Bab 10

Hari telah berganti. Langit di luar terlihat biru seperti lukisan indah di sebuah pameran. Matahari bersinar terang menjadi lampu untuk menerangi Korea San Fransisco di pagi hari. Cukup sulit menemukan kicauan burung di kota besar itu. Satu-satunya suara yang sangat sering terdengar adalah keramaian kota yang di penuhi banyak penduduk. Suara kendaraan berlalu lalang di jalan raya.

Biao berdiri di depan cermin sambil mengukir satu senyuman. Semenjak mengenal Sharin senyuman itu sangat mudah ia lakukan. Bukan hanya senyuman saja. Biao juga mulai bisa menghargai hidup.

Baginya kehidupan ini bukan hal yang untuk disia – siakan. Setelah selesai melingkarkan jam tangan, Biao berjalan menuju ke arah pintu. Langkahnya terhenti saat melihat wajah Sharin yang ada di atas meja. Sejak beberapa bulan terakhir ini, setiap kali ia merindukan Sharin. Lelaki itu akan memandang wajah Sharin melalui figura yang sudah ia persiapkan.

“Bukan hanya fotomu. Suatu saat nanti wajahmu yang asli yang akan duduk di kursi itu,” ucap Biao sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.

Langkahnya santai namun pasti. Sepatu hitam yang ia kenakan melangkah menuju ke sebuah lift yang ada di sudut lorong. Biao melirik jam tangannya lagi sebelum masuk ke dalam lift. Satu jarinya menekan angka yang akan menunjukkannya ke lokasi parkiran mobil.

Pintu lift kembali terbuka. Biao memandang lokasi parkiran yang sunyi namun dipenuhi keramaian mobil mewah. Huniannya saat ini merupakan hunian termewah dan paling mahal yang ada di kota Dan Fransisco. Tama yang menyiapkan semua ini. Untuk lelaki singel seperti Biao memang sangat cocok tinggal dia sebuah apartemen seperti itu.

Seorang supir sudah berada di samping mobil hitam mewah milik Biao. Lelaki berbadan tegab itu membukakan pintu saat Biao telah tiba di lokasi parkir.

Tidak ada kalimat tanya yang terucap dari bibir berstatus bawahan Biao itu. Hanya ada kalimat sapaan selamat pagi sebelum pintu mobil kembali tertutup.

Di jam pagi seperti sekarang ini tidak akan ada tujuan lain yang ingin dikunjungi Biao selain Kantor S.G. Group. Memang di situlah tempat lelaki itu bekerja selama hampir satu tahun terkahir ini.

Biao mengutak-atik ponselnya untuk melihat beberapa email yang masuk pagi ini. Setelah selesai memisahkan Email penting dan tidak penting lelaki itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Apa Sharin sudah berangkat bekerja?" Satu kalimat tanya yang memang selalu ia ucapkan di saat mobil itu melaju.

"Belum, Tuan. Sepertinya kita akan tiba bersamaan dengan Nona Sharin." Supir itu menambah laju mobilnya saat sudah tiba di jalan raya.

Biao mengukir senyuman tipis saat membayangkan wajah Sharin, "Apa dia terlambat bangun?"

***

Beberapa saat kemudian.

Sharin memasuki lift dengan terburu – buru. Ada beberapa map di genggaman tangannya. Pagi ini, ia terlambat bangun hingga membuatnya terlambat seperti ini. Belum lagi sebelum berangkat Sharin harus membagi roti sobek yang di berikan Biao untuknya. Ia tidak mungkin sanggup menghabiskan semuanya sendiri.

Seperti memiliki kesialan tersendiri terhadap lift. Pagi itu Sharin tersandung hingga membuat semua berkas yang ia genggam berhamburan semua di lantai lift. Tidak sempat memandang penghuni lift yang lain, Sharin lebih fokus pada berkasnya yang berserak. Wanita itu berjongkok untuk memungut dokumen yang berserak.

Baru setengah memungut, Sharin tersadar dengan sosok pria yang kini berdiri di hadapannya. Sharin berkedip berulang kali saat memandang sepatu hitam mengkilat yang ada di depan matanya. Secara perlahan Sharin mendongakkan kepalanya untuk melihat sang pemilik sepatu. Biao berdiri dengan wajah menahan tawa. Sudah dua kali ia menyaksikan kejadian seperti ini dengan wajah orang yang sama.

“Butuh bantuan?” tanya Biao sambil mengeryitkan dahi.

“Tidak, terima kasih.” Sharin kembali menunduk untuk memungut berkas yang berserak.

Biao juga berjongkok untuk membantu Sharin mengutip berkas-berkas itu. Setelah lantai itu bersih Biao memberikan berkas yang ia kutip.

“Terima kasih, Presdir Bo.” Sharin menerima berkas itu dengan takut-takut.

Mereka berdua sama-sama berdiri saat pintu lift terbuka. Sharin segera berlari untuk meninggalkan Biao di dalam lift.

“Sharin,” teriak Biao. Dengan gerakan cepat Sharin memutar tubuhnya. Menatap wajah Biao dengan seksama, “Hati –hati,” ucap Biao sebelum lift kembali tertutup.

“Apa itu benar-benar, Presdir Bo?” ucap Sharin tidak percaya. Baginya semua gosip mengerikan tentang Presdir Bo yang selama ini ia dengar tidak lagi sama seperti pada kenyataannya, “Aku yang salah lihat atau karyawan di gedung ini yang tidak pandai menilai.”

Tidak mau larut dalam pikirannya, Sharin berjalan menuju meja kerja miliknya. Meletakan tumpukan berkas yang ia bawa di atas meja.

“Selamat pagi.” Sharin menoleh ke belakang saat mendengar suara ramah yang baru saja menyapanya. Seorang laki -laki berwajah tampan dengan senyuman indah kini berdiri di hadapannya. Di lihat dari jas dan beberapa barang yang melekat pada tubuhnya, sudah bisa di pastikan dia bukan karyawan biasa.

“Selamat pagi. Maaf, anda siapa?” Sharin mengeryitkan dahi sambil berpikir keras. Sudah dua bulan bekerja di perusahaan ini. Bahkan sudah hampir seluruh wajah karyawan ia kenali wajahnya. Tapi, untuk wajah pria tampan ini, ia belum pernah bertemu sebelumnya.

“Nama saya Walker. Saya IT manager disini. Sudah tiga bulan saya dinas di luar kota.” Pria itu mengukir senyuman cukup menawan. Sharin merasa melayang beberapa detik saat mendapat senyuman dari pria berkebangsaan Amerika itu.

“Lalu bagaimana dengan pria berbadan gemuk itu?” Wajah Sharin terlihat bingung.

“Dia hanya menggantikan saya untuk sementara waktu saja,” jawab Walker yang seolah tahu dengan sosok yang di maksud Sharin.

Sharin mengangguk tanpa mengeluarkan kata. Bibirnya mengukir senyuman manis. Sejak awal Sharin memang sudah curiga dengan IT manager yang selama ini mengawasinya. Pria berbadan gemuk itu tidak terlihat seperti IT manager yang profesional.

“Aku dengar ada anak baru yang cukup pintar di S.G. Group. Jadi aku buru-buru ke sini untuk mengajakmu berkenalan. Setelah aku lihat kau bukan hanya pintar tetapi juga cantik.” Walker terlihat sangat ahli dalam merayu wanita. Bahkan Sharin pagi itu berubah merona malu saat mendapat gombalan Walker saat itu.

“Terima kasih,” ucap Sharin.

“Aku harus pergi, ada beberapa laporan yang harus aku serahkan kepada Presdir Bo.” Tanpa menunggu jawaban dari Sharin, Walker berjalan pergi menuju ke arah lift. Ada beberapa berkas warna-warni di tangan kirinya.

“Pria Amerika yang cukup tampan dan menawan bahkan senyumannya cukup manis, suaranya cukup lembut,” ucap Sharin sambil menggerak-gerakkan tubuhnya. Bahkan ia tidak lagi berkedip saat memandang punggung pria berjas hitam itu.

Terpopuler

Comments

Nona Cherry Jo

Nona Cherry Jo

waoow saingannya biao nih.. 😀

2022-07-29

0

indah_kajoL

indah_kajoL

saingan baru,, bule,,, biaoooo kamuu harusss lebihhhhhh drnya

2021-11-24

0

Maia Mayong

Maia Mayong

🤣🤣🤣 Sharin mnginginkn pria Amerika biao

2021-08-31

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!