“Senyuman dan tawamu telah menjerat hatiku. Pesona seindah apapun tidak akan membuatku terpikat lagi. Hanya kamu dan kamu yang aku harapkan. Tidak cukup untuk detik ini. Aku ingin di sisa waktu yang aku miliki selalu ada namamu.”
Biao memandang wajah cantik Sharin sambil tersenyum dengan wajah berseri. Setelah masuk ke dalam mobil, wanita itu terlihat kelelahan hingga tertidur saat mendapatkan posisi yang nyaman. Kedua tangannya berada di atas pangkuan. Sepatu high Heelsnya juga sudah terlepas karena terlalu lelah.
“Kau terlihat semakin cantik jika sudah tidur seperti ini, Sharin.” Biao mengusap lembut pipi Sharin. Ingin sekali detik itu ia menarik tubuh Sharin ke dalam dekapannya. Ia ingin mengusap lembut punggung dan rambut wanita itu. Tapi, semua itu tidak bisa ia lakukan. Biao harus lebih bersabar lagi untuk mengatur kerinduan yang kini bergejolak di dalam hatinya.
Mobil yang dikemudikan supir Biao menembus jalanan yang dipenuhi pantulan cahaya warna-warni. Walau jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam, tapi kota San Fransisco masih terlihat ramai. Beberapa di antaranya masih berada di pinggiran jalan walau hanya sekedar berkumpul.
Tiba-tiba saja hati Biao kembali merindukan kota Sapporo. Bukan hanya sebagai kota kelahiran bagi Biao. Sapporo juga merupakan kota yang menjadi saksi mati untuk liku-liku kehidupan yang pernah ia alami selama ini.
Di jalanan kota yang kejam itu ia tumbuh. Tanpa mengenal kasih sayang maupun cinta. Bahkan dirinya yang dulu sangat membenci wanita. Uluran tangan Ny. Edritz yang membuat Biao tersadar kalau tidak semua wanita jahat. Tidak semua wanita tidak memiliki hati dan perasaan.
“Presdir Bo, kita sudah sampai.”
Lamunan Biao pecah saat supir yang duduk di depan mengeluarkan kata. Dengan seksama, Biao memandang lokasi apartemen sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggal Sharin. Ada rasa ragu di dalam hati Biao untuk membiarkan wanita yang ia cintai masuk kedalam. Bukan hanya lingkungannya yang tidak cukup menyakinkan. Tetapi, beberapa pria dan wanita yang berlalu lalang terlihat tidak bersahabat.
“Apa kita sudah sampai?” ucap Sharin sambil mengucek kedua bola matanya. Dengan seksama, ia memperhatikan lokasi tempat ia tinggal selama ini.
“Kau tinggal di sini?” tanya Biao sambil mengeryitkan dahi.
Sharin mengangguk, “Sejak kuliah aku tinggal di sini. Selain murah, tempat ini juga dekat dengan kantor.” Wanita itu menyeringai bahagia.
Biao mengangkat satu alisnya. Dengan gerakan cepat, ia mengambil bungkusan roti yang ada di jok depan. Meletakkan tumpukan roti itu di atas pangkuan Sharin.
“Apa ini, Presdir Bo?” Sharin terlihat bingung saat melihat tumpukan plastik yang kini memenuhi tubuhnya.
“Roti sobek. Aku tidak tahu kau suka rasa apa. Jadi aku membeli semua rasa yang di jual di toko itu.” Biao membuang tatapan matanya keluar jendela.
Sharin kembali mengingat perihal roti sobek. Wanita itu menahan tawa saat berhasil mengingat kebohongan yang ia buat di butik. Tidak pernah menyangka sebelumnya kalau masalah roti sobek bisa mendapat tanggapan seserius ini oleh Presdir tempatnya bekerja.
“Terima kasih, Presdir Bo. Anda pria yang baik.”
“Apa aku sudah baik seperti pria yang ada di Sapporo itu?” tanya Biao tanpa memandang.
“Eh?” Sharin termenung beberapa detik, “Maksud anda Paman tampan?”
“Hanya pria itu yang selalu kau hubungkan dengan sikapku,” jawab Biao asal saja.
“Kenapa dia sangat ingin menjadi seperti Paman tampan. Wajah mereka saja sudah sangat mirip. Bagaimana kalau ia bener-bener memiliki karakter yang sama dengan paman tampan,” gumam Sharin di dalam hati.
“Sharin, apa kau masih mendengarkanku?” Biao menatap wajah Sharin dengan seksama.
Sharin mengukir senyuman kecil, “Sudah sangat malam. Saya mau masuk dulu, Presdir Bo. Anda hati-hati di jalan.” Sharin mengambil tas dan tumpukan roti yang ada di pangkuannya.
“Sharin, masuklah. Aku akan pergi setelah kau masuk ke dalam,” ucap Biao sambil menatap Sharin dari dalam mobil.
“Terima kasih, Presdir Bo.” Sharin memutar tubuhnya. Malam itu Sharin merasa sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Rasa nyaman dan debaran yang tidak lagi normal itu memenuhi pikirannya saat ini.
“Berada di dekat Presdir Bo aku merasa sedang berada di samping paman tampan. Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Sharin di dalam hati.
Biao mengukir senyuman memandang punggung Sharin yang sudah semakin menjauh.
“Sharin. Tidak peduli siapa yang kau pilih nantinya. Satu hal pasti, kalau kau akan tetap menjadi milikku nantinya.”
Biao menutup kembali kaca mobilnya. Supir itu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke apartemen mewah yang selama ini menjadi tempat tinggal Biao.
“Aku ingin ada yang mengawasi Sharin di apartemen ini,” perintah Biao pada supir yang kini melajukan mobilnya.
“Baik, Tuan.”
“Satu lagi. Pastikan semua orang tidak ada yang memanggilku dengan sebutan Biao.”
“Saya sudah mengatur semuanya, Tuan. Anda tenang saja,” ucap supir itu.
“Kau memang bisa di percaya.” Biao mengukir senyuman.
“Tuan, untuk sahabat Nona Sharin yang bernama Amelia. Saya memiliki kecurigaan padanya.”
“Amelia?” Biao mengeryitkan dahi.
“Saya tidak menemukan identitas yang jelas tentangnya. Bahkan beberapa kartu identitas yang ia miliki memiliki nama dan alamat yang tidak sama. Apa tidak sebaiknya kita mengirim orang untuk menyelidiki masa lalu wanita itu, Tuan.” Supir itu melirik Biao melalui spion.
“Ya, kau bisa mulai penyelidikannya mulai besok.” Biao kembali menyimpan khawatir terhadap keselamatan Sharin. Ia tidak ingin Sharin dekat dengan orang-orang yang akan mencelakainya nantinya.
“Baik, Tuan.”
Supir itu menambah kecepatan mobilnya saat sudah berada di jalanan sunyi. Menembus kabut malam yang sudah memenuhi jalanan raya di tengah kota.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
LENY
masak Sherin gak ngenalin Biaou ya
2021-06-15
0
Nurul Fajriyah
amelia jgn" musuh zeorun
2021-02-28
0
Dessy Tan
adduuhhh action LG neh mah..
2021-02-17
0