“Tuan, Nona Sharin hanya terlalu lelah dan belum makan. Kondisinya saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Saya sudah memberikan suntikan agar demamnya segera turun. Sebaiknya Nona Sharin segera meminum obatnya saat sudah bangun nanti.” Dokter itu menjelaskan detail keadaan Sharin kepada Biao. Kini pria itu berdiri di ujung tempat tidur sambil menatap sedih kepada Sharin.
“Ya. Terima kasih, Dokter.” Biao mengangguk pelan sebelum menatap wajah Sharin lagi.
“Saya permisi dulu, Tuan.” Setelah selesai berpamitan, Dokter itu pergi meninggalkan kamar yang di tiduri Sharin.
Kini di dalam kamar itu hanya ada Biao yang terlihat sedih. Dengan hati-hati ia berjalan mendekati Sharin yang masih memejamkan mata. Ia duduk di kursi kecil yang ada di samping ranjang. Menatap wajah Sharin dengan tatapan senduh. Kepala Sharin bergerak-gerak dengan mata yang masih terpejam. Bibir wanita itu seperti mengatakan sesuatu. Hanya saja Biao tidak bisa mendengar denga jelas kalimat yang di ucapkan Sharin malam itu.
Biao mengusap lembut pipi Sharin dengan tatapan tidak terbaca. Secara perlahan ia menundukkan tubuhnya untuk mengecup bibir merah yang cukup menggoda milik Sharin. Bibirnya mengukir senyuman saat berhasil memberikan kecupan singkat pada bibir wanita yang ia cintai.
“Cepat sembuh, Sharin. Aku tidak ingin kau sakit seperti ini.”
Biao mengompres kepala Sharin agar demam wanita itu segera turun. Tubuhnya terasa cukup lelah atas pekerjaan yang menumpuk di kantor. Biao meraih tangan kiri Sharin mengecupnya berulang kali. Pria itu menyandarkan kepalanya di bantal yang sama dengan Sharin. Tangannya masih tetap mencengkram kuat tangan Sharin. Secara perlahan, Biao larut dalam tidurnya. Tubuhnya merasa sangat nyaman karena Sharin ada di samping tubuhnya untuk menemaninya tidur.
Beberapa jam kemudian.
Sharin terbangun saat merasakan tangan Biao yang kini mencengkram kuat tangannya. Wanita itu memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Satu-satunya lokasi yang ia pandang adalah langit-langit kamar. Kedua bola matanya tampak menyelidik saat melihat kamar yang ia tiduri tidak sama dengan kamarnya.
Hal yang semakin membuatnya syok saat kepalanya miring ke samping. Ada wajah Biao di hadapannya. Pria itu memejamkan mata dengan hembusan napas yang teratur. Bahkan jarak di antara Sharin dan Biao tidak ada lagi karena pria itu tidur di bantal yang sama dengan dirinya.
“Presdir Bo, kenapa dia bisa ada di sini dan di mana aku berada saat ini?” Sharin kembali menatap sekeliling kamar. Dari desain kamarnya saja ia sudah cukup tahu kalau itu kamar pria, “Apa ini kamar Presdir Bo?”
Sharin kembali mengingat saat hujan turun dengan deras dan kepalanya terasa sakit. Wanita itu tidak berhasil mengingat apapun selain jalanan sunyi dengan tetesan air hujan yang cukup deras, “Apa Presdir Bo yang menolongku?” ucap Sharin dengan wajah penuh tanya.
Sekali lagi ia mencoba untuk memandang wajah pria yang masih terlelap di sampingnya, “Jika Presdir Bo seperti ini ia sangat mirip dengan Paman Tampan. Apa kau benar-benar bukan Paman Tampan? Jika memang benar kau adalah Paman Tampan, untuk apa kau menyamar seperti ini? Apa untuk menyelesaikan misi berbahaya lagi seperti waktu itu?”
Sharin memandang wajah Biao tanpa berkedip. Hatinya memang selalu merasa nyaman saat berada di dekat pria yang berstatus atasannya itu, “Jika benar kau hanya menyamar aku harap kau memiliki alasan yang cukup masuk akal nantinya,” gumam Sharin di dalam hati. Wanita itu memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya. Matanya masih cukup ngantuk saat itu. Entah kenapa hatinya tidak merasa takut sama sekali saat berada di dalam kamar bersama pria asing yang masih ia curigai itu.
***
Pagi yang cerah. Di luar jendela, matahari mulai naik ke permukaan. Cahaya terangnya mulai menembus kaca kamar yang di tempati oleh Biao. Secara perlahan, Biao membuka matanya. Jam memang sudah menunjukkan waktunya untuk bangun. Biao segera beranjak dari tempatnya tidur saat kembali ingat dengan Sharin. Wanita itu masih memejamkan mata. Biao belum menyadari kalau wanita itu telah bangun tadi malam di saat tubuhnya terlelap.
Tangan Biao menempel di dahi Sharin untuk memeriksa suhu tubuh wanita itu. Napasnya kembali lega saat merasakan demam wanita itu telah hilang. Biao menatap tangan kirinya yang masih menggenggam erat tangan Sharin. Bibirnya tersenyum kecil sebelum mengecup tangan wanita itu berulang kali.
“Cepat sembuh,” ucap Biao pelan.
“Apa yang ia lakukan? Kenapa ia berani mencium tanganku seperti ini?” gumam Sharin di dalam hati. Wanita itu sudah bangun lebih dulu. Hanya saja, ia berpura-pura seolah masih terlelap dalam mimpi. Sharin ingin melakukan aksi penyelidikannya dengan Biao hari itu juga. Hatinya sudah tidak kuat jika Biao terus-terusan membohonginya. Ia ingin mengetahui kebenarannya sekarang juga.
“Apa kau tahu, Sharin. Hatiku sangat sedih jika melihatmu berbaring lemah seperti ini. Apa aku sudah membuatmu susah selama ini?” ucap Biao sekali lagi. Pria itu beranjak dari duduknya. Mengecup pucuk kepala Sharin sebelum berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, Sharin membuka matanya. Wajahnya cukup kecewa karena tidak berhasil memergoki Biao saat itu.
“Kenapa terasa sangat sulit untuk menyelidikinya,” ucap Sharin pelan. Wanita itu duduk di atas tempat tidur. Wajahnya cukup syok saat selimut yang menutupi tubuhnya jatuh hingga ke pinggang. Pagi itu Sharin baru sadar dengan pakaiannya yang telah terganti.
“Dimana pakaianku? Kenapa bajuku bisa terganti dengan kemeja pria seperti ini?” Sharin terus berpikir keras untuk mengingat kejadian sebelum pakaiannya terganti.
“Apa yang di lakukan Presdir Bo saat aku belum sadar tadi malam? Kenapa pakaianku terganti seperti ini? Jangan-jangan ....” ucapan Sharin terhenti. Kini isi kepalanya sudah dipenuhi dengan pikiran aneh-aneh yang membuat perasaannya semakin campur aduk. Bahkan ia lupa dengan niat awalnya untuk menyelidiki Biao.
Sharin menutup wajahnya dengan tangan sambil menggelengkan kepalanya, sebelum bibirnya berteriak dengan begitu kencang. “Tidaaaaakkkk!”
Like 500 aku tambah 2 bab nanti siang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Kustri
tidaaak....tidak mau berakhir
2021-01-26
1
☆☆@bh!☆☆
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2021-01-09
0
🏕👑ɱႦσƙʝαɠσ 💣<big><h1><i><u
sharin ngagetin tau gak sih..... jangan teriak2 dunk.... nanti aq ikut teriak jg lhoooo....😁
2020-12-31
1