Cakra
"Horeeeee Yah bit pulang!" Umay dan Sasa melonjak-lonjak kegirangan begitu mendengar suara motornya berhenti di depan rumah.
"Mana oleh-oleh? Mana oleh-oleh?" anak kelas 3 SD dan TK itu saling berebut lebih dulu untuk menemuinya. Alhasil tubuh mereka berdua tersangkut di pintu karena sama-sama ingin keluar tapi tak ada yang mau mengalah.
"Bawa pesananku kan Yah bit?" teriak Sasa riang sambil saling mendorong dengan Umay.
Ia hanya tersenyum sambil melepas helm. "Satu satu, nggak boleh berantem."
Namun Umay dan Sasa tak menghiraukan permintaannya. Terus saja saling mendorong ingin lebih dulu.
"Bawa pesananku kan Yah bit?!" teriak Sasa lagi semakin tak sabar.
"Bawa dooong," senyumnya semakin lebar sambil mengangkat kantong plastik pemberian Anja tinggi-tinggi.
"Wah?! Gede bangeeet?" Umay dan Sasa yang masih saling mendorong terpesona melihat kantong plastik yang diangkatnya.
"Itu buat aku!"
"Aku!"
"Punya aku!"
"Aku!"
"Eh!" ia menggelengkan kepala. "Satu satu. Apa yah bit bilang?" sambil menunjuk kearah Umay yang terus saja saling mendorong dengan Sasa ingin menjadi yang pertama menerima oleh-oleh darinya.
"Ledis fes!" pekik Sasa semangat sambil mendorong Umay agar tertinggal di belakang.
"Pintar!" ia mengacungkan jempol sambil menyerahkan dua buah kantong plastik berukuran besar tersebut kepada mereka berdua. "Jangan rebutan!" ia mengingatkan. "Semua kebagian."
Ia pun masuk ke dalam rumah dimana Icad sedang duduk-duduk di kursi sambil membaca buku. Sementara di belakang punggungnya Umay dan Sasa masih saja ribut mempersoalkan siapa yang akan membuka kantong plastik terlebih dahulu.
"Oi, Bang, mana Nenek sama Mama?"
Icad tak menjawab, hanya mengarahkan dagu ke bagian belakang rumah. Saat ia berjalan masuk, terdengar pekikan senang Umay dan Sasa yang telah berhasil membuka tas plastik pemberiannya.
"Makasih Yah bit!" teriak Umay dan Sasa berbarengan.
"Abang! Abang! Sini! Ada banyak makanan!" ia masih bisa mendengar suara Sasa meminta Icad untuk mendekat ketika melihat Mak dan Kak Pocut sedang menghaluskan bumbu di dapur.
"Assalamualaikum," ia menghampiri Mak sambil sekilas mencium kepala wanita yang melahirkannya itu. Kemudian mendudukkan diri di lantai dapur.
"Wa'alaikumsalam," Mak tersenyum. "Baru pulang?"
Ia mengangguk.
"Tumben malam," ujar Kak Pocut sambil terus menghaluskan bumbu di atas ceprek (cobek) berukuran paling besar yang pernah ia lihat.
"Tadi ada bantu teman dulu," jawabnya sambil melepas jaket karena gerah.
"Makanlah, masih ada gulai ikan di meja," ujar Mak yang kini sedang memilah-milah daun salam dan pandan.
"Ntar lah, masih kenyang," jawabnya sambil menyenderkan punggung ke dinding dapur. "Kenapa malam-malam masak banyak? Ada pesanan?"
"Ada pesanan lima kilo ayam tangkap dari Pak Camat, mau diambil Subuh katanya," Kak Pocut yang menjawab.
"Diambil atau diantar?"
"Orang kecamatan yang mau ambil kemari."
"Oo," ia mengangguk-angguk mengerti.
Bersamaan dengan teriakan riang Sasa yang menyerbu dapur, "Mama, mama, mau coba donat dari Yah bit kah? Enaaaak banget. Nenek juga," ujar Sasa sambil menyuapkan sebuah donat cokelat bertabur almond ke mulut Kak Pocut.
"Mm, enak," Kak Pocut mengangguk. "Lebih empuk dibanding donat yang Mama buat kemarin ya?"
"Iya," Sasa tertawa senang. "Nenek mau?" kali ini sambil menyuapkan donat ke depan mulut Mak.
"Mm," Mak mengernyit. "Gigi nenek udah nggak kuat makan makanan semanis ini."
"Tapi enak kaaan?" Sasa mengacungkan jempol sambil melahap seluruh sisa potongan donat yang ada di tangannya.
"Masih banyak di depan," lanjut Sasa dengan mulut penuh. "Ada dua kotak donat besaaar, dua kotak donat keciiiil, ada ayam goreng juga. Buat bekal aku besok ke sekolah ya Ma?"
Kak Pocut mengangguk-angguk, "Nanti kalau udah selesai makan langsung gosok gigi terus tidur ya Sa?"
"Nanti ah," Sasa menggeleng. "Belum ngantuk. Masih mau main sama Abang," kembali melesat ke ruang tamu.
Kak Pocut menggelengkan kepala, "Jam delapan gosok gigi, Sa! Suruh Abangmu berdua gosok gigi juga!" ujar Kak Pocut setengah berteriak.
"Kamu kenapa foya foya begitu," Kak Pocut beralih melihat kearahnya dengan pandangan menuduh. "Jangan berlebihan kalau bawa untuk anak-anak. Kamu juga harus nabung sebentar lagi mau masuk kuliah."
Ia tertawa kecil, "Dapat gratis."
"Gratis darimana?" Mak ikut menatapnya curiga. "Jangan pernah terima gratis dari orang. Nanti suatu saat kita ada masalah jadi sungkan."
Ia menggeleng sambil terus tertawa, "Bukan gratis deh....bonus....bonus."
"Dari Fahri?" selidik Mak penuh rasa ingin tahu. "Kalau iya besok bawalah sekotak ayam tangkap. Kita buatnya lebih dari lima kilo ini. Sekalian buat makan sendiri."
"Bukaaan," ia menggeleng sambil bangkit hendak menuju ke ruang tamu untuk bermain-main sebentar dengan para keponakannya.
"Dari cewek yang suka datang ke rumah itu?" Kak Pocut mencibir.
"Yang mana?" Mak mengernyit.
"Yang mana aku pun tak tahu saking banyaknya," Kak Pocut tertawa campur mencibir.
"Jangan sering-sering mau terima hadiah dari cewek. Nanti kamu sendiri yang repot. Cewek itu gampang baper. Kamu pikir itu biasa, tapi mereka anggap lebih dari biasa."
Ucapan Kak Pocut membuatnya tergelak, "Bukaaan. Ini dari klien kok. Aku tadi ada bantu orang keluar dari masalah. Dapat bonusnya makanan sebanyak itu."
"Asal bukan keluar dari masalah terus masuk ke masalah baru, Gam!" suara cibiran Kak Pocut masih terdengar meski ia telah berada di ruang tamu. Membuatnya kembali tertawa kecil. Masalah baru? Mungkin satu-satunya masalah baru yang kini mulai mengganggu pikirannya adalah kondisi kesehatan Anja dengan tubuh yang terlihat makin mengurus.
Sialan, kenapa mesti mengkhawatirkan cewek berisik itu sih. Mau sehat mau sakit seharusnya tak menjadi masalah baginya bukan?
Sambil menggerutu dalam hati ia mendudukkan diri di sebelah Icad yang kini sedang menggambar di atas kertas HVS bekas. Sementara Umay dan Sasa masih ribut saling menebak rasa topping donat yang sedang dimakan. Tangan kanannya terulur untuk mengambil sebuah donat dengan topping cokelat bertabur potongan kacang.
Diliriknya kertas HVS di depan Icad, yang ternyata telah berisi gambar kepala harimau persis seperti aslinya.
"Wih, bagus gambarnya Cad," pujinya sungguh-sungguh. Ia bukannya tak tahu kalau Icad hobi menggambar. Tiap ada waktu luang dan kertas kosong meskipun bekas pasti langsung di coret-coret dengan khusyu hingga membentuk sebuah gambar yang bagus.
"Minggu depan ada FLS2N (Festival dan lomba seni siswa nasional)," gumam Icad. "Aku ikut lomba gambar."
Ia mengernyit, "Udah kelas 6 masih ikutan lomba?"
"Kata Pak guru biar bisa menang lagi," jawab Icad singkat membuatnya tertawa.
"Semoga beneran menang," gumamnya sambil mengambil donat yang kedua. Kali ini tinggal tersisa satu dengan topping lelehan cokelat dan taburan kacang almond.
"Yah bit tumben bawa makanan begitu," ujar Icad menunjuk box donat memakai ujung dagu. "Yang cuma dijual di Mall."
Ia tertawa sambil menggigit donat, "Itu hadiah dari orang."
"Pacar?"
Ia kembali tertawa, "Bukan."
"Terus hadiah dari siapa?" cibir Icad. "Mana ada orang kasih hadiah cuma-cuma padahal lagi nggak ulang tahun."
"Hadiah dari kakak cantik," jawabnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Sementara Icad kembali mencibir sekaligus menggelengkan kepala terus melanjutkan menggambar.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Lia Kiftia Usman
saya baca ulang entah keberapa x ... lagi ingat cakra di hajar abang2nya anja 🤭 jadi balik baca🙏
2024-12-12
0
Asma Susanty
hadiah dari kakak cantik....tiap part selalu saja bikin baper, ini nih alasan kenapa kalau sdh baca BP pasti selalu gagal move on..baca berulang2 kali nggak ada bosannya...❤❤❤🌹
2024-12-03
4
Suhartini Tin
aq sdh baca ini nggak tau sdh yg keberapa, abis ini lanjut baca RSK
karya mom shera selalu terdepan
2024-10-19
0