampun anak Mommy sudah pulang." Katanya
Ada sisi lain dalam diri Adara yang juga ingin mendapat perlakuan semanis itu dalam hidupnya.
"Ehh kamu bawa siapa Van? Pacarnya ya?" Tanya Fahisa sambil tersenyum ramah pada Adara
Adara mendongak dan tersenyum tipis lalu menatap Devano sebentar, dia bingung harus menjawab apa.
"Vina udah pulang Mom?" Tanya Devano
"Sudah tadi diantar sama Ziko, kamu belum jawab pertanyaan Mommy." Kata Fahisa membuat Devano tersenyum kecil
"Maunya pacar, tapi dianya belum mau." Kata Devano membuat Adara menatapnya dengan galak
Mendengar jawaban itu Fahisa tertawa lalu menyuruh keduanya untuk duduk selagi dia mengambilkan minuman.
"Mommy enggak galak jangan tegang gitu." Kata Devano
Adara hanya mengangguk singkat dan kembali duduk disebelah Devano lalu memperhatikan sekelilingnya.
Ada banyak foto di dinding dan sekali lagi Adara merasa iri, dia tidak memiliki satu pun foto bahagia dengan orang tuanya.
"Nah ini minum dulu sayang." Kata Fahisa
Fahisa mendudukkan dirinya disebelah Adara dan menatapnya dari samping, tapi keningnya berkerut ketika melihat luka yang ada diwajahnya.
"Kamu luka, sudah diobati?" Tanya Fahisa lembut
Sedikit tersentak Adara menyentuh ujung bibirnya yang masih sedikit sakit lalu mengangguk singkat.
"Sudah Tante"
"Aku mau panggil Vina dulu." Kata Devano sambil melangkahkan kakinya ke kamar atas meninggalkan Adara bersama Mommy nya
Fahisa masih memperhatikan Adara dan membuat gadis itu sedikit malu juga gugup, baru pertama kali Adara merasakan hal seperti ini.
"Kamu teman sekelas Vano atau Vina?" Tanya Fahisa
"Aku sekelas sama Vano." Kata Adara membuat Fahisa mengangguk faham
"Anak Tante kalau disekolah gimana? Dia nakal enggak?" Tanya Fahisa
Adara menggelengkan kepalanya pelan lalu mengatakan bahwa Devano adalah siswa teladan yang disukai guru-guru disekolahnya.
"Vano itu kesayangannya guru-guru disekolah Tante." Kata Adara
Mendengar hal itu Fahisa tersenyum senang.
"Vano enggak pernah bawa temen wanitanya ke rumah." Kata Fahisa yang hanya ditanggapi dengan gumaman oleh Adara
Dia merasa tersentuh dengan kenyataan bahwa dia adalah wanita pertama yang Devano bawa ke rumahnya.
"Kamu lapar? Mau makan apa?" Tanya Fahisa dengan lembut
Bukan menjawab Adara malah menatap Fahisa dengan dalam, mata indah dan teduh Fahisa mengingatkan dia pada sosok sang Bunda.
Suara lembutnya membuat Adara semakin merindukan Bundanya.
"Tante"
"Iya?"
"Adara mau peluk Tante boleh?" Tanya Adara ragu dia bahkan tidak berani menatap wajah Fahisa
Permintaan itu membuat Fahisa tersenyum dan tanpa ragu membawa Adara kedalam pelukan hangatnya. Mata Adara terpejam merasakan kenyamanan yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Kamu merindukan Ibu kamu ya?" Tebak Fahisa yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Adara
Cukup lama Adara berada di dalam pelukan Fahisa sebelum dia menjauhkan dirinya dan menatap waita paruh baya itu dengan senyum manisnya.
"Makasih ya Tante." Kata Adara tulus
Fahisa mengangguk singkat lalu mengusap puncak kepala Adara dengan sayang, dia jadi ingat pada Sahara yang dulu juga merindukan sosok Ibu di hidupnya.
Mata Adara menggambarkan luka yang begitu dalam dan Fahisa dapat melihatnya.
"Mommyyy"
Keduanya menoleh dan melihat Devina bersama Devano berjalan ke arah mereka, lebih tepatnya Devina berlari dan duduk disebelah Adara.
"Haii"
Adara tersenyum mendapat sapaan hangat itu, kehidupan Devina sangat sempurna karena ada orang tua juga Devano yang menyayanginya dengan sangat tulus.
"Yaudah Mommy tinggal dulu ya? Kalau mau makan ke belakang aja oke?" Kata Fahisa
"Oke Mommy." Kata Devina dengan semangat
Setelah Fahisa pergi ketiganya diam, tapi Devina langsung memulai sebuah percakapan.
"Kamu mau ke kamar aku enggak? Mau ganti baju dulu? Pasti enggak enak pakai baju sekolah kayaknya ukuran baju kita sama." Kata Devina
Adara terdiam sambil menatap Devina yang tersenyum lebar ke arahnya, tapi dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Pakai ini aja enggak papa kok." Kata Adara
Devina mengangguk singkat lalu mengajak Adara untuk melakukan hal yang lainnya.
"Kalau gitu kita bisa nonton film, mau enggak?" Tanya Devina lagi
Saat Adara menatap Devano dan melihat pria itu mengangguk sambil tersenyum akhirnya dia ikut menganggukkan kepalanya.
Dengan penuh semangat Devina mengajak Adara untuk pergi ke kemarnya dan ketika masuk ke dalam kamar Devina mata Adara menatap dengan takjub.
Bukankah ini terlalu besar untuk satu orang?
Tentu saja tidak untuk keluarga Wijaya.
Devina meminta Adara untuk duduk di kasurnya selagi Devina mengambil laptopnya di meja belajar lalu menghampiri Adara dan bergabung bersamanya.
Selagi menunggu laptopnya menyala Devina menatap Adara yang hanya diam dengan pandangan lurus ke depan, sepertinya dia ada masalah.
"Kamu lagi ada masalah ya?" Tanya Devina membuat Adara menatapnya lalu menggelengkan kepalanya singkat
"Kenapa lo bisa mikir begitu?" Tanya Adara
"Kamu beda." Kata Devina membuat Adara bingung mendengarnya
"Beda apanya?" Tanya Adara
Lalu perkataan Devina setelahnya membuat Adara menahan tawanya.
"Biasanya kamu galak, tapi sekarang enggak terus biasanya kamu kalau lihatin orang serem sekarang udah enggak." Kata Devina
Adara tersenyum dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja hanya sedikit masalah yang sebentar lagi akan dia lupakan.
"Nah sekarang kita mau nonton apa?" Tanya Devina ketika laptopnya sudah menyala
Dalam diam Adara tersenyum, dia berterima kasih pada Devano karena sudah membawanya kesini sehingga dia dapat merasakan kehangatan sebuah rumah.
"Vina"
"Iya?"
"Makasih"
Devina sebenarnya tidak mengerti, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
Dibalik wajah datar Adara ada sisi lain dalam dirinya yang sangat ingin menunjukkan senyuman manis dan tawa bahagianya.
¤¤¤
Setelah makan malam Devano mengantar Adara pulang atas permintaan gadis itu padahal Fahida sudah memintanya untuk tinggal, tapi Adara mengatakan bahwa dia tidak membawa baju sekolah dan buku pelajaran untuk besok. Saat makan malam tadi Adara sempat berbincang dengan Daffa dan jujur dia merasa takut karena Daffa terlihat begitu serius ketika bicara, tapi ternyata sangat baik padanya sama seperti Fahisa.
Sekarang Adara dalam perjalanan pulang bersama Devano, mereka menggunakan mobil yang ternyata memang milik Devano, tidak terlalu terkejut sebenarnya karena Devano memang pernah beberapa kali membawanya ke sekolah. Selama berada di rumah Devano dia merasa sangat senang dan nyaman apalagi keluarga itu penuh dengan canda tawa.
"Adara"
"Emm"
"Tadi siapa yang ada di rumah lo?" Tanya Devano membuat Adara terdiam
"Kalau enggak mau jawab enggak papa." Kata Devano lagi
Tapi, diluar dugaan Adara menjawab pertanyaan itu dengan singkat dan suara yang begitu pelan.
"Ayah"
Satu kata itu sudah membuat Devano mengerti kenapa Adara terlihat begitu takut tadi dan sebelah tangannya meraih tangan Adara untuk dia genggam, lagi.
"Gue enggak mau ketemu Ayah." Kata Adara pelan
Devano hanya diam ketika mendengarnya, tidak tau harus memberikan tanggapan apa.
"Ayah minta gue untuk tanda tangan, dia mau jual rumah yang gue tempatin." Kata Adara lagi
Kali ini Devano menoleh sebentar dan melihat Adara yang tersenyum tipis sambil menatap lurus kedepan, matanya menatap penuh luka.
"Rumah itu atas nama gue dan rumah itu juga satu-satunya tempat tinggal gue, kenangan gue sama Bunda." Kata Adara
"Kalau Ayah lo datang lagi, bilang gue ya? Jangan takut gue bakal ngelindungin lo." Kata Devano
Adara hanya mengangguk singkat dan ketika mobil itu berhenti di depan rumahnya Adara mengintip lalu menghela nafasnya lega karena mobil itu sudah tidak ada disana lagi, pasti Ayahnya berfikir dia menginap di rumah temannya.
Sebelum turun Adara mengucapkan terima kasih sambil tersenyum dengan tulus.
"Makasih ya Van"
Devano mengangguk singkat dan mengusap puncak kepala Adara dengan lembut.
"Kalau ada apa-apa bilang ya? Lo punya gue, inget kan?" Kata Devano
Adara mengangguk patuh lalu ingin segera turun, tapi Devano kembali menahannya dan malah mendekatlan wajahnya.
"Maaf ya Dar"
Setelah kalimat itu Adara merasakan ciuman singkat dikeningnya dan membuat dia membeku dengan jantung yang berdetak sangat cepat.
Saat mulai sadar pipinnya memanas dan Adara bergegas turun dari mobil Devano lalu memasuki rumahnya.
Dibalik pintu Adara memegang dadanya yang berdetak dengan tidak karuan lalu tersenyum.
Sepertinya dia memiliki alasan yang akan membuatnya ingin hidup lebih lama lagi dan menyingkarkan keinginan gila yang sempat muncul difikirannya.
Devano akan menjadi alasannya untuk bertahan.
¤¤¤
Masih ada dua lagi kok untuk hari ini tenang😋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Rokiyah Yulianti
ah devano so sweet
2021-05-15
1
luci ryeya
devano yg asli ada didunia nyata gk si,kalo ada boleh dibawa pulang gk?
gemes banget soalnya
2021-03-15
1
Fitria Dafina
Devano manis bngt sih..
2021-02-21
1