Pasar malam merupakan salah satu tempat yang paling suka Devina kunjungi salah satu alasannya karena tempat itu menyenangkan untuk Devina, ramai dan dipenuhi lampu serta orang-orang yang penuh dengan senyuman. Sejak kecil dia dan keluarganya sering pergi ke pasar malam karena Kakaknya juga sangat menyukai tempat itu sama seperti Devina.
Malam ini Devina akan pergi ke pasar malam bersama dengan sahabat baiknya Ziko, dia sudah meminta izin pada orang tuanya tadi, tapi tetap saja nanti Ziko akan meminta izin sendiri.
Sekarang Devina sedang bersiap karena Ziko mengabari bahwa dia akan segera berangkat. Sebelumnya Devano sudah memperingatkan untuk memakai pakaian panjang serta jaket dan kaos kaki karena kembarannya itu bilang angin malam tidak baik.
Seperti biasa Devina hanya menurut, jadi dia menggunakan sweater serta celana jeans panjang dan memakai kaos kaki juga. Saat ponselnya berbunyi Devina langsung tersenyum dan mengambil tasnya lalu bergegas turun untuk menghampiri Ziko.
Sampai dibawah ternyata Ziko sudah ada di dalam dan sedikit berbincang dengan orang tuanya, mungkin meminta izin pada mereka.
"Daddy"
Daffa menoleh dan tersenyum ketika melihat anaknya.
"Pulangnya jangan terlalu malam ya?" Kata Daffa yang dijawab dengan anggukan oleh Ziko
"Vina mau jalan-jalan dulu ya Dad? Dadahh Daddy berduaan aja sama Mommy di rumah." Kata Devina membuat Fahisa menatapnya dengan tajam
Tapi, Devina justru tertawa melihatnya.
Setelah mencium punggung tangan Daffa dan Fahisa keduanya segera berlalu untuk pergi ke pasar malam agar tidak pulang terlalu larut nantinya. Saat keluar Devina dapat melihat motor milik Ziko dan pria itu langsung memberikannya helm lalu membantu Devina untuk naik.
Beberapa saat setelah Devina naik Ziko menghidupkan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan sedang melewati jalan yang masih cukup ramai. Senyum Devina sama sekali tidak luntur di sepanjang perjalanan karena dia sangat tidak sabar mengingat sudah lama sekali dia tidak pergi keluar.
"Vinaa"
Suara Ziko yang berbaur dengan suara kendaraan samar-samar Devina dengar membuat gadis itu mendekatkan wajahnya ke depan lalu bertanya.
"Kenapa Ziko?" Tanya Devina
"Pegangan"
Devina terdiam sesaat, tapi setelahnya meletakkan kedua tangannya di bahu lebar Ziko membuat pria itu menahan tawanya.
Padahal Ziko harap dia akan dipeluk.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit keduanya sampai di pasar malam yang dipenuhi pengunjung, tapi hal itu malah semakin membuat Devina bersemangat.
Baru turun dari motornya Ziko dibuat terkejut ketika Devina menggenggam tangannya dan menariknya untuk masuk ke pasar malam.
Jantung Ziko berdetak dengan tidak karuan sekarang, genggaman ditangannya terasa begitu hangat hingga tanpa dia minta senyuman manis terbentuk di bibirnya.
Dibalasnya genggaman tangan itu dan membuat Devina sedikit tersentak, tapi setelahnya dia bersikap biasa.
"Hmm kita ngapain dulu ya? Sama Daddy gak boleh lama-lama jadi aku harus mikir dulu." Kata Devina membuat Ziko merasa gemas melihatnya
"Naik itu yuk Vin." Ajak Ziko sambil menunjuk ke arah bianglala
Mata Devina berbinar melihatnya dan dengan semangat dia menganggukkan kepalanya.
Setelah membeli tiket dan menunggu kini sudah giliran keduanya untuk naik ke bianglala dan menikmati keindahan malam dari atas sana.
Masih dengan senyum manisnya Devina mendudukkan dirinya bersebelahan dengan Ziko dan genggaman tangan mereka juga masih belum terlepas.
Saat bianglala mulai bergerak senyum manis Devina semakin mengembang membuat Ziko mengeluarkan ponselnya untuk memotret kecantikan gadisnya, tentu saja dengan meminta izin lebih dulu.
"Vina"
"Emmm"
"Senyum"
Melihat Ziko yang mengarahkan ponsel ke arahnya membuat Devina tersenyum lebar, cantik sekali.
"Lihat, nanti akunya jelek." Kata Devina sambil merebut ponsel Ziko
Tertawa kecil tangan Ziko beralih untuk merangkul Devina lalu dengan sedikit berbisik dia berbicara.
"Sayangnya aku mana pernah jelek"
Menatap sahabatnya dengan mata memicing Devina dapat melihat tatapan penuh arti Ziko.
"Masa? Berarti aku cantik dong?" Kata Devina
"Selalu"
"Ihh gombal." Kata Devina sedikit salah tingkah
"Kok gombal? Aku serius tau Vin." Kata Ziko
Devina hanya bergumam pelan lalu menatap lurus ke depan menikmati keindahan malam.
"Indah"
"Kenapa Ko?" Tanya Devina membuat Ziko tersentak dan menggelengkan kepalanya dengan cepat
"Pemandangannya indah." Kata Ziko
"Hmm indah banget." Kata Devina sambil tersenyum manis
Beberapa menit setelahnya mereka berdua turun dari bianglala dan Ziko mengajak gadisnya untuk menikmati malam indah ini bersamanya.
¤¤¤
Menghabiskan waktunya ke tempat tongkrongan bersama yang lainnya selalu dilakukan Alex setiap malam dan disinilah dia berada dengan teman-temannya, termasuk Devano. Namun, mood nya mendadak berubah suram ketika Erick menanyakan Devina lalu pria itu menjawab bahwa Devina pergi keluar bersama Ziko.
Lagi dan lagi mood Alex kembali berubah.
Memang benar dia sudah memutuskan Hara secara sepihak karena gadis itu tidak ingin putus darinya, tapi Alex sudah tidak bisa lagi bersamanya.
Mungkin karena dia menganggapnya sebagai ancaman untuk medekati Devina karena gadis itu sudah tau hubungannya dengan Hara.
Sejak sore tadi Devina juga sama sekali tidak menjawab pesannya, tapi tidak masalah untuk beberapa hari ini Alex akan membiarkannya menjauh.
"Lo putus Lex sama Hara?" Tanya Gara
"Hmm"
"Gila"
Makian itu sudah biasa Alex dengar jadi dia tidak merasa tersinggung sama sekali dan malah tertawa mendengarnya.
"Biasanya kalau udah mutusin ceweknya dalam waktu singkat dia bakal gandeng cewek baru." Kata Erick sambil tertawa kecil
"Kembarannya Vano ya?" Kata Alex membuat Devano langsung menatapnya dengan tajam
Yang lainnya tertawa melihat Devano yang terlihat tidak terima dengan perkataan Alex barusan.
"Kenapa sih Van? Gue kan udah putus sama Hara, boleh dong?" Kata Alex
"Putus udah, tapi masih jadi tukang modus, tetep enggak." Kata Devano membuat Alex mendengus kesal
"Licik lo Van, kenapa teman adek lo gak pernah lo larang-larang? Keluar malam-malam aja boleh." Kata Alex tidak terima
"Dia izin sama orang tua dan Devina juga sahabatan sama dia, lagi dia gak punya pacar jadi gue gak perlu cemas kalau besok adik gue harus dilabrak pacar orang." Kata Devano santai
"Elah Van serius gue gak main-main, gue hapus nih semua kontak cewek di hp gue kalau lo gak percaya." Kata Alex
Bukan membuat Devano percaya Alex malah membuat yang lainnya juga terbelak kaget, tidak percaya dengan ucapannya.
"Serius nih gue." Kata Alex lagi
"Kenapa gue harus percaya?" Tanya Devano sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang
"Gue suka sama dia Van, kali ini serius gue gak bohong." Kata Alex yakin
Tatapan tidak percaya kembali mengarah kepada Alex karena pria itu terlihat begitu yakin ketika mengatakannya, tapi tetap saja sulit untuk dipercaya.
"Dan kalau lo nyakitin dia?" Tanya Devano
"Lo boleh pukulin gue sampe puas." Kata Alex lagi
Devano mengangguk singkat dan tidak bicara lagi membuat Alex jadi merasa kesal sendiri, susah banget dapat restu dari sahabatnya.
"Boleh nih Van?" Tanya Alex penuh harap
Devano mengangkat bahunya acuh dan kembali bicara dengan wajah datarnya.
"Tergantung Devina kalau dia mau ya gue bisa apa, tapi gue serius bakal mukulin lo sampe ****** kalau dia sampai nangis karena lo." Kata Devano
Mendengar itu Alex tersenyum senang, sepertinya perjuangannya baru akan dimulai.
Devina
Nama itu sepertinya telah menguasai hati dan fikirannya.
Mungkin akan sulit membuat Devina percaya, tapi Alex akan melakukannya.
Dia akan membuat Devina jatuh hati dan menjadi miliknya.
Hanya miliknya.
¤¤¤
Tepat pukul sembilan Devina sampai di rumahnya dan dia membawa sebuah boneka teddy bear berukuran sedang ditangannya, hasil yang didapatkan Ziko dari salah satu permainan. Saat memasuki rumah ada Fahisa yang baru keluar dari dapur dan Devina segera menghampiri lalu memeluknya dari belakang membuat wanita paruh baya itu terkejut bukan main.
"Mommy belum tidur?" Tanya Devina
Medengar suara anaknya Fahisa tersenyum.
"Kamu nih bikin kaget, Mommy belum ngantuk dan kamu belum pulang jadi Mommy belum bisa tidur." Kata Fahisq membuat Devina tersenyum mendengarnya
Fahisa memang sangat perhatian pada anak-anaknya.
"Daddy?"
"Di ruang kerjanya." Kata Fahisa yang dijawab dengan anggukan oleh anaknya
Sesaat kemudian Fahisa melihat benda yang ada di tangan anaknya lalu tersenyum kecil.
"Dari pacarnya ya?" Goda Fahisa
Devina terlihat bingung, tapi tertawa setelahnya.
"Bukan, temen aku tau." Kata Devina
"Udah malam, tidur nanti bangunnya kesiangan." Kata Fahisa
"Siap boss"
Melihat anaknya yang berlari kecil menuju kamar membuat Fahisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
Devina benar-benar membuat semua lelahnya hilang.
Kembali pada Devina yang langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Saat itu juga ponselnya bergetar beberapa kali dan ketika melihat notifikasinya ada lima puluhan pesan dari Alex.
Salah satu pesannya.
Alex : Kenapa chat aku belum di balas Vin?
Menggelengkan kepalanya cepat Devina meletakkan ponselnya di bawah bantal lalu mengambil boneka yang tadi dia bawa dan tersenyum ketika melihatnya.
'Ini untuk sayangnya Ziko'
Jadi, Ziko menyayanginya ya?
Apa lebih baik bersama Ziko saja dari pada dengan Alex?
Tapi, memang keduanya mau sama Devina?
"Hahh stop Vin mending kamu tidur"
Perlahan mata Devina terpejam, dia akan tertidur dengan nyanyak malam ini tanpa memikirkan apapun.
Termasuk kisah cintanya yang belum dimulai.
¤¤¤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Putraa Siktuss
ziko aja dong
2021-06-19
0
Rokiyah Yulianti
ziko itu sangat menyayangimu vin, kamunya aja yg ga peka
2021-05-15
1
Rahmawaty❣️
devina sama siapa aja bolh dehhh..
yg pnting ziko sma alex berjuanglahh untk mndptkn hati vinaa..
2021-04-29
0