Bab 16

Biao mengukir senyuman kecil dengan wajah bingung, “Apa yang sudah aku katakan?”

“Terima kasih,” jawab Sharin masih dengan wajah penuh curiga.

Biao membuang tatapannya ke arah lain untuk menghilangkan wajah gugupnya saat itu. Keringat berkucur deras membasahi baju yang saat itu ia kenakan. Padahal ruang yang ia tempati kini bersuhu cukup dingin dan sejuk untuk dinikmati. Namun, karena baru saja tertangkap basah oleh Sharin membuat Biao kini mati kutu.

“Predir Bo.” Sharin mengulang kembali perkataannya dengan wajah yang cukup serius. Pria yang kini berdiri di hadapannya memang sangat mencurigakan. Semua cerita dan pujian itu hanya Ia berikan untuk Biao.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah mau menemaniku ke pesta tadi malam,” jawab Biao dengan wajah penuh kebohongan.

Alasan Biao memang cukup meyakinkan. Tapi hal itu tidak membuat rasa curiga di hati Sharin menghilang begitu saja.

“Presdir Bo, terima kasih atas bajunya.” Sharin memandang bungkusan baju yang ada di dalam paper bag itu.

“Sama-sama,” jawab Biao dengan senyuman. Setidaknya ia bisa kembali bernapas lega karena Sharin tidak lagi membahas hal itu.

“Saya permisi dulu,” ucap Sharin sebelum beranjak dari kursi yang ia duduki.

Biao mengangguk pelan sambil menatap Sharin yang berjalan meninggalkan ruangan kerja miliknya.

“Apa dia percaya dengan alasan yang aku buat?” Biao berjalan pelan ke arah jendela.

“Aku harap kau tidak mempercayainya, Sharin. Karena aku memang sudah tidak sabar untuk membongkar kebohongan ini.” Biao tertawa kecil saat membayangkan sikap konyolnya beberapa menit yang lalu.

Langit di luar terlihat mulai redup. Awan yang semula berwarna biru kini sudah berubah warna menjadi gelap. Matahari juga sudah mulai bersembunyi dan berganti dengan bulan. Biao masih ada di ruang kerjanya walau langit sudah berubah. Perusahaan besar itu sudah terlihat sunyi. Hanya tersisa beberapa satpam yang berjaga.

Wajah Biao terlihat cukup serius saat menangani masalah yang kini diterima S.G. Group. Ia tidak mau meminta bantuan Tama. Kali ini ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan kemampuan yang telah ia miliki. Walau terasa cukup sulit, tapi ia tidak mau menyerah.

Hanya bercahayakan lampu yang cukup terang. Biao mengotak-katik layar keyboardnya dengan 10 jari. Hingga beberapa saat kemudian pekerjaan melelahkan itu pun berakhir. Biao mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Mengusap wajahnya dengan telapak tangan untuk menghilangkan rasa kantuk yang kini membebaninya.

“Sepertinya aku terlalu lama menyelesaikan masalah ini. Jika ada Tama maka masalah ini akan selesai sejak tadi.” Tiba-tiba saja Biao ingat dengan sahabat terbaiknya itu. Si pria murah senyum dengan sejuta strategi yang selalu bisa dihandalkan.

Biao melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lelaki itu beranjak dari kursi hitam yang sejak pagi ia duduki. Perutnya mulai terasa lapar. Ia ingin segera tiba di apartemen untuk mandi dan makan malam. Sejenak ia kembali ingat dengan Sharin. Lagi-lagi bibirnya mengukir senyuman saat membayangkan wajah cantik wanita itu.

“Apa yang sekarang ia lakukan? Apa iya mulai menyelidikiku saat ini?” Biao menggeleng kepalanya pelan sebelum berjalan ke arah pintu.

***

Sharin berdiri di pinggiran jalan dengan beberapa kantung plastik di tangannya. Wanita itu baru saja keluar dari mini market untuk membeli beberapa barang yang ia butuhkan.

Sudah hampir satu jam ia berdiri di pinggiran jalan sunyi. Entah kenapa malam itu tidak ada taksi yang melintas dihadapannya. Malam itu langit terlihat tidak bersahabat. Terdengar suara gemuruh petir dari kejauhan. Bulan dan bintang yang sempat muncul dan bersinar terang Kini pun mulai hilang. Ada Awan gelap yang menutupi keindahan langit malam saat itu.

Tetes demi tetes air hujan mulai jatuh. Sharin menutup kepalanya dengan kantong plastik yang ada di genggaman. kepalanya miring ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat yang bisa melindunginya dari tetesan hujan. Ada sebuah kursi yang di tutupi tenda biru cukup besar di ujung jalan. Wanita itu berlari cepat untuk berlindung di kursi yang baru saja ia temukan.

Belum sempat Sharin tiba di kursi besi itu, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. Semua pemandangan yang tersaji di depan matanya terlihat bergoyang. Wanita itu memegang kepalanya dengan wajah bingung.

“Kenapa kepalaku tiba-tiba sakit seperti ini?” Sharin terus memaksa tubuhnya agar segera tiba di kursi. Namun, kakinya mulai terasa lemah. Hingga akhirnya ia terjatuh di tengah-tengah jalan yang terlihat sunyi. Tubuhnya basah terkena tetesan air hujan yang turun semakin deras. Kantong plastik yang sempat ia bawa berserak di jalanan yang tidak jauh dari posisinya terjatuh.

Dari kejauhan ada mobil yang melintas di jalan sunyi itu. Seorang pria keluar untuk melihat wajah yang kini menghalanginya. Dahi mengeryit bingung saat berhasil mengenali nama sang pemilik wajah.

“Sharin? Apa yang ia lakukan di jalanan sunyi seperti ini?”

Pria itu memandang keadaan sekitar sebelum mengangkat tubuh Sharin ke dalam gendongannya. Dengan hati-hati ia membawa tubuh wanita itu masuk ke dalam mobil.

Pria itu menutup pintu penumpang sebelum berjalan mengitari bagian depan mobil. Ia masuk dan duduk di balik kemudi. Memasang sabuk pengaman di tubuh Sharin sebelum melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.

**Siapa yang menolong Sharin?

Seperti biasa kalau like banyak nti siang jam 12 aku up ge. Terima kasih**.

Terpopuler

Comments

Marhaban ya Nur17

Marhaban ya Nur17

paman tamfan

2022-04-08

0

Rimbia Rhaya Hijabshop

Rimbia Rhaya Hijabshop

Alan Walker

2020-12-07

0

moemoe

moemoe

walker

2020-11-11

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!