Bab 8: Kunjungan Para Selir

Pada hari kedelapan, masa kurungan Han Ziqing di Istana Ningxi sudah berakhir. Han Ziqing sedikit menyayangkan dan tidak rela karena itu berarti ia harus menjalani perannya sebagai Permaisuri Han.

Menurut ingatannya, dia harus melakukan ritual pagi dengan menerima salam dari para selir setiap hari.

Belum sempat dia memikirkan bagaimana dia menghindari salam pagi, seorang pelayan yang baru ditambahkan ke Istana Ningxi sudah lebih dulu melapor.

Katanya, para selir dari harem sudah tiba dan meminta izin masuk Istana Ningxi untuk memberi salam. Han Ziqing yang masih belum berpakaian sangat terkejut dan hampir jatuh dari kursi.

“Suruh mereka kembali! Bilang kalau aku tidak ingin bertemu!”

Namun, pelayan tersebut lagi-lagi kembali.

“Yang Mulia, para selir berkata mereka akan menunggu sampai Yang Mulia selesai berpakaian.”

“Ck. Sekumpulan rubah ini, apakah mereka begitu mengganggur?”

Meixiang kemudian membujuk Han Ziqing agar menemui mereka. Bagaimanapun, delapan hari sudah berlalu sejak kejadian kematian palsunya.

Kurungan sudah berakhir dan Kaisar tidak mempermasalahkan lebih lanjut. Sudah saatnya Han Ziqing menjalankan tugasnya dan menerima salam dari pada selir seperti biasa.

Meixiang khawatir para selir mendapat masalah jika kembali. Ibu Suri Agung sudah menegaskan jika para selir harus menghormati Permaisuri.

Salam pagi adalah ritual wajib, jika tidak bisa hadir, maka harus memberitahu terlebih dahulu. Han Ziqing akhirnya terpaksa setuju dan buru-buru mengenakan jubahnya.

“Yang Mulia, ingat, Yang Mulia adalah Permaisuri. Para selir itu selalu takut pada Yang Mulia. Jangan sampai mereka mendapat kesempatan untuk memikat Kaisar dengan penampilan mereka,” ucap Meixiang.

Han Ziqing bergidik. Secemburuan itukah Han Ziqing sebelumnya?

“Baiklah-baiklah. Cepat selesaikan riasannya agar aku terlihat cantik.”

Biasanya, Han Ziqing tidak terlalu memperhatikan penampilannya. Menjadi seorang peneliti tidak memerlukan riasan tebal di wajah.

Tapi, sekarang dia menjelma menjadi seorang permaisuri, dan ada banyak wanita yang menjadi madunya di istana. Meski tidak tertarik, tapi dia juga harus menunjukkan wibawanya.

Jika permaisuri jelek, bukankah hidup Han Ziqing juga akan sulit?

Wei Shiqi sudah sering mempersulitnya dan mengerjainya. Tidak apa-apa dia kehilangan harga diri di depan Wei Shiqi, tapi dia tidak boleh kehilangan harga diri di depan para selir suaminya.

Menurutnya, kecantikan adalah modal utama untuk menjatuhkan lawan. Terlebih jika para selir takut padanya, maka mereka setidaknya harus melihat secantik apa Han Ziqing yang membuatnya pantas ditakuti.

Tidak apa-apa untuk mengorbankan kecantikan yang ia abaikan untuk membuat wibawa dan kharisma dirinya terjaga di tempat ini. Lagi pula, Han Ziqing bukankah sudah saatnya memulai hidup barunya?

Selusin selir sudah menunggu dan duduk di aula. Seperti biasa, mereka memakai pakaian sederhana dengan riasan biasa.

Delapan hari berlalu dengan damai tanpa harus memberi salam. Sekarang, mereka sudah harus menghadapi kembali Permaisuri Han yang kecemburuannya tidak masuk akal. Para selir ini lebih memilih mencari jalan aman meski hati mereka enggan.

“Astaga!”

Han Ziqing terkejut melihat selusin selir duduk di bangku dengan rapi. Satu persatu wajahnya diperhatikan.

Riasan tipis, pakaian sederhana, beginikah cara Han Ziqing mengatur mereka agar tidak terlihat seperti ingin menggoda Kaisar?

Han Ziqing bergidik dengan ekspresi yang heran sekaligus tidak menyangka.

Para selir ini, mengapa di matanya terlihat begitu miskin?

Jatah bulanan yang dianggarkan Biro Rumah Tangga Istana untuk mereka harusnya cukup untuk membuat mereka terlihat lebih bermartabat dari sekadar gadis rumahan biasa, kan?

Sekalipun tidak cukup, mereka juga pasti punya harta dan uang yang dikirim keluarga mereka diam-diam, bukan? Yang dilihat Han Ziqing saat ini seperti bukan selir-selir seorang kaisar, melainkan gadis keluarga biasa yang mencoba menonjolkan diri dengan pakaian seadanya!

“Salam kepada Yang Mulia Permaisuri. Semoga Permaisuri panjang umur dan sehat sentosa,” ucap para selir serempak.

Para selir seperti sekumpulan burung pengicau yang berbunyi setiap dikomando. Mereka sangat kompak. Han Ziqing hanya menatap dengan mata tidak percaya.

Ekspresinya seolah mewakili perkataan: Ya Tuhan, apakah mereka dilatih untuk bicara fasih tentang cara memberi salam kepada orang lain bersama-sama?

Di sampingnya, Meixiang sedang menghitung jumlah selir yang hadir. Han Ziqing meliriknya dan bertanya, “Untuk apa kau menghitungnya?”

“Yang Mulia, sebelumnya Yang Mulia selalu menyuruhku untuk menghitung jumlah selir yang hadir. Jika ada yang tidak hadir tanpa pemberitahuan, Yang Mulia suka mengirim orang untuk memeriksa sendiri.”

“Kelak kau tidak perlu menghitungnya lagi.”

“Ah? Tidak bisa, Ibu Suri Agung sudah mengatakan kalau para selir harus mematuhi aturan yang ada dan memberi salam setiap hari.”

Han Ziqing tidak mau peduli lagi. Dia justru ikut menatap para selir yang sedang duduk dengan enggan di ruang istananya.

Dia malah ikut menghitung bersama Meixiang karena dia juga sebetulnya penasaran. Setelah Han Ziqing asli meninggal, dia ingin tahu berapa banyak selir yang masih menghormatinya setelah dia bangkit dari kematian.

“Bukankah jumlahnya ada empat belas? Mengapa hanya ada dua belas?” tanya Han Ziqing.

Selir Wei Shiqi seharusnya berjumlah empat belas orang, ditambah dengan dirinya, maka jumlah istrinya menjadi lima belas. Sekarang, yang hadir di ruangan ini hanya ada dua belas orang.

“Setelah dikurangi Selir Mu yang sedang sakit, ada satu orang yang tidak hadir,” Meixiang menjawab setelah mengingat jelas siapa yang tidak hadir.

“Siapa?”

“Selir Agung Yun.”

Selir Agung Yun, ah, wanita bernama Yun Lin itu. Ingatan Han Ziqing asli memberitahu segalanya tentang wanita itu.

Dari semua selir, hanya Yun Lin yang paling keras berjuang melawannya. Dia masuk dua tahun lebih awal ke dalam harem dan tidak menerima saat Han Ziqing menjadi Permaisuri Han.

Katanya, wanita sepertinya tidak bermoral dan tidak mampu menjalankan tanggungjawab sebagai permaisuri. Yah, Han Ziqing mengakui perihal ‘tidak bermoral’ yang dia katakan. Sebelum ini, Han Ziqing asli lebih mementingkan mengejar cinta dan mencegah Kaisar jatuh cinta pada selir.

Wajar jika Yun Lin sebagai selir agung tidak datang memberi salam. Permusuhan di antara keduanya sangat kuat dan sudah berlangsung bertahun-tahun.

Tadinya jika Han Ziqing mati, maka posisi permaisuri yang kosong sudah pasti jatuh ke tangan Selir Agung Yun. Tapi, Tuhan tidak mengizinkannya dan mengirim Han Ziqing kemari.

“Yang Mulia, perlukah kita mengirim seseorang ke istananya?”

“Apakah dia sering seperti ini?”

“Ya. Selir Agung Yun kerap absen tanpa pemberitahuan setiap kali salam pagi. Dia sungguh tidak menghormati Yang Mulia, sungguh keterlaluan!” Meixiang mengatakannya berapi-api, seolah sedang memanasi hati Han Ziqing.

“Aku saja tidak bereaksi, mengapa kau malah sangat bersemangat? Apakah kau sedang memprovokasiku?” tanya Han Ziqing.

Pertanyaannya tidak serius, tapi Meixiang langsung berlutut memohon ampun. Dia bilang, dia tidak bermaksud memprovokasi hubungan Permaisuri dan Selir Tinggi.

Meixiang hanya khawatir Selir Agung semakin kurang ajar dan mengancam Permaisuri. Bagaimanapun jika dibandingkan, Kaisar pasti lebih mempercayai Selir Agung. Kaisar tidak akan menolong lagi jika Permaisuri mendapat masalah karena Selir Agung.

Han Ziqing lupa kalau setelah Kaisar, perkataannya sangat didengar di sini. Perkataan barusan secara tidak langsung mengarah pada sebuah tuduhan, jika suasana hati Han Ziqing buruk, maka mudah baginya menjatuhkan hukuman. Meixiang akan dianggap memprovokasi Permaisuri agar bermusuhan dengan Selir Agung, sehingga hukum istana akan bergerak untuk mengadilinya.

Saat dia ingat, para selir sudah menatapnya. Ada rasa takut dan heran, juga rasa tidak percaya terpancar di mata mereka.

Apakah ini adalah Permaisuri Han yang mereka kenal suka menghukum pelayan dan selir? Mengapa hari ini dia tampak tenang dan tidak menunjukkan emosinya secara terang-terangan?

Han Ziqing mengambil alih situasi. Dia berkata, “Hari ini sampai di sini saja. Kalian boleh kembali. Meixiang, tidak perlu berlutut lagi.”

Serempak para selir dan Meixiang mengucapkan terima kasih. Selusin selir berdiri berbaris seperti mengantri sesuatu, lalu satu persatu berjalan keluar dari Istana Ningxi dengan tertib. Benak mereka dipenuhi banyak pertanyaan. Kebanyakan adalah perihal perubahan aura dan sifat Permaisuri.

Biasanya, salam pagi selalu berlangsung hampir dua jam. Permaisuri selalu menemukan celah pada beberapa orang yang ia anggap tidak sopan dan penggoda.

Meski sudah memakai riasan biasa dan pakaian sederhana, Permaisuri selalu menangkap seseorang yang dinilai berhias berlebihan. Dia terkadang memperpanjang masalahnya dan berakhir menghukum orang itu.

“Apakah kau merasakannya? Permaisuri sepertinya sedikit berbeda hari ini,” Selir Tian bertanya pada Selir Shang. Keduanya sudah berteman sejak masuk ke istana dua tahun lalu. Selir Tian dan Selir Shang adalah selir termuda sekaligus anggota harem yang paling baru.

“Kau benar. Hari ini Permaisuri tidak marah dan tidak mempermasalahkan riasan setiap orang. Apakah benar kata para pelayan bahwa dia sudah tercerahkan?” Selir Shang menjawab sekaligus menambahkan pertanyaan. Salah seorang selir yang berjalan bersama mereka, Selir Qiao, ikut bergabung dalam obrolan.

“Aku justru lebih takut dia yang seperti ini. Permaisuri yang pemarah dan cemburuan jauh lebih baik ketimbang dia yang diam dan bersikap tenang,” ucapnya.

Jujur saja, hati mereka juga tidak nyaman. Rasanya sangat berbeda karena mereka terbiasa mendapat omelan Permaisuri setiap hari.

Hari ini saat melihat Permaisuri begitu tenang dan tidak menunjukkan emosi, hati mereka justru takut. Seseorang yang tiba-tiba diam dan berubah, biasanya menyembunyikan bahaya yang lebih besar.

“Menurutmu, apakah Selir Agung Yun akan mendapatkan hukuman? Permaisuri paling tidak menyukai Selir Agung Yun. Dia pasti menangkap kesalahannya dari ketidakhadirannya pada salam pagi hari ini,” ucap Selir Qiao.

Permaisuri biasanya memanfaatkan segala kesempatan untuk menjatuhkan Selir Agung Yun. Dia mendapat kesempatan hari ini, akankah dia menggunakannya?

Selir Shang dan Selir Tian saling berpandangan dan menggeleng tidak tahu. Berdasarkan pengamatan mereka hari ini, sangat sulit menebak langkah Permaisuri selanjutnya.

Emosi dan ketenangannya membuat segalanya jadi tidak bisa diterka. Mereka tidak bisa menebak bagaimana Permaisuri akan bertindak setelah ini.

“Entahlah. Lebih baik kita tunggu saja.”

Lalu, ketiga selir itu berpisah di gerbang istana dan kembali ke kediaman masing-masing.

Terpopuler

Comments

kriwil

kriwil

buat apa kaisar gila itu menimbun banyak istri kalau cuma di angurin 😀😀

2025-03-15

0

Sulati Cus

Sulati Cus

banyak amat kyk mau rujakan ae

2025-02-06

1

Biyan Narendra

Biyan Narendra

Next thor....

2025-02-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Peti Mati Permaisuri
2 Bab 2: Berkelahi
3 Bab 3: Ibu Suri Agung
4 Bab 4: Orang yang Tercerahkan
5 Bab 5: Ada Orang yang Meracunimu!
6 Bab 6: Wangchuan dan Lanyin
7 Bab 7: Anggur
8 Bab 8: Kunjungan Para Selir
9 Bab 9: Tertangkap Basah
10 Bab 10: Mengintai Target
11 Bab 11: Diam-Diam
12 Bab 12: Menolong Orang
13 Bab 13: Melabrak Permaisuri
14 Bab 14: Citra Diri
15 Bab 15: Pertimbangan
16 Bab 16: Kematian Pedagang Gadungan
17 Bab 17: Cari Masalah
18 Bab 18: Keterlibatan Selir Mu
19 Bab 19: Kaki Tangan
20 Bab 20: Melepaskan Satu Orang
21 Bab 21: Lepas Satu Lagi
22 Bab 22: Ruang Rahasia
23 Bab 23: Hadiah Pertama
24 Bab 24: Fragmen Sejarah
25 Bab 25: Memainkan Peran
26 Bab 26: Memancing Kemarahan
27 Bab 27: Reuni Keluarga
28 Bab 28: Malam
29 Bab 29: Berkas Pengakuan
30 Bab 30: Berita Baru
31 Bab 31: Menjadi Orang Sibuk
32 Bab 32: Menanyakan Pendapat
33 Bab 33: Terkejut
34 Bab 34: Mencari Tahu
35 Bab 35: Arsip Kekaisaran
36 Bab 36: Ada yang Terbakar
37 Bab 37: Marah Besar
38 Bab 38: Melanjutkan Tugas
39 Bab 39: Cara Membujuk Orang
40 Bab 40: Mengorek Informasi
41 Bab 41: Hidangan dan Bujukan
42 Bab 42: Kedatangan Utusan
43 Bab 43: Malam Perjamuan
44 Bab 44: Terpukau
45 Bab 45: Pengacau
46 Bab 46: Bantu Aku!
47 Bab 47: Bantuan Darurat
48 Bab 48: Rencana Kerja Sama
49 Bab 49: Imbalan Jasa
50 Bab 50: Mengajari
51 Bab 51: Wajah Damai
52 Bab 52: Merasa Tidak Adil
53 Bab 53: Mengapa Permaisuri Datang dari Luar?
54 Bab 54: Jangan Terlalu Dekat
55 Bab 55: Menunggu Orang
56 Bab 56: Orang yang Iri Hati
57 Bab 57: Setelah Urusan Resmi
58 Bab 58: Tak Tahu Diri
59 Bab 59: Tenang
60 Bab 60: Memikirkan Hal yang Sama
61 Bab 61: Memberikan Petunjuk
62 Bab 62: Putusan
63 Bab 63: Memulai dari Awal
64 Bab 64: Saling Memiliki
65 Bab 65: Mengganggu Orang
66 Bab 66: Menemui Mata-Mata
67 Bab 67: Motif
68 Bab 68: Ingin Istirahat
69 Bab 69: Mencari Perhatian
70 Bab 70: Mengusir Pengganggu
71 Bab 71: Tidak Fokus
72 Bab 72: Mengubah Tradisi
73 Bab 73: Menarik Diri
74 Bab 74: Orang yang Tidak Sopan
75 Bab 75: Kehilangan Martabat
76 Bab 76: Panen Besar
77 Bab 77: Menyerah
78 Bab 78: Kenalan Lama
79 Bab 79: Melihat Orang
80 Bab 80: Masa Lalu Selir Rou
81 Bab 81: Para Cinta Pertama
82 Bab 82: Dua Kendi Cuka
83 Bab 83: Memberikan Anugerah
84 Bab 84: Kelinci Liar, Tak Bisa Lari!
85 Bab 85: Tidak Beres
86 Bab 86: Memberi Mandat
87 Bab 87: Percaya Saja
88 Bab 88: Akulah Ratumu!
89 Bab 89: Bagian yang Hilang
90 Bab 90: Mulai Curiga
91 Bab 91: Membuat Rencana
92 Bab 92: Mengapa Tidak Mungkin?
93 Bab 93: Dia Mengandung Keturunan Kekaisaran
94 Bab 94: Manja
95 Bab 95: Berbagi Kebahagiaan
96 Bab 96: Petunjuk Penting
97 Bab 97: Teguran Halus
98 Bab 98: Minta Orang
99 Bab 99: Rencana Fu Dou
100 Bab 100: Mengikuti Kata Hati
101 Bab 101: Niat Jahat
102 Bab 102: Membebaskan Orang
103 Bab 103: Gelagat Aneh
104 Bab 104: Menyimpan Rencana
105 Bab 105: Menerima Gugatan
106 Bab 106: Bau Konspirasi
107 Bab 107: Aku Tidak Akan Membiarkan Mereka Menahanmu!
108 Bab 108: Orang Lama
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Bab 1: Peti Mati Permaisuri
2
Bab 2: Berkelahi
3
Bab 3: Ibu Suri Agung
4
Bab 4: Orang yang Tercerahkan
5
Bab 5: Ada Orang yang Meracunimu!
6
Bab 6: Wangchuan dan Lanyin
7
Bab 7: Anggur
8
Bab 8: Kunjungan Para Selir
9
Bab 9: Tertangkap Basah
10
Bab 10: Mengintai Target
11
Bab 11: Diam-Diam
12
Bab 12: Menolong Orang
13
Bab 13: Melabrak Permaisuri
14
Bab 14: Citra Diri
15
Bab 15: Pertimbangan
16
Bab 16: Kematian Pedagang Gadungan
17
Bab 17: Cari Masalah
18
Bab 18: Keterlibatan Selir Mu
19
Bab 19: Kaki Tangan
20
Bab 20: Melepaskan Satu Orang
21
Bab 21: Lepas Satu Lagi
22
Bab 22: Ruang Rahasia
23
Bab 23: Hadiah Pertama
24
Bab 24: Fragmen Sejarah
25
Bab 25: Memainkan Peran
26
Bab 26: Memancing Kemarahan
27
Bab 27: Reuni Keluarga
28
Bab 28: Malam
29
Bab 29: Berkas Pengakuan
30
Bab 30: Berita Baru
31
Bab 31: Menjadi Orang Sibuk
32
Bab 32: Menanyakan Pendapat
33
Bab 33: Terkejut
34
Bab 34: Mencari Tahu
35
Bab 35: Arsip Kekaisaran
36
Bab 36: Ada yang Terbakar
37
Bab 37: Marah Besar
38
Bab 38: Melanjutkan Tugas
39
Bab 39: Cara Membujuk Orang
40
Bab 40: Mengorek Informasi
41
Bab 41: Hidangan dan Bujukan
42
Bab 42: Kedatangan Utusan
43
Bab 43: Malam Perjamuan
44
Bab 44: Terpukau
45
Bab 45: Pengacau
46
Bab 46: Bantu Aku!
47
Bab 47: Bantuan Darurat
48
Bab 48: Rencana Kerja Sama
49
Bab 49: Imbalan Jasa
50
Bab 50: Mengajari
51
Bab 51: Wajah Damai
52
Bab 52: Merasa Tidak Adil
53
Bab 53: Mengapa Permaisuri Datang dari Luar?
54
Bab 54: Jangan Terlalu Dekat
55
Bab 55: Menunggu Orang
56
Bab 56: Orang yang Iri Hati
57
Bab 57: Setelah Urusan Resmi
58
Bab 58: Tak Tahu Diri
59
Bab 59: Tenang
60
Bab 60: Memikirkan Hal yang Sama
61
Bab 61: Memberikan Petunjuk
62
Bab 62: Putusan
63
Bab 63: Memulai dari Awal
64
Bab 64: Saling Memiliki
65
Bab 65: Mengganggu Orang
66
Bab 66: Menemui Mata-Mata
67
Bab 67: Motif
68
Bab 68: Ingin Istirahat
69
Bab 69: Mencari Perhatian
70
Bab 70: Mengusir Pengganggu
71
Bab 71: Tidak Fokus
72
Bab 72: Mengubah Tradisi
73
Bab 73: Menarik Diri
74
Bab 74: Orang yang Tidak Sopan
75
Bab 75: Kehilangan Martabat
76
Bab 76: Panen Besar
77
Bab 77: Menyerah
78
Bab 78: Kenalan Lama
79
Bab 79: Melihat Orang
80
Bab 80: Masa Lalu Selir Rou
81
Bab 81: Para Cinta Pertama
82
Bab 82: Dua Kendi Cuka
83
Bab 83: Memberikan Anugerah
84
Bab 84: Kelinci Liar, Tak Bisa Lari!
85
Bab 85: Tidak Beres
86
Bab 86: Memberi Mandat
87
Bab 87: Percaya Saja
88
Bab 88: Akulah Ratumu!
89
Bab 89: Bagian yang Hilang
90
Bab 90: Mulai Curiga
91
Bab 91: Membuat Rencana
92
Bab 92: Mengapa Tidak Mungkin?
93
Bab 93: Dia Mengandung Keturunan Kekaisaran
94
Bab 94: Manja
95
Bab 95: Berbagi Kebahagiaan
96
Bab 96: Petunjuk Penting
97
Bab 97: Teguran Halus
98
Bab 98: Minta Orang
99
Bab 99: Rencana Fu Dou
100
Bab 100: Mengikuti Kata Hati
101
Bab 101: Niat Jahat
102
Bab 102: Membebaskan Orang
103
Bab 103: Gelagat Aneh
104
Bab 104: Menyimpan Rencana
105
Bab 105: Menerima Gugatan
106
Bab 106: Bau Konspirasi
107
Bab 107: Aku Tidak Akan Membiarkan Mereka Menahanmu!
108
Bab 108: Orang Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!