Bernyanyi merupakan salah satu keahlian Ziko yang tidak pernah dia tunjukkan kalau di sekolah, katanya karena malu dan Devina tidak percaya kalau pria itu bisa malu juga sama teman-temannya sendiri. Di sekolah Ziko dikenal sebagai murid yang biasa saja dia jarang membuat masalah, tapi tidak berprestasi juga pokoknya hanya murid biasa yang ke sekolah untuk belajar dan bersenang-senang sama teman.
Sedangkan di kalangan para siswi Ziko memiliki cukup banyak gadis yang menyukainya, tapi tidak seperti Alex yang suka memanfaatkan keadaan, dia bersikap biasa dengan para wanita yang menyukainya. Selain itu Ziko dikenal cukup ramah dan humoris karena setiap kali ada yang menyapanya dia pasti menjawab lalu tidak hanya di kelas, tapi kantin dan lapangan dia selalu bercanda bersama teman-temannya dan tertawa lepas.
Tawa yang disukai para wanita.
Malam ini Devina terlarut dalam pesona Ziko yang terlihat menawan ketika bernyanyi apalagi selama bernyanyi tatapan pria itu mengarah padanya, menatap dengan begitu dalam dan tatapannya seolah ingin bercerita padanya. Dua kali mereka bernyanyi bersama dan kali terakhir hanya ada Ziko dengan gitar dipangkuannya, dia kembali bernyanyi seorang diri.
'Vin gue mau nyanyi khusus buat lo dan nanti gue bakal nyanyi sendirian, tanpa mereka'
Saat Ziko mulai memetik gitarnya dan suara merdu itu menyanyikan bait-bait lagu yang sangat Devina tau, pelangi di matamu.
Bernyanyi dengan mata yang terus menatap ke arahnya Devina tersenyum senang, Ziko memang penuh kejutan.
Ada yang lain di senyummu
Yang membuat lidahku
Gugup tak bergerak
Ada pelangi di bola matamu
Dan memaksa diri
Tuk bilang
Aku sayang padamu
Rasanya jantung Devina akan melompat keluar sangking senangnya tatapan pria itu menghanyutkan Devina pada awal-awal pertemuannya.
'Hai gue Ziko'
Perkenalan mereka sangat biasa hanya dengan Ziko yang menghampirinya ketika waktu istirahat lalu mengulurkan tangannya.
'Ehh aku kamu ngomongnya? Yaudah aku juga gitu'
Dalam pandangan Devina ketika pertama kali melihatnya pria itu sangat ramah dan humoris, dia suka karena Ziko selalu membuatnya tertawa meski kadang menyebalkan.
'Aku gak pernah senyaman ini dekat sama cewek Vin, tapi ada di dekat kamu aku suka'
Pernah satu kali Ziko mengatakan hal itu dan Devina sangat suka mendengarnya.
Sesaat setelah Ziko menyelesaikan nyanyiannya suara tepuk tangan terdengar membuat pria itu tersenyum, tapi masih dengan menatap matanya.
Di tempatnya Devina menunggu Ziko datang dan tak lama setelahnya pria itu muncul dengan gaya cool nya, tapi wajahnya tetap menyebalkan di mata Devina.
Saat duduk dia langsung bertanya sambil mengangkat alisnya, nyebelin.
"Gimana? Keren gak aku Vin?" Tanya Ziko
Mengangkat jempolnya Devina mengatakan kalau Ziko sangat keren bahkan dia mengabadikannya dalam sebuah vidio.
"Aku vidioiin tadi, biar aku bisa putar ulang di rumah." Kata Devina membuat Ziko tersenyum senang ketika mendengarnya
Tau begini sudah dari lama dia akan megajak Devina.
"Jadi suka kan gue ajak kesini?" Tanya Ziko
"Suka banget hehe"
"Kalau gue ajak lagi mau?" Tanya Ziko yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Devina
Dia terlihat antusias.
"Mau, nanti ajakin lagi ya? Tapi, jangan sering-sering nanti aku dimarahin Daddy karena keluar malam terus." Kata Devina
"Siap sayangku"
Devina tertawa kecil lalu dia melirik jam ditangannya, sudah hampir jam sembilan dia harus segera pulang.
"Kenapa? Pulang ya?" Tanya Ziko
Devina mengangguk singkat sambil tersenyum.
"Emm ini liat Vano udah berisik." Kata Devina sambil menunjukkan layar ponselnya
Ada satu pesan yang Ziko baca disana.
Vina udah mau jam sembilan, pulang!
Tersenyum tipis Ziko langsung mengajak gadisnya itu untuk pulang, beruntung hujan sudah berhenti dan sebelum pergi mereka menghampiri yang lainnya lalu mengatakan akan pulang lebih dulu.
Setelah itu Ziko membawa tangan Devina ke dalam genggamannya dan keluar dari cafe, hawa dingin menyambut keduanya karena angin yang cukup kencang.
"Dingin Vin?" Tanya Ziko sedikit cemas
Tapi, Devina tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak aku pakai sweater terus ini juga pakai kaos kaki." Kata Devina
Terkadang apa yang dikatakan Devano itu sangat baik untuknya.
Sebelum pergi Ziko memakaikan helm di kepala Devina membuat gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu segera naik ke atas motor Ziko.
Motor itu meninggalkan area cafe dan melewati jalanan yang masih sangat ramai dengan kecepatan sedang, malam ini Ziko sangat senang.
Setelah sampai dan berhenti di rumah besar keluarga Wijaya dengan segera Sahara turun lalu melepas helmnya dan memberikan pada Ziko.
"Makasih Ziko untuk malam ini aku senang banget." Kata Devina sambil tersenyum manis
"Apapun untuk senyuman cantik kamu." Kata Ziko membuat Devina tertawa mendengarnya
"Aku masuk ya? Kamu hati-hati dijalan nanti kalau udah sampai kasih tau ya?" Kata Devina
Dia terdengar seperti seorang kekasih sekarang.
"Udah kayak pacar aja ya?" Goda Ziko membuat Devina jadi salah tingkah
"Ihh kasih tau aja pokoknya." Kata Devina
"Iya Vin, pipi kamu udah gak sakit kan?" Tanya Ziko sebelum pergi
Devina tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Udah enggak kok"
"Yaudah aku pulang ya? Jangan lupa mimpiin aku." Kata Ziko
Devina hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah.
Hari ini benar-benar menyenangkan untuknya.
Meskipun ada hal buruk yang menimpanya, tapi sekarang dia sudah lebih baik dan merasa senang.
Terima kasih kepada Ziko yang membuatnya tersenyum bahagia.
¤¤¤
"Saya gak mau tanda tangan!"
Langkah kaki Adara bergerak mundur dia menolak dan menatap pria paruh baya dengan wanita yang sangat dia benci dengan sangat tajam, tidak akan dia biarkan rumah penuh kenangan ini mereka jual untuk kesenangan mereka. Sedangkan kedua orang yang sepertinya sudah kehilangan kesabaran itu menarik kasar tangan Adara, tapi gadis itu langsung menyentaknya dengan tidak kalah kasar.
Tidak perduli jika dia harus bertindak tidak sopan pada orang yang lebih tua darinya yang jelas sampai kapanpun dia tidak akan menyerahkan rumah ini pada mereka.
"Adara! Saya bilang tanda tangan disini!" Bentak pria paruh baya itu
Tapi, Adara sama sekali tidak takut dia sudah biasa dibentak dan hal itu tidak akan pernah membuatnya mundur.
"Tanda tangan!" Bentaknya lagi
"Saya bilang saya gak akan pernah tanda tangan!" Bentak Adara juga
"Baik! Sekarang pilih tanda tangan atau pengobatan wanita itu saya hentikan! Kalian berdua sama menyusahkan, kalau kamu tidak mau tanda tangan saya akan hentikan pengobatannya dan kamu harus siap untuk mengahadiri pemakaman wanita itu!" Kata wanita yang sangat Adara benci kehadirannya
Perkataan wanita itu membuatnya membeku, menghentikan pengobatan sama saja akan membunuh Bunda nya.
"Pilih Adara! Kalian berdua sudah cukup menyusahkan saya!" Bentak Juan
Adara tetap diam, tapi dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
"Saya kasih waktu selama tiga hari untuk kamu memikirkannya, keputusannya ada di kamu, rumah atau wanita sialan itu?" Kata Juan
Setelah itu mereka berdua pergi dan meninggalkan Adara yang kini mulai menitikkan air matanya lalu tubuhnya luruh ke lantai ketika pintu sudah tertutup rapat.
Adara terisak dan memegang dadanya yang terasa begitu sakit juga sesak, dia harus apa?
Seandainya membiarkan rumah ini terjual dia terpaksa harus tinggal bersama Ayah dan Ibu tirinya, tapi kalau dia tetap tinggal maka pengobatan Bunda nya akan dihentikan.
"Bunda"
Berkali-kali Adara memanggil Bunda nya dengan isakan yang terdengar begitu pilu.
Apa yang harus dia lakukan?
Dia tidak mungkin mengorbankan Bunda nya demi rumah ini.
Tapi, Adara tidak akan sanggup jika harus tinggal bersama dengan Ayah dan keluarga barunya.
"Bunda aku harus apa?" Tanya Adara
Adara menutup wajahnya dengan kedua tangan dan kembali menangis.
'Anak Bunda harus kuat ya? Kamu tidak pernah membawa sial sayang, bagi Bunda kamu anugrah terindah yang telah Tuhan berikan'
Adara kembali menangis ketika ingatannya membuat suara Bunda nya terngiang ditelinganya.
'Kalian berdua sudah cukup menyusahkan? Kehadiran kamu benar-benar membuat saya sial Adara! Harusnya kamu tidak pernah lahir ke dunia'
Suara Juan kemudian terngiang di telinganya, kata-kata penuh umpatan juga sangat kasar yang selalu pria itu layangkan untuknya.
Ada dua sisi yang membuat Adara bimbang.
Kebencian Juan yang selalu membuatnya ingin mengakhiri hidup.
Kasih sayang dan kesabaran Bunda nya yang selalu membuat Adara berusaha untuk tetap berdiri tegar.
Tapi, Adara benar-benar ingin pergi sekarang.
Dia sudah sangat lelah dengan semuanya.
¤¤¤
Pagi ini Devano sangat cemas karena hingga bel masuk akan berbunyi Adara belum juga terlihat, memang bukan hal aneh jika gadis itu datang terlambat atau bolos, tapi entah kenapa Devano merasa tidak tenang. Berkali-kali dia mencoba untuk menghubungi Adara, tapi tidak tersambung dan semua pesannya juga belum tersampaikan masih satu tanda centang yang terlihat.
Melirik jam yang ada ditangannya Devano segera masuk ke dalam kelas dan mengambil kunci motornya lalu pergi begitu saja tanpa perduli teman-temannya yang bertanya. Berlari menuju parkiran Devano kembali menghidupkan motornya dan menuju rumah Adara, biarlah untuk pertama kalinya dia tidak masuk kelas sekarang Devano benar-benar cemas.
Setelah sampai di rumah Adara dengan segera dia memasukkan motornya ke halaman lalu berlari kecil ke pintu utama dan mengetuknya hingga berkali-kali.
"Dar"
"Adara"
"Ini Vano, lo ada di dalam kan?"
Saat Devano berusaha membuka pintu ternyata tidak dikunci dan akhirnya Devano segera melangkahkan kakinya ke dalam.
"Adara"
Kemudian Devano menangkap sosok yang sangat dia kenal tengah terduduk di lantai dengan wajah yang disembunyikan diantara kedua lututnya.
Devano berlari menghampirinya lalu ikut menundukan dan menyentuh bahunya lembut.
"Adara"
Berhasil dia mendongak dan melihat Devano dengan keadaan yang sangat berantakan.
Matanya memerah karena tangisan dan bibirnya terlihat begitu pucat.
"Lo kenapa Dar?" Tanya Devano cemas
Bukan menjawab Adara malah kembali menangis dan memeluk Devano dengan begitu cepat membuat pria itu hampir terjatuh ke belakang, beruntung dia berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Vano"
"Iya Dar gue disini." Kata Devano sambil membalas pelukannya
"Van gue takut." Lirih Adara
"Apa yang membuat lo takut Dar? Ada gue disini kasih tau semuanya." Kata Devano
"Vano takut"
Adara terus mengatakan kata yang sama membuat Devano jadi cemas dan bertanya-tanya, gadisnya kenapa?
Apa mungkin Ayah nya kembali datang?
"Ayah kamu datang lagi?" Tebak Devano
Adar mengangguk sambil terisak dan mengeratkan pelukannya.
"Vano"
"Iya"
"Kangen Bunda"
Devano terdiam ketika mendengar suara lirih milik Adara dan ketika dia melepaskan pelukannya lalu menatap mata Devano dengan mata yang berkabut dia kembali bicara.
"Mau ketemu Bunda"
Adara terlihat begitu rapuh sekarang hingga Devano benar-benar ingin memeluknya lagi dan mengatakan bahwa dia ada disini untuknya.
¤¤¤
Dua aja untuk hari ini yaaa😋
Besok tiga lagi😶 Makasihh yaa yang udah mau bacaa hehe sayang kalian dehhh❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Rokiyah Yulianti
jadi inget dulu aku waktu belum nikah, kalo mau main boleh tapi sebelum jam 9 harus udah balik hehe sekarang mah udah nikah jadi bebas karna udah ada suami
2021-05-15
0
Casnialovly Purple
🤣🤣🤣jdi inget teteh q lgi kencan sama q d gangguin nyuruh pulang karena dah malam🤣🤣🤣
2021-03-21
0
Ershiyi_20
gue Kira adara Sama Alex sepupu namanya hampir Sama sih🤭🤭🤭
2020-11-12
11