“Presdir Bo yang terhormat, bukan seperti itu maksud saya,” ucap Sharin sambil mengukir senyuman terpaksa.
“Lalu?” jawab Biao singkat.
“Saya hanya ingin membantu anda untuk-”
“Membantu kau bilang? Apa kau lupa kalau ini semua kesalahanmu, Sharin!” sambung Biao cepat. Pria itu tidak mau memberi Sharin kesempatan untuk bicara. Karena ia tahu, kalau setiap kata yang di ucapkan Sharin bisa membuatnya kalah saat berdebat.
“Terserah anda sajalah, Presdir,” ucap Sharin sambil membuang tatapannya keluar jendela. Wanita itu tidak lagi peduli dengan kata-kata yang diucapkan oleh Biao. Bahkan hukuman apapun yang akan diberikan oleh Biao nantinya akan ia terima dengan ikhlas.
“Ya Tuhan. Apa dosa yang sudah aku perbuat hingga bertemu dengan orang seperti ini,” gumam Sharin di dalam hati.
Biao menarik napas. Pria itu juga membuang tatapannya ke arah jendela kaca. Namun tatapannya berbeda dengan Sharin. Ada rasa lega di dalam hati Biao karena berhasil menang dari Sharin hari ini. Sedangkan Sharin. Wanita itu membuang tatapannya dengan wajah campur aduk yang sudah tidak bisa di ungkapkan lagi.
***
S.G. Group Kota Sapporo.
Tama tertawa terbahak-bahak di meja kerjanya. Pria itu sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi keponakannya itu saat Biao mengerjainya. Memang sejak awal, Tama telah mendukung hubungan mereka. Namun, Tama juga sudah memperingati Biao sebelumnya. Kalau keponakan cantiknya itu masih ingin bermain-main. Tidak akan semudah itu untuk membujuk Sharin menikah. Kecuali hatinya memang sudah ingin untuk menikah.
“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau tertawa seperti itu?” Anna muncul di ruang kerja Tama. Wanita itu kini juga bekerja di S.G. Group sesuai dengan permintaan Tama. Tentu saja sangat mudah bagi Tama untuk memindahkan istrinya ke kantor tempatnya bekerja. Secara, pimpinan tertinggi tempat istrinya bekerja adalah Kenzo.
“Sharin dan Biao,” jawab Tama sambil mengukir senyuman manisnya.
“Apa Biao ada di Amerika untuk mengejar Sharin.” Anna duduk di atas pangkuan suaminya. Kepalanya sengaja ia jatuhkan di dada bidang Tama dengan manja, “Sebenarnya apa yang terjadi? Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana hubungan pria es itu dengan keponakan kita.”
Tama mengecup pucuk kepala Anna sambil tersenyum, “Apa kau ingin mendengar ceritanya, Sayang?”
Anna mengangguk pelan tanpa mengeluarkan kata.
Beberapa bulan sebelum Biao ada di Amerika.
Biao duduk di meja kerjanya dengan tatapan yang tidak terbaca. Pria itu baru saja mendapat informasi dari anak buahnya kalau ada satu pria yang berusaha mendekati Sharin. Ingin sekali detik itu juga ia datang menemui pria itu dan memberinya pelajaran.
“Apa dia benar-benar sudah melupakanku?” ucap Biao dengan wajah patah hati. Tubuhnya bersandar dengan dua tangan menutupi wajah. Tiba-tiba saja Tama masuk ke dalam ruangan Biao. Pria itu mengukir senyuman sebelum duduk di depan meja sahabatnya.
“Apa yang kau pikirkan?” ucap Tama sambil meletakkan berkas yang baru saja ia bawa.
“Keponakanmu!” celetuk Biao asal saja.
Tama tertawa terbahak-bahak, “Sudah hampir 4 bulan berlalu. Apa kau tidak bisa melupakan keponakanku itu? Sebaiknya kau cari wanita lain saja. Tidak akan mudah mendapatkannya. Di tambah lagi, kau berpikiran untuk serius. Sedangkan Sharin, aku sangat paham karakternya. Ia tidak akan mau menikah secepat itu.” Tama bersandar sambil memandang wajah Biao.
“Aku suka dengan wanita yang penuh tantangan,” jawab Biao sambil membenarkan posisi duduknya, “Tama, kau pria yang sangat cerdas. Pikirkan sebuah ide agar aku bisa berada di dekat Sharin.” Biao menatap wajah Tama dengan seksama. Berharap Tama bisa membantunya saat ini.
Tama terlihat berpikir beberapa saat. Pria itu mengukir senyuman penuh arti sebelum menceritakan ide yang ia miliki, “Apa kau benar-benar ingin berada di dekat Sharin?” tanya Tama untuk kembali memastikan.
“Ya, apa kau sudah memiliki ide?” tanya Biao dengan wajah penuh semangat.
Tama mengangguk dengan penuh keyakinan. Pria itu kembali ingat dengan perkataan Tuan dan Ny. Edritz malam itu. Apa saja yang akan di minta oleh Biao akan mereka kabulkan. Bahkan jika Biao menginginkan posisi yang sama dengan Daniel. Tama sangat yakin, kalau sahabatnya itu tidak tahu soal ini.
“Ayo kita temui Tuan Daniel,” ucap Tama sambil beranjak dari duduknya.
Wajah Biao berubah saat mendengar nama Daniel disebutkan saat itu. Ia tidak mau Daniel tahu soal hubungan percintaannya yang terkesan memalukan itu. Bagaimanapun juga, Biao menjunjung tinggi harga dirinya di depan Daniel.
“Tidak, aku tidak mau!” tolak Biao sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Tidak mau? Apa kau tidak serius dengan Sharin? Jika kau sama seperti Sharin yang hanya main-main saja, aku tidak perlu repot-repot membantumu.” Tama menghela napas sambil menatap Biao untuk menunggu keputusan terakhir pria itu.
“Apa rencanamu, Tama?” tanya Biao dengan wajah penuh selidik.
“Jika kau ingin berada di dekat Sharin, sudah pasti kau harus berada di negara yang sama dengannya. Kita buka cabang besar di Amerika, sebaiknya kau ada di gedung itu sebelum Sharin tamat kuliah. Kita akan menawarkan pekerjaan untuk Sharin setelah tamat, agar ia mau bekerja di perusahaan S.G. Group yang sama denganmu di Amerika.”
Biao mengukir senyuman saat mendengar ide brilian sahabat terbaiknya itu. Namun, pria itu tidak tahu kalau posisi yang akan ia pegang adalah posisi yang sama dengan Daniel.
“Baiklah. Ayo kita temui Tuan Daniel. Aku akan meminta ijin kepada Tuan Daniel untuk pindah kerja di gedung S.G. Group yang ada di Amerika.” Biao beranjak dari duduknya. pria itu terlihat sangat bersemangat. Sedangkan Tama, mengukir senyuman sebelum mengikuti Biao dari belakang.
Di ruangan Daniel.
Tama dan Biao duduk di depan meja kerja Daniel dengan wajah tersenyum. Kedua pria itu terlihat sangat mencurigakan. Daniel sangat paham kalau kini kedua tangan kanannya itu pasti akan meminta sesuatu padanya.
“Apa yang ingin kalian katakan?” ucap Daniel tanpa mau berbasa-basi.
Biao menyentuh tangan Tama. Pria itu menyerahkan semuanya kepada sahabat yang ia percaya.
“Begini, Tuan. Saya mau membahas soal proyek kita di Amerika. Bukankah setelah di London berhasil, anda berniat untuk membuka cabang besar di Amerika,” ucapan Tama terhenti. Pria itu juga terlihat sedikit bingung dengan arah pembicarannya.
“Sudah dalam pelaksanaan. Akan segera selesai dalam waktu dekat,” ucap Daniel sambil memandang wajah Biao dan Tama secara bergantian.
“Tuan, pemimpin di S.G. Group belum di tentukan. Siapa Presdir yang akan memimpin di tempat itu. Saya merekomendasikan Biao untuk mengisi jabatan itu.”
“Apa?” celetuk Biao kaget. Pria itu tidak pernah menyangka kalau Tama akan seberani itu hingga meminta jabatan yang setara dengan Daniel.
Daniel mengangkat satu alisnya, “Terserah kalian saja,” jawab Daniel dengan ekspresi biasa saja.
Biao tertegun kaget, “Tuan, maafkan kami, Tuan. Kami tidak bermaksud lancang seperti ini.” Biao menatap wajah Tama dengan sebuah kode agar pria itu mau meminta maaf kepada Daniel.
“Apa kau tidak sanggup dengan tanggung jawab itu, Biao?” tanya Daniel dengan wajah serius.
“Saya?” Biao menunjuk wajahnya sendiri. Pria itu menelan salivanya dengan jantung berdebar cepat, “Saya sanggup, Tuan. Hanya saja-”
“Ok. Tidak ada masalah. Tama, urus semuanya.” Daniel memandang jam yang melingkar di tangannya, “Aku ingin menemui keluarga kecilku di rumah.” Daniel pergi meninggalkan Biao dan Tama yang masih duduk di dalam ruangan kerjanya.
Biao beranjak dari duduknya dengan tatapan tidak suka, “Apa yang sudah kau lakukan?” protes Biao sambil mengeryitkan dahi.
“Hanya ini cara agar kau bisa mendekati Sharin. Apa kau mau bekerja sebagai karyawan biasa? Apa hak yang akan kau miliki untuk mengendalikan wanita cerdas seperti Sharin?” Tama menatap wajah Biao dengan tatapan yang gak kalah serius.
Biao terdiam untuk mencerna setiap kata yang diucapkan Tama. Semua yang di ucapkan sahabatnya memang benar. Jika bukan dengan jabatan itu, maka Biao tidak akan bisa dengan mudah mengendalikan Sharin.
“Ya sudah. Berlatihlah mulai dari sekarang menjadi seorang presdir,” ucap Tama sambil menepuk pundak Biao “Aku ingin menemui Anna.”
***
Anna tertawa terbahak-bahak mendengar cerita singkat suaminya. Wanita itu tidak pernah menyangka kalau sampai seperti itu usaha Biao untuk mengejar cinta seorang gadis seperti Sharin.
“Aku selalu berdoa agar hubungan mereka baik-baik saja.” Tama membayangkan wajah Sharin dan Biao yang kini gak tahu sudah sampai tahap apa.
“Aku yakin, kalau Biao pasti bisa mendapatkan hati Sharin,” ucap Anna sambil memeluk tubuh Tama.
Hai reader... author baru pulang. jadi baru aja mulai ngetik. kemungkinan novel moving on tidak update tepat waktu. Gak tau juga siap jam brp. Mohon bersabar ya.
Saran aku tidur aja dulu, jangan di tunggu🤭. Terima kasih😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
indah_kajoL
biooooo semoga berhasillll
2021-11-23
0
Maia Mayong
Bru z nanya Tama . dah muncul .
Tama n biao trpisah skrg . demi mngejar sharin
2021-08-31
0
Yuliana Hwi
Tama emang sahabat sejati😍😍
2021-01-16
0