Satu tahun yang lalu, Kota Sapporo.
Biao melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pagi ini, Biao tidak ingin terlambat untuk menemui Sharin. Satu buket bunga mawar berwarna pink sudah ada di jok samping. Bibir Biao mengukir senyuman indah saat membayangkan wajah cantik Sharin pagi itu. Tujuan mobil Biao saat itu adalah bandara. mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Biao ingin segera menemui Sharin untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.
Beberapa menit yang lalu, Tama memberi tahu Biao kalau kini ia telah di bandara untuk mengantar Sharin. Sejak bangun tidur, Biao berpacu dengan perasaan yang kini ia rasakan. Antara ingin maju dan mundur. Biao masih ragu dengan perasaannya hingga membuatnya saat ini menjadi terlambat.
Setelah beberapa menit kemudian. Mobil Biao terparkir rapi di parkiran Bandar udara Okadama. Pria itu mengambil buket bunga yang sudah ia persiapkan untuk Sharin sebelum keluar dari dalam mobil. Kedua bola matanya mengitari sekeliling bandara yang terlihat ramai. Tanpa mau menunggu lagi, Biao berlari cepat untuk masuk ke dalam bandara.
Di dalam, Biao terlihat mencari-cari ke sana ke mari. Pria itu terlihat bingung dengan keberadaan Sharin. Hingga suara yang tidak asing meneriakinya dari jarak yang cukup jauh. Tama berdiri dengan Sharin di sampingnya. Pria itu melambaikan tangan agar Biao segera berjalan ke posisinya berada.
Biao kembali bernapas lega saat masih memiliki kesempatan untuk melihat wajah Sharin hari itu. Lagi-lagi Biao berlari agar segera tiba di hadapan Sharin. Hanya wajah Sharin yang menjadi pusat perhatiannya. Senyum indah dari bibir Sharin seperti sebuah magnet yang membuat tubuhnya terasa tertarik.
“Paman tampan,” ucap Sharin pelan dengan senyuman manisnya. Wanita itu menggoyang-goyangkan tubuhnya karena terlalu bahagia melihat Biao juga ikut mengantar kepergiannya.
“Sharin,” ucap Biao pelan saat ia sudah berada di hadapan wanita yang ia cintai itu.
Tama menghela napas sebelum melangkah mundur. Pria murah senyum itu tidak mau mengganggu kebersamaan singkat Biao dan Sharin.
“Ini untukmu.” Biao memberikan buket bunga itu kepada Sharin. Tatapan matanya sangat tajam. Ia tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.
“Bunga yang indah,” ucap Sharin sambil menerima bunga itu. Ia menghirup aroma bunga itu sambil memejamkan mata beberapa detik, “Terima kasih, Paman.”
Biao mengangguk pelan, “Sharin, ada yang ingin aku katakan padamu.”Wajah Biao kali ini berubah serius. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat saat bibirnya berusaha untuk mengeluarkan kata-kata itu.
Sharin menatap wajah Biao dengan perasaan aneh, “Ada apa, Paman?”
“Sharin, setelah kau menyelesaikan studimu di amerika. Apakah kau mau menikah denganku?” ucap Biao mantap. Kini jantung Biao berdebar semakin tidak karuan. Bahkan ada buliran keringat yang kini membasahi dahinya. Biao terlihat seperti orang yang baru saja selesai mengikuti lomba lari.
Sharin cukup syok mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Biao. Buket bunga yang ada di genggaman Sharin juga terlepas. Kelopak mawar berwarna pink itu berserak di bawah kaki Sharin.
“Maaf, Paman,”ucap Sharin saat melihat kelopak-kelopak mawar itu berserak. Wanita itu membungkuk untuk mengambil kembali buket bunga yang telah jatuh. Namun, dengan cepat Biao memegang lengan Sharin. Menahan tubuh wanita itu agar tidak mengambil bunga yang telah jatuh. Saat ini, jawaban Sharin yang jauh lebih penting jika di bandingkan buket bunga pemberiannya.
“Sharin.” Biao menahan kalimatnya. Sharin berdiri dengan posisi semula. Wanita itu menunggu kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan oleh Biao. Ada rasa bahagia sekaligus bingung saat itu. Sharin sendiri juga tidak tahu harus berkata apa.
“Aku cinta padamu, Sharin. Aku gak tahu sejak kapan perasaan itu datang. Tapi, satu hal yang aku tahu. Kalau aku ingin menikah denganmu dan hidup berdua denganmu hingga maut memisahkan kita.”Wajah Biao benar-benar sangat serius pagi itu. Sorot matanya juga terpancar jelas kalau pria itu benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ada janji yang bisa di pegang Sharin jika ia memang menerima cinta Biao saat itu.
“Paman, maafkan aku.” Sharin memandang keadaan sekitar. Jam keberangkatan akan segera tiba. Sharin tidak ingin ketinggalan pesawatnya saat itu.
“Paman, aku tidak bisa menikah secepat itu. Setelah selesai dengan studiku nanti, aku ingin bekerja di salah satu perusahaan ternama. Menjadi wanita yang mandiri dan sukses. Aku belum mau memikirkan tentang pernikahan. Bagiku, pernikahan itu satu hubungan yang cukup mengerikan,” ucap Sharin pelan hingga suaranya nyaris tidak terdengar. Kepalanya menunduk dengan penuh rasa bersalah. Ia juga kurang yakin dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.
“Apa ini artinya kau menolakku, Sharin?” tanya Biao dengan wajah kecewa. Pria itu tidak pernah membayangkan kalau cinta pertamanya akan bertepuk sebelah tangan seperti ini.
“Maafkan Sharin, Paman. Tapi Sharin harus segera pergi.” Sharin berlalu begitu saja tanpa mau memberi tahu isi hatinya saat itu. Wanita itu bahkan tidak lagi mau memutar tubuhnya untuk memandang wajah Biao yang terakhir kalinya.
Biao mengepal kuat kedua tangannya hingga memutih. Menggertakkan gigi-giginya untuk menekan rasa sakit hati yang kini memenuhi hatinya. Napasnya berubah sesak saat membayangkan kembali penolakan Sharin terhadap dirinya.
Dengan tatapan nanar, Biao memandang buket bunga yang kini sudah tidak lagi utuh. Hal itu sama dengan perasaan hatinya yang saat ini hancur berkeping-keping. Dengan langkah yang cukup berat, Biao berjalan pergi meninggalkan Bandar udara itu.
“Aku suah pernah berjanji pada diriku sendiri. Kalau aku akan mengejar wanita yang sudah berhasil merusak hariku. Membuat pikiranku selalu mengingat namanya. Bahkan aku tidak akan menyerah sebelum kau menjadi milikku, Sharin.”
***
Biao mengukir senyuman saat membayangkan kejadian yang terjadi satu tahun yang lalu. Dengan cepat, Biao memutar kursi kerjanya yang berwarna hitam dan besar itu. Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Di dalam ponsel itu ada banyak foto Sharin yang selama ini ia simpan.
Selama satu tahun terakhir ini Biao mengirimkan orang untuk menjaga dan melindungi Sharin dari bahaya. Tidak hanya itu. Bahkan setiap lelaki yang suka sama Sharin juga ia buat agar segera menjauh. Bagi Biao, Sharin hanya miliknya. Tidak ada satu orangpun yang boleh memiliki Sharin. Hanya dirinya yang berhak atas wanita berusia 21 tahun itu.
“Sharin, kau harus bertanggung jawab. Kau yang membuatku hingga seperti ini. Kau yang lebih dulu membuatku merasakan hangatnya cinta. Bahkan karena dirimu juga, aku mengerti kata bersabar demi mendapatkan cintamu.”
Biao memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu mengukir senyuman kecil saat membayangkan wajah bingung Sharin tadi. Sudah bisa di pastikan kalau kini Sharin mulai bingung mengenali dirinya. Bagaimanapun juga, Biao hanya merubah penampilan dan gaya bicaranya saja. Untuk urusan wajah, tidak ada yang berubah sama sekali. Sejak duu, penampilan Biao memang sudah pantas menjadi sosok pemimpin.
Like 500 aku tambah nanti siang. Like gratis ya reader...jangan pelit2 sama like...😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Maia Mayong
knp like Dsni lbih bnyk dr PD crta zeroun ya . pdhl crta mnrik ,, ap lg kisah cnta Lana n Lukas . suka ....
2021-08-31
0
Atin Bambang
knp aku bacanya jdi beo 😬😬😬😬😬..,..
2021-05-06
1
Dessy Tan
sukaaakkkk...
2021-02-17
0