6. "Gue Hancur ...."

Anja

Ia tersentak kaget. Lalu menatap tak percaya ke arah Dipa. Yang kini tengah berdiri dengan wajah antara khawatir, cemas, dan marah di ruang tengah rumahnya.

Hatinya mendadak mencelos. Demi melihat ekspresi wajah Dipa yang pias. Persis seperti bertahun-tahun lalu, sesaat sebelum ia mengetahui, jika Kuro dan Chloe telah mati karena keracunan.

Wajah yang membuatnya ingin segera menghambur, ke dalam pelukan forever crushnya itu, untuk sekedar membisikkan kalimat singkat yang menenangkan, "It's all right."

Namun bayangan mimpi paling buruk tentang kejadian semalam di GOR, saat Dipa memeluk dan mencium Tiara di tengah lapangan, membuat lintasan indah tentang membisikkan it's all right sirna tanpa bekas.

"Lo nggak kenapa-napa?" suara Dipa terdengar penuh kekhawatiran.

Tapi ia tak berminat untuk menjawab. Dengan tanpa melihat sekalipun, ia berjalan melewati Dipa menuju wastafel untuk mencuci tangan.

"Lo ke mana semalam? Gue cari-cari nggak ketemu."

Oh, nyari?

Telat.

"Lo tidur dimana semalam? Hanum sama Bening juga khawatir banget nunggu kabar dari elo."

"Kenapa ponselnya dimatiin sih? Bikin semua orang khawatir."

Ia telah selesai mencuci tangan dan kini sedang mengeringkan telapak tangan menggunakan handuk gantung.

"Papa sama Mama lo nanyain terus. Sampai Hanum bohong, bilang kalau lo tidur di rumahnya semalam."

Hanum memang the best. Kayaknya perlu ditraktir nih sebagai ucapan terima kasih.

"Anja?" suara Dipa terdengar kesal dan menuntut. Karena ia tak menjawab sepatah katapun.

"Lo denger gue ngomong nggak sih?!"

Ia kini melangkah menuju kulkas di dapur. Dengan Dipa mengikuti di belakangnya.

"Kalau lo masih marah sama gue soal kejadian semalam, gue minta maaf."

"Tapi lo jangan jadi kek gini dong, Ja."

Ia mengambil segelas air es dari dalam kulkas, lalu meneguknya cepat. Membuat kepala yang berat dan masih terasa amat pusing menjadi sedikit tercerahkan.

"Lo harusnya mikir panjang kalau mau ngelakuin sesuatu. Lo nggak harus mempermalukan diri sendiri kayak semalam. Lo bisa ngomong langsung ke gue tanpa ...."

Kepalanya seolah mau meledak mendengar rentetan kalimat yang diucapkan Dipa. Membuatnya segera beranjak pergi dari depan kulkas.

"Anja!" Dipa kembali mengekori langkahnya menuju bagian belakang rumah. Ia berniat menyimpan kantong kresek berisi dress dan baju dalamnya yang basah ke mesin cuci.

"Oke ... oke ...." Dipa mengalah dengan mengangkat kedua tangan keatas. "Lo mau gimana sekarang? Gue ikutin."

Ia masih tetap -seolah- tak peduli dengan menyibukkan diri memencet-mencet mesin cuci.

"Lo mau gue putus sama Tiara? Oke, gue lakuin."

Putus?

Jadi mereka, Dipa dan Tiara, udah resmi pacaran?!?!

Kok ia bisa nggak tahu?!

Sialan!

Tidak. Tidak. Tidak.

Another nightmare.

Dengan kemarahan yang sangat, ia berjalan dengan cara menghentakkan kaki. Meninggalkan mesin cuci yang telah menyala. Lalu melewati Dipa yang masih berdiri mencangkung dengan wajah kesal.

Ucapan terakhir Dipa jelas kian melukai perasaannya. Membuat stok maafnya untuk forever crush semakin menipis. Atau malah mungkin telah habis?

"Gue nggak mau lo jadi begini, Ja."

Gue juga nggak mau jadi begini! jeritnya dalam hati.

Sambil berjalan menuju meja makan karena merasa lapar. Ketika ia masih mempertimbangkan untuk mengambil sepotong roti bakar yang telah dingin atau nasi goreng untuk dibawa ke kamar, rupanya Dipa mulai menyadari sesuatu yang asing di dirinya.

"Lo pakai baju siapa? Itu jaket siapa?!"

Ia hanya menelan ludah sambil mengangkat piring berisi dua potong roti bakar isi selai strawberry. Kemudian berjalan menuju ke kamar tidurnya.

"Anja?!" Dipa meraih tangannya agar mendekat.

"Lepas!" sentaknya marah.

"Itu jelas bukan baju cewek!" tuduh Dipa dengan mata menyelidik. "Lo pakai baju siapa? Semalam tidur di mana?!"

Namun ia tetap tak berminat menjawab. Lebih memilih untuk berjalan secepat mungkin. Agar Dipa tak bisa mengejarnya. Lalu,

BRUK!

Ia membanting pintu kamar tepat di depan hidung Dipa.

"Anja, semalam lo nggak kenapa-napa kan?!"

Dipa masih berusaha mengetuk pintu kamarnya berkali-kali.

Namun ia tetap tak peduli.

Hanya bisa menyandarkan punggung di balik pintu dengan mata yang semakin memanas. Perlahan namun pasti, tubuhnya mulai merosot ke bawah. Hingga akhirnya terduduk di lantai. Kemudian tanpa sadar bibirnya berbisik lirih, "Gue hancur ...."

***

Cakra

Tepat pukul 16.50 WIB, paket ke delapan puluh sekian berhasil diantarkan ke alamat tujuan.

Tuntas sudah tugasnya hari ini. Sambil bersiul senang, ia pun menjalankan motor GL Pro nya sambil membayangkan dua lembaran merah yang akan diterima sebentar lagi. Kira-kira ia akan membawa pulang oleh-oleh apa ya ke rumah? Karena biasanya, Bang Fahri akan berbaik hati memberinya bonus no ban (20.000) atau sa ban (30.000), jika ia berhasil menyelesaikan pekerjaan sebelum Maghrib tiba.

Minggu lalu, ia membawa pulang martabak cokelat keju. Minggu sebelumnya es krim yang sedang hits. Jadi, sebaiknya sekarang ia membawa oleh-oleh apa?

Ia masih menimbang-nimbang antara membeli susu kotak literan atau snack anak-anak di Indoapril, ketika tanpa sadar, motornya tengah melewati jalan raya di depan hotel tempatnya menginap semalam. Lengkap dengan lintasan bahu seputih susu yang tak bisa dihilangkan dari dalam kepalanya. Anja.

-Lagi-lagi- dengan gerakan impulsif dan tanpa berpikir, ia membelokkan motor memasuki halaman depan hotel.

"Selamat sore, ada yang bisa dibantu?" sapa resepsionis hotel dengan keramahan standar.

"Em ...." Ia harus menggaruk kepala untuk mengalihkan rasa grogi. Bingung sendiri dengan yang sedang dilakukannya. "Kamar nomor 27 ... masih ada penghuninya?"

Petugas resepsionis hotel terlihat memeriksa sebuah buku catatan lalu tersenyum, "Sudah kosong. Silakan kalau mau memakai kamar nomor 27."

Ia menggeleng sambil meringis malu, "Maaf, cuma nanya."

Petugas resepsionis ikut meringis bingung.

"Em ...." Sebelum berbalik pergi, ia mendadak teringat sesuatu. "Check outnya jam berapa?"

Petugas resepsionis kembali memeriksa catatannya, "Sekitar ... jam sembilan pagi."

Ia mengangguk, kemudian mengucapkan terima kasih. Dan sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Bang Fahri, ia tersenyum-senyum sendiri demi mengingat kejadian menyenangkan dini hari tadi.

 

....... Flashback .......

"Lo masih vir gin?"

"Masalah buat lo?!"

Ia tertawa sumbang, demi menyadari Anja benar-benar telah hilang kesadaran. Dasar cewek rumahan. Minum bir kalengan yang dijual bebas di warung pinggir jalan langsung teler. Bagaimana kalau ....

"Buruan! Lo katanya mau ngasih tahu gue cara bikin cowok happy?! Kissing doang gue juga tahu!"

Lagi-lagi ia tertawa getir, "Tahu tapi nggak pernah ngelakuin. Sama aja bohong!" sambil mengingat betapa amatir dan kakunya Anja ketika tadi ia menyentuhkan diri.

"Berisik banget sik?! Buruan ah keburu ngantuk!"

"Lo pasti bakalan nyesel ...."

"Udah ... buruan tinggal kasih tahu nggak usah banyak omong!"

"Bokap lo bakalan bunuh gua ...."

"Bokap gue baik orangnya. Gue kan anak cewek satu-satunya. Buru, ih!"

Ia hanya tersenyum memandangi wajah polos Anja, yang entah mengapa terlihat sangat bersih dan bersinar seperti bidadari. Belum pernah ia melihat wajah secantik dan sebersinar ini.

Ia pasti sedang berada di surga sekarang.

Namun sedetik kemudian, lintasan bagaimana cara orangtua Anja akan membunuhnya, membuat nyalinya langsung menciut.

Apalagi ia belum pernah melakukan dengan vir gin sebelumnya. Ia tak memiliki informasi yang cukup tentang bagaimana cara memperlakukan seorang vir ....

Sepasang tangan mungil yang memiliki kulit selembut sutera, tiba-tiba telah menangkup kedua rahangnya. Membuat seluruh teori moral dan kebenaran serta akal sehat tertinggal jauh di belakang.

Dengan kesadaran penuh lebih memilih untuk menyalurkan hasrat menggebu yang tak tertahankan. Tak pernah selintaspun memikirkan akibat dari perbuatan paling buruk yang kini tengah dilakukannya.

Bo doh. Sangat bo doh.

"Lo lagi ngapain?!"

Suara bentakan Anja membuatnya menyeringai, "Ngelakuin perintah lo. Ngasih tahu cara bikin cowok happy."

"Bukan gini caranya?!"

"Percayalah ... gua ahlinya ...."

 

....... Masa Sekarang .......

Bayangan lampu neon besar, bertuliskan nama ekspedisi usaha milik Bang Fahri yang terlihat beberapa meter di depan, berhasil membuyarkan lamunannya. Mengingatkannya untuk segera melapor, mengembalikan faktur, menandatangani kartu absensi. Agar ia bisa mengambil dua lembaran merah yang menjadi haknya.

Dan tepat seperti dugaannya, Bang Fahri memberinya bonus untuk pekerjaan hari ini. Bahkan lebih besar dari yang diperkirakannya.

"Banyak amat, Bang?" tanyanya heran. Demi melihat lembaran warna biru yang diangsurkan oleh Bang Fahri kearahnya.

"Go ban (50.000) doang," Bang Fahri tertawa. "Minggu depan ada tanggal merah. Kalau lo rajin, bonus bakalan nambah lagi."

Ia tersenyum senang, "Makasih, Bang."

Dari rumah Bang Fahri, ia memacu motor dengan kecepatan tinggi menuju Indoapril. Berniat membeli oleh-oleh untuk Icad, Umay, dan Sasa. Sambil berjanji dalam hati, nanti sesampai di rumah, ia akan menanyakan nomor ponsel Anja pada anak-anak sekelas. Siapa tahu ada yang mengetahuinya. Ia tentu harus menyampaikan kata maaf, karena telah pergi lebih dulu, meninggalkan Anja seorang diri di kamar hotel.

Dan mencari informasi tentang nomor ponsel cewek hits sekolah seperti Anja, bukanlah hal sulit. Terbukti sebelum Isya, ia telah berhasil memperolehnya. Lengkap dengan Line id.

Cakra : 'Ini gw, Cakra. Sori tadi pergi duluan nggak nunggu lo bangun.'

Ia harus gelisah semalaman menunggu balasan dari Anja. Khawatir cewek itu sakit atau kenapa-napa karena tak kunjung membalas chatnya. Namun sebuah notifikasi masuk ketika ia tengah bersiap berangkat ke sekolah melegakan hatinya.

Anja. : 'Jangan pernah hubungin gw lagi!'

Kelegaannya dalam sekejap berubah menjadi kekesalan. Kemudian berkembang menjadi kemarahan. Karena tanpa ampun, Anja langsung memblokir nomor ponselnya.

Bahkan beberapa hari kemudian di sekolah, ia mendapat kiriman paket berupa kaos oblong, celana panjang, dan jaket warna navy miliknya. Yang telah dicuci bersih dan berbau harum khas laundry. Yang dengan kesal langsung dilemparkannya ke sudut kamar.

Tapi kenapa ia harus kesal dan marah? Toh mereka memang tak pernah ada hubungan apapun. Teman juga bukan. Mereka bahkan tak pernah saling menyapa sebelumnya. Wajar jika Anja enggan untuk berakrab-akrab dengannya. Meskipun mereka baru-baru ini telah melakukan hal menyenangkan berdua. Tentu ia tak bisa berharap Anja akan bermanis muka terhadapnya setelah kejadian itu bukan?

Namun ketika usaha penghindaran Anja terhadap dirinya semakin terang-terangan, ia pun tak bisa untuk tak merasa marah.

Seperti suatu siang, ketika mereka tak sengaja bersimpangan jalan di depan Perpustakaan. Anja sama sekali tak bersedia untuk melihat ke arahnya, yang telah memasang senyum. Anja bahkan membuang muka.

Atau beberapa hari kemudian, ketika mereka lagi-lagi tak sengaja berpapasan di ruang guru. Anja kembali membuang muka. Meski dari kejauhan, ia telah melempar senyum terbaiknya.

Anja benar-benar tak menghiraukan keberadaannya, meski mereka bertemu muka sekalipun. Anja seolah ingin menghapus jejak, tentang apa yang pernah mereka berdua lakukan. Dan itu sedikit melukai egonya.

Terlebih ketika gosip di sekolah santer beredar, jika Dipa memutuskan hubungan dengan Tiara secara sepihak. Demi memenuhi permintaan Anja. Dan beberapa kali ia melihat dengan mata kepala sendiri, Anja dan Dipa berangkat dan pulang sekolah bersama. Dengan wajah ceria dan saling melempar canda.

Ya, baiklah. Memang begini seharusnya. Sejak awal mereka bahkan berada di belahan dunia yang berbeda. Yang mustahil untuk saling bersinggungan. Lagipula, dengan sikap menghindar Anja ini, bukankah ia yang paling diuntungkan? Karena tak harus mempertanggungjawabkan perbuatan buruknya, yang telah mengambil mahkota paling berharga milik Anja.

Namun usaha Anja menghindarinya sedikit menemui kendala. Ketika siang ini, di jam istirahat kedua. Saat kantin sedang penuh dengan hiruk pikuk siswa yang kelaparan. Ia tak bisa menemukan satu pun bangku kosong untuk diduduki. Kecuali bangku persis di depan Anja. Yang kali ini tengah duduk seorang diri, tanpa teman segengnya.

Ia bahkan bisa mendengar Anja menghela napas panjang. Ketika ia dengan gerakan tiba-tiba, mendudukkan diri tepat di hadapan Anja.

Mata Anja jelas-jelas menyiratkan, 'Ah, sial, Cakra si berandal sekolah.'

Haha, i got you.

"Lo ngindarin gua?" tanyanya tanpa basa basi. Sambil melahap nasi rames pesanannya dengan suapan besar.

Dan dari jarak setengah meter kurang ini, ia bisa melihat dengan jelas keseluruhan wajah Anja, yang sedikit berkeringat karena kepanasan. Hm, tapi tetap cantik.

"Bukan urusan lo!" Anja memalingkan muka. Sambil berusaha melahap mie baso yang ada di hadapan dengan cepat. Saking tergesa ingin cepat-cepat menghabiskan baso, membuat Anja tersedak karena potongan yang terlalu besar.

"Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Anja langsung menyambar jus buah lalu meminumnya. Tapi bukannya membuat batuk berhenti, justru semakin menjadi.

"Minum ini," ia spontan menyorongkan sebotol air mineral miliknya yang masih baru, belum diminum.

"Ogah! Uhuk ... uhuk!" gerutu Anja yang masih terbatuk. Sembari terus memalingkan muka darinya.

Keras kepala, desisnya sebal.

"Aduh!" sungut Anja begitu menyadari jus buahnya telah habis.

Dan ini membuatnya tertawa, "15% kematian disebabkan karena hal remeh, seperti tersedak misalnya," ledeknya dengan mulut penuh mengunyah nasi rames.

"Diam lo! Uhuk! Uhuk!" Anja mendelik sambil terus terbatuk. Dan ini berlangsung cukup lama. Membuat beberapa anak yang duduk di sekitar mereka, menoleh dengan penuh rasa ingin tahu.

Ia pun mendengus kesal sambil membuka seal botol air mineral kemudian mengangsurkannya ke hadapan Anja, "Ayo minum!" gerutunya sebal. "Nanti dikira gua ngapa-ngapain lo lagi!"

"Emang udah di apa-apain! Uhuk! Uhuk!" Anja melotot sinis sambil mendesis marah. Membuat hatinya mencelos demi mendengar kalimat emang udah di apa-apain.

"Lagian ... dari mana gue tahu ... kalau minuman lo itu nggak beracun?! Uhuk! Uhuk!" Anja masih terus melotot ke arahnya.

Membuatnya semakin mendesis sebal. Lalu dengan gerakan cepat sedikit memaksa Anja untuk meminum air mineral pemberiannya.

"Lo lagi ngapain?!" sebuah suara bentakan penuh selidik menghentikan usahanya memaksa Anja untuk minum.

Dan reaksi Anja yang langsung tersenyum senang, begitu mendengar suara tersebut, seolah sedang memberikan pengumuman padanya, jika itu adalah suara dari surga. Dewa penolong Anja telah turun ke bumi, yaitu Dipa.

"Menurut lo?!" ia balas membentak tak senang. Dipa yang selama ini terlihat biasa saja baginya, sekarang berubah menjadi sangat menjengkelkan.

"Lo nggak apa-apa?" namun Dipa tak menghiraukan kekesalannya. Dipa justru ikut menyodorkan sebotol air mineral yang telah terbuka sealnya ke arah Anja. "Minum dulu ...."

Seperti yang bisa diduga, Anja langsung menerima botol tersebut dengan senang hati. Kemudian meminumnya. Seketika berhasil membuat batuk Anja berhenti. Bahkan di saat terpojok pun, Anja tak sudi untuk menerima bantuan darinya. Menyedihkan.

"Makasih banyak, Dip," ujar Anja sambil tersenyum manis. Yang disambut dengan anggukan Dipa.

Ia hanya bisa mendengus kesal. Demi melihat adegan menjengkelkan tersebut. Lalu meminum air mineral yang sedari tadi disorongkan ke depan Anja, namun tak dihiraukan. Hingga licin tandas.

"Gua duluan!" desisnya sebal sambil beranjak pergi tanpa menoleh.

Terpopuler

Comments

Zulva

Zulva

Obat Rindu dengan Cakra dan Anja,Mas Tama dan Kak Pocut. Tak kan pernah bosan,dan tk bisa lupa dengan cerita mereka. Makasih mam Sera atas karyanya yg sangat LUAR BIASA BUATKU😘😍. Sambil lagi USAHA BIAR BISA BACA KARYA TERBARUNYA RAKAI DAN PUPUT..

2025-02-25

0

Asma Susanty

Asma Susanty

beneran nggak bisa move on aku dari si abang ganteng ini...baca lagi dan lagi...🥰🥰🥰

2024-12-03

0

Athalla✨

Athalla✨

balik lagi kesini karena rindu neng cantik sama abang 🤭

2025-01-25

0

lihat semua
Episodes
1 1. Retrouvailles
2 2. Run All Night
3 3. Room Number 27
4 4. A Big Mistake
5 5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6 6. "Gue Hancur ...."
7 7. Cakra itu ....
8 8. Year End Film Project
9 9. Mamayu dan Mager
10 10. Chocolate Almond Cinnamon
11 11. Hadiah dari Kakak Cantik
12 12. Fantastic Four
13 13. The Result is ....
14 14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15 15. Bad Timing
16 16. How It Feels
17 17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18 18. Tersesat
19 19. Menepilah
20 20. Namaku Cinta
21 21. Blue Saturday Night
22 22. Meregang
23 23. Melampaui Semua Batasan
24 24. Cinta Selalu Ada
25 25. Cinta Selalu Ada (2)
26 26. Cinta Selalu Ada (3)
27 27. Cinta Selalu Ada (4)
28 28. Cinta Selalu Ada (5)
29 29. As Long As You Love Me
30 30. Butiran Debu
31 31. Butiran Debu (2)
32 32. Butiran Debu (3)
33 33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34 34. Hari Tanpa Bayangan
35 35. "Good Luck, Cakra!"
36 36. Losing You
37 37. Don't Wanna Cry
38 38. Don't Wanna Cry (2)
39 39. Mama Knows Best
40 40. Terrible Things
41 41. Terrible Things (2)
42 42. When Mama Said
43 43. The Real Problem
44 44. Road to ....
45 45. Road to .... (2)
46 46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47 47. Starting The Countdown
48 48. Mitsaqan Ghalidza
49 49. You Are The Reason
50 50. You Are The Reason (2)
51 51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52 52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53 53. Mencari Rekam Jejak
54 54. 17 Missed Calls
55 55. 17 Missed Calls (2)
56 56. Love Has No Reason
57 57. Love Has No Reason (2)
58 58. Love Has No Reason (3)
59 59. Love Has No Reason (4)
60 60. Love Has No Reason (5)
61 61. Nothings Gonna Change My Love For You
62 62. Best Mama, Ever
63 63. You and Me Against The World
64 64. You and Me Against The World (2)
65 65. Just You and Me
66 66. Just You and Me (2)
67 67. Bertualang Bersamamu
68 68. Selalu Bersamamu
69 69. Selalu Bersamamu (2)
70 70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71 71. Pagi di Rumah Mertua
72 72. Kado Berpita Biru
73 73. Kau Buatku Jatuh Hati
74 74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75 75. "Leave Them Alone"
76 76. Runtuhnya Langit Biru
77 77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78 78. Finding You
79 79. It's Us, Against The Entire World
80 80. It's Us, Against The Entire World (2)
81 81. It's Us, Against The Entire World (3)
82 82. Our Journey
83 83. Our Journey (2)
84 84. Kesuksesan yang Tertunda
85 85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86 86. "See You On Top!"
87 87. Nostalgia SMA Kita
88 88. Everything Gonna be Alright
89 89. You're More Than What You Think
90 90. You're More Than What You Think (2)
91 91. From Zero to Hero
92 92. "Hati-hati ya!"
93 93. "Miss You Already ...."
94 94. Miss You Like Crazy
95 95. Miss You Like Crazy (2)
96 96. You're Always on My Mind
97 97. Bersamamu Selalu Indah
98 98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99 99. The Beginning
100 100. No Pain No Gain
101 101. You're My All
102 From Author with Love
103 102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104 103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105 104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106 105. "Jangan Panik!"
107 106. "Jangan Panik!" (2)
108 107. "Maafin Anja, Ma."
109 108. Bintang Paling Terang
110 109. Love at The First Sight
111 From Cakra Anja with Love
112 110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113 111. New Mom
114 112. New Mom (2)
115 113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116 114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117 115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118 116. "Dia Orang Mana?"
119 117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120 118. Aceh Lon Sayang**
121 119. Aceh Lon Sayang (2)
122 120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123 121. "Seulamat Tinggai" **
124 122. Lahirnya Singa Pemberani
125 123. "Jih Rakan Lon" **
126 124. "Lon Lake Meuah ...." **
127 Sepatah dua patah kata
128 125. Titik Balik
129 126. Rewriting
130 127. Rewriting (2)
131 128. Reminding
132 129. Reminding (2)
133 130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134 131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135 132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136 133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137 Sapaan Hangat
138 134. Sasa Oh Sasa ....
139 135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140 136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141 137. About This Night
142 138. About This Night (2)
143 139. Beratapkan Langit Malam
144 140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145 141. Bidadari di Hadapan
146 142. (He) Cares For You **
147 143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148 144. Follow Your Heart
149 145. Best Decision, Ever
150 146. "Terimakasih, Om."
151 147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152 148. Day by Day
153 149. Forever Yours
154 150. Forever Yours (2)
155 151. The Luckiest Guy
156 Ucapan Terimakasih
157 152. The Luckiest Guy (2)
158 153. Welcome to The Club
159 154. When You're Not Around
160 155. When You're Not Around (2)
161 156. How It Started
162 157. How It Started (2)
163 158. Saat Dia Datang Kembali
164 159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165 160. Happy Bestdayyy!
166 161. Unforgettable Moments
167 162. Unforgettable Moments (2)
168 163. Semua Karena Cinta
169 164. Semua Karena Cinta (2)
170 165. Too Much Love
171 166. Too Much Love (2)
172 167. Love, Wild Things, and You
173 168. How Its Going
174 169. How Its Going (2)
175 170. Adrenalin Rush
176 171. Adrenalin Rush (2)
177 172. All About Love
178 173. Love is You
179 174. Life Must Go On
180 175. Life Must Go On (2)
181 Before Say Goodbye
182 176. Time After Time
183 177. Time After Time (2)
184 178. Time After Time (3)
185 179. Time After Time (4)
186 180. Love of My Life
187 180. Love of My Life (2)
188 180. (End) Love of My Life
189 (Maybe Not) The End of The Road
190 Panduan Cara Memberi Dukungan
191 Dibuang Sayang (1)
192 Dibuang Sayang (2)
193 Dibuang Sayang (3)
194 Dibuang Sayang (4)
195 Dibuang Sayang (5)
196 Novel Pak Pici Duren Sawit
197 TERBIT CETAK
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Retrouvailles
2
2. Run All Night
3
3. Room Number 27
4
4. A Big Mistake
5
5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6
6. "Gue Hancur ...."
7
7. Cakra itu ....
8
8. Year End Film Project
9
9. Mamayu dan Mager
10
10. Chocolate Almond Cinnamon
11
11. Hadiah dari Kakak Cantik
12
12. Fantastic Four
13
13. The Result is ....
14
14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15
15. Bad Timing
16
16. How It Feels
17
17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18
18. Tersesat
19
19. Menepilah
20
20. Namaku Cinta
21
21. Blue Saturday Night
22
22. Meregang
23
23. Melampaui Semua Batasan
24
24. Cinta Selalu Ada
25
25. Cinta Selalu Ada (2)
26
26. Cinta Selalu Ada (3)
27
27. Cinta Selalu Ada (4)
28
28. Cinta Selalu Ada (5)
29
29. As Long As You Love Me
30
30. Butiran Debu
31
31. Butiran Debu (2)
32
32. Butiran Debu (3)
33
33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34
34. Hari Tanpa Bayangan
35
35. "Good Luck, Cakra!"
36
36. Losing You
37
37. Don't Wanna Cry
38
38. Don't Wanna Cry (2)
39
39. Mama Knows Best
40
40. Terrible Things
41
41. Terrible Things (2)
42
42. When Mama Said
43
43. The Real Problem
44
44. Road to ....
45
45. Road to .... (2)
46
46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47
47. Starting The Countdown
48
48. Mitsaqan Ghalidza
49
49. You Are The Reason
50
50. You Are The Reason (2)
51
51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52
52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53
53. Mencari Rekam Jejak
54
54. 17 Missed Calls
55
55. 17 Missed Calls (2)
56
56. Love Has No Reason
57
57. Love Has No Reason (2)
58
58. Love Has No Reason (3)
59
59. Love Has No Reason (4)
60
60. Love Has No Reason (5)
61
61. Nothings Gonna Change My Love For You
62
62. Best Mama, Ever
63
63. You and Me Against The World
64
64. You and Me Against The World (2)
65
65. Just You and Me
66
66. Just You and Me (2)
67
67. Bertualang Bersamamu
68
68. Selalu Bersamamu
69
69. Selalu Bersamamu (2)
70
70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71
71. Pagi di Rumah Mertua
72
72. Kado Berpita Biru
73
73. Kau Buatku Jatuh Hati
74
74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75
75. "Leave Them Alone"
76
76. Runtuhnya Langit Biru
77
77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78
78. Finding You
79
79. It's Us, Against The Entire World
80
80. It's Us, Against The Entire World (2)
81
81. It's Us, Against The Entire World (3)
82
82. Our Journey
83
83. Our Journey (2)
84
84. Kesuksesan yang Tertunda
85
85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86
86. "See You On Top!"
87
87. Nostalgia SMA Kita
88
88. Everything Gonna be Alright
89
89. You're More Than What You Think
90
90. You're More Than What You Think (2)
91
91. From Zero to Hero
92
92. "Hati-hati ya!"
93
93. "Miss You Already ...."
94
94. Miss You Like Crazy
95
95. Miss You Like Crazy (2)
96
96. You're Always on My Mind
97
97. Bersamamu Selalu Indah
98
98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99
99. The Beginning
100
100. No Pain No Gain
101
101. You're My All
102
From Author with Love
103
102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104
103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105
104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106
105. "Jangan Panik!"
107
106. "Jangan Panik!" (2)
108
107. "Maafin Anja, Ma."
109
108. Bintang Paling Terang
110
109. Love at The First Sight
111
From Cakra Anja with Love
112
110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113
111. New Mom
114
112. New Mom (2)
115
113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116
114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117
115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118
116. "Dia Orang Mana?"
119
117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120
118. Aceh Lon Sayang**
121
119. Aceh Lon Sayang (2)
122
120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123
121. "Seulamat Tinggai" **
124
122. Lahirnya Singa Pemberani
125
123. "Jih Rakan Lon" **
126
124. "Lon Lake Meuah ...." **
127
Sepatah dua patah kata
128
125. Titik Balik
129
126. Rewriting
130
127. Rewriting (2)
131
128. Reminding
132
129. Reminding (2)
133
130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134
131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135
132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136
133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137
Sapaan Hangat
138
134. Sasa Oh Sasa ....
139
135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140
136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141
137. About This Night
142
138. About This Night (2)
143
139. Beratapkan Langit Malam
144
140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145
141. Bidadari di Hadapan
146
142. (He) Cares For You **
147
143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148
144. Follow Your Heart
149
145. Best Decision, Ever
150
146. "Terimakasih, Om."
151
147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152
148. Day by Day
153
149. Forever Yours
154
150. Forever Yours (2)
155
151. The Luckiest Guy
156
Ucapan Terimakasih
157
152. The Luckiest Guy (2)
158
153. Welcome to The Club
159
154. When You're Not Around
160
155. When You're Not Around (2)
161
156. How It Started
162
157. How It Started (2)
163
158. Saat Dia Datang Kembali
164
159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165
160. Happy Bestdayyy!
166
161. Unforgettable Moments
167
162. Unforgettable Moments (2)
168
163. Semua Karena Cinta
169
164. Semua Karena Cinta (2)
170
165. Too Much Love
171
166. Too Much Love (2)
172
167. Love, Wild Things, and You
173
168. How Its Going
174
169. How Its Going (2)
175
170. Adrenalin Rush
176
171. Adrenalin Rush (2)
177
172. All About Love
178
173. Love is You
179
174. Life Must Go On
180
175. Life Must Go On (2)
181
Before Say Goodbye
182
176. Time After Time
183
177. Time After Time (2)
184
178. Time After Time (3)
185
179. Time After Time (4)
186
180. Love of My Life
187
180. Love of My Life (2)
188
180. (End) Love of My Life
189
(Maybe Not) The End of The Road
190
Panduan Cara Memberi Dukungan
191
Dibuang Sayang (1)
192
Dibuang Sayang (2)
193
Dibuang Sayang (3)
194
Dibuang Sayang (4)
195
Dibuang Sayang (5)
196
Novel Pak Pici Duren Sawit
197
TERBIT CETAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!