Suasana ruangan itu tiba-tiba saja berubah hening. Sharin dan Amelia saling memandang satu sama lain. Dengan gerakan cepat, Amelia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Wanita itu menyingkirkan rambutnya ke balik telinga dengan senyuman kecil.
“Hmm, itu,” ucapan Sharin terhenti. Seharusnya ia tidak perlu takut. Presdir Bo bukan siapa-siapa baginya. Tapi sorot mata pria yang kini berdiri di hadapannya terlihat tidak bersahabat. Ada kemungkinan dirinya akan mendapat masalah baru jika mengatakan yang sejujurnya saat itu.
“Apa yang kau mau?” tanya Biao sekali lagi sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Sorot matanya yang tajam tampak menyelidik ke arah dua wanita yang kini berdiri di hadapannya.
“Roti sobek,” celetuk Sharin dengan penuh semangat. “Ya, roti sobek.”
“Roti sobek,” ucap Amelia dan Biao secara bersamaan.
Sharin memberi kode kepada Amelia dengan memutar bola matanya dan senyuman yang di ukir secara terpaksa. Hatinya juga diselimuti ketakutan jika Amelia tidak bisa di ajak kerja sama saat itu.
“Kau ingin makan roti?” tanya Biao dengan wajah polosnya. Pria itu tidak lagi curiga dengan Sharin. Satu hal yang kini memenuhi isi pikirannya kalau wanita yang ia cintai ingin makan roti.
Sharin mengangguk pelan, “Ya, Presdir Bo. Saya sangat ingin makan roti.”
“Ya, roti. Roti sobek.” Amelia sudah mengerti dengan kode berbohong yang di berikan Sharin. Dengan wajah penuh semangat, ia membantu Sharin menutupi kebohongan yang sudah ada.
Biao mengangat satu alisnya, “Cepat ganti dengan gaun yang lain. Aku tidak suka kau memakai yang seperti itu,” ucap Biao sebelum memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Amelia dan Sharin memandang punggung Biao dengan ekspresi wajah tidak terbaca. Setelah memastikan Biao sudah cukup jauh dan keadaan sudah aman. Tawa dua wanita itu lagi-lagi pecah.
“Sharin, kenapa kau memikirkan hal seperti itu?” ucap Amelia sambil menutup mulutnya dengan tangan.
“Aku tidak menyangka kalau dia percaya dengan perkataanku,” jawab Sharin sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.
“Sudah, sudah. Sekarang cepat ganti gaunmu. Aku mau pergi. Nanti aku simpankan satu yang cocok untukmu,” ucap Amelia sambil mengedipkan salah satu bola matanya.
Melihat Amelia juga pergi dari situ. Sharin melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke ruang ganti. Sudah ada beberapa gaun yang siap untuk ia coba saat itu. Satu persatu gaun mewah nan indah yang tergantung, ia pandang dengan bibir tersenyum. Bukan hanya bahannya yang lembut, bagkan setiap mutiara yang menempel di gaun itu juga memiliki harga yang fantastis.
“Hanya sebuah baju bisa mengubah status sosial seorang wanita. Setiap wanita dilihat dari pakaian yang ia kenakan. Aku lebih suka dengan kesederhanaan. Di dalam kesederhanaan ada rasa nyaman yang gak akan pernah di rasakan oleh kalangan kelas tinggi.” Sharin memilih gaun berwarna hitam. Ia tidak lagi memperdulikan harga gaun yang saat itu ia ambil.
Biao duduk di sofa sambil memikirkan jawaban Sharin tadi. Entah kenapa ia masih merasa ada yang salah dari jawaban Sharin tadinya. Tapi, Biao tidak tahu di bagian mana letak kesalahan itu.
“Roti sobek?” ucap Biao dengan wajah berpikir keras. Tanpa mau menunggu lama lagi, Biao mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Melekatkan ponsel itu di telinga kanannya.
“Belikan aku roti sobek!” perintahnya singkat. Dengan gerak cepat Biao memutuskan panggilan telepon itu. Memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Ada senyum indah di bibirnya saat melihat Sharin menerima hadiah roti sobek darinya nanti.
“Aku yakin, kau akan mengucapkan terima kasih dan mengukir senyuman yang cukup indah nanti. Bukan hanya rotinya saja yang aku beli. Jika kau ingin, aku juga bisa membeli tokonya dan mengganti nama pemiliknya atas namamu, Sharin.” Biao merasakan ketenangan setiap kali menyebut nama Sharin di bibirnya.
Biao terus saja melamun dengan senyuman indahsambil membayangkan wajah cantik Sharin. Hingga beberapa menit kemudian, suara high heels terdengar dengan begitu jelas. Biao mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. Pria itu mematung beberapa detik saat melihat penampilan Sharin sore itu.
Gaun hitam tanpa lengan menjuntai ke bawah sampai mata kaki. Walaupun gaun itu menutupi indahnya kaki jenjang mulus Sharin di dalamnya. Tapi, tetap saja memberikan kesan seksi bagi pemiliknya. Bentuk gaun itu benar-benar pas dengan lekuk tubuh Sharin yang mungil. High Heels tinggi berwarna hitam juga menunjang penampilan Sharin agar wanita itu terlihat sedikit tinggi. Di bagian atas gaun ada hiasan pernak pernik berwarna hitam yang terjatuh bebas hingga ke bagian bawah dada.
“Apa ini juga jelek?” tanya Sharin sambil menundukkan kepala untuk memeriksa kembali penampilannya saat itu.
“Tidak,” jawab Biao sambil membuang tatapanya dengan hati berbunga-bunga.
“Kau bahkan sangat-sangat cantik saat ini, Sharin,” gumam Biao di dalam hati.
“Tuan, apa ada yang kurang dari penampilan Nona ini?” tanya sang pemilik butik sambil memeriksa kembali gaun yang di kenakan oleh Sharin.
Biaoo berpura-pura melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya, “Aku sudah terlambat. Gaun ini saja sudah sangat cocok untuk wanita seperti dia.”
“Wanita seperti dia? Emang dia pikir aku ini wanita seperti apa?” gumam Sharin di dalam hati sambil memajukan bibir mungilnya ke depan.
“Terima kasih, Presdir Bo. Terima kasih, Nona.” Pemilik butik itu membungkukkan tubuhnya berulang kali dengan senyuman ramah.
Biao memutar tubuhnya sebelum melangkah pergi meninggalkan butik mewah itu. Dengan langkah lambat, Sharin mengikuti Biao dari belakang. Wanita itu cukup kesulitan untuk berjalan karena high heels yang di pilihkan untuknya berukuran cukup tinggi.
Biao masuk lebih dulu ke dalam mobil. Pria itu mengukir senyuman kecil saat melihat Sharin berjalan menuju mobil, “Aku sangat mencintaimu, Sharin. Tingkah lucumu itu membuat rasa cintaku bertambah setiap detiknya.”
Sharin menatap beberapa orang yang kini memperhatikannya. Wanita itu berjalan sambil menunduk. Ada rasa malu karena tatapan semua orang sore itu.
“Presdir Bo. Awas saja kau. Aku akan menyiapkan sesuatu yang menarik untukmu. Lihat saja nanti. Apa kau pikir aku tidak berani membuatmu kesal!” umpat Sharin di dalam hati dengan wajah dipenuhi emosi.
Supir yang mengemudikan mobil telah berdiri di samping mobil. Membuka pintu mobil untuk Sharin. Pria itu tersenyum ramah saat Sharin mau masuk ke dalam mobil.
“Lama sekali,” celetuk Biao dengan ekspresi dingin favoritnya.
“Aku kesulitan berjalan karena sepatunya terlalu tinggi,” protes Sharin tanpa peduli dengan jabatannya.
Biao melirik ke arah sepatu yang kini di kenakan Sharin. Pria itu membungkukkan tubuhnya lalu menarik kaki Sharin secara paksa.
“Hei, apa yang mau kau lakukan.” Sharin menutup mulutnya dengan tangan. “Maksudku, Presdir Bo. Apa yang mau anda lakukan?”
Biao melepas sepatu yang saat itu dikenakan oleh Sharin. Walau hanya jalan beberapa meter saja, sepatu itu sudah menyisakan bekas kemerahan di kaki Sharin.
“Kau pergilah masuk ke dalam. Katakan untuk mengganti sepatu Sharin dengan yang lain.” Perintah Biao pada supirnya. Biao melempar sepatu yang sempat dikenakan Sharin ke jok depan.
“Jangan,” ucap Sharin cepat.
“Ada apa? Sepatu ini sudah membuatmu kesakitan.” Biao mengerytikan dahi.
“Tapi aku suka sepatunya,” ucap Sharin dengan suara yang cukup pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
Biao menghelas napas, “Terserah kau saja.” Ia kembali duduk pada posisinya semula, “Jalan,” perintah Biao singkat.
Terima kasih buat yang uda bagi Koin...😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Vera
roti sobek 🤣🤣
2021-04-11
0
Mira
roti sobek🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
2021-02-23
0
al - one ' 17
penguasa amerika neh biao
2021-02-01
0