Bab 17

Biao baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh polosnya hanya terlindungi oleh handuk putih yang melilit di pinggang. Tetesan air dari rambut tampak membasahi pundaknya yang cokelat. Ada handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut basahnya malam itu. Setelah setengah kering, Biao berjalan ke arah lemari. Mengambil farpum dengan aroma maskulin yang begitu khas. Menyemprotkannya di seluruh bagian tubuh.

Malam itu Biao memilih tsirt tangan panjang hijau tua dengan celana panjang berbahan katun. Setelah selesai merapikan rambut pendeknya dengan sisir, Biao berjalan menuju ke arah sofa. Makanan malam yang akan ia santap telah tersaji di atasnya. Ada kepulan asap di atas mangkuk sup ayam yang cukup menggugah selera.

Biao melahap makan malamnya dengan wajah yang cukup lelah. Setelah makan ia ingin segera tidur. Besok masih ada banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Walau menjabat menjadi Presdir, tetap saja tidak bisa membuat Biao bebas seperti Daniel.

Ada banyak tanggung jawab yang harus ia selesaikan agar perusahaan itu tidak jatuh. Berbeda dengan Daniel yang menjadi anak kandung sang pemilik saham. Berapapun kerugian yang akan ia buat tetap akan mendapat dukungan dari anak perusahaan lainnya yang telah berkembang.

Setelah menyelesaikan makan malamnya. Biao mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.

Malam ini seharusnya anak buahnya mengirim informasi terbaru tentang Sharin. Dahinya mengeryit saat melihat ponsel pintar miliknya ternyata dalam keadaan mati. Ia lupa mencarter ponselnya hingga ponsel itu mati total. Bioa beranjak dari sofa untuk mencarter ponselnya di atas balas yang ada di samping tempat tidur.

Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Biao.

Setelah meletakkan ponsel di atas nakas, Ia berjalan ke arah pintu untuk melihat tamu malamnya yang datang berkunjung. Kedua bola matanya melebar saat melihat berdiri di depan pintu. Bukan karena kehadiran pria itu. Tapi tubuh sharin yang berada di dalam gendongan walker membuat Biao panik seketika.

“Apa yang terjadi pada Sharin?” ucap Biao dengan nada meninggi dan menuduh.

“Aku menemukannya tergeletak di jalan,” jawab Walker takut-takut.

“Apa yang kau lakukan. Kenapa kau menyentuhnya!” teriak Biao tidak terima. Pria itu merebut paksa tubuh Sharin agar berpindah di dalam gendongannya.

Walker berdiri kaku dengan tatapan penuh kesal, “Bagaimana caranya aku membawa wanita ke sini jika tidak dengan cara menggendongnya. Apa kau pikir aku penyihir yang bisa membawa tubuh seseorang tanpa menyentuh?” umpat Walker yang hanya berani di dalam hati. Pria itu ikut masuk ke dalam ruangan apartemen Biao yang mewah.

Biao membawa tubuh Sharin ke dalam kamar tidur miliknya. Wajahnya benar-benar panik saat melihat wanita yang ia cintai kini menutup mata. Tubuhnya basah dan bibirnya terlihat pucat. Dengan segera Biao menghubungi Dokter agar Sharin bisa segera mendapat pertolongan.

“Apa yang terjadi padamu, Sharin?” Biao meraih tangan Sharin dan mengecupnya berulang kali. Menghembuskan udara dari mulutnya agar tangan Sharin yang dingin seperti es bisa kembali hangat.

“Kau tidak bisa mengenakan pakaian basah seperti ini!” Biao beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah lemari. Mengambil kemeja putih miliknya agar bisa menggantikan baju Sharin yang basah. Namun, langkahnya terhenti saat ia bingung memikirkan cara mengganti pakaian basah wanita itu.

“Aku tidak bisa menggantinya sendiri,” ucap Biao pelan. Pria itu berjalan menuju ke arah pintu untuk menemui Walker yang duduk di ruang tamu.

“Apa dia baik-baik saja?” tanya Walker dengan posisi bersandar.

“Suhu tubuhnya cukup tinggi. Sepertinya ia demam,” jawab Biao sambil berjalan menuju ke arah pintu.

“Kau mau kemana?” teriak Walker dari kejauhan.

“Aku mau mencari seseorang yang bisa menggantikan baju basahnya,” jawab Biao pelan sebelum menutup pintu.

Walker mengeryitkan dahi, “Kenapa tidak ia sendiri saja yang menggantikannya. Bukankah itu jauh lebih bagus,” ucap Walker dengan senyum menyeringai.

Tidak menunggu lama. Biao masuk dengan seorang wanita muda yang menjadi petugas apartemen. Karyawan apartemen itu mengukir senyuman sebelum masuk ke dalam kamar Biao.

“Cepat sekali. Dimana kau menemukan wanita cantik itu?” ucap Walker sambil membuka minuman kaleng yang ia temukan dari kulkas.

Biao tidak tertarik menjawab basa-basi Walker pada malam itu. Pikirannya dipenuhi dengan nama Sharin yang kini terbaring lemah di kamarnya. Pria itu beranjak dari sofa saat melihat wanita yang ia beri perintah keluar dari kamar. Setelah mendapat sejumlah uang dari Biao, wanita berparas cantik itu pergi meninggalkan tempat tinggal Biao.

“Sepertinya wanita itu cukup menarik. Aku harus mendapatkannya malam ini,” ucap Walker sambil beranjak dari duduknya, “Aku titipkan bawahanku kepadamu malam ini.” Pria itu memukul pelan pundak Biao sebelum berjalan menuju ke arah pintu.

Bertepatan saat Walker membuka pintu, sudah ada Dokter wanita yang berdiri di depan pintu.

“Maaf, apa benar ini kamar Presdir Bo?” tanya Dokter itu ragu-ragu .

“Ya, benar. Silahkan masuk.” Walker memandang sekilas ke arah Dokter itu sebelum pergi melanjutkan langkah kakinya.

"Permisi, Tuan." Dokter wanita itu mengukir senyuman sebelum masuk ke dalam.

“Bahkan Dokter saja ia pilih dengan Dokter wanita. Sepertinya Sharin benar-benar berharga untuk pria es itu,” gumam Walker di dalam hati.

Terpopuler

Comments

Marhaban ya Nur17

Marhaban ya Nur17

berarti se walker emang hrs punya ilmu sihir tuh supaya bisa bawa se sharin

2022-04-08

0

Mira

Mira

demi cinta biao TDK rela kekasihnya di sentuh dgn laki2 lain, aduu biaon bucinmu sungguh memabukkan🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️😆😆😆😆😆😆😆

2021-02-23

0

☆☆@bh!☆☆

☆☆@bh!☆☆

mantap biao

2021-01-09

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!