Sharin masuk ke dalam ruangan Biao dan duduk dengan posisi nyaman. Kedua bola matanya tertuju pada paper bag berwarna cokelat yang kini ada di atas meja Biao. Tidak ingin terlalu banyak tanya, Sharin hanya menatap wajah Biao dalam diam.
Alis hitam yang cukup tebal dengan hidung mancung yang menggoda. Bibir merah dengan senyuman kecil yang cukup memabukkan. Untuk kesekian kalinya, isi hatinya berontak kalau pria yang ada di hadapannya adalah paman tampan yang ia kagumi selama ini.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Biao dengan tatapan menyelidik.
Sharin menggeleng pelan dengan wajah senduh. Tiba-tiba nama Biao menyeruak di dalam hidupnya lagi. Mungkin hal itu yang membuatnya merasa jauh lebih emosional hari ini.
Biao beranjak dari kursinya. Paper bag itu ia genggam sebelum ia letakkan di depan Sharin. Tubuhnya sedikit bersandar di depan meja sambil menatap wajah sedih Sharin.
“Ini untukmu, Sharin.”
Sharin mendongakkan wajahnya sebelum beranjak dari duduknya. Tiba-tiba saja kedua tangannya melilit tubuh Biao dan membenamkan kepalanya di dalam dekapan Biao. Satu tindakan yang membuat Biao syok seketika.
“Apa kau benar-benar bukan paman tampan? Apa kau sedang berpura-pura? Tapi untuk apa kau melakukannya? Aku tahu ini dirimu Tuan Biao.”
Kalimat yang di lontarkan Sharin membuat Biao mematung seperti batu. Bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dengan ragu-ragu ia memeluk pinggang Sharin tanpa mengeluarkan kata. Memberikan tubuhnya menjadi tumpuhan kesedihan Sharin saat itu.
Sharin meneteskan air mata dengan begitu deras. Ia tidak tahu kenapa ia sangat ingin menangis di dalam pelukan atasannya yang hanya mirip itu. Padahal ia belum berhasil mengetahui kalau Presdir Bo adalah pria yang sama dengan Biao. Belum ada bukti yang menguatkan tuduhannya itu. Tapi, beberapa jam bersama dengan Presdir Bo itu sama saja baginya seperti mengingat Biao. Detik itu Sharin mulai menyadari perasaannya.
Kalau hatinya memang tidak bisa melupakan pria yang ia juluki paman tampan. Detik itu Sharin baru saja tahu, kalau hatinya telah jatuh cinta kepada Biao. Sharin menyesali penolakangnya waktu itu. Ia bahkan sangat ingin memutar kembali waktu agar bisa mengatakan kata iya kepada pria yang menjadi cinta pertamanya itu.
Biao merasakan kesedihan Sharin kini menusuk di dalam hatinya. Sejenak ia menghela napas sebelum memeluk tubuh Sharin lebih erat lagi. Bagi Biao belum saatnya untuk membongkar identitas aslinya. Ia tidak ingin Sharin pergi lagi. Sampai ia benar-benar tahu perasaan Sharin ia akan memberi tahu semuanya. Ia juga tidak ingin berlama-lama membohongi wanita yang ia cintai.
Ruangan Presdir itu terasa cukup hening. Hanya terdengar isak tangis Sharin yang lambat laun mulai hilang. Mata Sharin terpejam dengan dua tangan yang masih mengunci di pinggang pria berstatus atasannya itu. Hingga beberapa saat kemudian Sharin tersadar. Dengan segera ia menjauhkan tubuhnya dan menghapus tetesan air mata yang tersisa.
“Maaf, maafkan saya.” Sharin menekuk kepalanya hingga dapat melihat jelas sepatu yang kini ia kenakan. Berulang kali ia mengumpat di dalam hati atas perbuatan yang baru saja ia lakukan.
Biao mengangkat tangan kanannya. Jemarinya mulai menghapus sisa tetes air mata yang ada di wajah Sharin, “Kenapa kau bersedih, Sharin. Apa ada seseorang yang menyakitimu?” Wajah Biao cukup serius. Jika memang benar ada yang melukai wanitanya detik itu ia akan membunuh sang pemilik nama.
“Tidak ada. Aku hanya merindukan seseorang yang mirip dengan anda,” jawab Sharin tanpa memandang.
Biao mengangkat satu alisnya dengan wajah kurang yakin, “Apa dia merindukanku? Atau sedang menyelidikiku saat ini?” gumam Biao di dalam hati.
“Apa dia sangat penting di dalam hidupmu?” tanya Biao ragu-ragu. Sudah saatnya ia menyelidiki isi hati Sharin saat ini.
Sharin membuang tatapannya ke arah lain. Hatinya protes karena suda bertindak ceroboh. Kini justru atasannya terlihat tertarik dengan masalah pribadi yang ia miliki.
“Apa kau masih mendengarkanku, Sharin?” Di lubuk hati yang terdalam, Biao sudah mengerang dengan penuh harap. Ia ingin Sharin berkata ‘Ya’ kalau dirinya bagian terpenting di dalam hidup wanita itu.
“Apa anda tertarik dengan masalah pribadi saya saat ini, Presdir Bo?” tanya Sharin balik.
Biao berdehem pelan. Padahal ia sudah berharap besar untuk mendengar jawaban yang menyenangkan dari Sharin, “Aku hanya ingin tahu seperti apa pria yang sudah membuatmu menangis. Walau hanya mengingat namanya saja. Sepertinya pria itu cukup penting di dalam hidupmu.”
Sharin mengukir senyuman kecil saat mengingat wajah dingin Biao yang cukup menggemaskan, “Dia pria yang sangat dingin dengan senyuman langkah. Dalam situasi apapun ia menghadapinya dengan wajah yang cukup tenang. Senyumnya seperti sebuah satu keberuntungan bagi siapa saja yang mendapatkannya. Di balik wajahnya yang menyeramkan, ia memiliki hati yang cukup lembut dengan tawa yang menyejukkan hati.” Wajah Sharin merona.
Memang seperti itu reaksi wajahnya setiap kali ia mengingat nama Biao di dalam pikirannya, “Aku sangat merindukannya. Aku selalu berpikir kalau hanya aku wanita yang beruntung karena berhasil mendapatkan tawa indah yang ia miliki.”
Biao mengukir senyuman bahagia. Hatinya cukup bahagia mendengar kejujuran yang kini di katakan Sharin, “Terima kasih,” celetuk Biao tanpa sadar.
“Terima kasih?” tanya Sharin bingung dengan tatapan menuduh.
Like jangan lupa...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Anggie Nifmala
Seruuu
2021-03-28
0
NaFasya Cutez
🤣🤣🤣keceplosan
2021-03-20
0
Mira
ayooo.... hampir ketahuan nie biao🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️😂😂😂😂😂
2021-02-23
0