Permaisuri Tidak Mungkin Jahat

Permaisuri Tidak Mungkin Jahat

Bab 1: Peti Mati Permaisuri

"Uh...."

Han Ziqing melenguh saat ia merasakan sakit kepala yang hebat menderanya. Ketika dia membuka matanya, pandangannya menjadi gelap.

Tidak, ini bukan karena dia buta, tapi karena ruangan ini benar-benar tidak memiliki cahaya. Han Ziqing mengangkat tangannya, menyentuh benda keras berukir yang menjadi penyebab kegelapan itu.

"Peti mati?" tanyanya mencoba menganalisis.

Dia yakin itu. Dengan tenaganya yang tidak seberapa, tutup peti mati itu berhasil disingkirkan setelah beberapa menit.

Seketika cahaya yang tidak terlalu terang menembus ke dalam retina matanya, membuatnya melihat sebuah langit-langit berbatu berwarna gelap. Ada aroma cendana yang tercium dari jarak yang sangat dekat.

Han Ziqing melompat keluar. Benar saja! Dia memang berada di dalam peti mati!

Saat pandangannya mengedar ke sekeliling, Han Ziqing menangkap sebuah pemandangan yang sangat asing baginya. Ada kain putih dipasang di sana-sini, dekorasi ruangan ini tampak seperti sebuah aula, besar, megah dan mewah.

Aroma cendana itu berasal dari tempat pembakaran dupa di samping kanan peti mati. Han Ziqing menatap tubuhnya yang menjadi lebih kecil dari sebelumnya.

"Ah sial!"

Han Ziqing mengumpat keras. Suaranya menggema. Sialan! Dia telah memasuki dunia yang salah!

"Mengapa aku harus masuk ke dunia yang ini?"

Tidak, ini tidak bisa dibenarkan.

Beberapa jam lalu Han Ziqing masih berada di dalam laboratorium. Mesin waktu yang diciptakan sahabatnya perlu diuji coba, dan dia memilih menjadi peserta uji coba. Han Ziqing meminta sahabatnya untuk mengirimnya ke dunia kultivasi, atau ke dunia yang bisa membuatnya menjadi seorang pahlawan super.

Di tengah perjalanan, kerusakan mesin waktu terjadi. Laboratorium tiba-tiba meledak sebelum Han Ziqing berhasil mencapai dunia yang diinginkannya.

Han Ziqing tidak mencapai dunia yang diinginkan dalam rencananya. Transformasi ruang dan waktu tidak dapat dibatalkan meskipun tubuh asli Han Ziqing hancur bersama laboratorium. Sepanjang perjalanan, jiwanya melayang melewati banyak ruang waktu.

Ada banyak ingatan datang padanya melalui ruang itu. Tiba-tiba saja, dia terbangun dalam peti mati seorang permaisuri yang telah mati satu hari lalu. Permaisuri ini sudah menikah dengan seorang kaisar sebuah negara selama lima tahun.

Permaisuri Han adalah putri dari Keluarga Han yang bernama asli Han Ziqing. Keluarga Han menjadi abdi setia Kekaisaran Wei Agung selama beberapa generasi. Ayah Han Ziqing adalah Adipati Yongyi, Han Song, seorang jenderal besar pelindung negara.

Sayangnya, Adipati Yongyi tidak cukup puas pada Kaisar saat ini, sehingga Kaisar mengusirnya pergi menjaga perbatasan dan tidak akan kembali jika tidak ada dekrit resmi. Adipati Yongyi mau tidak mau harus meninggalkan putrinya di istana tanpa tahu seperti apa kehidupannya setelah menjadi Permaisuri Han.

Karena latar belakang keluarganya kuat, Han Ziqing dapat berdiri kukuh di harem. Dia sangat mencintai Kaisar dan seringkali mengganggunya.

Sayangnya hati Kaisar itu seperti batu es yang dipendam di Benua Antartika, keras dan dingin. Han Ziqing tidak disukai Kaisar dan karena sering mengganggunya, Kaisar secara bertahap menjauhinya dan membatasi interaksinya.

Cinta yang tidak terbalas itu kemudian membuat Han Ziqing menjadi pemarah. Dia sering memarahi para selir dan menghukum mereka setiap kali mereka memakai riasan berlebih dan pakaian yang menggoda iman. Secara bertahap pula dia menjadi permaisuri yang ditakuti.

Menjadi permaisuri yang dipandang jahat, tidak disukai kaisar dan cintanya bertepuk sebelah tangan, bukankah itu sangat menyebalkan?

Tapi masalahnya adalah, mengapa ruangan tempatnya berada ini terasa sangat hening?

Umumnya ketika seorang permaisuri meninggal, akan ada banyak pelayan, kasim, dan juga anggota keluarga kerajaan yang datang untuk menjaga dan bersembahyang.

Mengapa tidak ada satu pun suara yang terdengar?

Han Ziqing tiba-tiba merasakan punggungnya menjadi dingin. Itu bukan berasal dari luar, karena ini baru saja mulai memasuki musim gugur. Hawa dingin itu sepertinya berasal dari sesuatu yang lebih dingin dari sekadar tumpukan es di kutub utara dan selatan.

Dengan ragu ia berbalik, dan....

Ada banyak pasang mata menatapnya bersamaan. Bukan ekspresi kekaguman, ia jelas tahu bahwa puluhan pasang mata ini baru saja mendapatkan sebuah kejutan yang membuat jantung mereka berhenti berdetak selama beberapa saat.

Jiwa mereka sepertinya telah meninggalkan tubuh mereka. Tubuh pemilik puluhan pasang mata itu semuanya menghadap Han Ziqing, tapi mereka begitu kaku. Kelopak mata mereka masih berkedip, tapi kata-kata yang mereka miliki sudah musnah.

Ada seorang pria yang usianya kira-kira tiga tahun lebih tua darinya, sedang duduk di barisan paling depan dengan jubah duka. Kepala pria itu dihiasi dengan sebuah mahkota khas kerajaan zaman dulu, yang membuat rambut mereka harus disanggul rapi.

Dia tampan. Ekspresinya juga sama seperti yang lain: terkejut, tapi lebih ada kesan dingin dan kejam.

Han Ziqing menyadari situasi canggung ini. Yah, bagaimanapun, tubuh yang berdiri di depan mereka saat ini seharusnya sudah mati satu hari lalu.

Dengan tawa canggungnya, Han Ziqing kemudian berkata kepada mereka dan suaranya penuh keraguan, "Ah, maaf mengganggu prosesi berduka kalian. Silakan lanjutkan, silakan lanjutkan."

Tidak tahan dengan situasi canggung dan membingungkan itu, Han Ziqing kemudian bergerak untuk masuk kembali ke dalam peti mati. Kali ini, ia bisa menutup pintu petinya dengan mudah. Dia berbaring di sana seperti sedia kala, menunggu dengan mata terpejam akan sesuatu yang akan terjadi kemudian.

Beberapa saat kemudian, jiwa salah seorang pelayan kembali ke dalam tubuhnya. Matanya masih membelalak, tapi napasnya sudah sesak dan ia juga tersedak. Setelah itu, dia berteriak dengan suara yang cukup keras hingga mengagetkan semua orang.

"HANTU!!!"

Si pelayan berlari terbirit-birit keluar dari aula. Ketakutan di wajahnya jelas tidak bisa digambarkan oleh kata dan meskipun Han Ziqing tidak bisa melihatnya, dia bisa membayangkannya. Terdengar suara langkah lain yang acak, ia menebak jika semua orang yang ada di dalam aula sekarang sedang berlari ketakutan juga.

Astaga, ini kacau! Bagaimana ia akan menjelaskannya nanti?

Pria berjubah paling tampan di barisan depan – Wei Shiqi, sang Kaisar Wei menatap tanpa emosi pada kasim pribadinya. Ekspresinya begitu datar seolah-olah semua emosi yang seharusnya ia punya telah lama menghilang. Jin Bao, kasimnya berkeringat dingin. Ditatap sedemikian rupa oleh kaisarnya, seluruh tubuhnya kehilangan jiwanya lagi.

"Apa maksud semua ini?"

Suara berat dan dalam Kaisar mengguncang atmosfer aula. Di dalam peti mati yang tertutup, Han Ziqing menunggu dengan pasrah. Kedua tangannya terjalin di perut, mulutnya komat-kamit mengumpati sahabatnya yang membuatnya tersasar ke dunia lain.

Dia tidak menjadi pahlawan super, tapi menjadi permaisuri tidak disukai yang hidup kembali setelah satu hari mati! Tanpa melihat pun, Han Ziqing tahu kalau semua orang di aula sekarang pasti ketakutan dan kebingungan. Tapi yang lebih menakutkan baginya adalah peti ini dibuka oleh orang yang tidak seharusnya ditemui!

Terpopuler

Comments

Winarni 1979

Winarni 1979

baru lihat karya barumu thor. keren. semangat trs ya😍

2025-01-30

1

RossyNara

RossyNara

aku mampir lagi thor... semangat

2025-01-14

1

Sri Mulyaningsih

Sri Mulyaningsih

lah situ sebagai jenazahnya bangun, bigimana 🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-02-01

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Peti Mati Permaisuri
2 Bab 2: Berkelahi
3 Bab 3: Ibu Suri Agung
4 Bab 4: Orang yang Tercerahkan
5 Bab 5: Ada Orang yang Meracunimu!
6 Bab 6: Wangchuan dan Lanyin
7 Bab 7: Anggur
8 Bab 8: Kunjungan Para Selir
9 Bab 9: Tertangkap Basah
10 Bab 10: Mengintai Target
11 Bab 11: Diam-Diam
12 Bab 12: Menolong Orang
13 Bab 13: Melabrak Permaisuri
14 Bab 14: Citra Diri
15 Bab 15: Pertimbangan
16 Bab 16: Kematian Pedagang Gadungan
17 Bab 17: Cari Masalah
18 Bab 18: Keterlibatan Selir Mu
19 Bab 19: Kaki Tangan
20 Bab 20: Melepaskan Satu Orang
21 Bab 21: Lepas Satu Lagi
22 Bab 22: Ruang Rahasia
23 Bab 23: Hadiah Pertama
24 Bab 24: Fragmen Sejarah
25 Bab 25: Memainkan Peran
26 Bab 26: Memancing Kemarahan
27 Bab 27: Reuni Keluarga
28 Bab 28: Malam
29 Bab 29: Berkas Pengakuan
30 Bab 30: Berita Baru
31 Bab 31: Menjadi Orang Sibuk
32 Bab 32: Menanyakan Pendapat
33 Bab 33: Terkejut
34 Bab 34: Mencari Tahu
35 Bab 35: Arsip Kekaisaran
36 Bab 36: Ada yang Terbakar
37 Bab 37: Marah Besar
38 Bab 38: Melanjutkan Tugas
39 Bab 39: Cara Membujuk Orang
40 Bab 40: Mengorek Informasi
41 Bab 41: Hidangan dan Bujukan
42 Bab 42: Kedatangan Utusan
43 Bab 43: Malam Perjamuan
44 Bab 44: Terpukau
45 Bab 45: Pengacau
46 Bab 46: Bantu Aku!
47 Bab 47: Bantuan Darurat
48 Bab 48: Rencana Kerja Sama
49 Bab 49: Imbalan Jasa
50 Bab 50: Mengajari
51 Bab 51: Wajah Damai
52 Bab 52: Merasa Tidak Adil
53 Bab 53: Mengapa Permaisuri Datang dari Luar?
54 Bab 54: Jangan Terlalu Dekat
55 Bab 55: Menunggu Orang
56 Bab 56: Orang yang Iri Hati
57 Bab 57: Setelah Urusan Resmi
58 Bab 58: Tak Tahu Diri
59 Bab 59: Tenang
60 Bab 60: Memikirkan Hal yang Sama
61 Bab 61: Memberikan Petunjuk
62 Bab 62: Putusan
63 Bab 63: Memulai dari Awal
64 Bab 64: Saling Memiliki
65 Bab 65: Mengganggu Orang
66 Bab 66: Menemui Mata-Mata
67 Bab 67: Motif
68 Bab 68: Ingin Istirahat
69 Bab 69: Mencari Perhatian
70 Bab 70: Mengusir Pengganggu
71 Bab 71: Tidak Fokus
72 Bab 72: Mengubah Tradisi
73 Bab 73: Menarik Diri
74 Bab 74: Orang yang Tidak Sopan
75 Bab 75: Kehilangan Martabat
76 Bab 76: Panen Besar
77 Bab 77: Menyerah
78 Bab 78: Kenalan Lama
79 Bab 79: Melihat Orang
80 Bab 80: Masa Lalu Selir Rou
81 Bab 81: Para Cinta Pertama
82 Bab 82: Dua Kendi Cuka
83 Bab 83: Memberikan Anugerah
84 Bab 84: Kelinci Liar, Tak Bisa Lari!
85 Bab 85: Tidak Beres
86 Bab 86: Memberi Mandat
87 Bab 87: Percaya Saja
88 Bab 88: Akulah Ratumu!
89 Bab 89: Bagian yang Hilang
90 Bab 90: Mulai Curiga
91 Bab 91: Membuat Rencana
92 Bab 92: Mengapa Tidak Mungkin?
93 Bab 93: Dia Mengandung Keturunan Kekaisaran
94 Bab 94: Manja
95 Bab 95: Berbagi Kebahagiaan
96 Bab 96: Petunjuk Penting
97 Bab 97: Teguran Halus
98 Bab 98: Minta Orang
99 Bab 99: Rencana Fu Dou
100 Bab 100: Mengikuti Kata Hati
101 Bab 101: Niat Jahat
102 Bab 102: Membebaskan Orang
103 Bab 103: Gelagat Aneh
104 Bab 104: Menyimpan Rencana
105 Bab 105: Menerima Gugatan
106 Bab 106: Bau Konspirasi
107 Bab 107: Aku Tidak Akan Membiarkan Mereka Menahanmu!
108 Bab 108: Orang Lama
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Bab 1: Peti Mati Permaisuri
2
Bab 2: Berkelahi
3
Bab 3: Ibu Suri Agung
4
Bab 4: Orang yang Tercerahkan
5
Bab 5: Ada Orang yang Meracunimu!
6
Bab 6: Wangchuan dan Lanyin
7
Bab 7: Anggur
8
Bab 8: Kunjungan Para Selir
9
Bab 9: Tertangkap Basah
10
Bab 10: Mengintai Target
11
Bab 11: Diam-Diam
12
Bab 12: Menolong Orang
13
Bab 13: Melabrak Permaisuri
14
Bab 14: Citra Diri
15
Bab 15: Pertimbangan
16
Bab 16: Kematian Pedagang Gadungan
17
Bab 17: Cari Masalah
18
Bab 18: Keterlibatan Selir Mu
19
Bab 19: Kaki Tangan
20
Bab 20: Melepaskan Satu Orang
21
Bab 21: Lepas Satu Lagi
22
Bab 22: Ruang Rahasia
23
Bab 23: Hadiah Pertama
24
Bab 24: Fragmen Sejarah
25
Bab 25: Memainkan Peran
26
Bab 26: Memancing Kemarahan
27
Bab 27: Reuni Keluarga
28
Bab 28: Malam
29
Bab 29: Berkas Pengakuan
30
Bab 30: Berita Baru
31
Bab 31: Menjadi Orang Sibuk
32
Bab 32: Menanyakan Pendapat
33
Bab 33: Terkejut
34
Bab 34: Mencari Tahu
35
Bab 35: Arsip Kekaisaran
36
Bab 36: Ada yang Terbakar
37
Bab 37: Marah Besar
38
Bab 38: Melanjutkan Tugas
39
Bab 39: Cara Membujuk Orang
40
Bab 40: Mengorek Informasi
41
Bab 41: Hidangan dan Bujukan
42
Bab 42: Kedatangan Utusan
43
Bab 43: Malam Perjamuan
44
Bab 44: Terpukau
45
Bab 45: Pengacau
46
Bab 46: Bantu Aku!
47
Bab 47: Bantuan Darurat
48
Bab 48: Rencana Kerja Sama
49
Bab 49: Imbalan Jasa
50
Bab 50: Mengajari
51
Bab 51: Wajah Damai
52
Bab 52: Merasa Tidak Adil
53
Bab 53: Mengapa Permaisuri Datang dari Luar?
54
Bab 54: Jangan Terlalu Dekat
55
Bab 55: Menunggu Orang
56
Bab 56: Orang yang Iri Hati
57
Bab 57: Setelah Urusan Resmi
58
Bab 58: Tak Tahu Diri
59
Bab 59: Tenang
60
Bab 60: Memikirkan Hal yang Sama
61
Bab 61: Memberikan Petunjuk
62
Bab 62: Putusan
63
Bab 63: Memulai dari Awal
64
Bab 64: Saling Memiliki
65
Bab 65: Mengganggu Orang
66
Bab 66: Menemui Mata-Mata
67
Bab 67: Motif
68
Bab 68: Ingin Istirahat
69
Bab 69: Mencari Perhatian
70
Bab 70: Mengusir Pengganggu
71
Bab 71: Tidak Fokus
72
Bab 72: Mengubah Tradisi
73
Bab 73: Menarik Diri
74
Bab 74: Orang yang Tidak Sopan
75
Bab 75: Kehilangan Martabat
76
Bab 76: Panen Besar
77
Bab 77: Menyerah
78
Bab 78: Kenalan Lama
79
Bab 79: Melihat Orang
80
Bab 80: Masa Lalu Selir Rou
81
Bab 81: Para Cinta Pertama
82
Bab 82: Dua Kendi Cuka
83
Bab 83: Memberikan Anugerah
84
Bab 84: Kelinci Liar, Tak Bisa Lari!
85
Bab 85: Tidak Beres
86
Bab 86: Memberi Mandat
87
Bab 87: Percaya Saja
88
Bab 88: Akulah Ratumu!
89
Bab 89: Bagian yang Hilang
90
Bab 90: Mulai Curiga
91
Bab 91: Membuat Rencana
92
Bab 92: Mengapa Tidak Mungkin?
93
Bab 93: Dia Mengandung Keturunan Kekaisaran
94
Bab 94: Manja
95
Bab 95: Berbagi Kebahagiaan
96
Bab 96: Petunjuk Penting
97
Bab 97: Teguran Halus
98
Bab 98: Minta Orang
99
Bab 99: Rencana Fu Dou
100
Bab 100: Mengikuti Kata Hati
101
Bab 101: Niat Jahat
102
Bab 102: Membebaskan Orang
103
Bab 103: Gelagat Aneh
104
Bab 104: Menyimpan Rencana
105
Bab 105: Menerima Gugatan
106
Bab 106: Bau Konspirasi
107
Bab 107: Aku Tidak Akan Membiarkan Mereka Menahanmu!
108
Bab 108: Orang Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!