Bab 11

Biao duduk sambil memeriksa beberapa laporan yang ada di atas meja. Wajahnya tampak sangat serius. Suasaa hatinya jauh lebihtenang jika dibandingkan hari-hari sebelumnya. Cukup beberapa jam saja bersama wania yang ia cintai sudah bisa membuat semangat dalam dirinya tumbuh. Sesekali saat bayangan Sharin kembali muncul Biao mengukir senyuman manis.

Biao mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat dengan ruang kerjanya. Dari suara jejak kakinya saja Biao sudah tahu kalau itu jejak seorang pria. Suara pintu terbuka mengalihkan tatapan matanya. Lelaki itu menatap sekilas ke arah pintu sebelum melanjutkan pekerjaannya. Sepertinya ia tidak terlalu tertarik dengan tamu yang baru saja datang.

“Selamat pagi, Presdir Bo,” ucap Walker dengan tatapan meledek.

Beberapa berkas yang ada di tangannya ia letakkan begitu saja di atas meja kerja Biao. Walker berjalan ke arah meja bar mini yang ada di ruang kerja Biao. Membuat segelas kopi dengan bibir tersenyum penuh arti. Ia membuat satu gelas kopi juga utuk Biao. Pria itu duduk di atas kursi sambil memandang ke arah Biao berada.

“Gadis itu cukup cantik,” ucap Walker sebelum mencicipi kopi buatannya.

Biao melirik sekilas tanpa kata. Menutup berkas hasil pekerjaannya dan beranjak dari kursi. Dengan wajah tenang Biao duduk di samping kursi yang di duduki Walker.

“Kenapa kau kembali. Bukankah kau seharusnya mengurus masalah yang ada di London?” Biao meraih kopi buatan Walker. Mencicipinya dengan seksama.

“Tama mengirimku untuk menemanimu di sini. Bukankah keponakan cantiknya itu sangat pintar dalam bidang IT. Sekali ketik saja mungkin ia berhasil mengetahui kebohonganmu.” Walker tertawa kecil dengan tatapan meledek.

Biao mengukir senyuman sebelum meletakkan gelas kopi kembali ke atas meja, “Itu tugasmu. Tama mengirimmu ke sini tidak untuk menjadi penonton.”

Walker tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan Biao, “Aku akan menghalangi Sharin untuk meretas data yang kau miliki. Tenang saja. Aku ada di pihakmu, Biao.” Walker menepuk pundak Biao dengan senyuman yang cukup indah.

Walker sahabat Tama saat masih di bangku kuliah. Pria itu memiliki bakat yang sama dengan apa yang dimiliki Sharin. Tama sangat khawatir jika keponakan cantiknya itu akan menyelidiki kebohongan Biao. Hingga secara khusus Tama mengirim Walker untuk membantu Biao dalam memperjuangkan cintanya.

“Tapi sejauh ini aku belum melihatnya menyelidiki tentangmu. Sepertinya ia cukup percaya dengan kebohongan yang kau buat.” Walker meletakkan kembali gelas yang sempat ada di tangannya.

“Sangat sulit untuk berbohong di depan wanita itu,” jawab Biao sambil membayangkan wajah cantik Sharin.

“Tapi Biao. Kau juga harus bergerak cepat.” Walker menatap wajah Biao dengan seksama. Tatapannya cukup serius hingga membuat lawan bicaranya menyimpan sejuta tanya.

“Apa maksudmu?” Biao mengeryitkan dahi menatap curiga kepada pria yang duduk di hadapannya.

“Aku akan merebut Sharin jika kau bergerak terlalu lama. Wanita itu benar-benar cantik dan mena-”

Belum sempat Walker menyelesaikan kalimatnya, Biao lebih dulu menarik kerah baju pria itu, “Awas saja kalau kau berani. Aku tidak akan peduli walau kau sahabat Tama sekalipun. Jika kau merebutnya maka aku akan membunuhmu.” Biao menghempaskan tubuh Walker.

“Kau pria yang cukup mengerikan. Kenapa Tama bisa memiliki sahabat sepertimu.” Walker merapikan kemeja yang terlihat cukup berantakan akibat ulah Biao.

Biao menatap wajah Walker dengan seksama, “Bahkan memikirkannya saja kau tidak boleh.”

“Ok. Ok. Aku akan mencari wanita lain. Hanya memikirkannya saja akan jadi masalah. Bagaimana mungkin aku berani menyentuhnya.” Walker berjalan pergi meninggalkan ruangan Biao dengan wajah kesal.

Sedangkan Biao masih duduk di meja bar mini miliknya dengan tatapan tidak terbaca, “Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama lagi untuk mendapatkannya. Tapi, bagaimana caranya agar aku bisa tahu perasaannya selama ini.” Biao menopang wajahnya dengan tangan.

Wajahnya terlihat berpikir keras untuk memikirkan cara mendapatkan hati Sharin. Bukan hanya Walker. Kemungkinan akan ada banyak saingan yang akan mengalahkannya untuk merebut Sharin. Walau jabatannya cukup tinggi saat ini, tapi wanita yang sedang ia kejar bukan tipekal wanita penggila harta.

“Sepertinya aku harus meminta bantaun Tama lagi soal ini,” ucap Biao sebelum beranjak dari kursinya. Ia ingin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda akibat kunjungan mendadak Walker.

***

Di dalam lift. Walker merapikan penampilannya di depan cermin yang kini mengelilingi lift. Wajahnya terlihat cukup kesal mendapat prilaku buruk Biao beberapa saat yang lalu.

“Apa hebatnya mengejar wanita seperti itu. Usianya bahkan baru saja menginjak 21 tahun. Wajahnya terlalu polos. Akan sangat merepotkan menghadapi wanita seperti itu,” umpat Walker dengan suara keras. Pria itu benar-benar merasa sangat menyesal karena mau membantu Tama.

Sejak dulu ia tidak tahu bagaimana sikap Biao. Satu hal yang pernah ia tahu tentang Biao, kalau pria itu cukup kejam dan sangat mudah membunuh lawannya. Walker tidak terlalu serius dengan semua perkataan Tama saat itu. Sampai detik ini ia berhadapan langsung dengan Biao dan mengetahui sikap asli Biao yang begitu menyeramkan.

Pintu lift terbuka. Walker berjalan cepat menuju ke arah ruangannya. Di tengah jalan Sharin menghentikan langkahnya untuk memberi laporan yang harus di tanda tangani oleh Walker.

“Letakkan di atas meja,” ketus Walker sebelum melanjutkan langkah kakinya. Pria itu benar-benar tidak berani untuk menatap wajah Sharin. Ia tidak mau celaka hanya gara-gara seorang wanita.

Sharin berdiri dengan wajah bingung, “Padahal beberapa menit yang lalu ia cukup ramah dan bersahabat,” ucap Sharin dengan wajah bingung.

Dengan wajah ragu-ragu, Sharin mengikuti langkah Walker dari belakang. Bahkan mengikutinya hingga masuk ke dalam ruangan pribadi pria berstatus atasannya itu. Walker memutar tubuhnya sambil memandang Sharin dengan seksama.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengikutiku?” protes Walker tidak terima.

“Maaf, Tuan. Tadi anda menyuruh saya untuk meletakkan berkas ini di meja kerja anda.” Sharin menunduk sambil menatap berkas yang ia bawa.

“Letakkan di situ dan segera pergi,” perintah Walker tanpa mau memandang wajah Sharin.

Sharin meletakkan berkas itu dengan hat-hati. Tubuhnya menunduk sedikit sebelum berpamitan dengan atasannya, “Saya permisi dulu, Tuan.”

Dengan gerakan cepat Sharin pergi meninggalkan ruangan itu. Ia tidak ingin terjebak di dalam masalah lagi. Walaupun di dalam hati Sharin masih bingung melihat perubahan sikap atasannya itu.

“Dua hari ini aku bertemu dengan pria-pria aneh. Yang satu bersikap sangat menyeramkan namun berakhir dengan kelembutan. Dan yang ini, berawal dari kata ramah berakhir dengan wajah menyeramkan. Sepertinya aku harus berlibur akhir pekan agar bisa menyegarkan pikiranku yang kacau ini,” gumam Sharin di dalam hati sambil berjalan dengan cepat menuju ke arah meja kerjanya.

Author up-nya nyicil ya..nanti sore 1 lagi🤣

Terpopuler

Comments

Marhaban ya Nur17

Marhaban ya Nur17

wkwkkw

2022-04-08

0

indah_kajoL

indah_kajoL

duhhhhhhh 😂😂

2021-11-24

0

Citrasari Dwi

Citrasari Dwi

novelnya bagus dan keren banget

2021-07-16

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!