Bab 2

S.G. Group, Amerika.

Di lantai yang cukup luas nan megah ada banyak karyawan wanita dan pria yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sibuk dengan layar komputernya. Ada yang sibuk ke sana kemari untuk mengantar berkas. Ada yang sibuk mengeprint atau foto copy. Namun, ruangan yang ramai itu kini terlihat sangat tenangdan tentram. Tidak ada suara apapun yang terdengar selain mesin yang sedang bekerja. Karyawan yang satu dengan yang lainnya lebih fokus dengan pekerjaanyang mereka miliki dari pada harus mengobrol hal yang tidak jelas.

Sharin menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi hitam yang berputar-putar. Wajahnya terlihat sangat kusut. Hal itu disebabkan oleh Biao yang sudah berhasil mengerjai dirinya. Kini isi kepala Sharin kembali di penuhi dengan nama Biao. Padahala, nama Pria itu sudah lama menghilang dari kehidupannya selama ini.

Sudah hampir dua bulan ia bekerja di S.G. Group yang kini sedang berkembang pesat di Amerika. Namun, sejak pertama kali bekerja di perusahaan besar itu. Sharin tidak pernah tahu wajah sang pemimpin utama. Satu-satunya hal yang ia tahu tentang pemimpin perusahaan itu adalah sosok pria yang memiliki karakter sangat dingin. Sharin tidak pernah menyangka kalau wajah pria itu mirip dengan pria bernama Biao. Paman tampan yang dulu sangat ia kagumi.

Sharin menyelesaikan studinya dengan prestasi yang cukup memuaskan. Nilainya lebih tinggi dari rekan sekelasnya. Sesuai janji Daniel sejak awal. Setelah Sharin berhasil menyelesaikan pendidikannya ia akan di terima bekerja di S.G. Group. Seperti satu keberuntungan yang tiada habisnya. Setelah Sharin berhasil menyelesaikan kuliahnya. Daniel membuka cabang di Amerika. Sharin juga bisa dengan mudah masuk ke dalam perusahaan S.G. Group. Tanpa harus berpindah negara dan jauh dari negara yang selama ini ia tinggali.

“Sharin,” ucap seorang yang sejak tadi memperhatikan Sharin. Wanita bermata abu-abu itu tampak curiga saat melihat perubahan wajah Sharin, “Apa kau baik-baik saja?”

Sharin mengukir senyuman kecil sebelum menghidupkan kembali layar komputer yang ada di hadapannya, “Aku baik-baik saja.”

“Bagaimana dengan Presdir? Apa yang terjadi hingga Presdir Bo memanggilmu ke ruang pribadinya?” tanyanya penuh selidik. Belum ada satu karyawanpun yang ada di lantai itu yang pernah masuk ke dalam ruangan presdir. Bisa di bilang, Sharin satu-satunya karyawan yang bisa berhasil masuk dan keluar dengan selamat.

“Presdir Bo ....” Sharin kembali membayangkan wajah dua pria yang memiliki wajah yang cukup mirip itu. Dengan cepat, kepalanya menggeleng cepat sebagai bentuk penolakan, kalau Biao dan Presdir Bo dua orang yang berbeda.

“Dia pasti bukan Paman tampan,” ucap Sharin pelan.

“Paman tampan?” tanya Amelia dengan dahi mengeryit.

Sharin tertawa kecil, “Maksudku Paman Tama. Aku sudah lama tidak menghubunginya.”

“Lalu bagaimana dengan Presdir Bo?”

“Tidak ada yang terjadi. Dia hanya menyuruhku duduk sebentar dan mengusirku dengan cepat. Aku juga tidak tahu, apa maksudnya.” Sharin mulai fokus dengan layar Komputer di hadapannya. Satu tangannya mengambil sebuah botol minum berwarna biru muda yang ada di atas meja. Sharin membuka tutup botol minum itu sebelum meneguknya secara perlahan.

“Apa dia menciummu, Sharin?” celetuk Amelia dengan senyuman menyeringai.

Sharin tersedak saat mendengar pernyataan konyol Amelia pagi itu, “Apa maksudmu, Amelia?” ucap Sharin dengan dahi mengeryit bingung.

“Ya, maksduku.” Amelia menahan kalimatnya dengan wajah takut-takut. Sorot mata Sharin detik itu terlihat cukup menyeramkan, “Bukankah itu sering terjadi di novel-novel. Seorang presdir atau Ceo meminta karyawan wanitanya datang ke ruangannya. Terus, karena melihat karyawan wanitanya cantik, ia mencium dengan paksa. Setelah itu mereka akan saing jatuh cinta dan menikah,” ucap Amelia dengan nada yang sangat pelan, bahkan nyaris tidak terdengar.

Sharin tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita aneh rekan kerjanya pagi itu. Ia tidak pernah menyangka kalau Amelia bisa berpikiran hingga sejauh itu. Sangat berbeda dengan isi pikirannya saat di ruangan Presdir tadi. Wanita itu justru mengira kalau ia akan kehilangan pekerjaannya atau mati karena terbunuh.

“Kenapa kau tertawa, Sharin?” tanya Amelia dengan wajah bingung.

“Ceritamu sedikit unik. Hanya saja, itu tidak akan mungkin terjadi dalam hidupku.” Sharin menggeleng kepalanya sambil menatap lembar kerjanya di layar komputer. Satu tangannya terlihat sibuk menggeser kursor dengan mouse yang ia genggam di tangan kanan.

“Sebaiknya kau kembali ke mejamu, Amelia. Aku tidak bisa membelamu terus-terusan jika nanti manager gemuk itu memergokimu lagi duduk di sini.”

Amelia tidak lagi mau mengeluarkan kata. Wanita itu terlihat memandang keadaan sekitar, “Sharin, bagaimana tipe pria yang kau suka? Apa pria seperti Presdir Bo itu adalah tipemu?” bisik Amelia. Wanita itu tidak ada habisnya untuk menggoda Sharin siang itu.

“Amelia ....” sapa Sharin dengan wajah tidak terbaca. Wanita itu sepertinya sudah mulai tidak suka dengan sikap kepo yang dimiliki rekan kerjanya.

“Ok, aku akan kembali bekerja.” Amelia lebih memilih kembali daripada harus mendapat omelan-omelan mengerikan dari Sharin.

Sharin menggeleng kepalanya pelan saat melihat Amelia mulai menjauh dari meja kerjanya. Tapi, di dalam hati yang terdalam, Sharin juga belum percaya kalau Biao dan Presdir Bo orang yang berbeda. Satu-satunya orang yang bisa ia mintai jawaban adalah Tama. Dengan cepat Sharin meraih ponselnya untuk menanyakan tentang Biao kepada Tama.

“Hallo, Paman Tama. Apa Paman sibuk?” ucap Sharin ragu-ragu. sudah cukup lama ia tidak pernah mau membahas tentang Biao dengan Tama. Tapi, kali ini dengan terpaksa ia menelpon Tama untuk mendapatkan kebenaran yang sejak awal ia curigai.

“Sharin, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau menghubungiku setelah sekian lama menghilang.” Tama sudah tersenyum menyeringai di tempatnya berada. Pria itu sudah tahu, kalau sahabat terbaiknya sudah mulai melakukan satu tindakan untuk mendapatkan hati keponakan cantiknya itu.

“Aku baik-baik saja. Paman, apa Tuan Biao masih bekerja bersama Paman?” Sharin menggigit bibir bawahnya dengan satu jari yang kini di ketuk-ketuk di atas meja.

“Ya, masih. Apa kau mau berbicara dengannya? Hei, Biao ini Sharin,” ucap Tama meledek.

“Jangan-jangan, Paman. Jangan,” ucap Sharin cepat. Sharin memejamkan matanya beberapa detik.

“Sharin, apa yang sebenarnya ingin kau cari?” tanya Tama dengan nada bingung.

“Tidak ada. Aku hanya sedikit merindukan Paman saja. Selamat siang Paman.” Sharin memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak. Melekatkan ponselnya di depan dada dengan wajah bingung. Jawaban Tama cukup meyakinkan dirinya kalau Presdir Bo dan Biao orang yang berbeda.

“Sudah ku duga sejak awal. Mereka berdua orang yang berbeda,” Sharin meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Wanita itu kembai melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda dengan wajah serius. Melupakan teka-teki tentang Presdir Bo yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

Ini hadiah bab karena Uda 500 like ya... terima kasih... like yg bnyk terus...ok reader😘

Terpopuler

Comments

Nuri Azzam

Nuri Azzam

wah keponakannya tama

2021-06-10

0

Dessy Tan

Dessy Tan

sharin polooooosss

2021-02-17

0

al - one ' 17

al - one ' 17

moga yg ini gk action ceritanya

2021-01-27

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!