Cowok yang menarik. Baru kali ini ada yang tidak menatapku sama sekali. Aku harus mendapatkannya.
Naufal menuju ke perpustakaan, tempat dimana ia sering menghabiskan waktunya setiap di sekolah. Ia lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca buku daripada harus ke kantin.
"Eh Naufal kamu disini juga" ucap Sarah yang tiba-tiba muncul.
Duh kenapa nih cewek ngikutin sih.
Naufal hanya diam tanpa menjawab sama sekali perkataan Sarah. Ia hanya fokus ke buku yang dibacanya.
"Hello ada orang nggak sih? aku kan lagi ngomong".
"Mbak bisa diam nggak? ini perpustakaan bukan tempat demo, malah teriak-teriak" ucap salah satu murid yang berada di perpustakaan itu.
Tentu saja hal ini membuat Sarah kesal dan langsung meninggalkan perpustakaan.
Naufal tersenyum senang melihat Sarah yang sudah tidak mengganggunya lagi.
Di tempat lain, Raisa kini sedang membersihkan rumah sambil memutar musik yang sangat kencang. Ia berjoget-joget seperti cacing kepanasan, saking bersemangatnya.
How you like that.. barambim barambum bum bum. How you like that.. tededet det tedededet.
Raisa tidak sadar, di ambang pintu sudah ada mama Nia yang sedang menyaksikannya berjoget sambil geleng geleng kepala.
"How you like aaaaahhhhh" teriak Raisa seperti melihat hantu.
"Ih mama kenapa tiba-tiba udah berdiri di pintu sih? ketuk pintu kek kalau mau datang" lanjut Raisa yang terkejut.
"Kamu aja yang putar musiknya kekencengan, dari tadi mama ketuk kamu nggak dengar" ujar mama Nia.
"Mama ngapain ke sini?".
"Memangnya mama nggak boleh main-main ke rumah anak dan menantu mama?".
"Ya boleh sih. Tapi tumben aja gitu".
"Gimana malam pertama kamu?".
"Ih mama mah, baru aja datang langsung bahas malam pertama".
"Mama penasaran, apa Naufal sudah berbuat sesuatu atau nggak".
"Nggak ma. Kita kan masih sekolah juga".
"Kamu kok gitu sih Raisa, nanti kalau suami kamu berpaling ke yang lain gimana?".
"Maksud mama berpaling kayak bagaimana?".
"Ya berpaling karena kamu nggak mau melayani suami kamu dengan memberikan dia haknya".
"Mama serius? jadi aku harus melayani Naufal dong?"
"Iya betul. Pas sekali, ini mama bawain kamu sesuatu".
"Apa itu ma?".
"Lingerie. Ini kamu pakai saat udah mau tidur, biar suami kamu terangsang".
"Ohh gitu ma. Oke baiklah, aku akan coba pakai sebentar malam".
"Nah gitu dong baru anak mama".
Malam harinya sesuai anjuran yang diberikan mama Nia, Raisa pergi ke kamar mandi dan segera mengganti pakaian lingerienya.
Saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Naufal yang tengah sibuk membaca buku di atas ranjang tanpa melihat ke arahnya sama sekali.
"Ehem..ehem" Raisa mencoba berdehem agar mendapat respon dari Naufal.
Sekali tidak mempan, dilakukannya berkali-kali sampai akhirnya Naufal merespon.
"Lo kenapa sih? ada batu yang nyangkut di tenggorokan lo?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya.
"Oh enggak kok, cuma seret aja dikit".
Tiba-tiba Naufal melihat ke arah Raisa, ia menatap istrinya itu dengan tatapan sulit diartikan.
Tatapan macam apa itu? dia jijik atau gimana sih. Batin Raisa di dalam hati.
"Lo nggak ada baju lain sampai pakai baju kekurangan bahan kayak gitu?".
"Apa? baju kekurangan bahan? ini namanya lingerie, lo kudet banget sih" kata Raisa, memutar matanya dengan malas.
"Gue nggak peduli apa nama pakaiannya tapi kenapa lo pake kayak gitu?".
"Emangnya kenapa kalau pakai baju kayak gini? salah? lo kan suami gue, jadi sah sah aja dong".
"Kalau tujuan lo pakai baju itu untuk buat gue terangsang, sorry gue sama sekali nggak terangsang" ucap Naufal.
"Jangan-jangan lo homo ya?" tanya Raisa, memberi jarak diantara mereka.
"Lo gila apa? ya nggak lah".
"Habisnya lo bilang nggak terangsang lihat gue".
"Dada lo kecil nggak bikin nafsu".
Perkataan Naufal sukses membuat Raisa melongo. Ia melihat ke arah dadanya kemudian menutupinya dengan kedua tangan yang bersilang di depannya.
"Apa gue operasi aja ya biar besar kayak semangka?".
"Jangan aneh-aneh deh, mending tidur cepat" kata Naufal membaringkan tubuhnya membelakangi Raisa.
Yah gagal deh. Gumam Raisa yang masih dapat didengar oleh Naufal.
Kenapa dia harus pakai baju kayak gitu sih? mana ada cowok yang nggak terangsang kalau bajunya gitu. Untung aja gue bisa tahan nafsu gue, kalau nggak habis dia malam ini. Batin Naufal di dalam hati.
Keesokan harinya, Raisa dan Naufal tengah bersiap untuk ke sekolah. Ya, hari ini adalah hari pertama Raisa bersekolah setelah 1 minggu di skors.
"Ayo berangkat, nanti telat nih" ucap Naufal.
"Udah duluan aja, gue udah biasa telat kok" kata Raisa dengan santainya.
"Mau sampai kapan lo kayak gitu? udah cepat ke sekolah sekarang jangan malas-malasan. Masa istri gue malas sih" ujar Naufal tanpa sadar.
"Wah jadi udah diakuin nih gue istri lo? duh so sweet banget deh dede Naufal ini".
"Ih apaan sih. Udah lah ayo cepat nanti kita ketinggalan bis" kata Naufal berjalan cepat meninggalkan Raisa di belakang.
"Duh dede Naufal jangan cepat-cepat dong jalannya" teriak Raisa.
Raisa sampai terlebih dahulu ke sekolah daripada Naufal, karena memang jarak sekolah Raisa lebih dekat dibandingkan sekolah Naufal.
"Suamiku kamu semangat ya nanti di sekolah jangan lupa menimba ilmu, kalau istrimu ini biarkan menimba sumur" ucap Raisa saat akan turun dari bis.
Dasar gadis aneh.
Naufal mencoba menahan ketawanya dengan memalingkan wajahnya.
Saat memasuki pagar sekolahannya, Raisa sudah disambut oleh guru piket yang biasanya menghukum Raisa dan gengnya saat terlambat.
"Wah habis di skors udah jadi rajin ya sekarang. Bagus, tingkatkan itu".
"Iya dong bu, saya kan anak teladan sekarang".
Raisa mendapat tatapan kaget dari murid disekitarnya, karena baru kali ini mereka melihat Raisa anggota geng 'wanita buas' tidak terlambat datang ke sekolah.
Saat Raisa hendak keluar dari kelas, ia melihat ketiga anggota gengnya yang sedang dihukum karena terlambat.
"Lihat tuh Raisa nggak dihukum, emang nggak setia kawan nggak ingat pasal 4 dia" ucap Dara kesal.
"Iya ya tumben banget dia cepat datang, biasanya juga lambat. Pasti otaknya yang kotor udah dicuci sama Naufal jadi bersih" tambah Serly.
"Bagus banget ya Raisa nggak dihukum gitu, kapan gue bisa nggak telat kayak dia" sambung Sevia.
"Kalian semua jangan bercerita, diam dan ratapi kesalahan kalian selama 3 tahun ini yang tiap hari terlambat, kalian itu harusnya mencontoh Raisa, sekarang dia sudah tidak terlambat lagi" ucap pak Retno.
"Hey botak" teriak Raisa dari kejauhan.
"Siapa itu yang berteriak?" pak Retno mencari-cari sumber suara dan menemukan Raisa yang berkacak pinggang menatapnya.
"Kamu ya Raisa? dasar anak kurang ajar baru saja dipuji sudah berbuat ulah lagi, sini kamu".
"Benar-benar cari mati ya dia" bisik Sevia kepada Dara dan Serly.
"Itu baru hebat, berarti Raisa setia kawan dong" kata Serly.
"Betul banget, gue kagum dia berani banget sama om botak" ucap Dara.
"Kamu dihukum disini bersama anggota geng kamu. Benar-benar nggak ada akhlak kalian berempat, capek saya ngurusnya" kata pak Retno berlalu pergi.
"Halo guys, ratu kembali ke tempat asalnya" ucap Raisa.
Serly, Sevia dan Dara memberikan jempol ke arah Raisa tanda respect kepada teman satunya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
🌹🌺gemini🌺🌹
ngg ad akhlak raisa
2020-12-08
0
syantie
wkwkwkwkw.....auto ngakak Thor pagi2
2020-12-07
0
Ega Surya
dasar Raisa gak ada akhlak 😂😂😂
2020-11-03
1