Ada sebuah luka yang begitu besar di dalam hati Adara Alexander yang selalu dia simpan seorang diri. Di balik sikap kasarnya dan kelakuan nakalnya Adara menutupi semua luka dihatinya, tidak mengizinkan seorang pun tau bahwa dia adalah wanita yang lemah.
Saat menatap manik mata Adara untuk pertama kalinya Devano merasa berbeda dan semakin dalam dia mengenal gadis itu semakin dalam pula keinginannya untuk selalu berada di sisi Adara, apapun yang terjadi. Semua orang hanya tau Adara yang tidak bisa diatur dan Adara yang selalu berbuat semaunya, tapi tidak ada seorang pun yang tau bahwa Adara membutuhkan seseorang disisinya.
Seseorang yang mampu memberikan alasan untuk dia agar tetap bertahan.
Saat seseorang yang seharusnya memberikan kekuatan juga perlindungan untuknya pergi begitu saja Adara merasa hancur, dia merasa hidupnya lebih baik berakhir. Saat semua orang ditatap penuh cinta oleh Ayah mereka dia tidak pernah merasakannya, meski hanya satu detik saja.
Tatapan mata Ayahnya selalu penuh kebencian dan amarah seolah dia sangat membenci kehadiran Adara.
Saat seseorang yang sangat penting dihidupnya justru membencinya dia harus apa?
Hanya sang Bunda yang selalu memberinya kekuatan, tapi wanita kesayangannya itu juga tidak ada disisinya sekarang.
Adara hanya sendirian dan dia semakin beranggapan bahwa pada akhirnya dia akan ditinggalkan, lagi.
Adara akan ditinggalkan sendirian.
Saat ini dia ada di taman bersama dengan Devano yang tadi menemaninya pergi ke rumah sakit, melihat Bunda nya yang terbaring lemah disana. Sampai sekarang Adara masih belum mengeluarkan suaranya dan Devano juga tidak memaksanya untuk bicara dia hanya membiarkan Adara tenang dengan sendirinya.
'Bunda udah di rawat sejak satu tahun, tapi baru beberapa bulan ini Bunda masih belum mau membuka matanya'
Ada senyuman penuh luka yang Adara bentuk setelah selesai mengatakannya dan mereka hanya ada disana untuk waktu yang cukup singkat karena setelahnya Adara mengajak Devano untuk pergi.
'Ayah gak pernah kasih izin untuk masuk kalau bukan akhir pekan, siapapun hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam'
Devano tidak mengerti kenapa Ayah Adara melakukan hal seperti itu pada anaknya sendiri.
"Bunda sakit sejak gue masuk SMA"
Saat mendengar suara milik gadisnya Devano menoleh dan menatap Adara yang memandang lurus ke depan.
"Bunda sakit kanker dan Ayah yang bantu biaya pengobatannya, tapi kondisi Bunda semakin hari malah semakin memburuk,"
Adara menatap Devano dengan dalam lalu tersenyum tipis.
"Sekarang Bunda koma dan masih belum buka matanya dokter bilang dia gak bisa jamin apa-apa karena kondisi Bunda memang udah separah itu." Kata Adara
Devano mengeratkan genggaman tangannya membuat Adara kembali menatapnya dengan sendu.
"Gue anak yang gak diinginkan, Ayah sama Bunda mereka sama sekali gak punya rasa cinta atau apapun, tapi karena suatu kejadian mereka melakukan hal yang gak seharusnya sampai akhirnya gue berakhir ada di kandungan Bunda,"
Semua cerita itu Adara mendengarnya dari Bunda, dia yang memaksa agar Bunda nya bercerita dan akhirnya Bunda mengalah.
Bunda menceritakan semuanya pada anak satu-satunya.
"Saat itu Ayah maksa Bunda untuk gugurin kandungannya, tapi Bunda gak mau dan dia nekat pergi ke rumah Ayah lalu bilang sama keluarga Ayah kalau dia lagi hamil,"
Devano masih setia mendengarkan tanpa bertanya atau menanggapi apapun yang Adara ucapkan.
"Ayah marah karena akhirnya keluarga dia menikahkan mereka padahal Ayah punya seorang kekasih saat itu dan karena hal itu Ayah benci banget sama Bunda dan gue, rumah itu pemberian dari Kakek untuk Bunda dia bilang bagaimana pun juga Bunda tetap menantunya meskipun Ayah menolak keberadaan gue sama Bunda,"
Adara memberikan sedikit jeda dari semua pembicaraannya.
Dia merasa sakit begitu membahasnya karena membayangkan betapa menderitanya Bunda karena dirinya.
"Pernikahan itu gak berjalan lancar karena Ayah akhirnya menikah diam-diam sama kekasihnya dan akhirnya mereka cerai, tapi beruntung Kakek masih baik banget sama Bunda dia bantu Bunda cari pekerjaan yang mudah dan membalik nama rumah itu atas nama Bunda,"
Senyum Adara terbentuk, dia senang karena masih ada yang peduli dengan Bunda dan dirinya sendiri.
"Rumah itu penuh kenangan gue sama Bunda dan Kakek juga, tapi Ayah mau jual rumah itu dia bilang kalau gue gak mau tanda tangan dia bakal berhenti pengobatan untuk Bunda." Kata Adara lirih
Kali ini Adara menatap Devano dengan berlinang air mata, dia tidak lagi malu menunjukkan kesedihannya di depan pria itu.
"Dia bilang kalau gue gak mau jual rumah itu maka gue bakal kehilangan Bunda, tapi Van gue cuman punya Bunda dan rumah itu gue gak mau pergi dari sana kalau gue pergi gue harus kemana?" Kata Adara lirih
Menangkup wajah Adara dengan kedua tangannya Devano menghapus air mata gadis itu dengan penuh kelembutan.
"Jangan nangis, lo gak bakal kehilangan apapun entah Bunda atau rumah itu, percaya sama gue ya?" Kata Devano sambil tersenyum
Mengangguk singkat Adara mengucapkan terima kasih pada Devano karena sudah menemani dan menghiburnya.
Setidaknya kehadiran Devano membuat Adara mengurungkan niatnya untuk melukai dirinya sendiri.
"Sekarang kita pulang ya? Lo belum makan kan? Kita beli makan dulu baru pulang ke rumah." Kata Devano
Sekali lagi Adara mengangguk dan mengikuti langkah kaki Devano yang membawanya.
Adara akan mempercayai Devano sepenuhnya.
¤¤¤
Dalam diam Devano memperhatikan Adara yang tertidur dengan lelap di sofa membuatnya tanpa sadar tersenyum singkat.
"Gue disini Dar jangan khawatir"
Devano mengusap rambut hitam Adara dengan begitu lembut agar tidak mengganggu wanita itu dari tidur lelapnya.
"Tidur nyenyak Dar dan jangan nangis lagi karena air mata lo terlalu berharga untuk dikeluarkan"
Sekali lagi Devano menatap Adara dengan senyum manisnya dan mengusap pipinya lembut.
Dia akan terus berada disisi Adara.
¤¤¤
Di sekolah Devina benar-benar kebingungan karena kembarannya tidak ada dimanapun kata Erick tadi Devano tiba-tiba pergi keluar kelas setelah mengambil kunci motornya. Saat Devina berusaha menelponnya dia juga tidak mengangkat, jadi Devina hanya bisa menunggu sampai kembarannya itu menghubunginya.
Selain itu Devina juga tau dari Alex bahwa Adara tidak masuk sekolah, jadi Devina beranggapan bahwa kembarannya itu pasti menemui Adara.
Sekarang tidak tau kenapa Devina jadi tidak suka dengan Adara karena telah membuat kembarannya sedikit berubah sekarang.
Pertama, karena Adara kembarannya itu sampai berkelahi dan terluka.
Kedua, karena Adara juga kembarannya sekarang membolos.
Devina sudah sangat kesal karena tidak ada jawaban dari telpon yang dia panggil dan tidak ada balasan dari puluhan pesan yang sudah dia kirim.
"Vin kenapa sih?"
Pertanyaan itu membuat Devina menoleh dan menatap Mona yang baru saja kembali dari kantin bersama yang lainnya.
Iya, Devina tidak ikut ke kantin karena dia malas.
"Vano! Masa gak angkat telpon terus chat juga gak balas, aku kesal tau karena dia bolos sekolah gak bilang-bilang mana tasnya ditinggal di kelas, nanti kalau Daddy tau dia dimarahin." Kata Devina kesal
"Nanti dia pasti balas Vin sabar dong, Vano pasti punya alasan kenapa dia gak masuk sekolah." Kata Ziko yang sama sekali tidak membuat Devina tenang
"Tetap aja harusnya dia bilang sama aku!" Kesal Devina
Menghela nafasnya pelan Ziko memberikan sekotak susu yang tadi dia beli di kantin.
"Iya marahnya nanti kalau udah ketemu Vano sekarang minum dulu nih biar gak lapar pas belajar." Kata Ziko
"Iya Vin nanti pasti Vano balik lagi kan? Dia harus jemput lo nah nanti baru lo tanyaiin semuanya ke dia." Kata Cessa
Devina menatap mereka bergantian lalu menghela nafasnya pelan dan mengambil sekotak susu yang tadi diberikan oleh sahabat baiknya.
"Makasih ya Ziko"
"Iya jangan cemberut gitu dong." Kata Ziko sambil mencubit pipinya gemas
"Ihh jangann"
Tertawa kecil Ziko menjauhkan tangannya lalu kembali ke tempat duduknya bersama dengan Gio.
"Vina"
Saat seseorang memanggilnya Devina mendongak dan menatap Jenni yang melihat ke arahnya.
"Ada Hara katanya mau ketemu lo." Kata Jenni membuat teman-temannya menatap ke arah Devina
Terlihat ragu untuk sesaat Devina tetap bangun dan melangkahkan kakinya ke depan kelas.
Saat sampai di depan kelas sudah ada Hara yang sedang duduk sendirian disana membuat Devina ikut duduk disampingnya, dengan memberikan jarak.
Baru akan bertanya Hara sudah lebih dulu bicara padanya.
"Maaf"
Satu kata itu yang keluar dari bibir Hara membuat Devina menatapnya dengan terkejut, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Hara sudah kembali bicara.
"Gue gak menyesal udah lakuin itu ke lo, tapi gue minta maaf karena mungkin udah keterlaluan." Kata Hara
Devina bergumam pelan sebelum bicara.
"Emm gak papa mungkin memang aku yang salah." Kata Devina sambil tersenyum tipis
"Gue udah minta maaf ya? Kalau Vano atau Alex nanya bilang kalau gue udah minta maaf, tapi permintaan maaf ini karena gue memang merasa bersalah bukan cuman karena paksaan mereka." Kata Hara
Devina kembali mengangguk singkat dan Hara tersenyum lalu berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan darinya.
Saat ingin kembali masuk ke dalam kelas ponsel Devina berbunyi dan dia langsung membukanya, benar pesan dari kembarannya.
Hanya satu pesan yang Devina terima, tapi itu sudah cukup.
Nanti aku tunggu di dekat halte Vin? Tolong bawakan tas aku yang ada di kelas
Dia benar-benar akan bertanya banyak hal dengan kembarannya nanti.
¤¤¤
Setelah pulang sekolah dan sampai di rumah Devina langsung mengikuti kembarannya hingga ke dalam kamar, dia sudah bilang kalau dia akan bertanya pada Devano. Saat bertemu di halte tadi Devina yang ingin bertanya langsung diam karena kembarannya itu langsung menyuruhnya untuk segera naik.
"Vanoo kamu kenapa bolos? Nanti aku bilangin Daddy ya?" Kata Devina dengan kesal
Belum memberikan tanggapan Devano meletakkan tasnya lalu membuka satu persatu kancing baju sekolahnya dan membuka seragam itu hingga menyisakan kaos putih polos yang melekat di tubuh kekarnya.
"Vanooo"
Menghela nafasnya pelan Devano mendudukkan dirinya di sofa yang ada dikamarnya lalu meminta Devina untuk duduk disampingnya.
"Sekarang bilang! Kamu kemana? Kamu sama Adara kan? Dia ngajakin kamu bolos ya? Aku gak suka sama dia!" Kata Devina kesal
Tersenyum tipis Devano mencapit hidung kembarannya dan mengatakan sesuatu yang menyebalkan.
"Cerewet"
"Ihh Vano aku nanya serius!" Rengek Devina
"Iya Vin"
"Cewek itu kan yang ajak kamu bolos? Aku gak suka sama dia! Waktu itu kamu berkelahi karena dia dan sekarang kamu juga bolos karena dia kan?" Tuding Devina dengan kesal
"Bukan Vin"
"Terus kenapa?!" Tanya Devina
"Dengerin ya?" Kata Devano dengan lembut
"Iya"
"Janji jangan bilang siapa-siapa, oke?" Kata Devano yang dijawab dengan anggukan oleh kembarannya
Akhirnya Devano mulai menceritakan semuanya, dia percaya kalau Devina akan menjaga rahasia.
Selama mendengarkan wajah kekesalan Devina hilang dan berganti dengan wajah sendunya, dia tidak menyangka kalau Adara punya hidup yang begitu berat.
"Dia menyakiti dirinya sendiri untuk melupakan semua masalahnya, rasa sakitnya." Kata Devano
"Jadi, dia enggak jahat?" Kata Devina
"Dia baik Vin, sangat hanya kita yang gak bisa melihatnya." Kata Devano
"Bundanya ada di rumah sakit?" Tanya Devina lagi
"Iya dan udah satu bulan koma selain itu Adara juga gak boleh ketemu sama Bunda nya meski hanya sebentar." Kata Devano
"Kenapa jahat sekali?!" Tanya Devina kesal
Devano tersenyum kecil lalu meminta Devina untuk membantunya.
"Vina bantuin aku ya?" Kata Devano yang langsung dijawab dengan anggukan olehnya
"Apa?" Tanya Devano
"Coba berteman sama Adara ya? Bantu dia menemukan hidup yang lebih berwarna." Kata Devano
Dengan cepat Devina menganggukkan kepalanya.
"Dan.."
"Dan apa?" Tanya Devina
"Bantuin aku bicara sama Daddy ya?" Pinta Devano
"Bicara apa?"
"Bantu aku untuk bicara sama Daddy supaya Daddy mau bantu Adara"
Sekali lagi Devina mengangguk dan membuat Devano tersenyum dengan begitu lebar.
"Makasih Vin"
Devina kembali mengangguk lalu memeluk kembarannya dengan sayang.
Dia akan melakukan apapun agar bisa melihat Devano tersenyum selebar tadi dan Adara yang bisa melakukannya.
Apapun yang membuat Devano bahagia maka dia juga akan merasa bahagia.
¤¤¤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Rokiyah Yulianti
twins yg menggemaskan
2021-05-15
1
Fitria Dafina
Andai aq punya kembaran yg saling bisa mnyayangi bgtu.. Sweet bngt 😍😍
2021-02-22
5
Nuniek Nurhandayani
sweetny tween D
2021-02-14
3