Umpatan terdengar bersamaan dengan langkah kakinya yang terburu-buru untuk melindungi seorang gadis yang dikepung oleh banyak pria disana. Wajahnya menahan amarah ketika salah satu dari mereka menarik kasar lengan gadisnya dan tanpa peringatan sebuah pukulan melayang hingga membuatnya tersungkur.
Wajah tidak percaya Adara terlihat ketika melihat Devano sekarang berada apalagi pria itu memukuli orang-orang yang tadi ada disekelilingnya, bagaimana bisa pria itu ada disini?
Ada beberapa luka di wajah Adara karena pukulan bahkab sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah, tapi dia masih kuat untuk berdiri dan memukul orang-orang. Namun, matanya terus menatap ke arah Devano yang semakin dikelilingi oleh banyak orang dia cemas kalau pria itu sampai terluka karenanya.
Saat Devano sampai di rumah dia mencoba untuk menelpon Adara yang sama sekali tidak di angkat dan entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak hingga dia memutuskan untuk kembali ke sekolah, belakang sekolah lebih tepatnya.
Benar, ada keriburan disana dan dia melihat Adara ditengah-tengah sana dengan memakai seragam sekolahnya, tapi rok yang dia gunakan diganti dengan sebuah celana.
Devano menggeram kesal ketika melihat gadisnya itu tersungkur, pengecut, bagaimana bisa dia memukul seorang wanita seperti itu?
Tadinya Devano fikir Adara akan benar-benar berhenti dan duduk diam di rumah, tapi sekarang dia malah menyaksikan wanita itu bertengkar dengan banyak orang.
Saling memberikan pukulan.
Adara berseru kencang ketika melihat Devano yang tiba-tiba datang dan memukul orang yang ada didekatnya lalu membawanya ke belakang tubuh kekar Devano, melindunginya.
"Van kenapa lo bisa disini?" Tanya Adara cemas
"Pertanyaan itu untuk lo Adara Alexander." Kata Devano
Adara baru akan bicara, tapi dia langsung berseru kencang ketika melihat seseorang memukul wajah Devano hingga membuatnya tersungkur.
Beberapa kali Devano memukul orang-orang disekitarnya hingga akhirnya ketika keadaan sudah sedikit lebih baik Devano menggenggam tangan Adara dan menariknya untuk menyingkir dari keramaian.
"Kenapa lo bisa disini Dar?" Tanya Devano marah
"Kenapa lo bisa disini Devano?" Tanya Adara yang enggan menjawab pertanyaan pria dihadapannya
"Gue tanya lo Dar! Kenapa lo bisa disini? Gue udah antar lo pulang dan lo bilang kalau lo juga gak bakal pergi." Kata Devano lagi
"Vano gue..."
Mata Adara membelak ketika seseorang secara tiba-tiba datang dan tanpa bisa dia cegah memukul bagian belakang Devano dengan balok kayu.
"Vanoo"
Ringisan Devano terdengar bersamaan dengan dia yang memegang kepala belakangnya yang terasa begitu nyeri dan sakit.
Seseorang yang baru saja memukul Devano ingin menghampiri Adara, tapi dia sudah lebih dulu tersungkur karena sebuah pukulan dari teman Adara.
"Van"
Devano mendongak untuk menatap mata Adara yang terlihat cemas, tapi sesaat setelahnya dia merasa begitu pusing hingga akhirnya linglung dan hampir terjatuh ke depan kalau saja Adara tidak menahan tubuhnya.
"Vano"
Berkali-kali Adara menepuk punggungnya dan berharap akan mendapatkan sautan, tapi sayangnya tidak ada jawaban hingga membuat Adara terlihat begitu panik dan cemas.
"Van! Gimana Sat?" Tanya Adara kepada Satria yang ada didekatnya
Satria terlihat bingung, tapi setelahnya dia mengeluarkan kunci dari saku celananya dan memberikan pada Adara.
"Bawa mobil gue Dar, biar gue yang selesain." Kata Satria
Dengan dibantu Satria tubuh Devano dibawa kedalam mobil dan Adara segera melajukan mobilnya ke rumah, dia akan mengobati luka Devano.
Saat sampai di rumah Adara meminta bantuan pada salah satu pekerja di rumahnya untuk membawa Devano masuk ke dalam. Setelah membaringkan tubuh Devano di sofa Adara segera mencari kotak P3K untuk mengobati luka-luka diwajah Devano, tapi sebelum itu dia juga harus membuat Devano membuka matanya.
"Van"
Adara menepuk pelan pipi Devano beberapa kali sampai akhirnya mata itu perlahan terbuka bersamaan dengan ringisan kesakitan Devano karena rasa nyeri di kepalanya.
"Arghh"
Sentuhan di dahinya membuat Devano menoleh dan menatap Adara yang terlihat cemas.
"Gue gak papa." Kata Devano
Devano langsung mendudukkan dirinya dan kembali memegang bagian belakang kepalanya yang terasa sedikit sakit.
Sial! Siapa pria yang berani memukulnya?
"Lo ngapain sih ada disana Van? Gue udah bilang berhenti ikut campur kan?!" Seru Adara kesal
Devano hanya diam dan tidak memberikan tanggapan apapun lalu tangannya mengambil kotak P3K yang ada di atas meja dan menarik Adara agar duduk disebelahnya.
Helaan nafas Adara terdengar berat, dia benar-benar tidak mengerti pada Devano yang begitu keras kepala akan omongannya.
Kenapa pria itu selalu melibatkan diri dengan kehidupannya yang hancur?
"Gue bisa ngobatin diri gue sendiri." Kata Adara sambil menepis tangan Devano yang berusaha mengobati luka diwajahnya
Tapi, Devano malah menggenggam tangan yang tadi menepisnya dan menggunakan tangan yang lainnya untuk mengobati luka diwajah gadisnya.
Ada yang pernah dia dengar ketika Adara bersama seorang pria paruh baya keluar dari ruang kepala sekolah dan kala itu dia melihat Adara ditampar juga dimaki, beruntung tidak ada orang selain dia disana.
Saat itu mata Adara memandang dengan penuh kecewa juga luka yang berbaur dengan benci, tapi dia begitu kuat hingga tidak ada sedikitpun air mata yang keluar.
'Satu hal yang paling saya sesali adalah lahir ke dunia ini'
Kalimat itu adalah satu-satunya kalimat yang Adara keluarkan saat itu dan Devano yang bersembunyi di dekat tembok menatap Adara yang berjalan menjauh ke ruang musik.
Entah kenapa langkah kaki Devano mengikutinya dan dia sedikit membuka pintu itu lalu mendengar sebuah isakan pilu.
Disana Adara menangis dengan kepala yang ia sembunyikan di balik kedua lututnya.
Wanita yang terlihat begitu kuat itu ternyata rapuh, sangat rapuh.
Dia hanya tidak mau menunjukkan kesedihannya di depan orang lain dan sejak saat itu Devano mulai perduli pada Adara.
Dia ingin membantu Adara menyembuhkan luka dan mewarnai hidup kelamnya.
"Van"
Panggilan itu hanya ditanggapi dengan gumaman oleh Devano dan dia masih setia mengibati luka di dahi serta sudut bibir Adara.
Tidak ada penolakan yang mau Devano dengar, dia hanya akan melanjutkan apa yang tengah dilakukannya.
"Jangan pernah terlibat dengan kehidupan gue Van." Kata Adara pelan
"Jangan pernah larang gue." Kata Devano tegas
"Hidup gue udah hancur dan hidup lo sempurna, kita beda Van...."
"Enggak pernah ada kehidupan yang hancur dan enggak pernah ada juga kehidupan yang sempurna." Kata Devano dengan senyuman yang begitu tipis
Adara terdiam dan enggan untuk menanggapi, tapi Devano malah kembali bicara.
"Selalu ada jalan untuk semua masalah Adara, tapi menyakiti diri sendiri bukan salah satunya." Kata Devano
"Enggak ada jalan untuk masalah gue Van." Kata Adara yang mulai sedikit kesal
Memang tidak ada jalan untuk masalahnya dan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah menghancurkan hidupnya sendiri.
Melukai dirinya hingga dia merasa keadaan akan membaik setelahnya.
"Bukan gak ada Dar, tapi lo yang belum nemuin caranya, mungkin gue bisa bantu untuk cari caranya." Kata Devano
Adara menghela nafasnya pelan lalu berusaha melepaskan genggaman tangan Devano dan mengatakan bahwa dia tidak bisa.
"Gue gak pernah mau berhubungan dengan orang lain Van, jangan paksa gue." Kata Adara lelah
Dia hanya tidak mau melibatkan orang lain, Adara sudah terbiasa sendiri dan dia tidak masalah jika harus menanggung semua rasa sakit itu sendirian.
"Manusia itu enggak mungkin bisa hidup sendirian Dar." Kata Devano
"Bisa, gue bisa." Kata Adara
"Tapi, gue gak akan biarin lo sendirian." Kata Devano
Merasa lelah dengan semua perdebatan ini Adara mulai mengambil kapas dan mengobati luka yang ada di wajah tampan Devano.
"Gue gak tanggung jawab kalau lo dimarahin setelah ini." Kata Adara
Dia tau kalau Devano bukan tipe orang yang suka berantem dan termasuk murid teladan di sekolahnya.
"Gue gak pernah minta lo untuk tanggung jawab"
Adara kembali diam dan tetap fokus pada kegiatannya mengobati luka Devano dan setelah selesai dia meminta pria itu untuk segera pulang.
"Van lebih baik lo pulang dan makasih untuk semuanya." Kata Adara tulus
Devano mengangguk singkat, tapi dia teringat satu hal.
"Motor gue?" Tanya Devano
"Gue antar ke tempat tadi, motor lo ada disana." Kata Adara
Mengambil kunci mobil Satria di meja Adara berjalan mendahului Devano, tapi ketika dia ingin masuk Devano menahannya.
"Biar gue yang bawa"
Wajah Devano menggambarkan seolah dia tidak ingin dibantah dan Adara hanya menurut.
Sepertinya hanya pada Devano dia bisa menurut dan tidak membantah.
¤¤¤
Saat melihat kembarannya yang pulang dengan wajah yang terluka Devina langsung berseru heboh dan membuat Devano segera membekap mulutnya agar tidak terdengar sampai ke bawah. Barusan tadi Devano dibuat beruntung karena tidak bertemu kedua orang tuanya dibawah, tapi dia bingung malam nanti harus memberikan alasan apa pada orang tuanya.
Pantas saja tadi Devina merasa tidak enak dan cemas tanpa alasan ternyata ini alasannya, dia tidak menyangka kalau Devano bertengkar. Bisa habis kembarannya itu dimarahi kalau sampai Daffa tau.
"Vano kenapa bisa? Sudah diobati belum?" Tanya Devina cemas
Devano mengangguk sambil tersenyum tipis lalu mendudukkan dirinya disebelah Devina.
"Nanti Daddy bisa marah, kamu kenapa berantem?" Tanya Devina lagi
"Tadi gue..."
Devano terlihat ragu untuk bercerita, dia hanya takut kalau Devina malah akan menyalahkan Adara nantinya padahal ini semua bukan salah gadisnya.
Tapi, tetap saja Devano harus jujur kan?
Akhirnya mengalirlah cerita Devano dan membuat Devina menatapnya dengan tidak percaya lalu memukul pelan lengannya.
"Jangan kayak gitu lagi Vano." Kata Devina yang hanya dijawab dengan anggukan singkat olehnya
Devano tersenyum singkat lalu membawa kembarannya itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Terus cewek galak itu enggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Devina membuat Devano terkekeh mendengarnya
"Dia luka"
"Bandel banget sih dia jadi cewek! Kenapa coba ikut-ikutan?!" Tanya Devina kesal
"Ada alasannya Vin"
"Tetep aja harusnya jangan! Dia kan cewek, tapi bandel banget." Kaya Devina lagi
"Cerewet banget sih." Canda Devano
Devina mengerucutkan bibirnya kesal ketika mendengar perkataan kembarannya.
"Jangan berantem lagi ya? Kamu yang berantem, tapi aku ikutan sakit tau, apalagi ini tadi sakit banget." Kata Devina menunjuk bagian belakang kepalanya
Devano hampir lupa kalau merka saudara kembar dan mereka juga punya ikatan yang cukup kuat hingha setiap salah satunya terluka maka yang lain ikut merasakan juga.
"Sini aku sembuhin." Kata Devano
Devano mencium bagian belakang kepala Devina lalu mengusapnya dengan sayang.
"Vano"
"Hmm"
"Kamu suka ya sama cewek galak itu?" Tanya Devina penasaran
Devano tidak menjawab, tapi hanya bergumam pelan membuat Devina tersenyum nakal lalu menusuk-nusuk pipinya dengan jari.
"Suka kan? Ihh Vano udah suka sama cewek." Ledek Devina
Menjauhkan tangan kembarannya Devano tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat kembarannya yang menatap dia dengan lucu.
"Ternyata kamu sukanya sama cewek galak ya Van?" Tanya Devina
Terkekeh pelan Devano menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu alasannya Vin, tapi kamu boleh menganggapnya begitu"
Devano dan kisah cintanya kira-kira akan berakhir seperti apa?
¤¤¤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Rokiyah Yulianti
seneng bgt liat keakraban si kembar ini
2021-05-15
3
Alya Hidayah
Haaaa...... pengen dehh
2021-02-20
4
pangako sayyo
Aku tuh pen punya anak kembar cwo cwe
2021-02-01
3