Cakra
Hampir seharian ia gelisah menunggu kabar dari Anja, sampai pada akhirnya sebuah pesan chat masuk ke dalam ponselnya menjelang sore hari.
Anja : (share loc)
Anja : 4 pm
Sebelum akhirnya nekat mendatangi rumah Anja, ia memang telah merencanakan pertemuan khusus dengan cewek berisik itu untuk membahas masalah mereka. Terutama sejak obrolan dini harinya dengan Mamak yang benar-benar mengguncang jiwa. Telak. Jadi, sejak beberapa hari lalu ia pun meminta ijin pada Bang Fahri tak bisa mengantar paket hari minggu ini. Namun ia berjanji, minggu depan sanggup double shift saat tanggal merah.
Cafe yang dipilih Anja untuk membicarakan masalah mereka berdua terletak di pinggiran kota diantara deretan pertokoan tua yang minim pengunjung. Jelas setting tempat yang sempurna untuk membicarakan masalah dengan tenang tanpa terganggu oleh hiruk pikuk pengunjung ataupun lalu lalang orang. Dan satu hal yang membuat kesempurnaan menjadi nyata adalah, kemungkinan kecil mereka akan terpergok oleh teman atau siapapun yang mengenal mereka karena Cafe ini jelas-jelas berupa bangunan tua yang diperuntukkan bagi para lansia. Perfect.
Ia datang lebih awal beberapa menit sebelum akhirnya melihat Anja turun dari Taxi Online dengan langkah tergesa. Mengenakan dress bermotif bunga-bunga kecil warna gelap dipadu dengan cardigan warna coral, secara keseluruhan penampilan Anja berhasil membuatnya terpukau. She's beautiful.
"Gue cuma punya lima menit!"
Tapi tidak dengan orangnya. Anja jelas terlihat masih sangat marah padanya. Dan mungkin akan bertambah berkali lipat ketika mereka mulai bicara.
"Oke," ia mencoba mengerti. "Pertama, gue mau minta maaf soal kemarin."
"Nggak usah dibahas lagi!"
Namun ia tentu tak perlu repot-repot untuk mempedulikan penolakan Anja, karena ada hal yang jauh lebih penting, yaitu menunaikan janji yang sempat diucapkannya kepada Mamak dini hari itu.
"Please, dengerin dulu," ia pun berusaha meminta sedikit pengertian Anja.
"Kemarin, waktu elo bilang itu, terus terang gue kaget, nge blank, sama sekali nggak nyangka. Jadi respon yang keluar bener-bener nggak gue pikirin akibatnya."
"Sekarang, gue minta maaf yang sebesar-besarnya sama lo, karena udah bersikap buruk."
Anja tetap tak bergeming dan terus memasang wajah marah.
"Lo mau maafin gue?"
Anja mendecak ketus, "Nggak usah peduliin gue! Sekarang buru lo mo ngomong apa. Biar cepet kelar!"
Ia mengangguk mengerti, "Tapi gue boleh nanya?"
"Apa?!"
"Udah berapa bulan?"
Anja mendelik, "Hitung aja sendiri. Lo ngelakuin itu kapan. Bisa kan ngitung?!"
Ia kembali mengangguk, "Tiga bulan lebih?"
Anja hanya membuang muka.
"Pantesan lo jadi kurus dan pucat," ia tersenyum getir. "Waktu pingsan di lokasi syuting berarti udah ya?"
"Waktu itu gue belum tahu."
"Kapan lo tahu kalau lagi...."
"Dua Minggu lalu!"
"Waktu itu lo langsung nyari gue ke Retrouvailles tapi nggak ketemu?"
Lagi-lagi Anja membuang muka dengan wajah masam.
"Gue minta maaf. Waktu itu lagi ikut event di...."
"Bisa nggak kita ngomongin hal yang penting?! Ini tuh sama sekali nggak penting tahu nggak?!" salak Anja dengan cepat sekaligus marah.
"Oke...oke...," ia kembali mengangguk berusaha mengerti. "Gue siap tanggung jawab...."
"Tanggung jawab gimana maksudnya?!"
Ia menunjuk kearah perut Anja yang terhalang meja, "Anak kita....," jawabnya dengan suara bergetar. Anak kita.
Anja menatapnya nyalang, "Lo pikir ini bakalan jadi anak?!"
"Maksudnya?" ia benar-benar tak mengerti maksud dari pertanyaan Anja.
"Gue masih muda," ujar Anja dengan wajah keruh. "Gue nggak mau punya anak di umur 18 tahun. Gue masih mau main sama temen-temen. Gue masih pingin liburan keliling dunia."
"Gue udah daftar SNM. Gue mau ikut UNBK. Gue mau lulus SMA. Gue mau kuliah."
"Dan gue mau jadi dokter gigi!"
Ia mengangguk setuju, "Iya gue ngerti."
"Bagus kalau lo ngerti! Karena cuma ini yang mau gue omongin."
"Hah?" ia semakin tak mengerti arah pembicaraan Anja.
"Gue mau gugurin..."
Ia terkesiap kaget, "Anja?!"
"Gue cuma pingin ngasih tahu lo ini. Karena gue pikir lo berhak tahu."
"Gue nggak setuju!" sahutnya cepat.
"Apa lo bilang?!" mata Anja bertambah nyalang. "Gue lagi ngasih tahu rencana gue, bukannya lagi minta persetujuan lo!"
"Tapi gue juga punya hak disini."
"Hak?!" Anja tersenyum sinis. "Hak yang udah lo buang jauh-jauh seminggu lalu!"
"Anja, gue kan udah minta maaf? Gue ngaku salah...."
"Telat! Gue udah ambil keputusan!"
"Anja....," ia berusaha meraih tangan Anja untuk menggenggamnya agar mereka berdua sama-sama tahu apa yang sedang dihadapi. Namun Anja keburu menghindar dan menarik tangannya menjauh.
"Kita udah bikin kesalahan...."
"Itu elo!!"
"Iya....iya....," ia mengangguk-angguk berharap Anja lebih tenang. "Ini memang salah gue. Jadi, gue minta sama lo...kita omongin ini baik-baik..."
"Emang dari tadi nggak baik-baik?!"
"Tapi enggak digugurin, Ja. Gue beneran mau tanggung jawab."
Anja tertawa sinis, "Kenapa lo jadi tiba-tiba berubah begini?! Kemarin lo nyalah-nyalahin gue?!"
"Terus lo juga bilang kalau gue yang hamil, jadi gue yang paling tahu mesti digimanain."
"Sekarang gue udah ambil keputusan, terus elo tiba-tiba datang minta diobrolin baik-baik?!"
"Telat!"
Pembicaraan panas mereka harus terhenti sejenak karena pegawai Cafe datang mengantarkan pesanan.
"Orange juice dan strawberry pancake," sambil menyimpannya di hadapan Anja. "Sama lemon ice tea dan macaroni schotel," kali ini untuk dirinya.
"Makasih Mba," ia tersenyum.
"Selamat menikmati," pegawai Cafe balas tersenyum dan langsung berlalu.
Ia pun kembali menatap Anja yang terlihat sangat marah, "Kita.... maksudnya gue...udah ngelakuin kesalahan. Gue nggak mau ngelakuin kesalahan lagi untuk yang kedua kalinya."
"Ya itu terserah elo! Tapi gue udah ambil keputusan!"
"Kita bakal jadi pembunuh, Ja," desisnya lirih. "Anak di perut lo itu udah jadi janin, udah bernyawa...."
"Ya gue juga salah," Anja menunduk. "Telat tahu, jadi telat ambil keputusan. Mungkin kalau sebulan setelah kejadian itu gue tahu lagi hamil, bisa langsung digugurin nggak harus nunggu sampai selama ini...."
"Astaghfirullah Anja....."
Anja menatapnya sinis, "Nggak usah sok fasih deh lo! Kemana aja selama ini?! Gue yakin banget nih kalau elo ngelakuin itu bukan cuma sama gue. Iya kan?!"
Ia menghembuskan napas berat.
"Terus begitu elo ngelakuin ke gue, gue langsung kena getahnya!" sahut Anja cepat sambil tertawa sinis. "Sial banget nggak sih?!"
"Terus sekarang elo sok sok an ngomong astaghfirullah, sok sok an nggak mau bikin kesalahan lagi. Basi tahu nggak sih!!"
Ia hanya menggelengkan kepala tak bisa menjawab kemarahan Anja. Kemudian untuk beberapa saat mereka berdua sama-sama berdiam diri. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya ia menemukan jalan keluar,
"Gue jamin lo bisa tetep dapatin cita-cita lo jadi dokter gigi, tapi tolong kita beresin masalah ini dulu...."
"Gimana caranya?!" salak Anja tak sabar.
"Gue bakalan tanggung jawab sampai anak ini lahir."
Namun Anja langsung memberinya tatapan mematikan.
"Setelah itu terserah elo maunya gimana. Yang penting buat gue anaknya lahir."
"Itu cara menyelesaikan masalah."
"Bukan malah nambah masalah kita berdua jadi pembunuh...."
"Eh, brengsek!" Anja memakinya pelan. "Lo mikir nggak sebelum ngomong begitu?!"
"Sampai anaknya lahir pala lo!!" Anja semakin berapi-api.
"Sekarang bulan apa?! Akhir Maret kita udah USBN!"
"Dan gue....udah daftar SNM, tinggal nunggu pengumuman!"
"Sementara perut gue ini sekarang baru tiga bulan lebih. Bisa ngitung nggak sih lo?!"
"Jadi menurut lo, ntar gue mesti ikut ujian dengan perut bengkak, begitu?!"
"Terus gue juga mesti bengong sampai nih anak lahir pas waktu orang lain lagi pada sibuk Ospek gitu?!!"
"Atau malah gue mesti drop out?!"
"Sementara elo enak-enakan tetep bisa ikut ujian, kelulusan, kuliah...."
"Dan gue mesti mundur setahun cuma buat ngelahirin anak yang sama sekali nggak gue harapin?!?!"
"Anja?!" kini ia tersinggung begitu mendengar rentetan kalimat yang dimuntahkan Anja.
"Bisa nggak sih lo nggak kayak anak kecil?!"
"Nggak bisa!" jawab Anja sinis. "Karena gue masih anak kecil!"
Ia harus menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Kita lalui sama-sama berdua. Gue juga bakal mundur setahun sama kayak elo. Gue nggak akan egois bisa ujian dan kuliah sementara elo enggak."
"Ini masalah kita berdua. Anak kita berdua. Jadi kita hadapi sama-sama. Nggak ada yang lebih diuntungkan atau dirugikan disini. Kita sama sama....."
Anja menatapnya dengan mata seperti induk harimau yang terluka parah, "Gue tahu lo be go! Tapi jangan kebangetan kek gini dong!"
Kini ia harus bekerja keras untuk menahan diri agar tak terpancing emosi akibat ucapan Anja.
"Lo mau tanggung jawab? Lo mau anak ini lahir? Lo mau gap year setahun? Terus selama itu kita hidup pakai apa?!?!"
"Makan daun?!"
"Lo mikir nggak sih kalau punya anak itu butuh biaya besar. Terus sekarang kita...gue...elo...masih sekolah....belum punya penghasilan...mau nekat ngejalanin hidup yang begitu?!"
"Ngimpi!!"
"Itu sama aja kita ngasih beban tambahan buat orangtua!"
Ia harus menahan-nahankan diri agar tak ikut berteriak meskipun ingin. Ia bahkan harus menghela napas selama beberapa saat sebelum bisa kembali bicara, "Gue udah kerja. Gue bisa nyari kerjaan lain yang lebih besar penghasilannya buat kita bertiga...."
Anja tertawa sinis. "Kerja lo apa?! Pelayan cafe?! Berapa gajinya?! Lo mau ngasih kehidupan yang kayak gimana buat gue?!"
"Anja!" kini ia sudah tak tahan lagi. "Bisa nggak sih lo bersikap dewasa dikit? Nggak perlu hina-hina gue. Gue udah biasa dihina. Nggak akan mempan."
"Cuma karena itu keluar dari mulut lo, yang bikin gue nggak terima."
"Karena gue tahu kalau lo sebenarnya nggak mau ngomong begitu ke gue. Lo cuma lagi emosi."
"Serah elo dah," Anja mengibaskan tangan malas. "Pokoknya gue mau gugurin. Titik."
Ia menengadahkan kepala keatas. Memandangi langit-langit bangunan cafe yang tinggi menjulang. Dengan dihiasi beberapa kipas angin gantung yang telah berdebu dan pudar warna aslinya.
Ternyata berjanji itu tak semudah saat mengucapkannya. Berat. Berat sekali. Terbukti sekarang ia bahkan tak bisa memegang janjinya sendiri pada Mamak untuk bertanggungjawab. Untuk tidak menutupi aib dengan kesalahan yang lebih besar. Untuk tidak menyakiti orang lain, yaitu janin yang kini sedang tumbuh dan berkembang di dalam perut Anja.
"Kalau udah nggak ada yang perlu diomongin lagi, gue pergi!" suara ketus Anja memecah kesunyian diantara mereka. Membuatnya mengalihkan pandangan dari langit-langit Cafe untuk menatap wajah -cantik- Anja yang kini tengah menyesap orange juice dengan wajah masam.
"Kapan lo rencana mau ngelakuin itu?" tanyanya pedih.
"Secepatnya."
"Iya, kapan?"
"Gue masih browsing tempat-tempat begitu yang recommended. Gue mau tempat yang paling bagus. Karena gue nggak mau mati disana."
"Atau lo tahu tempat yang bagus mungkin?" seringai Anja dengan pandangan menghina.
Ia hanya mendesis kesal menerima seringaian Anja yang jelas-jelas menuduh. Lebih memilih untuk berkata, "Kalau gitu sebelum lo mastiin waktunya, gue punya satu permintaan."
"Apa?!"
"Gue mau nganterin lo periksa ke dokter. Buat mastiin keadaan sebelum semuanya hilang."
Akhirnya hari Rabu sore dipilih Anja untuk memeriksakan kandungan ke dokter karena ada jadwal bimbel sampai malam. Jadi Anja tak harus berbohong kepada orangtuanya agar bisa keluar rumah lebih lama.
Ia telah mempersiapkan semuanya. Setelah browsing sana sini dan bertanya pada orang di sekitarnya yang telah berpengalaman dalam memeriksakan kandungan. Ia pun memutuskan untuk mencari pinjaman kepada Retrouvailles. Khawatir uang yang dimilikinya kurang.
"Kalau bidan sih terjangkau. Tapi kadang nggak bisa USG," begitu kata Riany yang telah memiliki seorang anak.
"Kalau mau lengkap langsung ke dokter spesialis kandungan. USG nya juga bisa milih mau yang berapa dimensi. Tapi ya itu sesuai dengan jumlah yang harus dibayar."
"Emang siapa yang mau periksa kandungan, Cak?" Riany mengernyit heran. "Kakak ipar lo bukannya belom nikah lagi?"
Ia sempat tergeragap sebelum akhirnya menjawab lirih karena berbohong, "Ada tetangga yang perlu bantuan untuk periksa kandungan Kak."
"Oh," Riany mengangguk meski dengan wajah tak puas dan masih penasaran.
"Nanti kalau uangnya nggak kepakai langsung saya kembalikan ya Kak, biar nggak perlu potong gaji."
"Gimana baiknya aja, Cak."
"Sama pinjam mobil kantor boleh Kak? Biar sekalian," sambungnya malu.
"Boleh kalau lagi nggak ada yang pakai. Asal bensin kembali full ya."
"Siap, Kak."
Ia jelas membutuhkan kendaraan untuk transportasi karena rumah sakit yang mereka pilih untuk memeriksakan kandungan Anja berada jauh di ujung Jakarta. Sengaja agar tak sampai terpergok oleh orang-orang yang mereka kenal. Ternyata hidup dalam pelarian seperti ini sungguh melelahkan. Semua harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Sepulang sekolah ia menjemput Anja di tempat yang telah mereka sepakati bersama. Pastinya tempat tersembunyi yang tak banyak teman-teman atau orang-orang di sekitar mereka tahu.
Begitu Anja masuk ke dalam mobil ia langsung mengangsurkan sekantong plastik yang berisi air mineral, susu instan ibu hamil, crackers dan wafer. Karena menurut artikel yang sempat dibacanya beberapa waktu lalu, orang yang sedang hamil akan sering merasa lapar dibanding orang yang tidak hamil.
"Gue nggak doyan yang ini!" sungut Anja sambil mengembalikan kantong plastik itu padanya.
Ia hanya tersenyum kecut, "Sori gue nggak ngerti kesukaan lo."
Lalu menawarkan, "Mungkin lo mau mampir dulu ke supermarket buat beli ma...."
"Udah buru jalan, keburu macet ntar malah telat lagi sampai sana!" sembur Anja cepat.
"Tapi jaraknya lumayan jauh. Khawatir lo lapar di jalan mungkin enaknya kita mampir dul...."
"Gue bilang jalan...ya jalan!!" Anja membentaknya sambil melotot.
"Oke...oke," ia jadi ikut menggerutu. "Bisa nggak sih lo nggak marah marah?!"
"Enggak!" jawab Anja ketus.
Daripada terus ribut tak ada ujung pangkalnya ia lebih memilih untuk melajukan kendaraan membelah padatnya lalu lintas sore ibu kota. Dan di sepanjang perjalanan mereka saling berdiam diri. Tak ada yang berminat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. Ia tentu harus berkonsentrasi ke jalan raya. Sementara Anja asyik sendiri dengan ipadnya sambil memasang handsfree.
Setengah jam sebelum jam praktek dokter dimulai, mereka telah sampai di Klinik yang dituju. Cukup sepi karena weekdays mungkin. Setelah mendaftar ulang karena tadi ia sempat mendaftarkan Anja melalui telepon, kemudian di cek BB dan tekanan darah, mereka kini telah duduk di ruang tunggu. Lagi-lagi sibuk dengan urusan masing-masing. Sama sekali tak berminat untuk saling berbicara.
Sebenarnya ia berminat, namun Anja tidak. Sejak pertama masuk ke mobil bahkan Anja sudah memasang wajah bermusuhan. Baiklah, mungkin nanti.
"Kalian masih muda sekali ya?" selidik dokter yang telah cukup berumur itu begitu mereka berdua memasuki ruang praktek.
Untung tadi ia sempat berganti baju bebas, begitupula Anja. Tak bisa membayangkan reaksi orang-orang seandainya mereka masih memakai seragam sekolah dan langsung kemari.
Sebelum dilakukan pemeriksaan USG, dokter menanyakan banyak hal kepada Anja yang lebih sering dijawab dengan "lupa" dan "tidak tahu". Ia pun hanya diam mendengarkan, tak bisa ikut membantu untuk menjawab, karena memang tak paham.
"Kalau menurut hasil pemeriksaan USG, usia janin sudah 12 minggu 3 hari."
"Kira-kira sudah sebesar buah rambutan ya ini bisa dilihat."
"Beratnya 14 gram, panjangnya 5,2 centi meter lebih."
"Detak jantung bagus, letak plasenta bagus, ketuban banyak, semua normal."
"Usia kandungan saat ini sudah masuk trise ...."
Ia tak lagi bisa mendengar kalimat lanjutan yang diucapkan oleh dokter karena kini matanya tengah terpukau menyaksikan pemandangan paling menakjubkan yang baru kali ini dilihatnya.
Sebuah kehidupan baru di dalam perut kecil Anja yang kini juga tengah terbelalak dengan wajah pucat pasi demi melihat layar monitor yang sedang menampilkan gambar paling indah yang pernah ada.
How it feels.
***
Keterangan :
UNBK. : ujian nasional berbasis komputer, Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya
USBN. : ujian sekolah berstandar nasional
SNM. : sebutan pendek dari SNMPTN, seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur undangan (menggunakan nilai raport SMA semester 1 - 5)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
wah bhs ny skrg....dulu cm ada ebtanas doank.masuk perguruan tinggi ngg tau...hee.karena ngg niat lanjut cooliah.mau nya nguli.toh ortu jg pasti ngg sanggup.otak jg pas"an mls bljr
2024-09-16
0
Raufaya Raisa Putri
kehilangan kuro sm cloe aj sampe 2thn sama sekali dip dip.aplg kehilangan madesu....
2024-09-16
0
Raufaya Raisa Putri
cancik ny bini gue....bening
2024-09-16
1