Bab 5: Ada Orang yang Meracunimu!

Persis seperti perkataan Fu Dou, malam itu setelah Han Ziqing kembali ke Istana Ningxi, dia memuntahkan darah cukup banyak.

Pelayan pribadi Han Ziqing, Meixiang, menangis setiap kali melihat majikannya mengeluarkan seteguk demi seteguk darah dan memenuhi baskom dengan cairan merah itu.

Meixiang senang bukan kepalang begitu mendengar Han Ziqing hidup lagi. Saat semua orang mengatakan Han Ziqing sudah mati, Meixiang tidak percaya dan terus mengoceh tanpa henti.

Pihak istana terpaksa menahannya di Istana Ningxi dan tidak membiarkannya keluar agar dia tidak membuat keributan karena syok dan mengganggu prosesi duka.

Tapi melihat Han Ziqing terus muntah darah, ketakutannya mencuat lagi.

“Yang Mulia, bagaimana jika kita memanggil tabib?”

Han Ziqing menggelengkan kepala. Dia mengambil saputangan dan mengelap sisa darah di bibirnya.

Awalnya ia berpikir darah itu berasal dari pembuluh darah yang pecah akibat pukulan keras dari gagang pedang yang diberikan Wei Shiqi tadi. Tapi setelah ia memeriksa denyut nadinya sendiri, Han Ziqing menemukan sesuatu yang aneh.

Selain pekerjaan utamanya sebagai peneliti dan pengembang alat-alat mutakhir masa depan, Han Ziqing sering menggunakan waktu senggangnya yang langka untuk meneliti ilmu pengobatan tradisional dan melatih seni beladirinya.

Gurunya mengatakan kalau pengobatan tradisional adalah warisan dan Han Ziqing punya kewajiban untuk terus mengembangkannya.

Jadi, ketika dia merasakan tubuhnya tidak baik-baik saja, dia selalu memeriksanya sendiri dengan metode tradisional itu sebelum memastikan penyebabnya.

“Tidak perlu. Ini hanya efek dari pertarungan tadi.”

“Yang Mulia, aku tahu Yang Mulia menyukai Kaisar. Tapi, Yang Mulia tidak perlu sampai mengajaknya bertarung. Bagaimanapun, Kaisar adalah pria, dia punya tenaga yang lebih besar darimu.”

“Meixiang, wanita juga tidak kalah hebatnya dengan pria. Kaisar hanya beruntung karena terlahir sebagai pria!”

Setiap kali menggunakan emosi, Han Ziqing akan kembali memuntahkan seteguk darah. Kalau begini terus, dia bisa mati.

Han Ziqing mengelap kembali sisa darah yang tertinggal di bibir, kemudian membaringkan dirinya di tempat tidur. Dia menatap langit-langit yang ditutupi kelambu kain berwarna merah muda.

Meixiang membersihkan sisa darah yang terciprat di lantai dengan lap basah, lalu hendak membawa baskom berisi darah keluar.

Saat itu, Han Ziqing tiba-tiba memikirkan sesuatu yang tidak terduga. Darah yang terus keluar itu, seharusnya bukan hanya efek dari pukulan Wei Shiqi di dadanya.

“Jangan membuangnya!”

Meixiang terkejut dan baskom darah hampir tumpah. Untung saja tangannya cekatan menahan baskom tersebut. Han Ziqing segera bangkit dan mengambil alih baskom tersebut, membawanya dan menyimpannya di atas meja. Dia memperhatikan darahnya sendiri dengan saksama dan menyadari warnanya berbeda dari darah manusia normal.

“Apa kita punya jarum perak?”

Meixiang menggangguk. “Ada banyak orang yang membencimu. Jadi, Yang Mulia menyuruhku untuk memeriksa setiap makanan dan minuman dengan jarum perak.”

“Huh, Han Ziqing ini sunggu cerdik. Pantas saja dia berhasil mempertahankan nyawanya saat banyak orang membencinya.”

“Yang Mulia, mengapa Yang Mulia membicarakan dirimu sendiri?”

“Ambilkan saja jarumnya!”

Tanpa menunggu lama Meixiang mengambil satu set jarum perak dari lemari. Han Ziqing mengambil satu dari puluhan jarum, lalu mencelupkannya ke dalam darah di baskom.

Seketika, ujung jarum yang terkena darah berubah menjadi hitam. Han Ziqing menyeringai setelah menemukan penyebab dia muntah darah terus menerus.

“Astaga! Yang Mulia, itu racun!”

“Sudah kuduga kematian mendadak ini tidak sederhana.”

“Tapi, mengapa Tabib Istana tidak menemukannya?”

“Bodoh. Itu hanya bisa menjadi dua kemungkinan. Pertama, dia tidak tahu jenis racunnya dan tidak dapat mendeteksi. Kedua, Tabib Istana sudah berbohong.”

Ada tangan tersembunyi di balik kematiannya. Jika tidak, bagaimana mungkin Han Ziqing asli yang sebelumnya sehat dan bugar bisa tiba-tiba mati mendadak.

Toh, di zaman ini juga belum ada penyakit serangan jantung. Jika ada pun, pemicunya harus jelas. Tubuhnya ini tidak punya riwayat penyakit, tidak mungkin mati begitu saja.

Mengingat jarum perak di tangannya, Han Ziqing jadi memikirkan dan menganalisisnya. Racun itu pasti semacam racun khusus yang bekerja tanpa terdeteksi di dalam tubuh.

Bisa membuat seseorang mati mendadak, itu artinya kekuatan racun ini sangat kuat dan spesial. Han Ziqing menduga, racun tersebut mengalami reaksi tak biasa begitu bertabrakan dengan aliran tenaga dalam dan sumber peredaran darah mengalami kekacauan akibat benturan.

Pukulan Wei Shiqi di dadanya tadi, pasti menyebabkan reaksi lain racun tersebut karena kebetulan saat itu Han Ziqing juga menggunakan tenaga dalamnya.

Han Ziqing menyeringai tidak jelas, seringainya membuat Meixiang bergidik. Di tengah malam begini, majikannya tiba-tiba saja bersikap aneh dan tidak biasa. Apa dia kerasukan hantu?

“Meixiang, apa yang biasanya dilakukan Kaisar pada malam seperti ini?” tanya Han Ziqing tiba-tiba. Meixiang terkejut. “Yang Mulia, Yang Mulia bukan ingin mengajaknya bertarung lagi, kan?”

“Aku hanya ingin tahu.”

“Oh. Beberapa saat yang lalu pelayan luar mengatakan kalau Selir Agung Yun datang ke Istana Yongqian.”

Selir Agung Yun? Yun Lin? Di dalam ingatannya, Yun Lin adalah selir yang bersaing dengannya untuk mendapat cinta Wei Shiqi dan sudah bermusuhan dengannya sejak lima tahun lalu. Han Ziqing mendecih. “Cih, dasar pria!”

Muncul sebuah ide di dalam otak Han Ziqing. Wei Shiqi kalau tidak salah punya seorang tabib aneh yang hanya mengobati untuk dirinya sendiri.

Cara tercepat untuk mengetahui jenis racun apa yang ada di dalam darah ini adalah menyerahkannya pada Wei Shiqi.

Han Ziqing meminta sebuah botol porselen putih, lalu menuangkan darahnya ke dalam botol tersebut dan menyerahkannya pada Meixiang.

“Berikan ini pada Kaisar dan bilang itu adalah hadiah pertemuan dariku.”

“Semalam ini?”

“Cepat berikan saja! Dia pasti senang!”

Meixiang tidak berani menunda perintah. Pelayan itu langsung pergi begitu Han Ziqing memerintahnya. Han Ziqing tertawa senang.

Pemikirannya terbang jauh sekali. Tidak akan ia biarkan Wei Shiqi tidur setelah memukulnya begitu keras. Kaisar oh Kaisar, lihat bagaimana aku, Han Ziqing, merusak malam panasmu bersama Selir Agung Yun!

Meixiang berlari dari Istana Ningxi ke Istana Yongqian. Saat sampai, Jin Bao baru keluar menutup pintu istana. Meixiang segera menghampirinya.

Napasnya ngos-ngosan seperti ikan kekurangan air. Jin Bao mengernyit. Apakah Permaisuri masih tidak puas bertarung dan ingin menantang Kaisar lagi?

“Kasim Jin, apakah Yang Mulia ada di dalam?” tanya Meixiang setelah napasnya stabil.

“Ya. Dia baru saja beristirahat.”

“Permaisuri memintaku menyerahkan ini pada Kaisar. Dia bilang ini adalah hadiah pertemuan untuk Kaisar dan Kaisar pasti senang menerimanya.”

“Nona Meixiang, aku tahu maksud baik Permaisuri. Tapi, Kaisar benar-benar sudah beristirahat, kau bisa datang lagi kemari besok pagi.”

Jin Bao sudah lelah dengan semua kejadian dan drama hari ini. Melihat Meixiang, dia berpikir Permaisuri pasti belum puas mengacau hingga mengganggu Kaisar tengah malam.

Jin Bao dengan halus mengusir Meixiang, tapi gadis pelayan itu tidak mau pergi. Dia tetap di sana dan bersikeras memberikan botol tersebut kepada Kaisar.

“Kasim Jin, aku tidak bisa pulang jika botol ini tidak diterima langsung oleh Kaisar. Kasim Jin jangan mempersulitku!”

“Justru kau juga jangan mempersulitku! Kaisar benar-benar sudah pergi tidur!”

Wei Shiqi yang hendak memejamkan mata terganggu perdebatan di luar. Mau istirahat saja sangat susah! Han Ziqing si wanita menyebalkan itu pasti masih tidak puas bertarung dan memilih mengganggunya malam-malam!

“Bawa botolnya kemari!” seru Wei Shiqi. Jin Bao menghela napas dan terpaksa membawa botol tersebut ke dalam kamar tidur Wei Shiqi. Saat itu, Meixiang langsung berlari kembali ke Istana Ningxi.

Saat Wei Shiqi membuka botol tersebut, dia mengernyit. Isinya darah dan aromanya sangat menyengat. Di bawah penerangan, dia melihat lebih dekat, lalu meneteskannya pada sebuah sendok perak.

Seketika, sendok itu berubah menjadi hitam. Wei Shiqi tidak bisa tidak terkejut. Akhirnya, dia mengerti maksud Han Ziqing yang memberinya botol berisi darah tengah malam begini.

Wei Shiqi memakai jubahnya dan merapikan pakaian. Ia rasa, malam ini dia tidak akan bisa tidur. Han Ziqing benar-benar tidak ingin melepaskannya dan masih ingin membuatnya kesal! Wanita menyebalkan itu benar-benar hebat!

“Yang Mulia, Yang Mulia harus beristirahat! Ke mana Yang Mulia ingin pergi tengah malam begini?”

“Pergi temui Fu Dou!”

Terpopuler

Comments

Ayu Dani

Ayu Dani

wkwkwkwk kasihan sekali kaisar ini

2025-01-14

2

Fian Tefbana

Fian Tefbana

Yah...... akhirnya Kaisarpun penasaran!

2025-01-31

1

ika yanti naibaho

ika yanti naibaho

seru kak cerita nya semangat

2025-01-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Peti Mati Permaisuri
2 Bab 2: Berkelahi
3 Bab 3: Ibu Suri Agung
4 Bab 4: Orang yang Tercerahkan
5 Bab 5: Ada Orang yang Meracunimu!
6 Bab 6: Wangchuan dan Lanyin
7 Bab 7: Anggur
8 Bab 8: Kunjungan Para Selir
9 Bab 9: Tertangkap Basah
10 Bab 10: Mengintai Target
11 Bab 11: Diam-Diam
12 Bab 12: Menolong Orang
13 Bab 13: Melabrak Permaisuri
14 Bab 14: Citra Diri
15 Bab 15: Pertimbangan
16 Bab 16: Kematian Pedagang Gadungan
17 Bab 17: Cari Masalah
18 Bab 18: Keterlibatan Selir Mu
19 Bab 19: Kaki Tangan
20 Bab 20: Melepaskan Satu Orang
21 Bab 21: Lepas Satu Lagi
22 Bab 22: Ruang Rahasia
23 Bab 23: Hadiah Pertama
24 Bab 24: Fragmen Sejarah
25 Bab 25: Memainkan Peran
26 Bab 26: Memancing Kemarahan
27 Bab 27: Reuni Keluarga
28 Bab 28: Malam
29 Bab 29: Berkas Pengakuan
30 Bab 30: Berita Baru
31 Bab 31: Menjadi Orang Sibuk
32 Bab 32: Menanyakan Pendapat
33 Bab 33: Terkejut
34 Bab 34: Mencari Tahu
35 Bab 35: Arsip Kekaisaran
36 Bab 36: Ada yang Terbakar
37 Bab 37: Marah Besar
38 Bab 38: Melanjutkan Tugas
39 Bab 39: Cara Membujuk Orang
40 Bab 40: Mengorek Informasi
41 Bab 41: Hidangan dan Bujukan
42 Bab 42: Kedatangan Utusan
43 Bab 43: Malam Perjamuan
44 Bab 44: Terpukau
45 Bab 45: Pengacau
46 Bab 46: Bantu Aku!
47 Bab 47: Bantuan Darurat
48 Bab 48: Rencana Kerja Sama
49 Bab 49: Imbalan Jasa
50 Bab 50: Mengajari
51 Bab 51: Wajah Damai
52 Bab 52: Merasa Tidak Adil
53 Bab 53: Mengapa Permaisuri Datang dari Luar?
54 Bab 54: Jangan Terlalu Dekat
55 Bab 55: Menunggu Orang
56 Bab 56: Orang yang Iri Hati
57 Bab 57: Setelah Urusan Resmi
58 Bab 58: Tak Tahu Diri
59 Bab 59: Tenang
60 Bab 60: Memikirkan Hal yang Sama
61 Bab 61: Memberikan Petunjuk
62 Bab 62: Putusan
63 Bab 63: Memulai dari Awal
64 Bab 64: Saling Memiliki
65 Bab 65: Mengganggu Orang
66 Bab 66: Menemui Mata-Mata
67 Bab 67: Motif
68 Bab 68: Ingin Istirahat
69 Bab 69: Mencari Perhatian
70 Bab 70: Mengusir Pengganggu
71 Bab 71: Tidak Fokus
72 Bab 72: Mengubah Tradisi
73 Bab 73: Menarik Diri
74 Bab 74: Orang yang Tidak Sopan
75 Bab 75: Kehilangan Martabat
76 Bab 76: Panen Besar
77 Bab 77: Menyerah
78 Bab 78: Kenalan Lama
79 Bab 79: Melihat Orang
80 Bab 80: Masa Lalu Selir Rou
81 Bab 81: Para Cinta Pertama
82 Bab 82: Dua Kendi Cuka
83 Bab 83: Memberikan Anugerah
84 Bab 84: Kelinci Liar, Tak Bisa Lari!
85 Bab 85: Tidak Beres
86 Bab 86: Memberi Mandat
87 Bab 87: Percaya Saja
88 Bab 88: Akulah Ratumu!
89 Bab 89: Bagian yang Hilang
90 Bab 90: Mulai Curiga
91 Bab 91: Membuat Rencana
92 Bab 92: Mengapa Tidak Mungkin?
93 Bab 93: Dia Mengandung Keturunan Kekaisaran
94 Bab 94: Manja
95 Bab 95: Berbagi Kebahagiaan
96 Bab 96: Petunjuk Penting
97 Bab 97: Teguran Halus
98 Bab 98: Minta Orang
99 Bab 99: Rencana Fu Dou
100 Bab 100: Mengikuti Kata Hati
101 Bab 101: Niat Jahat
102 Bab 102: Membebaskan Orang
103 Bab 103: Gelagat Aneh
104 Bab 104: Menyimpan Rencana
105 Bab 105: Menerima Gugatan
106 Bab 106: Bau Konspirasi
107 Bab 107: Aku Tidak Akan Membiarkan Mereka Menahanmu!
108 Bab 108: Orang Lama
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Bab 1: Peti Mati Permaisuri
2
Bab 2: Berkelahi
3
Bab 3: Ibu Suri Agung
4
Bab 4: Orang yang Tercerahkan
5
Bab 5: Ada Orang yang Meracunimu!
6
Bab 6: Wangchuan dan Lanyin
7
Bab 7: Anggur
8
Bab 8: Kunjungan Para Selir
9
Bab 9: Tertangkap Basah
10
Bab 10: Mengintai Target
11
Bab 11: Diam-Diam
12
Bab 12: Menolong Orang
13
Bab 13: Melabrak Permaisuri
14
Bab 14: Citra Diri
15
Bab 15: Pertimbangan
16
Bab 16: Kematian Pedagang Gadungan
17
Bab 17: Cari Masalah
18
Bab 18: Keterlibatan Selir Mu
19
Bab 19: Kaki Tangan
20
Bab 20: Melepaskan Satu Orang
21
Bab 21: Lepas Satu Lagi
22
Bab 22: Ruang Rahasia
23
Bab 23: Hadiah Pertama
24
Bab 24: Fragmen Sejarah
25
Bab 25: Memainkan Peran
26
Bab 26: Memancing Kemarahan
27
Bab 27: Reuni Keluarga
28
Bab 28: Malam
29
Bab 29: Berkas Pengakuan
30
Bab 30: Berita Baru
31
Bab 31: Menjadi Orang Sibuk
32
Bab 32: Menanyakan Pendapat
33
Bab 33: Terkejut
34
Bab 34: Mencari Tahu
35
Bab 35: Arsip Kekaisaran
36
Bab 36: Ada yang Terbakar
37
Bab 37: Marah Besar
38
Bab 38: Melanjutkan Tugas
39
Bab 39: Cara Membujuk Orang
40
Bab 40: Mengorek Informasi
41
Bab 41: Hidangan dan Bujukan
42
Bab 42: Kedatangan Utusan
43
Bab 43: Malam Perjamuan
44
Bab 44: Terpukau
45
Bab 45: Pengacau
46
Bab 46: Bantu Aku!
47
Bab 47: Bantuan Darurat
48
Bab 48: Rencana Kerja Sama
49
Bab 49: Imbalan Jasa
50
Bab 50: Mengajari
51
Bab 51: Wajah Damai
52
Bab 52: Merasa Tidak Adil
53
Bab 53: Mengapa Permaisuri Datang dari Luar?
54
Bab 54: Jangan Terlalu Dekat
55
Bab 55: Menunggu Orang
56
Bab 56: Orang yang Iri Hati
57
Bab 57: Setelah Urusan Resmi
58
Bab 58: Tak Tahu Diri
59
Bab 59: Tenang
60
Bab 60: Memikirkan Hal yang Sama
61
Bab 61: Memberikan Petunjuk
62
Bab 62: Putusan
63
Bab 63: Memulai dari Awal
64
Bab 64: Saling Memiliki
65
Bab 65: Mengganggu Orang
66
Bab 66: Menemui Mata-Mata
67
Bab 67: Motif
68
Bab 68: Ingin Istirahat
69
Bab 69: Mencari Perhatian
70
Bab 70: Mengusir Pengganggu
71
Bab 71: Tidak Fokus
72
Bab 72: Mengubah Tradisi
73
Bab 73: Menarik Diri
74
Bab 74: Orang yang Tidak Sopan
75
Bab 75: Kehilangan Martabat
76
Bab 76: Panen Besar
77
Bab 77: Menyerah
78
Bab 78: Kenalan Lama
79
Bab 79: Melihat Orang
80
Bab 80: Masa Lalu Selir Rou
81
Bab 81: Para Cinta Pertama
82
Bab 82: Dua Kendi Cuka
83
Bab 83: Memberikan Anugerah
84
Bab 84: Kelinci Liar, Tak Bisa Lari!
85
Bab 85: Tidak Beres
86
Bab 86: Memberi Mandat
87
Bab 87: Percaya Saja
88
Bab 88: Akulah Ratumu!
89
Bab 89: Bagian yang Hilang
90
Bab 90: Mulai Curiga
91
Bab 91: Membuat Rencana
92
Bab 92: Mengapa Tidak Mungkin?
93
Bab 93: Dia Mengandung Keturunan Kekaisaran
94
Bab 94: Manja
95
Bab 95: Berbagi Kebahagiaan
96
Bab 96: Petunjuk Penting
97
Bab 97: Teguran Halus
98
Bab 98: Minta Orang
99
Bab 99: Rencana Fu Dou
100
Bab 100: Mengikuti Kata Hati
101
Bab 101: Niat Jahat
102
Bab 102: Membebaskan Orang
103
Bab 103: Gelagat Aneh
104
Bab 104: Menyimpan Rencana
105
Bab 105: Menerima Gugatan
106
Bab 106: Bau Konspirasi
107
Bab 107: Aku Tidak Akan Membiarkan Mereka Menahanmu!
108
Bab 108: Orang Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!