"Lo enggak cemburu?"
Pertanyaan itu membuat Ziko yang sedang menikmati makanannya mendongak dan mengikuti arah pandang Mona dimana ada orang yang dicintainya sedang bersama pria lain. Tersenyum tipis Ziko mengangkat bahunya acuh lalu kembali menyantap makanannya, dia tau Devina sedang bersama Alex dan mereka berdua juga terlihat senang.
Ziko tidak buta dia dapat melihat gadis itu tertawa dari sini.
Cemburu?
Hatinya panas melihat kedekatan mereka berdua, tapi dia bisa apa?
Ziko tidak akan memaksakan perasaannya pada Devina dan dia juga tidak akan meminta gadis itu untuk membalas perasaannya, berada di dekat Devina sebagai sahabat saja sudah membuatnya senang.
Beberapa kali temannya memaksa agar Ziko menyatakan perasaannya, tapi dia selalu menolak karena takut Devina malah menjauh, dia takut keluar dari zona nyamannya.
'Kamu suka Alex Vin?'
Pernah sekali Ziko bertanya dan jawaban Devina setelahnya membuat dia terdiam lalu tersenyum tipis.
'Suka, tapi kata Vano aku gak boleh deket sama dia karena katanya Alex itu gak baik untuk aku'
Satu kata di awal jawaban itu saja sudah membuat Ziko faham dimana tempatnya, dia hanya sahabat bagi Devina.
Tapi, sungguh Ziko tidak masalah dengan itu semua.
Dia tidak pernah diajarkan untuk memaksakan perasaan.
Selain itu Ziko juga selalu percaya jika Devina memang takdirnya maka Tuhan punya banyak cara untuk mempersatukan mereka nantinya.
Entah sekarang atau nanti.
"Lo serius Ko? Gue tau lo cemburu kan?" Tanya Cessa
"Gue cemburu, tapi gue bukan siapa-siapa yang bisa larang dia kan? Hak Devina untuk dekat dengan siapapun." Kata Ziko pada akhirnya
"Gue lebih suka lo sama Devina." Kata Nayla yang disetujui oleh yang lainnya
"Oke, Alex memang ganteng, tapi kita semua tau gimana kelakuan dia kan? Lo gak bakal biarin Devina sama dia kan Ko?" Tanya Gio
Ziko menghela nafasnya pelan dan menatap teman-temannya sebentar lalu berbicara.
"Kalau Devina suka sama Alex gue bisa apa? Kalau Devina yang mau nerima Alex gue bisa apa?" Tanya Ziko membuat mereka semua terdiam
Ziko kembali melirik ke arah mereka yang terlihat sedang mengobrol dan bercanda, tawa Devina dapat terlihat.
"Selagi dia bahagia gue gak masalah karena gue sadar dimana tempat gue di hatinya." Kata Ziko
Wajahnya terlihat santai ketika mengucapkannya, tapi hatinya begitu sakit dengan apa yang dia ucapkan.
"Gak asik dong Ko cowok badung kayak lo malah jadi sad boy nantinya." Kata Gio membuat Ziko tertawa ketika mendengarnya
"Lebih baik sad boy dari pada bad boy." Candanya
Setelah mengatakan itu Ziko kembali tersenyum dan melirik Devina yang sepertinya akan meninggalkan kantin bersama dengan Alex.
Dari cara Devina menatapnya dan Alex saja sudah berbeda dan membuktikan betapa dia menyukai Alex.
Devina tidak pernah menatapnya dengan binar seperti itu.
"Kenapa ya Vina gak suka sama lo Ko? Kalau gue yang jadi Vina pasti gue pilih lo sih." Kata Mona membuat Ziko tertawa ketika mendengarnya
"Bener kan lo suka sama gue?" Canda Ziko
Menatap Ziko dengan malas Mona jadi menyesal mengatakan hal itu padanya.
"Maksud gue kalau gue jadi Vina, cara lo perlakuin dia itu beda Ko, tapi entah Vina yang terlalu polos atau gimana dia gak bisa ngerasaiin perasaan lo untuk dia." Kata Mona
"Kenapa malah bahas gitu sih? Gue jadi bener-bener ngerasa sedih." Kekeh Ziko
Tapi, Mona memang benar cara Ziko memperlakukan Devina berbeda.
Mungkin Devina terlalu fokus pada satu orang hingga dia tidak bisa melihat ada orang lainnya yang sangat mencintai dia dengan sepenuh hati.
"Lo yakin Alex gak bakal main-main?" Tanya Nayla
"Kalau dia main-main gue yang bakal maju duluan buat hajar dia." Kata Ziko
"Bukan yang pertama deh kayaknya Ko, tapi yang kedua." Kata Cessa membuat Ziko mengerutkan dahinya bingung
Tapi, setelah faham maksudnya dia tertawa dan menyetujui hal itu.
"Bener, bukan cuman gue, tapi gue dan Devano yang bakal maju duluan untuk kasih dia pelajaran." Kata Ziko
Tentu saja Ziko akan melakukan hal itu jika Alex benar-benar menyakiti gadisnya.
Di sisi lain Alex mengajak Devina untuk pergi ke rooftop selagi jam istirahat masih cukup lama dan Devina hanya menurut saja, dia belum pernah ke rooftop jadi dia penasaran. Saat berjalan Devina sedikit memberi jarak karena takut ada Hara yang melihat mereka, meskipun Alex sudah putus tetap saja Devina merasa tidak enak.
Sesampainya di rooftop senyum manis Devina mengembang dengan sempurna, sejuk sekali.
Melangkahkan kakinya Devina sedikit mengintip ke bawah dan melihat murid-murid di SMA Kencana yang sedang berlalu lalang karena masih jam istirahat.
"Suka?" Tanya Alex
Devina mengangguk dengan semangat.
"Suka, disini sejuk banget terus tenang." Kata Devina
"Sini duduk." Kata Alex sambil menepuk tempat duduk disampingnya
Devina kembali menurut dan mendudukkan dirinya tepat disebelah Alex lalu menatap lurus ke depan.
Angin yang berhembus cukup kencang membuat rambut Devina beterbangan hingga mengganggunya juga Alex yang melihatnya, dia heran kenapa Devina tidak pernah mengikat rambutnya.
"Kenapa rambutnya gak diikat aja Vin?" Tanya Alex
Devina menolah dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak boleh sama Vano." Kata Devina
"Kenapa?" Tanya Alex penasaran
Devina mengangkat bahunya acuh dan mengatakan kalau dia juga tidak tau.
"Aneh banget Vano." Kata Alex membuat Devina tertawa kecil mendengarnya
"Memang kadang kalau aku mau keluar malam-malam aja banyak aturannya, harus pakai jaket sama kaos kaki yang pasti." Kata Devina menceritakan tentang kembarannya
"Dia sayang banget berarti sama kamu Vin." Kata Alex yang disetujui dengan Devina
"Iya, tapi kadang nyebelin." Kata Devina sambil tersenyum manis
Melihat senyuman itu Alex mendadak diam, dia sangat terpesona dengan kecantikan Devina sekarang.
Wajah lugunya membuat Alex merasa tergila-gila.
Biasanya dia selalu menjalin kasih dengan wanita berparas dewasa, tapi sekarang Alex lebih menyukai wajah imut ini.
"Kamu cantik Vin"
Perkataan itu keluar secara refleks membuat Devina terdiam dengan jantung yang berdetak sangat cepat apalagi ketika menoleh Alex menatapnya dengan begitu dalam.
Devina semakin terkejut hingga memundurkan tubuhnya ketika tangan Alex terulur untuk mengusap sayang puncak kepalanya.
"Jangan jauhin aku"
Devina tetap diam dan tidak memberikan tanggapan hingga akhirnya suara bel yang terdengar membuat Devina segera berdiri.
"Udah masuk." Kata Devina singkat
Alex tersenyum melihatnya lalu dia mengikuti langkah kaki Devina menuju kelas.
Dia akan memulai semuanya dari awal.
¤¤¤
Melihat Devina yang melamun selama pelajaran berlangsung membuat Ziko penasaran, apa yang sedang gadis itu fikirkan sekarang?
Selama pelajaran mata Ziko juga terus melihat ke arah Devina yang duduk didepannya dan ketika gadis itu menelungkupkan wajahnya di meja Ziko semakin penasaran.
Dia menendang kursi Devina dengan pelan hingga membuat sedikit pergerakan dan berhasil membuat gadis itu menoleh ke belakang lalu menatap Ziko dengan alis bertaut.
'Kenapa?'
Ziko mengatakan hal itu tanpa suara membuat Devina mengerutkan dahinya bingung.
"Kenapa?" Tanya Ziko dengan suara yang sangat pelan
Devina semakin bingung lalu bertanya dengan suara yang cukup keras dan membuat orang-orang pada melihat ke arahnya.
"Kenapa apanya sih?" Tanya Devina tidak mengerti
Ziko menepuk dahinya pelan dan ketika baru akan bicara suara guru mereka sudah terdengar membuat Devina memasang wajah yang lucu karena sadar jika suaranya membuat orang-orang menoleh.
"Ada masalah Devina?" Tanya Bu Farida
Devina baru akan menjawab, tapi Ziko sudah lebih dulu bicara.
"Saya mau minjem buku catatan Vina, tapi dia enggak dengar Bu." Kata Ziko
Devina kembali memasang wajah bingungnya, tapi tetap memberikan bukunya pada Ziko.
"Jangan berisik lagi." Kata Bu Farida
Setelah itu pelajaran kembali dilanjutkan, tapi Devina masih merasa bingung dengan apa yang barusan terjadi.
Menggelengkan kepalanya pelan Devina mencoba untuk fokus dan menatap ke depan.
Semua karena Alex dia jadi kefikiran dan tidak bisa fokus dan lagi Devina bingung harus melakukan apa ketika Alex meminta dia untuk tidak menjauhinya.
Devina tidak pernah menjauhi Alex, tapi dia hanya menjaga jarak saja karena takut orang-orang mengira kalau dia penyebab kandasnya hubungan Alex dengan Hara.
Kenapa Alex harus mendekati dia sesaat setelah putus?
Bukankah hal itu akan membuat orang-orang berfikiran negatif pada mereka?
Sudahlah Devina tidak mau memikirkannya lagi.
Menit demi menit berlalu sampai jam pelajaran Bu Farida selesai dan ketika sang guru sudah keluar dari kelas Devina langsung menoleh lalu menatap Ziko untuk bertanya.
"Kenapa tadi?" Tanya Devina penasaran
"Kenapa kamu ngelamun?" Tanya Ziko balik
"Enggak ngelamun." Elak Devina
"Iya, tapi bengong kan?" Kata Ziko membuat Devina berdecak kesal ketika mendengarnya
"Enggak papa kok." Kata Devina setelahnya
Devina baru ingin menghadap ke depan lagi, tapi Ziko kembali memanggilnya.
"Vina"
"Emm kenapa?" Tanya Devina
"Pulang sekolah temenin gue mau?" Tanya Ziko
"Memang mau kemana?" Tanya Devina penasaran
"Studio musik mau latihan band sama temen-temen." Kata Ziko
"Enggak mau ah malu." Kata Devina
"Ngapain malu? Sebentar aja kok." Kata Ziko
Devina terlihat berfikir sebentar lalu menganggukkan kepalanya.
"Tapi, kamu bilang sama Vano ya?" Kata Devina
"Siap beb"
Devina tertawa kecil mendengarnya lalu kembali menghadap ke depan.
Dipanggil Babe dan sayang oleh Ziko sudah biasa bagi Devina jadi dia sama sekali tidak merasa aneh atau terganggu.
Ziko memang suka bernyanyi dan dia memiliki band bersama beberapa temannya yang juga satu sekolah dengannya.
Sesekali mereka tampil di sebuah cafe atau acara pentas seni sekolahan.
Tapi, hari ini Ziko ingin bernyanyi didepan Devina.
Bernyanyi untuk gadisnya.
¤¤¤
Aww gak mau nyanyi untuk aku ajaa😋
Update lagiii???
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
El_Tien
aku mampir
2022-01-21
0
Rokiyah Yulianti
ahh ziko dewasa bgt ya, dia gamau memaksakan kehendaknya terhadap devina dan dia percaya kalo dia dan vina berjodoh pasti mereka bakal bersatu.
2021-05-15
1
Salsabilla Rizky Octavianie
butuh jiwa yg besar itu bersikap sprt ziko
2021-02-16
2