Salah satu pelajaran yang paling tidak Devina sukai adalah olahraga karena tubuhnya selalu berkeringat dan membuatnya tidak nyaman apalagi kelasnya kedapatan olahraga di jam pertama, menyebalkan sekali. Saat ini Devina sudah sampai disekolah dan bergabung bersama teman-temannya yang lain, Ziko belum datang dia memang sering datang terlambat maklum saja.
Menelungkupkan wajahnya di meja Devina mendadak ingat pada pesan Alex yang sampai sekarang masih belum dia balas ataupun dia baca. Kemarin Devina sudah memutuskan untuk melupakan semua perasaannya pada Alex meskipun dia sendiri tidak yakin.
Percaya atau tidak sudah hampir dua tahun Devina menyimpan rasa sukanya, tapi Devano baru mengetahuinya belakangan ini.
Teman-temannya mengatakan bahwa dia lebih cocok dengan Ziko daripada Alex, tapi bagi Devina Ziko itu adalah temannya dia tidak pernah berfikir untuk menyimpan rasa padanya.
"Vin ada yang nyariin"
Mendongakkan kepalanya Devina menatap Jenni yang berjalan ke arahnya.
"Siapa Jen?" Tanya Devina
"Anak kelas sebelah." Kata Jenni tanpa menyebutkan namanya
Tapi, jawaban itu sudah cukup membuat Devina tau siapa yang mencarinya.
Hanya Alex yang melakukan itu kalau memanggilnya, berbeda dengan Devano yang akan langsung masuk ke kelasnya dan lagi wajah pria itu terlihat dari jendela.
Awalnya Devina enggan, tapi dari pada pria itu mengganggunya lagi lebih baik dia menemuinya sekarang kan?
Ah hanya saja dia perlu memikirkan alasan kenapa tidak membalas puluhan pesan yang dikirimkan.
Tersenyum tipis Devina keluar dari kelas untuk menemui Alex, tapi ketika di luar dia melihat ada Ziko juga.
Kedua pria itu saling menatap dengan tajam lalu menoleh dan sama-sama tersenyum ketika melihat Devina.
Sebelum masuk ke dalam kelas Ziko mencubit pipi Devina dan membuatnya mengerucutkan bibir karena kesal lalu menoleh untuk melayangkan protes.
"Ihh jahil banget!"
Melihat Ziko yang hanya tertawa membuat Devina menggerutu lalu kembali menatap Alex dan menanyakan tujuan pria itu menemuinya.
"Kenapa Lex?" Tanya Devina sambil tersenyum kecil
"Kemarin gak balas chat aku lagi dan sampai sekarang masih belum dibaca, kenapa? Marah ya?" Tanya Alex
Devina menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak kok cuman lagi malas aja." Kata Devina asal
"Padahal aku nungguin kamu balas chat aku." Kata Alex
Nada bicaranya terdengar sedih membuat Devina mengucapkan maaf, tapi dia tidak berniat untuk membalas pesannya setelah pembicaraan ini.
"Nanti ke kantin sama aku yuk Vin." Ajak Alex
Devina terdiam lalu menggelengkan kepalanya membuat Alex terlihat kecewa.
"Aku sama yang lain aja." Kata Devina
"Please"
"Nanti pacar kamu marah aku gak enak sama dia." Kata Devina berusaha mencari alasan lainnya
"Dia bukan pacar aku lagi." Kata Alex
"Emm lain kali aja ya Lex." Kata Devina
Dia tidak mau nanti kalau Hara melihat dia bisa mengira yang tidak-tidak dan Devina tidak mau kalau dianggap jadi perusak hubungan orang.
"Oke, tapi janji kalau lain kali gue ajak mau ya?" Kata Alex yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Devina
Alex tersenyum singkat lalu mengusap rambut Devina sekilas dan memandangnya hingga masuk ke dalam kelas.
Sedikit kecewa karena penolakannya dan kesal juga karena perbuatan Ziko yang mencubit pipi gadisnya tanpa izin.
Mungkin perjuangannya akan cukup panjang karena akan sulit membuat Devina mau percaya padanya.
Kembali pada Devina yang berjalan menuju tempat duduknya bersama Mona.
Mona dan yang lainnya termasuk Ziko serta teman-temannya mengobrol disana.
"Kenapa dia nemuin lo Vin?" Tanya Mona
Devina mengangkat bahunya acuh.
"Enggak tau tuh Mon gak jelas dianya." Kata Devina
"Jangan deket sama dia dulu deh Vin, dia baru putus kan? Gue takut orang-orang malah mikir yang aneh-aneh kalau lo deket sama dia." Kata Nayla yang dijawab dengan anggukan oleh Devina
"Iya enggak...."
"Dia nanti deketnya sama gue aja kok, iya kan sayangku?" Kata Ziko membuat teman-teman Devina menyorakinya
Wajah kesal Ziko membuat Devina tertawa, lucu sekali wajahnya.
"Kalian tuh kenapa sih sama gue? Dendam? Atau jangan-jangan suka ya sama gue?" Kata Ziko dengan mata memicing
Ketiga teman Devina bergidik mendengarnya lalu mengatakan satu kata bersama-sama yang membuat Devina benar-benar tertawa lepas ketika mendengarnya.
"Najis"
"Kalian jahat banget sih." Kata Devina sambil tertawa
"Kasian banget sih Ko, balik yok ke tempat kita." Ajak Gio sambil mendorong-dorong tubuh kawannya
"Awas yaa!" Ancam Ziko yang ditanggapi dengan santai oleh ketiganya
Sesaat setelahnya ketua kelas mereka datang dan menyuruh semuanya untuk pergi ke lapangan karena Pak Jay, guru olahraga mereka sudah menunggu disana.
¤¤¤
"ALEX SUDAH BERAPA KALI SAYA PERINGATKAN UNTUK TIDAK MAIN PONSEL!"
Bentakan itu membuat semua yang mendengarnya tersentak kaget lalu mengalihkan pandangannya ke depan dan beralih menatap Alex yang juga sama terkejutnya. Merasa ditatap Alex meletakkan ponselnya di meja lalu tersenyum konyol menatap sang guru yang melihatnya dengan tajam.
Dia sangat mengantuk karena tidur terlalu malam dan Alex bisa benar-benar tertidur kalau dia mendengarkan materi yang sama sekali tidak difahaminya, jadia bermain game di ponselnya.
Ehh malah ketauan.
Tapi, gak masalah biasanya dia disuruh keluar kelas.
"Hehe maaf Ibu cantik janji...."
"Keluar kamu dari kelas! Ibu enggak mau yang lainnya jadi mencontoh kamu!" Kata Bu Tina dengan galak
"Tapi, Bu bener deh saya...."
"Keluar Alexander!" Kata Bu Tina lagi
"Siap Bu"
Tanpa rasa penyesalan Alex berjalan keluar kelas lalu melambaikan tangannya pada teman sekelas yang lain membuat mereka menahan tawanya dan Bu Tina menggelengkan kepalanya pelan.
Kelakuan Alex memang benar-benar menyebalkan.
Niat awalnya Alex ingin pergi ke kantin dan sarapan, tapi ketika melihat kelas Devina kosong dia baru ingat kalau gadis itu sedang ada pelajaran olahraga.
Jadi Alex mengurungkan niatnya ke kantin dan memilih untuk pergi ke lapangan.
Senyumnya mengembang ketika melihat Devina yang tengah berlari di lapangan bersama teman-temannya yang lain. Rambutnya yang digerai sedikit mengganggu pergerakannya hingga Devina berkali-kali membenarkan rambutnya.
Dia tau pasti Devano yang melarangnya.
Devano memang selalu melarang untuk Devina menguncit rambutnya katanya supaya leher jenjangnya tidak terlalu terlihat.
Saat sudah dekat ke area lapangan beberapa pasang mata menatap bingung ke arahnya termasuk Pak Jay, guru olahraga mereka.
Melihat Alex yang ada dilapangan mata Devina terbelak kaget dan dia lebih terkejut ketika pria itu melambaikan tangan ke arahnya.
"Alexander"
Suara Pak Jay membuat Alex mengalihkan pandangannya dan menghampiri pria yang masih cukup muda itu dengan sopan.
"Iya Pak"
"Kenapa kamu disini? Kamu bolos pelajaran?" Tudingnya
Alex menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mengatakan bahwa dia disuruh keluar.
"Saya disuruh keluar kelas sama Bu Tina." Kata Alex jujur
"Ngapain lagi kamu?" Tanya Pak Jay lagi
"Biasa Pak main game." Kata Alex sambil terkekeh
Menggelengkan kepalanya pelan Pak Jay memperingati salah satu muridnya itu agar tidak mengganggu yang lainnya dan dengan sopan Alex mengangguk patuh.
Dia kembali duduk di tepi lapangan sambil menatap lurus ke arah Devina yang kini sedang berbaris bersama yang lainnya.
Saat mata mereka bertemu Alex tersenyum yang dibalas dengan senyuman tipis Devina.
Cukup lama Alex diam ditempatnya dan memperhatikan kegiatan yang dilakukan Devina bersama teman-temannya sampai akhirnya ketika gadis itu duduk sambil meminum air yang dibawa Alex menghampirinya.
Merasa ada yang duduk disampingnya Devina menoleh dan sedikit terkejut ketika melihat Alex disampingnya.
"Kamu kok bisa disini? Bolos ya?" Tanya Devina
Alex tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan, tapi disuruh keluar sama Bu Tina." Kata Alex
"Kok bisa?" Tanya Devina lagi
"Main game di kelas jadi diusir." Kata Alex
Devina menggelengkan kepalanya pelan, memang bukan hal biasa jika Alex di usir dari kelas.
"Bandel banget sih kamu Lex." Kata Devina
"Habisnya ngantuk vin." Kata Alex jujur
"Makanya tidurnya jangan malam-malam." Kata Devina
"Makanya kamu jangan cuekin chat aku." Kata Alex membuat Devina menatapnya dengan tidak terima
"Kok jadi aku?" Tanya Devina
Alex terkekeh pelan lalu mengatakan bahwa dia menunggu Devina membalas pesan selama semalaman.
"Aku nungguin kamu balas chat sampai malam." Kata Alex
"Bohong banget." Kata Devina tidak percaya
"Beneran Vin." Kata Alex lagi
Devina mengangkat bahunya acuh lalu kembali berdiri dan menghampiri teman-temannya yang lain.
Lalu seruan Alex membuat Devina dan yang lainnya menoleh.
"Aku serius Vin"
Devina mencoba untuk tidak percaya dan mengabaikannya.
Dia tidak boleh selemah itu.
Jangan percaya Alex.
¤¤¤
Saat jam istirahat tiba dengan wajah datarnya Devano berjalan seorang diri menuju uks, dia dengar ada perkelahian lagi dan Devano dapat menyimpulkan siapa yang terlibat. Entah kenapa Devano bisa seperduli ini dengan orang lain, padahal biasanya dia tidak pernah begini.
Membuka pintu uks beberapa adik kelasnya yang bertugas menyambut Devano dengan ramah, tapi dia hanya menanggapinya dengan gumaman singkat dan langsung mencari orang yang ingin dia temui serta lihat.
Di salah satu bilik Devano dapat melihat seorang siswi yang tengah berusaha sendiri untuk mengobati lukanya, Devano faham kalau dia tidak pernah mau meminta bantuan orang lain.
Tapi, Devano datang untuk membantunya.
"Kalau enggak bisa sendiri bilang." Kata Devano membuat dia menoleh dan sedikit terkejut ketika Devano merebut kapas yang dia pegang
"Gue bisa sendiri." Kata Adara jengah
Devano tidak perduli dan tetap membantu Adara untuk mengobati lukanya dengan sangat hati-hati.
Merasa tidak bisa melawan Adara hanya diam dan memperhatikan pria disampingnya ini dengan senyuman tipis, sepertinya Devano orang pertama yang sangat perhatian padanya.
Selain itu Adara juga bingung, kenapa ketika bersama Devano dia sama sekali tidak berkutik bahkan untuk menolaknya saja sulit.
"Awhhh"
Adara meringis ketika Devano sedikit menekan lukanya dan dengan tidak terima dia melayangkan protesnya.
"Sakit!" Keluhnya
"Jangan berantem terus!" Kata Devano sambil menatap wajah Adara yang sekarang malah mengalihkan pandangannya
"Jangan peduliin gue, bisa? Pasti bisa lo gak pernah perduli sama orang lain kecuali kembaran lo dan..."
"Lo"
Devano mengatakannya dengan tangan yang terulur mengusap puncak kepala Adara hingga membuat gadis itu jadi salah tingkah.
"Gue udah pernah coba, tapi gak bisa Dar." Kata Devano
"Van gue bukan cewek baik, jauhin gue." Kata Adara
"Lo baik Dar, siapa yang bilang kalau lo bukan cewek baik?" Tanya Devano
Adara hanya diam dan tidak menanggapinya, dia tidak pernah mau berinteraksi dengan siapapun, tapi Devano selalu mendekatinya dan dia juga tidak bisa menolaknya.
"Kata Vina lo cantik." Kata Devano membuat Adara menatapnya dengan mata memicing
"Vina atau lo?" Tanya Adara
"Gue juga"
"Van gue punya dunia sendiri begitupun dengan lo, jadi berhenti perduli sama gue." Kata Adara lagi
"Gue mau nemenin lo di sana supaya lo gak sendirian." Kata Devano
Menghela nafasnya pelan Adara berdiri dan bergegas kelar dari uks dengan diikuti oleh Devano yang berjalan disampingnya.
"Jangan berantem lagi"
"Gue bakal berantem lagi"
"Dar"
"Lo gak bisa larang." Kata Adara
"Bisa"
"Yakin banget." Kata Adara meremehkan
Adara benar-benar terkejut ketika Devano menggenggam tangannya dengan erat lalu menatapnya dan bicara dengan begitu lembut.
"Gue bakal lakuin ini dan lo bakal diam, kayak sekarang, benar kan?"
Entah kenapa Adara bukan menyentak tangan itu, tapi dia malah tertawa dan membuat Devano terpana melihatnya.
Tawa pertama Adara ketika bersamanya.
Dia cantik.
¤¤¤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Novia Cutez Yankslaluchynkmamah
baper bebz
2022-07-24
0
Novia Cutez Yankslaluchynkmamah
baper beb
2022-07-24
0
Rokiyah Yulianti
waw devano dan adara
2021-05-15
1