Bab 8

Beberapa saat kemudian. Mobil yang di tumpangi Biao dan Sharin berhenti di depan hotel mewah yang ada di kota San Fransisco. Sharin lagi-lagi menggeleng kepalanya saat melihat hotel megah yang ada di hadapannya.

Sebuah gedung berlantai 40 dengan segala aneka warna lampu yang bercahaya cukup terang. Tidak jauh dari mobil mereka berhenti, juga ada beberapa mobil yang kini sedang menuruni penumpang.

Semua orang yang turun dari mobil mewah itu mengenakan pakaian formal yang sama dengan apa yang kini ia kenakan. Hati Sharin mulai ragu malam itu. Ia tahu, kalau tempat yang akan ia kunjungi bukan lagi untuk menemui clien yang ingin bekerja sama.

"Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan di tempat ini?" gumam Sharin di dalam hati. Ingin sekali ia bertanya langsung agar jutaan pertanyaan yang kini memenuhi isi kepalanya terjawab.

“Ayo kita turun,” ucap Biao sebelum melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil.

“Tunggu, Presdir Bo.” Sharin menarik lengan Biao dengan wajah penuh tanya, “Apa yang mau kita lakukan di sini?”

“Apa kau lupa sejak awal aku mengajakmu untuk menemaniku menemui clien?” Biao mengeryitkan dahi.

“Mungkin aku berpikir terlalu jauh,” gumam Sharin di dalam hati. Wanita itu menghela napas lagi.

“Apa ada yang salah?” Biao menatap wajah Sharin dengan seksama.

Sharin menggeleng pelan, “Tidak ada, Presdir Bo.” Dengan gerakan cepat, Sharin juga turun dari dalam mobil itu. Berdiri di samping mobil sambil memperhatikan keadaan sekitar.

Tiba-tiba saja ada tangan yang terasa dingin menggenggam tangannya. Kedua bola matanya melebar saat melihat Biao sudah berdiri di sampingnya. Pria itu tidak memasang ekpresi apapun hingga membuat Sharin semakin bingung.

“Apa ini?” tanya Sharin sambil menatap tangannya yang kini di genggam Biao.

“Aku tidak ingin menunggumu terlalu lama. Bukankah dengan sepatu tinggi itu kau berjalan seperti seekor itik?” Biao mengangkat satu alisnya.

Sharin menyeringai, “Sekarang ia samakan aku dengan seekor itik. Apa aku seburuk itu?” protes Sharin lagi-lagi di dalam hati.

Biao mulai melangkah masuk dengan tangan Sharin di genggamannya. Malam itu ada pesta salah satu pemimpin perusahaan yang ada di Amerika. Biao datang untuk mewakili nama S.G. Group. Bibirnya cukup sulit untuk mengatakan kepada Sharin yang sebenarnya. Biao ingin Sharin yang menjadi pendampingnya di pesta pertemuan itu.

Jantung Biao dan Sharin sama-sama berdebar tak karuan malam itu. Bahkan di tengah-tengah ruangan yang cukup dingin. Tubuh mereka masih sempat mengeluarkan keringat yang cukup deras.

Sharin semakin syok saat melihat lokasi yang kini mereka kunjungi adalah pesta kelas atas. Ada banyak wanita berbusana anggun dan mewah di dalam aula berukuran luas itu. Pria berjas resmi dengan penampilan cukup sempurna juga bertebaran dimana-mana.

“Presdir Bo, selamat datang," ucap seseorang dengan senyuman.

Seorang pria berjas resmi berkebangsaan Amerika menyambut kedatangan Biao malam itu. Sharin mengukir senyuman manis saat melihat pria Amerika yang kini berdiri di hadapannya.

“Selamat malam, Mr. Alex.” Biao meyambut uluran tangan pria yang berdiri di hadapannya.

“Selamat bersenang-senang di pesta sederhana saya ini. Lalu, siapa wanita yang malam ini anda bawa, Presdir Bo. Apa dia kekasih anda?” tanya Mr. Alex dengan tatapan menyelidik.

“Ya,” jawab Biao tanpa beban sedikitpun. Pria itu terlihat bangga dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Bukan hanya sekedar ucapannya. Biao melepas genggaman tangannya sebelum merangkul pinggang Sharin malam itu.

“Maaf Mr. Alex. Kami permisi dulu,” ucap Sharin dengan senyuman terpaksa. Tangan Biao ia tarik untuk menjauh dari pria itu.

“Apa maksud anda Presdir Bo? Apa anda sudah merencanakan semua ini sejak awal? Anda menjebak saya,” protes Sharin dengan wajah cukup kesal.

“Kau tidak mau menjadi kekasihku?” tanya Biao dengan dahi mengeryit.

“Bukan begitu hanya saja,”

“Ucapan itu aku anggap setuju. Ok! sekarang jangan banyak protes. Mari kita masuk ke dalam untuk menikmati pesta ini.” Biao merangkul pinggang Sharin dan membawanya kembali ke dalam aula.

“Pria ini benar-benar merepotkan. Malam ini ia membaut status lajangku hilang di hadapan pria-pria Amerika itu,” gumam Sharin dengan wajah sedih.

Sharin tidak bisa menentang setiap tingkah laku Biao malam itu. Bagaimanapun juga, di dalam hati Sharin juga merasakan satu perasaan nyaman saat berada di dekat Biao.

“Presdir Bo, pria ini dilihat semakin dekat seperti ini sangat mirip dengan Paman tampan.” Sharin mematung menatap wajah Biao yang kini duduk di hadapannya. Beberapa menu telah tersaji di atas meja. Beberapa tamu yang lain juga sudah mulai menyantap hidangan yang tersedia di pesta itu.

“Apa yang kau pikirkan, Sharin?” Biao mengambil gelas yang berisi minuman. Meneguknya dengan hati-hati.

“Paman tampan,” celetuk Sharin dengan senyuman indah. Akhir-akhir ini memang pria berekspresi dingin itu selalu mengganggu konsentrasinya.

Kalimat yang diucapkan Sharin membuat Biao tersedak seketika, “Apa yang kau bilang?”

Sharin tersadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Wanita itu mengatur posisi duduknya sebelum membuang tatapannya ke arah lain, “Maaf, Presdir Bo.”

“Kau menyebutkan nama itu dua kali. Siapa pria itu? Apa dia pacarmu?” Biao mulai melakukan penyelidikan yang memang sejak tadi ingin ia lakukan.

“Bukan, bukan,” jawab Sharin cepat.

“Lalu?” Biao meletakkan gelas yang sempat ia genggam kembali ke atas meja.

“Dia ... pria yang baik dan lucu.” Sharin mengukir senyuman saat kembali membayangkan tingkah lucu Biao saat mereka bermain salju setahun yang lalu.

“Apa kau sering bertemu dengannya?” Biao cukup tertarik dengan perbincangan ringan mereka malam itu.

Sharin tersenyum kecil, “Dia ada di kota Sapporo. Wajahnya sangat mirip dengan anda, Presdir Bo. Hanya saja, Paman tampan terlihat cukup lucu, sedangkan anda,” ucapan Sharin tertahan. Dengan cepat, wanita itu menutup mulutnya dengan tangan kanan.

“Sedangkan saya?” tanya Biao dengan satu alis yang terangkat sedikit.

“Tentu saja terlihat angkuh dan sok hebat. Sangat jauh berbeda dengan Paman tampan,” gumam Sharin di dalam hati.

“Hmm, anda sangat kaya sedangkan Paman tampan pria yang cukup sederhana,” jawab Sharin dengan senyuman indah.

Biao mengangguk pelan sebelum melanjutkan makan malamnya. Hatinya lagi-lagi kembali tenang saat Sharin masih ingat dengan dirinya yang dulu.

“Akhirnya, kau tidak lagi melupakan tentangku. Terima kasih, Sharin,” gumam Biao di dalam hati.

"Paman tampan, apa saat ini kau masih mengingatku. Atau kau juga sudah lama melupakanku karena aku menolakmu waktu itu?" gumam Sharin di dalam hati sebelum melanjutkan makan malamnya.

Nanti siang jam 12 aku tambah lagi ya..Likenya jangan makin dikit donk..

Terpopuler

Comments

indah_kajoL

indah_kajoL

mesti salto2 lah biao saking seneng e

2021-11-24

0

indah_kajoL

indah_kajoL

swenenng khhannnn jadinyaaa

2021-11-23

0

Vera

Vera

itik

2021-04-11

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!