Sharin berjalan dengan langkah kaki yang sangat cepat untuk mengimbangi langkah Biao. Beberapa berkas sudah ada di genggamannya. Wanita itu terlihat sangat kesulitan saat membawa berkas-berkas itu bersamaan dengan tas, botol minum dan berkas kerja miliknya.
Biao melirik Sharin sekilas saat mereka berdua sudah ada di dalam lift. Di dalam hati, Biao sangat ingin membantu wanita itu agar tidak kesulitan. Tapi, ia juga tidak mau penyamarannya terbongkar. Sedikit saja hal ceroboh yang ia lakukan, maka akan berdampak besar dengan rencana yang sudah ia atur.
Biao berdehem sedikit kuat seolah tenggorokannya sedang kering. Pria itu memegang tenggorokannya seperti orang yang sedang kehausan. Melihat Biao seperti itu, Sharin melirik botol minum yang ada di tangannya. Bukan mala memberi botol minum itu pada Biao, Sharin justru menyembunyikan botol minum itu.
“Apa dia ingin meminta minumku? Tidak bisa. Aku tidak mau bibirnya melekat di botol minum ini. Bukankah ini sama saja kami sudah berciuman karena minum di tempat yang sama?” gumam Sharin di dalam hati. Wanita itu membuang tatapan matanya seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi dengan pria di sampingnya saat itu.
“Sial! Aku sudah berbaik hati memberinya kode agar ia mau memberiku botol minum itu. Tapi, ia justru menyembunyikannya dan memasang wajah tidak peduli. Dasar bocah menyebalkan!” gumam Biao dalam hati. Pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Memasang wajah yang sama dengan Sharin. Wajah tidak peduli.
Pintu lift terbuka. Biao menahan langkah kakinya. Pria itu kembali ingat dengan ciuman pertamanya dan Sharin yang pernah terjadi. Ada senyuman kecil di sudut bibir Biao sore itu. Sedangkan Sharin, dengan cepat wanita itu berjalan keluar dari lift. Tidak terlalu peduli dengan Biao di belakang. Walaupun kini jabatannya seorang bawahan.
Biao memandang sekeliling lantai satu. Kantor itu sudah terlihat sunyi. Hanya ada beberapa security yang berjaga. Dengan langkah cepat dan cukup tenang, Biao berjalan menuju ke arah pintu keluar.
Sharin melirik Biao dengan wajah sangat kesal, “Bahkan dia tidak memberi tahuku saat ini harus bagaimana. Naik apa? dengan siapa? Kemana tujuannya,” umpat Sharin di dalam hati. Wanita itu hanya mengikuti langkah kaki Biao tanpa tahu kemana tujuan mereka pergi hari ini.
Di depan gedung S.G. Group, mobil berwarna hitam mengkilat sudah terparkir dengan sangat rapi. Ada dua pengawal yang sudah membukakan pintu untuk Biao dan Sharin.
“Masuklah,” perintah Biao tanpa mau memandang. Pria itu dengan santainya masuk ke dalam mobil.
Sharin masih berdiri di depan mobil dengan pintu yang terbuka. Hati dan pikirannya masih menolak keras atas perintah yang kini ia terima.
“Apa kau mau membuat pertemuanku menjadi terlambat,” teriak Biao dari dalam mobil.
“Maaf, Presdir,” ucap Sharin cepat. Wanita itu juga menuruni anak tangga dan masuk ke dalam mobil. Ia duduk dengan posisi nyaman tepat di samping Biao.
“Jalan,” perintah Biao singkat.
Sharin menghela napas dengan tatapan bingung. Baginya duduk di dalam mobil yang sama dengan seorang pimpinan tertinggi seperti sebuah mimpi buruk. Mobil itu melaju dengan cepat meninggalkan gedung S.G. Group.
Beberapa menit kemudian.
“Apa kau sudah memeriksanya?” ucap Biao pelan.
“Periksa?” ucap Sharin dengan wajah bingung.
“Berkas yang kau bawa,” ucap Biao cepat.
“Eh, iya. Ini mau saya periksa, Presdir Bo.” Sharin membuka berkas yang ada di atas pangkuannya. Kedua matanya melebar dengan tatapan tidak terbaca. Berulang kali Sharin membuka berkas yang ada di pangkuannya.
“Apa-apaan ini. Kenapa isi berkas ini hanya kertas kosong. Lalu apa yang harus di periksa. Apa aku salah ambil?” Sharin memejamkan mata untuk kembali mengingat apa yang sudah terjadi, “Tidak! Aku tidak salah. Memang ini berkas yang ada di atas meja. Tapi, mana isi perjanjiannya?” gumam Sharin di dalam hati.
Biao memandang keluar jendela dengan bibir tersenyum. Pria itu sudah berhasil mengerjai Sharin sore ini. Ingin sekali saat itu Biao tertawa lepas saat melihat wajah panik yang ada pada Sharin.
“Hmm, Presdir.” Sharin mengeluarkan kata dengan nada takut-takut.
Biao kembali mengatur ekspresi wajahnya sebelum memandang wajah Sharin, “Ada apa?” ketus Biao seolah tidak tahu.
“Ini ... hm, berkasnya ini,” ucapan Sharin terhenti, “Kenapa susah sekali untuk mengatakannya,” gumam Sharin di dalam hati.
"Ada apa?” ucap Biao dengan nada penuh penekanan.
“Sepertinya berkasnya kosong. Bukan bukan, maksud saya sepertinya saya salah ambil berkas.” Sharin menundukkan kepalanya dengan wajah sangat takut.
Biao mengangkat satu alisnya, “Salah ambil kau bilang?”
“Maaf, Presdir Bo. Maafkan Saya,” ucap Sharin sambil menutup wajahnya dengan berkas yang ada di genggamannya.
Biao mengeryitkan dahi saat melihat Sharin ketakutan dan berusaha menutupi wajahnya.
“Apa dia pikir aku akan memukulnya?” gumam Biao di dalam hati.
Biao menarik berkas yang menutupi wajah Sharin. Pria itu menatap wajah Sharin dengan tatapan yang sangat tajam, “Apa kau tahu, kalau pertemuan ini sangat penting. Dengan kata maaf kau pikir bisa seimbang dengan kerugian besar yang hari ini akan di terima oleh S.G. Group?”
Napas Sharin seakan terasa sesak. Wanita itu tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Tidak mungkin ia menyalahkan pria yang kini ada di hadapannya. Bagaimanapun jabatannya yang paling rendah saat ini.
“Maafkan saya, Presdir. Jika anda menyimpan data ini di laptop anda saya akan membuat salinannya secepatnya,” ucap Sharin memberi solusi.
“Datanya di dalam laptop kantor,” ucap Biao sambil membuang tatapannya.
“Beri tahu saya alamat emailnya. Saya janji, dalam waktu lima menit akan mendapatkan salinan yang sama, Presdir,” ucap Sharin dengan penuh keyakinan.
Biao terlihat bingung saat itu. Ya, untuk hal seperti itu tentu saja sangat mudah untuk Sharin. Memang itu hobinya sejak dulu. Meretas data orang lain asalkan ia tahu alamat email sang pengguna.
“Sial! Kenapa aku sampai lupa kalau wanita ini cukup cerdas. Jika dia berhasil menguasai laptopku bisa ketahuan semuanya.” Biao terlihat berpikir keras untuk mencari alasan lainnya.
“Presdir Bo, apa anda mendengarkan saya?” tanya Sharin sambil memandang Biao dengan seksama.
“Apa kau mau mencuri aset perusahaan?” teriak Biao dengan wajah seolah-olah marah.
“Karyawan lancang sepertimu memang harus di beri hukuman.”
“Mencuri aset?” celetuk Sharin dengan wajah tidak percaya.
“Ya. Aku tahu ini adalah teknikmu untuk melihat aset perusahaan bukan? Setelah kau berhasil mengetahuinya maka kau akan menjualnya kepada perusahaan lain,” tuduh Biao dengan alasan asal dapatnya.
Sharin menepuk dahinya dengan tangan. Detik itu ia menyerah menghadapi kelakuan pria yang ada di hadapannya. Tidak terpikirkan di dalam hatinya detik ini kalau Biao akan berpikir hingga sejauh itu. Memang tuduhan Biao ada benarnya. Semua akses perusahaan pasti ada di dalam laptop sang pimpinan tertinggi. Maka dari itu, alasan Biao kali ini lagi-lagi berhasil mengelabui Sharin.
“Jika memang niatku seperti itu, sudah dari dulu aku bisa melakukannya. Kenapa harus mulai dari sekarang,” gumam Sharin di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
indah_kajoL
duhhhh udah nyengirrr senyummmm senyum sendiriiii
lanjuddddd
2021-11-23
0
☆chika
dalam pemikiran biao.
kalau sharin ini pelit.
air pun tak mau bagi 🤭🤭
lucu nya sih sharin
2021-08-21
0
Anissahri Ramadhanii
aduuh Thor
klepek-klepek aku baca novel mu
2021-02-14
0