Mata mereka saling bertatapan sejak beberapa menit yang lalu, tapi tidak ada satupun yang mau memulai percakapan mereka berkecamuk dengan isi fikirannya masing-masing. Setelah berhasil mendapat izin untuk ke kamar mandi Alex bergegas pergi uks untuk melihat Devina, ada rasa bersalah yang melingkup dirinya dan meminta dia untuk segera menemui Devina lalu meminta maaf.
Sungguh Alex tidak tau kalau Hara akan berniat senekat itu dan dia benar-benar marah pada mantan kekasihnya, sudah dia bilang kalau Devina sama sekali tidak bersalah untuk putusnya hubungan mereka. Sekarang melihat Devina yang diam dengan pipi yang masih sedikit memerah membuat Alex merasa begitu bersalah, baru saja dia mau melangkah maju, tapi kejadian ini malah semakin memundurkan langkahnya.
"Vina"
Akhirnya Alex bersuara dan Devina hanya menanggapi dengan gumaman pelan sambil menunggu kata selanjutnya akan pria itu ucapkan.
"Maaf, semuanya salah gue." Kata Alex
Devina tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak papa mungkin memang salah aku harusnya kita..."
"Harusnya dia yang gak ikut campur Vin, lo gak salah, tapi kenapa dia malah ngelakuin ini? Kalaupun ada yang berhak untu disalahin itu gue bukan lo." Kata Alex memotong ucapan Devina dengan penuh kekesalan
Saat Alex mau menggenggam tangannya Devina segera menarik tangannya dan mengepalkan dengan erat.
"Vin"
"Alex aku merasa bersalah sama Hara, dia bilang kamu lebih sering ketemu sama aku dan chat aku dari pada dia yang saat itu masih pacar kamu." Kata Devina
Alex terdiam mendengarnya dalam hati dia merutuki dirinya sendiri yang selalu bermain-main dalam hubungan dan membuat dia jadi terjebak begini.
Iya, dia akui bahwa selama berpacaran dengan Hara mereka jarang jalan bersama atau chat setiap saat seperti pasangan kekasih yang lainnya.
Dia juga mengakui kalau dia lebih sering melakukannya dengan Devina, mungkin tidak dengan jalan bersama.
"Vina, semuanya salah aku, iya aku memang jarang chat atau ketemu sama Hara dan semua memang karena kamu,"
Devina kembali menatap Alex dan menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.
Pria itu mengubah kata gue-lo menjadi aku-kamu, seperti biasa dia bicara dengan Devina.
"Aku gak bohong waktu bilang aku suka sama kamu Vin." Kata Alex
"Alex, tapi kamu..."
"Iya, aku memang pengecut dan gak punya pendirian karena deketin kamu disaat aku masih punya pacar, tapi aku serius Devina." Kata Alex lagi
Alex menatapnya dengan dalam membuat Devina jadi tidak bisa berkata apapun lagi.
"Vin, maafin aku karena buat kamu kayak gini, tapi jangan pernah merasa bersalah ini semua bukan salah kamu." Kata Alex
Hanya anggukan singkat yang dapat Devina berikan dan hal itu membuat Alex menghela nafasnya pelan lalu mengatakan bahwa dia harus kembali ke kelas.
Lagi, Devina hanya menjawabnya dengan anggukan singkat.
"Maaf Vin"
Setelah mengucapkan kata maaf Alex benar-benar pergi meninggalkan Devina yang kembali diam dengan pandangan lurus ke depan.
Apa dia salah karena bersikap seperti ini pada Alex?
Mungkin untuk sekarang Devina akan menjaga jarak dari Alex agar semuanya membaik, tapi dia takut dengan apa yang akan dilakukan kembarannya.
Setelah keluar dari uks Alex tidak kembali ke kelas melainkan melangkahkan kakinya menuju rooftop, dia tidak mood untuk masuk ke dalam kelas. Saat memasuki rooftop Alex langsung mendudukkan dirinya disana lalu memejamkan matanya sambil bersandara pada kursi yang ada disana.
'Lex gue gak mau sampai Devina kayak gini lagi, sementara waktu ini jaga jarak dari dia'
Alex menggeram kesal, semua karena Hara dia semakin menjauh dari Devina.
'Gue gak melarang lo untuk dekat sama dia, tapi untuk sementara waktu ini jaga jarak sama Devina'
Ya, hanya sementara.
Alex akan menuruti perkataan Devano dia akan menjaga jarak dari Devina untuk sementara waktu.
Dia akan membuktikan bahwa dia benar-benar menyukai Devina dan kali ini tidak ada yang namanya main-main, Alex serius.
Hanya sementara, dia akan menjauh untuk sementara.
¤¤¤
Saat bel pulang berbunyi Devano pergi ke kelas Devina untuk mengambil tas milik kembarannya lalu pergi ke uks, mereka akan pulang bersama seperti biasanya. Memasuki salah satu bilik uks Devano melihat kembarannya yang sedang tertidur dan membuatnya tersenyum tipis lalu membangunkannya dengan lembut.
"Vina"
Menepuk pelan pipi kembarannya hingga berkali-kali Devano berhasil membuat mata indah Devina terbuka lalu menatapnya sambil tersenyum.
"Udah pulang ya?" Tanya Devina yang dijawab dengan anggukan oleh kembarannya
"Ini aku udah bawaiin tas kamu." Kata Devano membuat Devina tersenyum senang
"Makasihh"
Mengangguk singkat Devano mengajak kembarannya untuk segera pulang dan keduanya bersama-sama berjalan menuju parkiran.
Semua orang tau betapa Devano menyayangi Devina bahkan pria itu pernah memaki orang yang berani mengatakan hal buruk pada kembarannya.
Lebih dari seorang kembaran orang lain melihat Devano sebagai seorang Kakak yang melindungi adik kecilnya.
"Vanooo"
"Hmm"
"Pipinya udah enggak kelihatan merah kan? Nanti kalau masih merah aku ditanyaiin sama Mommy dan Daddy." Kata Devina
Devano menghentikan langkahnya dan melihat pipi kanan Devina yang sudah tidak memerah lagi, tapi karena kesal dia malah berniat membohongi kembarannya.
"Masih, tapi biarin aja nanti kalau ditanya aku yang bakal jawab dan bilang semuanya." Kata Devano membuat Devina mengerucutkan bibirnya kesal
"Ihh kan udah janji enggak bakal kasih tau Mommy sama Daddy." Keluh Devina
"Biarin aja kenapa sih Vin?" Kata Devano kesal
"Nanti Daddy marah." Kata Devina pelan
"Marahnya bukan sama kamu Vin." Kata Devano lagi
"Nanti dia marah sama Hara, dia enggak salah kok Van." Kata Devina pelan membuat Devano menatapnya dengan sebal
Tapi, tatapan Devina begitu polos dan membuatnya mencubit pipi kirinya dengan gemas.
"Kamu juga enggak salah." Kata Devano kesal
"Tapi..."
"Diam! Kita pulang." Kata Devano membuat Devina langsung menutup mulutnya dan mengikuti langkah kaki kembarannya
Saat sampai di parkiran Devano langsung memakaikan helm untuk Devina dan memintanya untuk segera naik, tapi Devina menahannya lalu meminta sebuah permintaan.
"Mau ke kedai ice cream." Kata Devina sambil tersenyum
Devano baru akan bicara, tapi Devina memohon dengan wajah lucunya.
Dia akan selalu kalah pada kembarannya.
"Mau ya Van? Pleaseeee." Kata Devina
Menutup kaca helmya Devano mengangguk singkat membuat Devina berseru senang dan langsung menaiki motornya.
Devano sangat benci ketika melihat kembarannya menangis apalagi kalau sampai terluka, tapi Hara malah melakukan keduanya.
Dia membuat Devina menangis.
Dia juga membuat Devina terluka.
Devano tidak mungkin bisa memaafkannya, tapi Devina dengan polosnya malah mengatakan bahwa Hara tidak salah.
Entahlah Devano selalu kesal kalau Devina terlalu baik pada seseorang.
Saat sampai di kedai ice cream langganan Devina yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah senyum manis gadis itu terbentuk, dia seolah lupa dengan semua kesedihannya dan menarik Devano untuk segera masuk.
Setelah memesan dan mendapatkan ice cream coklat kesukaannya Devina dengan semangat menyantapnya lalu ketika ingat sesuatu Devina kembali bicara.
"Vano"
"Hmm"
"Nanti malam aku mau keluar ya? Sama Ziko." Kata Devina membuat Devano mendongak dan menatapnya sebentar
"Kemana?" Tanya Devano
"Mau ke cafe katanya malam ini dia mau manggung sama band nya aku mau lihat, boleh kan?" Kata Devina
"Hmm bilang Mommy sama Daddy dulu." Kata Devano membuat Devina tersenyum senang
Baru akan bicara Devano sudah lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuat bibir Devina kembali mengerucut sebal.
"Pakai baju panjang sama kaos kaki jangan lupa, angin malam gak baik buat kamu." Kata Devano
Devina hanya bisa mengangguk patuh karena kalau tidak Devano tidak akan segan untuk mengunci pintu kamarnya agar dia tidak keluar.
Iya, memang seperti itu dan ketika meminta pertolongan kedua orang tuanya mereka malah mendukung Devano.
Jadi Devina tidak punya pilihan selain menurut.
"Ziko gak pernah aneh-aneh kan?" Tanya Devano dengan penuh selidik
"Enggak kok dia baik banget tau Van sering traktir aku jajan di kantin." Kata Devina senang
Mengangguk singkat Devano segera menghabiskan ice creamnya agar segera habis dan bisa pulang ke rumah, dia mau rebahan.
Hari ini cukup menguras tenaganya.
Dia sedikit menyesal membiarkan Alex mendekati kembarannya.
Entahlah Devano harap ini yang terakhir dia melihat Devina diperlakukan dengan tidak baik.
¤¤¤
"MOMMY VANO JAHAT!"
Sambil memasang wajah sedihnya Devina berlari keluar kamar dan menghampiri orang tuanya yang ada di ruang keluarga. Saat ini Devina sangat kesal dengan kembarannya yang menyuruh dia memakai pakaian seperti sedang musim dingin saja, dia bisa ditatap aneh dengan orang-orang nantinya.
"Mommyyy"
"Ada apa sayang?" Tanya Fahisa ketika melihat anaknya datang dengan wajah cemberut
"Vano jahattt bangett sama aku." Adunya dengan kesal
Sesaat setelahnya Devano muncul dari balik pintu dengan wajahnya yang datar.
"Ada apa Vano?" Tanya Fahisa lembut
"Aku hanya memilihkan pakaian untuk Vina yang malam ini mau keluar." Kata Devano sambil mengangkat bahunya acuh
"Mommy aku kan mau ke cafe, tapi Vano pilihin baju udah kayak mau ke musim dingin aja." Keluh Devina membuat Fahisa tersenyum ketika mendengarnya
Devina berdiri dan menunjukkan pakaian yang sedang dia pakai.
Sweater tebal dan rok panjang serta kaos kaki yang tertutup sepatu sneakers.
"Lihat, masa aku pakai baju gini? Udah itu Vano masih suruh pakai jaket juga nanti Vina diketawaiin orang-orang." Kata Devina kesal
Daffa menghela nafasnya pelan dan menatap Devano yang hanya mengangkat bahunya acuh.
"Kenapa Daddy? Di luar anginnya besar aku tidak salah." Kata Devano
Devina menatapnya dengan sengit, tapi Devano bersikap acuh.
"Mommyyy"
"Pakai ini saja, tapi enggak usah pakai jaket lagi ini sudah cukup tebal." Kata Fahisa
Devina mengerucutkan bibirnya kesal membuat kembarannya mengatakan sesuatu yang membuat dia semakin kesal dan melempar Devano dengan remote Tv yang ada di meja.
"Kalau gak mau gak usah pergi"
Beruntung Devano menghindar.
"Vinaaa"
Devina masih terlihat kesal, tapi dia hanya bisa mengalah lalu berjalan keluar untuk kembali ke kamarnya dan mengecek apa Ziko sudah samai aau belum.
"Ngambekan"
"Diam"
"Ngambek"
"Vanooo"
"Jangab cemberut jelek tau"
"Ihh nyebelin"
Devina memukul-mukul lengan Devano dengan kesal lalu bergegas ke kamarnya.
Bersamaan dengan dia yang masuk ke dalam kamar ponselnya berbunyi membuat Devina bergegas melihatnya, ternyata Ziko sudah sampai.
Setelah dia dan Ziko meminta izin kepada kedua orang tuanya sekarang mereka sudah berada di luar dan Ziko langsung memberikan helm kepada gadisnya, tapi dia melihat wajah Devina yang terlihat tidak bersemangat.
"Kok cemberut?" Tanya Ziko
"Vano nyebelinnn." Rengek Devina membuat Ziko tertawa melihatnya
Lucu sekali wajah cemberut gadisnya.
"Kenapa?" Tanya Ziko
"Masa aku suruh pakai ini! Lihat dong aneh banget." Keluh Devina
Ziko diam dan memperhatikan Devina, tidak ada yang aneh dia tetap terlihat cantik dimatanya.
"Aneh apanya? Kamu tetap cantik." Kata Ziko
Devina memang selalu cantik dimata Ziko.
¤¤¤
Sekitar pukul setengah delapan malam mereka sampai di cafe yang cukup ramai dan masih ada setengah jam lagi sebelum Ziko dan yang lainnya tampil. Sekarang mereka berdua sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi dan mengobrol singkat.
Semua rasa kesal Devina hilang begitu saja ketika sampai, tempat ini menenangkan.
Saat ini masih ada yang sedang tampil menyanyikan sebuah lagu, kata Ziko mereka memang bergantian untuk tampil.
"Kamu sering tampil disini?" Tanya Devina
"Baru beberapa minggu belakangan ini sih Vin." Kata Ziko
Devina mengangguk faham dan kembali menyeruput kopinya lalu menatap keluar.
Tiba-tiba saja hujan turun membuat Devina membulatkan matanya.
Tidak terlalu deras, tapi cukup untuk membuat suasana menjadi lebih dingin, tapi pakaian pilihan Devano membuatnya tetap hangat.
"Yang lain udah pada datang?" Tanya Devina
"Mereka disana." Kata Ziko sambil menunjuk sisi pojok cafe
Devina kembali menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.
"Suka?"
"Suka bangetttt"
Ziko tersenyum senang melihatnya.
Dia akan sering membuat senyum manis Devina terbentuk karena dirinya.
Sebentar lagi Ziko juga akan bernyanyi untuk gadisnya.
Ada sebuah lagu yang ingin dia nyanyikan untuk gadisnya.
Lagu yang menggambarkan perasaanya.
Dengan senyuman Ziko menatap Devina yang terlihat begitu senang.
¤¤¤
Update berapa yaaa hari inii😶
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Rokiyah Yulianti
penasaran bgt sama visualnya thor
2021-05-15
0
Desak Putu
Baper asli😍😍
2021-02-09
1
Ran_kudo
visualnya passs bgt..
2020-09-23
21